REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
114. Love is a battle


__ADS_3

"Kota ini tingkat kriminalitasnya tinggi, khususnya pembunuhan. Ini akibat ulah para gangster, sehingga menjadikan kota terasa mencekam. Penduduknya memilih tinggal di rumah. Karena di luar rumah banyak ancaman penculikan dan pembunuhan."


Mata Nadia mengamati suasana kota Caracas dari dalam kendaraan sambil mendengar cerita Danindra tentang Caracas. Tidak seperti Jakarta, Caracas terlihat begitu sepi untuk standar sebuah ibu kota negara.


Sesekali ia melihat Danindra di sampingnya. Pria itu semakin tampan dengan sunglass dari sebuah brand yang harganya berada diluar jangkauannya.


Wajah pria itu selalu tampak fresh dan ceria, menyejukkan mata. Tetapi mengapa sampai saat ini belum laku juga? Wanita seperti apa yang diinginkan pria tersebut?


"Kenapa? Gua cakepkan? Cakep mana, Gua atau Bimasena?" kekeh Danindra. "Jelaslah cakep gua dong."


Pria itu bertanya, lalu menjawab sendiri. Penuh percaya diri.


Tapi sangat wajar bagi seorang Danindra yang nyaris tidak memiliki kekurangan, kecuali kurang pendamping hidup.


"Kenapa Mas Indra belum menikah?" pertanyaan ia ajukan di atas rasa penasaran.


Pertanyaannya ternyata membuat Danindra tergelak.


"Kalau gua menikah, separuh populasi wanita di dunia akan patah hati, Nadia," sahut Danindra dengan congkaknya. Namun selanjutnya mengungkapkan sesuatu yang sebaiknya tidak perlu dibeberkan kepada orang lain.


"Sebenarnya masalah gua dengan Bimasena dulu sama. Sama-sama menyukai wanita yang sudah berumah tangga," ungkap Danindra, menatap wajahnya.


Membuat wajahnya memanas. Mungkin Danindra berpikir bahwa dirinya merupakan seorang pengkhianat rumah tangga.


"Hanya saja dalam kasus ini Bimasena selangkah lebih unggul," lanjut Danindra. "Hanya dalam kasus ini," lanjut Danindra penuh penekanan. "Kalau hal-hal yang lain, aku selalu lebih unggul dari Bimasena." Danindra tersenyum tipis padanya.


Apakah Danindra type pria congkak?


Sebenarnya tidak baginya. Ia sudah bisa mengetahui karakter pria tersebut. Danindra cenderung humoris sehingga tidak membosankan.


"Oh ya, gua pernah tanya kepada Bimasena, kenapa dia bisa menggilai bini orang," terang Danindra, yang membuatnya jengah. Karena pemilihan kata bini orang.


"Katanya, Nadia adalah cinta pertamanya saat SMA. Seorang gadis di sekolahnya yang membuatnya terobsesi. Tapi saat itu dia tidak memiliki nyali untuk mendekat. Karena Nadia seorang model yang menjadi rebutan di sekolah," terang Danindra.


"Baru berani mendekat pas Nadia sudah menjadi istri orang." Danindra berdecak. "Benar-benar pria edan." Danindra tertawa, menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Love is a battle (Cinta adalah pertempuran). love is a war (Cinta adalah perang)," gumam Danindra.


Apakah yang Danindra maksud adalah pertempuran dan perang antara Bimasena dengan Tristan?


Meskipun yang dimaksud Danindra adalah Bimasena, namun tidak urung membuatnya malu. Karena hubungan terlarangnya dengan Bimasena merupakan sebuah aib yang membuatnya gerah bila masa lalu diumbar.


Sehingga ia bisa bernafas lega begitu mobil yang mereka kendarai memasuki halaman penjara Caracas. Ia sudah terbebas dari topik masa lalu.


Ia masih tidak percaya menatap sebuah bangunan tua, mirip rumah susun berwarna kuning luntur, yang terdiri dari tiga blok. Ramo Verde Prison, begitu tulisan yang ia baca di papan nama gedung. Berada di pinggiran Kota Caracas.


Kekasihnya terkurung di dalam sana.


