
Untuk pertama kalinya Novrianto mendapatkan klien seperti Nadia. Mengajukan gugatan cerai terhadap suami tanpa alasan yang kuat. Menolak menyebut kelemahan suami di pengadilan. Malah Nadia berniat mengumbar aib sendiri bila dia yang telah berkhianat pada suaminya.
Wanita yang sangat polos, dan juga ...
Seperti itulah kesimpulannya membaca karakter Nadia.
Ia pun menjelaskan panjang lebar kepada Nadia dan Bimasena, alasan kuat antara pasangan suami isteri sudah tidak dapat melanjutkan hubungan pernikahannya lagi.
"Alasan yang diajukan untuk gugatan cerai oleh Mbak Nadia kurang kuat."
"Alasan perceraian itu kuat bila salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain-lain."
"Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat."
"Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami ataupun isteri."
"Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga."
"Kalau nggak ada alasan yang sama persis dari yang saya sebutkan, kita gunakan alasan terakhir saja. Sering terjadi pertengkaran dan perselisihan. Saya kira alasan itu lebih baik daripada mengumbar perselingkuhan sendiri di depan hakim," paparnya, berharap Nadia bisa menurutinya sebagai kuasa hukum.
Sementara Bimasena yang duduk santai di samping Nadia hanya diam memperhatikan Nadia yang sedang berpikir.
"Tapi aku dan Tristan jarang bertengkar dan berselisih. Kalau itu yang dijadikan alasan, berarti aku berbohong, Pak Nov." Jawaban yang sangat menggemaskan dari Nadia. "Tristan juga tidak berzina, bukan penjudi, nggak cacat badan, juga nggak pernah melakukan penganiayaan berat padaku. Aku tidak ingin menfitnah Tristan."
Ia hanya menatap Bimasena begitu mendengar jawaban Nadia. Sementara Bimasena hanya tertawa sumbang.
"Udah turuti saja maunya." Bimasena menimpali. Nampaknya Bimasena tidak ingin membuat Nadia berpikir keras dan tertekan. Meskipun terlihat sedikit sebal dengan ucapan Nadia.
"Baiklah, hanya konsekuensinya sidang perceraiannya bisa berlangsung lebih lama. Apalagi saya melihat Pihak Tergugat sepertinya tidak akan memuluskan perceraian." Meskipun gemas dengan kliennya, ia tetap harus mengikuti keinginan kliennya.
"Lusa jadwal sidang mediasinya. Mbak Nadia tidak perlu menghadirinya," lanjutnya.
"Kenapa aku nggak boleh menghadiri?" tanya Nadia.
Pertanyaan Nadia kembali membuatnya gemas.
Loh wanita ini ingin bercerai atau ingin didamaikan sih?
Sementara di depannya Bimasena kembali tertawa. Tetapi ia tidak bisa menebak arti tawa Bimasena.
Mudah-mudahan saja Bimasena bisa sabar menghadapi wanita itu. Karena selain polos, Nadia juga termasuk kategori kurang cerdas. Mungkin sedikit di bawah rata-rata. Untung saja wanita itu baik hati.
"Karena dalam sidang mediasi, majelis hakim akan berupaya mendamaikan pihak penggugat dengan pihak tergugat. Saya melihat anda kurang tegaan. Jangan sampai sidangnya malah berlarut-larut bila anda menghadiri sidang mediasi." Sebisanya ia menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh Nadia.
Nadia di depannya pun mengangguk-angguk. Semoga saja Nadia benar-benar memahaminya. Tidak asal mengangguk saja.
Selanjutnya ia berbicara empat mata dengan Bimasena. Ia menyampaikan kepada pria itu bahwa sangat kecil kemungkinan, Bimasena dan Nadia bisa menikah sebelum Nadia melahirkan, seperti harapan Bimasena. Karena beberapa proses dan tahapan perceraian yang harus Nadia lalui.
"Ya udah kalau memang seperti itu. Jangan beritahu Nadia, agar dia tidak terbebani memikirkannya," jawab Bimasena pasrah.
