REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
Extra Part 1.


__ADS_3

Sudah cukup musim dingin dengan angin yang menggigit mengekangnya. Musim yang tidak bersahabat bagi pendatang baru sepertinya. Negara pecahan es mulai menerimanya. Dunia putih perlahan pergi meninggalkan jejak kaki, salju mencair mengalir pergi.


Salju yang berjatuhan dari langit berganti dengan hujan rintik-rintik. Nadia membuka jendela rumah lebar-lebar, mengisi paru-paru dengan udara segar.


Rumput menghijau seperti permadani dan bunga yang mekar berwarna warni di pekarangan. Aroma bunga tercium, aroma khas bunga musim semi. Bunga tulip berwarna putih, kuning dan merah muda, serta matahari yang terbit lebih awal, menghidupkan hati dan semangat. Keindahan musim semi bermekaran di hatinya.


Seperti musim yang berubah, hidup pun terus berubah. Ia tidak pernah menyangka, hidupnya akan berubah seratus delapan puluh derajat.


Pagi hari diwarnai dengan suara tawa renyah Glor, yang mulai menghamburkan mainan ke hampir semua ruangan di dalam rumah. Bersahutan dengan tangis baby Frey yang terbangun dari tidur.


Pagi merupakan bagian hari tersibuknya. Menyiapkan sarapan dan pakaian untuk suaminya sebelum berangkat ke kantor. Begitupun untuk


Glor yang mengikuti kelas preschool.


"Mommy mentang-mentang kuliah bareng anak ABG, gayanya ikutan kayak anak ABG," seloroh suaminya, mengamati pakaian yang ia gunakan dari atas sampai ke bawah, saat berjalan menuju meja makan untuk sarapan.


Ia tertawa mendengar ucapan suaminya. Memang benar ia merubah sedikit penampilan, untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.


Preppy style, gaya busana Vintage menjadi style yang sedang trendi dikalangan mahasiswa Kanada.


Ia menggunakan blazer berbahan tweed dengan warna coklat keemasan dan menggunakan pakaian bagian dalam yang motif eye catching. Untuk bawahan ia menggunakan loose slack (celana harem).


"Iya dong, Dad. Teman kelas Mommy usianya delapan belas sampai dua puluh tahunan. Mommy sendiri yang usia tiga puluhan. Makanya pakaiannya rada-rada kayak anak ABG gitu, biar nggak terlihat tua sendiri," cakapnya. "Eh tapi beberapa teman Mommy pikir Mommy masih remaja loh," candanya.


"Oh ya? Mereka tidak tahu bila Mommy sedang hamil anak ketiga?" kening suaminya mengerut.


"Nggak, mereka nggak tahu. Mommy kan pakai baju yang menyiasati perut jadi tetap terlihat langsing," jawabnya merasa bangga. Berbalik membelakangi suaminya lalu melihat style-nya di dalam cermin yang terletak di ruang keluarga.


Dari dalam cermin ia melihat suaminya menempelkan tubuh di punggungnya, lalu melingkarkan kedua tangan ke depan dan mengusap perutnya dengan perlahan,


"Baguslah kalau mereka berpikir Mommy masih remaja. Begitu bayi di perut Mommy lahir, Daddy isi lagi perut Mommy. Biar Mommy terlihat seperti anak remaja terus," desis suaminya di telinganya, lengkap dengan senyum licik. Mengecup sudut mulutnya.


Membuat mulutnya membulat. Apakah ia harus hamil dan melahirkan setiap tahunnya?


Ia lalu berbalik memandang punggung suaminya yang berjalan menuju meja makan. Dimana, Glor sudah terlebih dahulu mengambil posisi.


Glor menyendok grits ke dalam mulut. Bubur jagung dari butiran kecil. Di atas bubur diberi udang, sosis, dan serpihan daun bawang.


Meskipun lebih banyak grits yang tumpah ketimbang yang masuk ke mulut kecil Glor, namun ia meminta Glor makan sendiri, untuk mendidik Glor mandiri sejak kecil.


"Selamat pagi jagoannya Daddy. Glor mau punya ade berapa?" sapa suaminya, mencium pipi putera sulungnya, lalu duduk di samping Glor.


Dengan ceria Glor mengangkat tangannya ke depan wajah, lalu berhitung dengan jemari.


"Seven, eight, nine, ten ... teeeen !" seru Glor mengangkat sepuluh jari.


"Sepakat Glor. Daddy juga ingin punya sebelas anak. Biar bisa bikin tim sepakbola. Biar Mommy keliatan seperti gadis remaja terus." Lagi-lagi suaminya mengirim tatapan dan senyum nakal padanya, lalu menggigit Breakfast burrito tortilla yang diisi kentang, tomat, keju, beef, bayam, dan kacang.


Ia duduk tepat di hadapan suaminya. Mengambil biskuit dan mencelupnya ke dalam susu.

__ADS_1


"Dad, kok tugas kuliahnya semakin banyak sih? Mommy kewalahan," keluhnya.


Saat ia merasa hidupnya sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, ia justru dihimpit beban tugas kuliah. Harusnya ia mengikuti saran suaminya, memilih studi sesuai dengan passion, di bidang kecantikan atau fashion. Namun karena ingin terlihat keren, menjadi seorang ekonom, ia mengambil jurusan ekonomi. Menjadi penerus ayahnya yang seorang sarjana ekonomi.


Statusnya sebagai ibu dua anak yang masih kecil, dalam keadaan hamil pula, membuat ia kewalahan mengikuti jadwal kuliah dan menyelesaikan tugas kuliah.