Entah bagaimana nasib ayah dari puteranya di dalam sana. Bimasena tidak terbiasa hidup susah. Ia berharap kekasihnya tidak depresi dengan kenyataan yang harus dia jalani saat ini.


Tidak mudah menemui Bimasena. Harus melalui prosedur yang rumit dan penjagaan berlapis. Menitip handphone dan passport di penjagaan. Seandainya tidak bersama Danindra, mungkin ia tidak bisa lolos masuk menemui Bimasena.


Ia berjalan di belakang sipir penjara melewati lorong-lorong sempit dan sunyi yang membutnya bergidik. Seakan ia melewati sebuah jalan rahasia. Karena tidak nampak narapidana lain berlalu lalang.


Danindra berjalan di belakangnya.


Tiba-tiba sipir di depannya berhenti dan menunjuk ke arah depan.


Begitu netranya menangkap sebuah bayangan yang berdiri di ujung koridor, seorang pria dengan postur atletis yang teramat ia kenal, langkahnya melambat.


Mengamati pria itu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


Pria itu bercelana drawstring grey serta berbaju singlet warna putih yang memamerkan otot-otot lengan. Kedua tangan berada di saku celana.


Pria yang sedang berdiri menghadap ke arahnya dengan bibir melengkung membentuk senyum, seorang tahanan atau seorang aktor tampan?


Kondisinya sangat berbeda dengan apa yang ia pikirkan. Di kepalanya ia berpikir akan menemui seorang pria berwajah muram mengenakan seragam tahanan.


Tetapi yang ia lihat, aura pria tampan di depannya lebih terlancar dari aura pria tampan di belakangnya.


Berbeda dengan pria itu, bibirnya membentuk lengkungan ke bawah. Air matanya mengalir begitu saja.


Pada jarak sepuluh langkah dari pria itu ia menghentikan langkahnya.


Sesaat.


Hanya sesaat.


Setelah itu ia berlari dengan begitu kencang menubruk tubuh pria tersebut.


Menumpahkan rindu dan tangisnya pada dada bidang pria itu. Tubuhnya terjepit dalam pelukan yang begitu erat.


"Biiiiiim," lenguhan menyebut nama.


"Nadia, Sayangku," desah pria itu dengan suara tertahan. "Maafkan aku, selalu membuatmu susah."


Bimasena.


Pria yang ia puja dan ia pinta dalam doa. Begitu ia rindukan. Namun mengapa semesta seakan enggan merestui, selalu saja ada yang menghalangi.


Singlet yang digunakan Bimasena basah oleh air matanya. Ya, saat ini ia hanya ingin menangis. Menangis meratapi nasib yang tidak kunjung berpihak.


"Maafkan aku, Sayangku." Sekali lagi Bimasena menyampaikan permintaan maaf.

__ADS_1


Saat pria itu mengecup puncak kepalanya, suara batuk yang disengaja terdengar dari belakangnya.


Ia baru ingat, ada Danindra bersamanya.


Bimasena pun merenggangkan pelukannya, mendengar suara batuk yang disengaja.


"Masuk ke dalam dulu, Mi. Aku mau bicara dengan Danindra," bisik Bimasena, menuntunnya masuk ke dalam bilik.


Entah mengapa hatinya selalu menghangat bila Bimasena memanggilnya dengan sebutan Mommy.


Tapi ini bilik penjara atau kamar hotel?


Ia melongo melihat isi bilik. Lebih besar dan lebih mewah dari kamarnya beserta Glor di Jakarta.


Bimasena sedang dipenjara atau ...


Tapi ia berbeda pemahaman dengan Danindra. Dengan pongahnya Danindra berdiri di ambang pintu menggeleng-gelengkan kepala.


"Bim, jadi cuman ini kemampuan lu? Menyewa kamar sempit begini?" Danindra mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. "Kamar mandi gua aja lebih besar dari ruang ini."


"Mana kekuatan raja minyak yang lu selalu bangga-banggain?" ejek Daninda. "Panggil sana kepala penjara, gua mau sewain lu satu lantai penuh, biar nggak sumpek begini hidup lu. Bila perlu satu blok gua sewain."


Tetapi Bimasena tidak tertarik meladeni ucapan Danindra. Ia tertegun karena tangan Bimasena menyeka air mata yang masih mengalir di pipinya.