*******
Sebenarnya hari ini belum jadwal Nadia mengunjungi dokter obgyn. Namun karena besok Bimasena harus bertolak ke Dubai untuk menghadiri Konferensi Internasional Perusahaan Minyak dan Gas Bumi, jadwal pemeriksaan kandungannya dipercepat.
Pemeriksaan kandungan merupakan hal yang paling mendebarkan bagi Nadia. Karena selain mencemaskan kondisi janin yang dikandungnya, ia juga sangat malu kepada Dokter Rahayu.
Sampai saat ini Dokter Rahayu masih mengira mereka adalah pasangan suami istri. Bagaimana bila status mereka akhirnya diketahui oleh Dokter Rahayu? Tentu saja dirinya akan sangat malu jadinya.
"Usia kandungan sudah 24 minggu. Janin di dalam rahim Ibu Nadia kini sebesar buah pepaya. Panjang bayi 30 cm, beratnya mencapai 600 gram," terang Dokter Rahayu saat melakukan pemeriksaan USG.
"Bagian paru-paru bayi sudah berkembang dengan sempurna. Indera pendengaran bayi sudah lebih matang. Bayi sudah bisa mendengar suara ibunya," sambung dokter itu
"Ini pe nisnya. Jadi bayi ibu adalah laki-laki," sambung Dokter Rahayu. Ucapan dokter itu membuat Bimasena yang berdiri di sampingnya tersenyum senang dan semakin antusias mendengar penjelasan Dokter Rahayu. Karena pria itu pernah mengungkapkan pada dirinya bila dia ingin memiliki Bimasena Junior.
"Ibu Nadia ada keluhan?" Dokter Rahayu melanjutkan dengan bertanya kepada Nadia.
"Perut Dok, gatal-gatal," keluhnya.
"Gatal-gatal di perut hal yang wajar terjadi. Rasa gatal yang ibu alami muncul sebagai akibat dari mulai berkurangnya kelembapan pada kulit. Jangan digaruk karena ini bisa memicu terjadinya iritasi pada kulit. Saya akan meresepkan pelembap anti gatal," seru Dokter Rahayu.
"Ibu Nadia tidak pernah mengalami kontraksi?" tanya Dokter Rahayu kemudian.
"Kontraksi itu seperti apa Dok?" Ia malah balik bertanya kepada dokter itu. Ia sering mendengar kata kontraksi, tetapi belum pernah merasakan sebelumnya, sehingga sangat wajar bila ia bertanya.
"Pernah merasakan rasa tidak nyaman pada perut?"
Ia hanya menggeleng. Karena keluhan pada perutnya hanya gatal-gatal.
"Aku juga punya keluhan Dok," lontar Bimasena dengan suara yang sangat serius. Membuat pandangannya juga pandangan Dokter Rahayu beralih ke Bimasena yang berdiri di sampingnya.
"Aku ditolak melulu Dok kalau ngajak berhubungan intim. Emang usia kandungan 24 minggu gak boleh berhubungan suami istri ya?" tandas Bimasena yang membuat Dokter Rahayu tertawa.
Amit-amit jabang bayi. Semoga bayi yang dikandungnya tidak mewarisi kegilaan sang ayah.
__ADS_1
Lama-lama bersama Bimasena mungkin ia bisa terkena hipertensi, karena pria itu selalu membuat tensi darahnya naik. Kemudian ia akan mati karena pecah pembuluh darah.
Ia tidak tahu bagaimana menyembunyikan wajahnya yang memanas dan jelas memerah dari Dokter Rahayu.
Seandainya bukan karena menjaga sikap, maka ia akan mencambuk Bimasena menggunakan stetoskop milik Dokter Rahayu. Apalagi melihat wajah menyebalkan pria itu yang tersenyum curang padanya dengan mata menyipit setelah berhasil mengerjainya di depan Dokter Rahayu.
"Pada usia kehamilan 6 bulan diperbolehkan melakukan hubungan sek sual dengan ejakulasi di dalam asalkan tidak ada keluhan seperti flek, kontraksi atau keguguran berulang," papar Dokter Rahayu yang membuatnya semakin gerah.