"Jalani saja semampunya, Mi. Nggak usah terlalu dipikirkan, jangan sampai Mommy malah stress jadinya. Santai aja, nanti juga berlalu dengan sendirinya. Tanpa terasa Mommy udah wisuda. Pasti ingin lanjut S2 lagi." Bimasena meyakinkan dan menyemangatinya. "Anggap ke kampus untuk bergaul, kan Mommy anak remaja," kekeh suaminya.


Santai? Serius saja ia kewalahan apalagi santai.


Ke kampus untuk bergaul seperti anak remaja? Mana bisa bila berperut besar dan membawa bayi. Ia membawa baby Frey ke kampus. Menunggunya di taman atau di mobil bersama baby sitter. Agar ia mudah memberi ASI bagi baby Frey.


Tidak mudah menjadi seorang mahasiswi dengan dua anak yang masih kecil. Terlebih dalam waktu beberapa bulan bertambah menjadi tiga pula.


Begitu tiba di rumah ia tidak memiliki waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas. Setiap ia membuka macbook hendak belajar dan mengerjakan tugas, Glor akan merebut macbook-nya. Bila ia menunggu Glor tertidur, giliran Frey yang menjerit dan menangis. Bila kedua puteranya telah tertidur, giliran ayah kedua anak itu yang merepotkannya.


Daripada memikirkan tugas kuliah yang membuat mumet kepalanya, lebih baik ia membicarakan sebuah tawaran menggiurkan yang datang kepadanya.


"Dad, ada yang mau endorse Glor. Pakaian anak. Boleh nggak?"


Foto-foto lucu dua puteranya yang ia tampilkan di media sosial khusus dengan nama akun Glor & Frey membuat beberapa pihak tertarik untuk meminta dukungan terhadap produk yang ditawarkan. Bukankah ini tawaran menarik? Anaknya masih kecil tetapi sudah bisa menghasilkan uang?


Tetapi ia berbeda pola pikir dengan suaminya. Bimasena menggeleng tegas.


"No no no Mommy. Jangan mengeksploitasi atau mengkomersialisasi anak. Mencari nafkah itu tugas Daddy," tegas suaminya. "Masa kecil adalah masa untuk bermain dan bergembira. Bukan masa untuk bekerja mencari uang."


"Nggak ada yang nawarin endorse ke Mommy," lirihnya.


Suaminya tergelak mendengar ucapannya.


"Kalau nggak ada yang nawarin, biar Daddy aja yang nawarin endorse ke Mommy."


Tetapi seringai licik suaminya membuatnya balas menggeleng tegas.


"Nggak mau." Sebab ia sudah bisa menebak apa yang sedang berakar dalam otak suaminya.


Suaminya memiliki satu permintaan yang belum ia kabulkan sampai sekarang.


Memintanya menari bu gil di depan suaminya.


Gila bukan?


"Mommy kalau sedang hamil terlihat makin sexy. Semuanya jadi montok. Seksualitasnya makin meningkat. Ayolah Mi!" rayu suaminya semalam, untuk yang kesekian kalinya.


Namun ia tidak sependapat dengan suaminya. Karena saat hamil ia merasa tubuhnya tidak seelok pujian suaminya. Ia malah merasa seperti badut berperut gendut. Berdiri tanpa pakaian di depan suaminya saja ia malu, apalagi harus menari.


Bimasena menyudahi sarapannya, berjalan menuju wastafel mencuci tangan lalu mengeringkan tangan.


Ia kemudian membantu suaminya mengenakan jas, merapikan dasi dan jas suaminya.

__ADS_1


Seperti biasa sebelum berangkat kerja, suaminya mencium kedua anaknya terlebih dahulu sebelum mencium dirinya.


"Gloooor, tombak kemenangannya Daddy," seru suaminya, mencium berkali-kali pipi gembul Glor.


"Ayah berangkat ke kantor ya? Habis sarapan Glor mandi lalu berangkat sekolah," pesan suaminya.


"Frey sedang dimandiin suster Dad," ucapnya.


Bimasena tetap melangkah menuju kamar mandi meskipun bayinya sedang mandi. Keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah, diciprat air oleh baby Frey. Sehingga ia mengambil tissue dan menyapukan ke wajah suaminya.


Sekarang gilirannya mendapat ciuman sebelum suaminya berangkat ke kantor. Bimasena perlu menekuk lutut untuk menjangkau pipinya karena tingginya hanya sebatas bahu suaminya. Setelah mencium pipinya, suaminya mengecup keningnya, lalu berujar,


"Mi, jangan menjadikan kuliah itu sebagai beban. Jalani saja, anggap kampus itu lingkungan pergaulan Mommy." Ucapan suaminya memang selalu menenteramkan hati. Bagaimana ia tidak semakin sayang?


Tetapi tidak selamanya ucapan suaminya menenteramkan.


"Yang perlu Mommy pikirkan adalah, apa yang Daddy minta Mommy harus penuhi. Nanti malam Daddy tagih. Sifatnya wajib, tidak menerima alasan apapun." Bimasena memberikan penekanan pada kalimat terakhir disertai seringai licik.


"Daaaad," teriaknya, dengan mata membelalak.


"Tidak boleh protes," sosor suaminya, mencubit pipinya.


"Daddy berangkat," sambung suaminya.


Menari bu gil di depan suami? Kok lebih berat rasanya dibanding tugas dari beberapa mata kuliah sekaligus.


Apa ada suami wanita lain yang sebadung suaminya? Ataukah dirinya saja yang terlalu kaku menjadi seorang istri?


***********


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.


Spesial untuk readers tersayang, Bimasena apel di malam minggu.


Satu lagi novel baru dari Author, mulai UP di awal bulan. Selamat membaca. Terima kasih atas apresiasi dan dukungannya.


Salam sayang


Author Ina AS


😘😘😘


********



UP di awal bulan

__ADS_1


__ADS_2