"Mi amor, kamu tunggu di sini. Aku bicara dulu dengan Danindra," bisik pria itu ditelinganya, memyempatkan mencium keningnya sebelum menyeret Danindra menjauh darinya.


Apa yang akan mereka bicarakan?


********


Danindra hanya bisa mendengus menonton sepasang kekasih yang sedang berpelukan dan bertangis-tangisan di koridor penjara. Ia bersandar pada tembok dengan tangan terlipat di depan dada melihat pertunjukan tersebut.


Sebenarnya ia menunggu momen Bimasena menangis, agar ia melihat titik terlemah sahabat sekaligus rivalnya itu. Tapi Nadia sudah mewakili tangis Bimasena.


Meskipun telah menjadi tahanan, Bimasena tetap terlihat tangguh, mental pria itu ternyata tidak rapuh.


Bagitu acara melepas rindu itu selesai, Bimasena menyeretnya menjauh dari Nadia.


"Kenapa kamu bawa Nadia kemari? Masih banyak anggota kelompok El Maro yang belum tertangkap," cecar Bimasena kepadanya begitu berada di depan sebuah bilik yang kosong.


Lihatlah bedebah di depannya, sudah dibantu dipertemukan dengan calon istri, malah dirinya yang disalahkan.


"Hey Bung, lu pikir gua kemari karena gua rindu lu?" protesnya, "calon bini lu tuh yang datang tiga kali sehari menangis, minta dianterin ketemu lu."


Satu tangan Bimasena memegang kepala dan yang satu lagi berkacak pinggang. Tampaknya Bimasena sedang memikirkan sesuatu.


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berdecak, "Aku nggak nyangka orang yang selalu membanggakan dirinya sebagai pengusaha kelas dunia, mendekam di dalam penjara Venezuela." Ia mulai meledek sahabatnya.


"Lu nggak bisa menghadapi preman kampung dengan cara cantik ya? Apa gunanya otak dan uang kalau lu mau membuang tenaga adu jotos lawan semut. Biarpun lu menang, tapi kamu menua di dalam penjara, tau?" Ia sangat menyesalkan tindakan sahabatnya yang terlibat bentrokan secara langsung dengan El Maro.


Bila angkatan bersenjata bisa digerakkan, lalu mengapa ingin bermain one on one melawan tikus got? Kemana pikiran cemerlang Bimasena?


"Kamu nggak tau situasinya Ndra. Situasinya nggak terduga. Aku nggak punya keinginan menghilangkan nyawa manusia. Tetapi pilihan hanya dua, membunuh atau dibunuh dan itu spontanitas terjadi," terang Bimasena membela diri.


"Iya, tapi kamu berakhir seperti ini kan? 10 tahun atau 20 tahun? Pas kamu keluar, Nadia udah jadi istri pria lain. Nggak ada wanita bisa menunggu selama itu," ujarnya.


Tapi bedebah itu malah tertawa mendengar ucapannya.


"Ndra, bukan 10 atau 20 tahun. Aku nggak bakal sampai 5 bulan di sini. Hanya menunggu sidang. Setelah itu aku bebas lagi. Ekspansi ke negara lain, menaklukkan negara itu. Nggak kayak kamu ekspansinya sampai Kalimantan doang."


Meskipun bedebah di depannya sedang susah, namun tetap saja, tidak mau mengalah.


"5 bulan?" Ia terkekeh. "Emang kamu menabrak anjing, jadi dihukum hanya lima bulan?"


"Bimasena, seni perang tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa berperang," lanjutnya lagi. "Strategimu dengan melakukan kontak fisik itu salah."


"Kamu mau bertaruh?" tantang Bimasena padanya.


"Boleh, mau taruhan apa?" Tentu ia tidak ingin kalah gertak dari Bimasena.


"Kalau aku nggak pulang ke Indonesia dalam 5 bulan, mobil sport-ku buat kamu deh. Tapi bila aku pulang dalam 5 bulan, mobil sport kamu, aku ambil," taruh Bimasena.


Membuatnya melotot karena nilai taruhan yang timpang.


"Lu sadar ngomong begitu? Mobil lu itu harganya di bawah mobil gua. Ya ogalah," tolaknya. Meskipun sangat yakin bila ia bisa memenangkan taruhan. Dan Audy R8 grey bisa menjadi miliknya.