Terlebih lagi Bimasena kembali menyela, "Dengar sayang, boleh kok berhubungan sek sual di usia kandunganmu sekarang. Boleh keluar di dalam juga. Iya kan Dok?"
Dasar sableng. Ia menolak berhubungan suami istri setiap Bimasena merayu bukan karena kehamilan. Namun karena mereka memang belum suami istri.
"Posisi yang dianjurkan adalah posisi wanita di atas, terutama pada kehamilan di trimester ketiga, saat ukuran rahim sudah cukup besar," tambah Dokter Rahayu yang kembali ditimpali pria itu.
"Woman on top. Nanti malam ya?" Bimasena mengerling nakal pada dirinya.
Sementara ia hanya tersenyum menahan rasa malu pada pria yang tidak tahu malu itu. Menyembunyikan wajah dari Dokter Rahayu yang ikut menertawainya. Sembari menyusun rencana balas dendam pada pria itu begitu mereka meninggalkan klinik dokter.
Bukan lagi menghantam dada pria itu dengan tangannya. Namun ia akan menggunakan sepatu untuk menghantam wajah pria tersebut, agar rasa malunya impas.
Alih-alih membalas dendam karena Bimasena telah mempermalukannya pada Dokter Rahayu. Di atas mobil ia tidak ubahnya cicak yang menempel di dinding. Menempelkan tubuhnya pada tubuh Bimasena di jok belakang mobil. Kebetulan Bimasena menggunakan sopir saat itu.
Bukannya ia lupa soal balas dendamnya. Namun ia tidak ingin menghabiskan waktu untuk berperang melawan Bimasena, sementara esok pria itu akan meninggalkannya selama lebih dari seminggu.
Ia malah mengabulkan permintaan Bimasena untuk menghabiskan malam bersama di apartemen pria tersebut.
Namun saat ia memasuki kamar Bimasena, lukisan yang terpajang di dinding kamar sangat mengganggunya. Sangat risih melihatnya.
Ingin rasanya melempar selimut untuk menutupi tubuh wanita berce la na da lam polkadot di dalam lukisan itu.
Bagaimana juga ia bisa tidur saat itu seperti orang mati yang tidak merasakan apa-apa. Tidak sadar bila dirinya sedang dijahili Bimasena dengan mengambil foto dirinya yang setengah te lanjang. Dijadikan lukisan pula. Bagaimana bila pelukisnya seorang pria?
********
Bimasena tertawa melihat wajah kecut dan merona kekasihnya ketika melihat kembali lukisan itu. Gimana kira-kira marahnya Nadia seandainya ia memotret Nadia dalam keadaan polos sama sekali?
"Aku kan sudah bilang, kalau kamu pergi-pergi, bawa selimut yang aku rajut untukmu, biar kamu nggak lupa aku," protes Nadia begitu melihat selimut itu tergeletak di atas tempat tidur, tidak masuk ke dalam travel bag.
Perhatian wanita itu sudah beralih dari lukisan ke selimut.
"Nadia, aku tidak akan mungkin melupakanmu meski aku tidak membawa selimut itu. Lagian selimut itu terlalu mengambil ruang di dalam koper," kilahnya menanggapi Nadia.
Ia termasuk orang yang praktis bila melakukan perjalanan jauh. Membawa pakaian secukupnya. Cukup dengan sebuah travel bag dan back pack untuk menyimpan laptop serta dokumen.
Namun karena wajah Nadia berubah mendung, akhirnya ia mengalah. Energi feminim yang dimiliki wanita itu mudah bergejolak naik turun sehingga ia harus mampu menstabilkannya.
"Gak usah sedih gitu sayang, masukkan saja selimutnya ke dalam travel bag. Kalau nggak muat, pakaian casual -ku dikeluarin saja."
Kadang-kadang ia tidak percaya dengan perubahan pada dirinya yang disebabkan oleh Nadia.
Selama ini ia tidak pernah menempatkan wanita menjadi passion -nya. Wanita tidak boleh menjadi nomor satu dalam hidupnya. Ia tidak ingin seorang wanita mengatur hidupnya. Wanita yang merasa dinomor satukan cenderung betingkah.
Sebagai seorang pria, ia harus memegang kendali emosi seorang wanita. Karena secara biologis, pria lebih mengerti soal leadership, sehingga wanita akan selalu patuh kepada leadership -nya.
Tetapi sekarang segalanya berubah total sejak bertemu Nadia. Ia bekerja keras untuk mendapatkan seorang wanita yang membuatnya tergila-gila. Melakukan hal-hal di luar nalar dan logika.
Mungkin Danindra akan tertawa jungkir balik bila mengetahui ia membawa selimut rajut ke Dubai karena permintaan seorang wanita. Sejak kapan ia berubah jadi pria alay semacam ini?
Namun melihat senyum yang tersungging dari bibir Nadia, sudah mampu membuat hatinya bahagia. Toh keinginan Nadia begitu sederhana. Nadia tidak pernah meminta macam-macam padanya. Apa sulitnya membawa selembar selimut ke Dubai?
Dengan penuh semangat, wanita itu menata kembali isi travel bag-nya agar tersedia ruang untuk selimut rajut tersebut.
*******
Hal yang paling mengesalkan bila Nadia makan bersama Bimasena adalah, Bimasena akan membuat piringnya menggunung oleh makanan.
"Bim, cukup, aku sudah kenyang," rengeknya.
Ia bahkan tidak percaya melihat angka pada timbangan digital yang bertambah tanpa terkendali. Ia yakin bukan karena kehamilannya. Namun karena Bimasena yang selalu memaksanya banyak makan.
Tetapi pria di sampingnya kurang memiliki rasa prikemanusiaan. Tetap saja menumpuk lauk di piringnya.
"Salmon memengandung protein dan asam lemak omega-3 yang cukup tinggi. Kedua nutrisi tersebut mendukung perkembangan saraf otak pada janin. Sehingga peluang ibu hamil untuk melahirkan bayi pintar semakin tinggi," terang pria di sampingnya. "Akan tetapi, konsumsi ikan laut sebaiknya dibatasi setidaknya 2 porsi tiap minggu untuk mengurangi paparan merkuri."
Sejak kapan ahli perminyakan di sampingnya berubah menjadi ahli nutrisi?
"Nadia, meskipun aku nggak ada di sampingmu, kamu harus makan dengan porsi dan gizi yang sama dengan sekarang. Lakukan hal terbaik untuk bayimu. Soal bentuk tubuh, setelah melahirkan bisa dikembalikan seperti semula," ujar Bimasena sambil mengunyah makanannya. "Kalau nggak hamil kembali," lanjut Bimasena terkekeh.
Membuat matanya membelalak pada pria itu.
"Ih kamu, sudah bicara soal hamil lagi. Menikah aja belum," protesnya.
Ia heran dengan pria itu. Kadang-kadang mengeluarkan ucapan tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah makan malam, mereka duduk di sofa ruang tengah menghadap keluar gedung menikmati pemandangan malam Kota Jakarta.
Berbaring setelah makan tidak baik untuk kesehatan. Namun ia tidak peduli. Tetap merebahkan tubuhnya, berbaring di sofa berbantal paha Bimasena.
Sambil menikmati lampu-lampu berkilauan dari gedung pencakar langit, yang menyatu dengan bintang-bintang yang berkedip dengan jenaka. Melalui jendela kaca besar yang bersejarah.
Sekali-kali matanya memandang wajah menawan pria itu. Melihatnya, seolah-olah sebuah bintang jatuh di hadapannya.
Suasana malam yang sempurna.
"Bim. Kamu sering bepergian ke luar negeri dan keluar kota. Aku jadi khawatir bila waktu melahirkan nanti, kamu tidak ada di sampingku," gumamnya.
Ia merasakan tangan pria itu mengelus rambutnya. Membawa sensasi hangat yang menjalar di tubuhnya.
"Kamu gak perlu khawatir sayang, aku nggak akan jauh-jauh dari kamu bila waktu melahirkan kamu sudah dekat," tukas Bimasena. Begitu menenangkan. Tapi tetap saja menyisakan kekhawatiran.