Bimasena tergelak menanggapi penolakannya.


"Baiklah, taruhannya kita ganti. Rumah kita yang di Pantai Indah Kapuk. Nilainya sama kan?" tantang Bimasena.


"Deal," jawabnya mantap, tersenyum senang. Yakin rumah Bimasena jatuh ke tangannya.


Tapi mengapa Bimasena tersenyum penuh kemenangan?


"Kamu lupa kalau aku ahli strategi? Kamu tahu bagaimana aku menghadapi El Maro?" Bimasena menepuk bahunya.


"Malam itu di Donatela Club, melalui anak buahnya ia menyuruh aku menghadap padanya. Jelas aku menolak. Emang dia siapa."


"Penolakanku memicu kemarahannya. Ia mendatangiku penuh ledakan emosi. Sempat menghajarku beberapa kali, baru aku membalas dan meminta untuk duel satu lawan satu. Karena jumlah orang kami tidak seimbang, demi menghindari pertumpahan darah yang lebih banyak."


"Tentu saja ia malu bila tidak berani duel satu lawan satu."


"Strateginya, jangan melawan musuh yang lebih kuat dari kamu. Tetapi bila hal itu tidak terhindarkan, maka pastikan kamu melawannya dengan persyaratan yang kamu berikan, bukan pada persyaratan yang musuh berikan," Bimasena menjelaskan seolah ahli strategi saja. Strategi omong kosong.

__ADS_1


"Kamu nggak lupa kan bila aku menguasai MCMAP. Jadi dengan mudah aku membuat El Maro terkapar. Saat El Maro jatuh di lantai, dia mengambil senjata bermaksud untuk menembakku. Tapi aku sudah mengantisipasi kemungkinan itu. Dia lebih dahulu tertembak sebelum sempat menembak," papar Bimasena. Ia mendengarkan seolah ia berada di Donatela Club saat kejadian itu.


"Aku tahu maksud kedatangan El Maro untuk membunuhku. Oleh karena itu aku menunggu untuk diserang lebih dahulu. Mengapa? Karena aturan hukumnya membunuh karena membela diri, dalam keadaan terpaksa untuk melindungi diri, tidak mendapat hukuman pidana."


"CCTV merekam bila aku diserang. Semua saksi di club melihat aku diserang. Tapi tetap saja harus dibuktikan di pengadilan."


"Jadi, aku tinggal menunggu sidang bro!" sambung Bimasena mantap.


Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Memikirkan masih sempatnya Bimasena membuat strategi dalam keadaan terdesak.


Membuatnya galau seketika. Rumahnya di Pantai Indah Kapuk bisa jatuh ke tangan Bimasena.


Dan ia semakin yakin bila ia akan kehilangan rumahnya, mendengar ucapan Bimasena kemudian.


"Ndra, kamu tahu mengapa negara-negara berperang?" tanya Bimasena padanya.


"Memperebutkan sumber ekonomi lah," jawabnya. Bimasena bertanya kepadanya seolah ia anak SMP saja.


Bimasena lalu menjawab sendiri pertanyaan yang dilontarkan.


"Lebih tepatnya negara-negara itu berperang karena menguasai sumber energi. Bukan memperebutkan tanah atau properti. Tau kan FreddCo energy perusahaan apa?"


"FreddCo Energy itu perusahaan Amerika, dan aku orang penting di FreddCo Energy. Kepentingan Amerika sangat besar atas FreddCo Energy. Amerika akan melakukan tindakan apapun untuk mendukung kepentingan negaranya. Dua kedutaan sudah menekan Venezuela. Kedutaan Amerika dan Kedutaan Indonesia," papar Bimasena, meruntuhkan semangatnya.


"Bagaimana Bro, dalam hal ini, level kamu jauh di bawah aku." Bimasena menepuk bahunya bermaksud mengoloknya. "Makanya jadi pemain internasional. Jangan pemain lokalan."


"Begitu tiba di Jakarta, siapin sertifikat rumah di Pantai Indah Kapuk ya?" kekeh Bimasena, tertawa penuh kemenangan.


Tentu saja ia senang bila sahabatnya bisa mengatasi masalahnya dan bisa kembali ke Indonesia secepatnya. Tetapi bila ia harus kehilangan rumah dengan begitu mudahnya? Sial.


Sebelum ia meninggalkan penjara ia berpesan kepada sahabatnya,


"Eh jangan sampai Nadia hamil! Aku yang membawanya pergi dari rumahnya. Ntar malah aku yang diminta tanggung jawab sama keluarganya. Kamu rela kalau aku menikahi Nadia?" selorohnya, untuk membalas Bimasena yang telah mengerdilkannya.


Bimasena malah tergelak, bukannya terprovokasi sesuai keinginannya. "Maka aku pastikan kamu segera menyusul El Maro ke Neraka."


"Bim, ratu kecantikan yang pernah kamu kirim fotonya kemarin, aku tunggu di hotel ya!" Tetiba ia punya ide untuk menghabiskan waktu membosankan di Venezuela.


"No no no, jangan bertemu siapa-siapa di sini, jangan pernah keluar dari hotel sampai pulang ke Indonesia. Aku nggak mau terjadi apa-apa denganmu," cegah Bimasena.


Apa maksud Bimasena? Ingin mengurungnya di Venezuela? Memang ia anak kecil?


*******


Tangan Nadia bergerak membalik sebuah figura yang dipasang terbalik di atas meja kerja. Ia terhenyak sekaligus terharu melihat foto di dalam figura tersebut. Foto dirinya bersama Glor.


Apa itu bukti cinta Bimasena kepadanya? Sampai membawa fotonya dengan Glor masuk ke dalam penjara.


"Bagaimana kabar Glor?" suara Bimasena mengagetkannya.


Namun ia tidak bisa berbalik lagi untuk melihat rupa pemilik suara. Karena pergerakannya telah terkunci oleh sebuah pelukan dari belakang.


"Ma ma na Mas Indra?"


Pelukan secara tiba-tiba itu membuatnya gelagapan.


"Pulang," jawab Bimasena singkat.


"Kok nggak nunggu aku? Aku kan gak tahu jalan pulang ke hotel," ucapnya panik. Ia panik bukan karena tidak tahu jalan pulang, tapi karena Danindra meninggalkannya di bilik itu bersama Bimasena.


"Kamu datang ke Venezuela mau liburan dengan Danindra atau mau menemuiku?"


Hembusan nafas segar pria itu terasa di telinganya, membuatnya meremang seketika.


"Ya menemui kamu. Tapi aku nggak tau jalan pulang Bim," kilahnya dengan nafas yang mulai kehilangan irama.


Bagaimana tidak, pelukan itu semakin mengetat. Sehingga semua bagian belakang tubuhnya menempel sempurna pada bagian depan tubuh Bimasena.


"Sampai kamu kembali ke Indonesia, kamu di sini bersamaku."


Bukankah itu yang ia harapkan? Bisa bersama Bimasena?


Tapi tidak seperti itu. Ia berpikir selama di Venezuela bisa membesuk Bimasena setiap hari. Terhalang dengan jeruji besi. Ia tetap tidur di hotel. Tidak menyangka ia akan berada di dalam bilik Bimasena sampai pulang ke Indonesia.


Sadar bahwa ia berada di dalam kandang singa lapar, otot-otot kecil pada kulitnya menegang.


"Tapi aku nggak bawa pakaian kemari, Bim," ujarnya.


"Kamu nggak butuh pakaian di sini, Sayang," ucap Bimasena dengan suara pelan. Tapi membuatnya semakin merinding. Apalagi satu tangan pria itu mulai mengelus dan meremas.


"Biiiiim, maksud kamu apa?" pekiknya. Tangannya berusaha mencegah tangan Bimasena agar tidak menyentuh bagian yang tidak semestinya.


"Maksudku jelas. Kamu ngerti kok."


Alasan apalagi yang harus ia lontarkan?


"Bim, aku nggak bawa pompa ASI kemari. Kalau ASInya nggak dipompa, dadaku mengeras dan sakit," ibanya, berharap Bimasena mengerti dan membolehkannya kembali ke hotel.


Tapi ...


Apa kata Bimasena?


"Mi amor, kalau bersama aku di sini, kamu nggak perlu pakaian dan gak perlu pompa ASI."

__ADS_1


__ADS_2