"Bagaimana bila tidak terhindarkan? Dokter hanya bisa memperkirakan waktu kelahiran. Tapi kadang-kadang waktunya bergeser dari perkiraan dokter. Aku takut Bim, melahirkan sendiri tanpa kamu bersamaku."
"Sayangku. Sedapat mungkin aku tidak akan meninggalkan Jakarta bila usia kandunganmu sudah memasuki sembilan bulan. Jangan cemaskan itu ya?"
Sangat menyejukkan hati.
"Janji ya Bim, kamu tetap di sampingku saat melahirkan nanti," desaknya dengan mata menatap lekat pada mata Bimasena.
"Ya, aku janji sayang," hembus pria itu, terus mengelus rambutnya. Tetapi wajah pria itu seperti sibuk memikirkan sesuatu.
"Bim, coba deh raba perutku. Kamu rasa nggak ada yang bergerak-gerak. Itu gerakan janinnya. Dia udah aktif bergerak."
Ia membawa tangan Bimasena ke perutnya. Meskipun setelah itu ia merasakan sengatan aneh karena telapak tangan pria itu menempel di perutnya secara langsung.
Bimasena tampak sangat serius untuk dapat merasakan gerakan janin. Sampai-sampai pria itu memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Beberapa saat kemudian pria itu tersenyum. Setelah merasakan tendangan halus pada dinding perut Nadia.
"Sepertinya puteraku calon pemain bola, bukan pembalap. Tendangannya kencang banget."
Ia ikut tertawa mendengar perkataan pria itu.
"Aku sudah memiliki nama untuk puteraku," tutur Bimasena tiba-tiba yang membuatnya terhenyak.
Secepat itukah?
"Siapa namanya?" tanyanya penasaran tapi penuh kebahagiaan.
"Glor Gerardo Bimasena," sahut Bimasena penuh semangat.
Mendengar nama itu disebutkan oleh Bimasena, memberi cahaya hangat di hatinya.
"Glor Bahasa latin yang berarti kemenangan. Gerardo bahasa spanyol yang berarti tombak. Bimasena artinya panglima yang gagah berani. Jadi arti dari nama Glor Gerardo Bimasena adalah Tombak kemenangan Panglima yang Gagah Berani," papar Bimasena dengan begitu bangga dan bersemangatnya.
Nama yang bagus. Terutama arti nama Bimasena. Pantas dengan mudah pria itu meluluh lantakkannya. Karena Bimasena adalah Panglima yang Gagah Berani.
"Baru tahu arti nama Bimasena itu panglima yang gagah berani. Harusnya Panglima yang nakal, gila dan jahil," selorohnya yang disambut tawa oleh pria itu.
Namun selanjutnya pria itu bergumam, "Nadia, kamu tidak akan melupakan malam ini."
Jantungnya otomatis melonjak. Memang apa yang akan terjadi?
Ada yang tahu?
Mengapa tiba-tiba ia merinding.
Tapi ia tidak ingin terlelap malam ini. Karena ingin melewati malam yang syahdu bersama kekasih hati yang besok akan pergi. Sampai sang surya datang kembali.
*******
Readersku tersayang,
Apa kabarnya hari ini?
Semoga tetap dalam limpahan kesehatan dan kebahagiaan bersama orang tercinta.
Terima kasih atas apresiasi dan segala dukungannya terhadap novel ini.
Terima kasih untuk teman-teman yang selalu memberikan dukungan pada Author yang tidak bisa Author sebutkan namanya satu persatu.
Terima kasih untuk teman-teman yang telah membantu mempromosikan novel ini yang juga tidak bisa Author sebutkan namanya satu persatu.
Terima kasih untuk video-video keren dari Mbak Yusma Aryandi dan Yulia Defika.
Semoga Tuhan memberikan kebahagiaan dan kemurahan rezeki untuk kalian semua beserta para pembaca setia yang tersayang.
Salam sayang dari Author Ina AS
😘😘😘
__ADS_1