
Saat Nadia membersihkan meja kerja Tristan, tanpa sengaja ia menemukan sebuah invoice dalam laci meja kerja yang membuatnya tertarik untuk melihatnya. Invoice dari sebuah Biro Perjalanan Wisata berisi pelunasan biaya paket tour Jepang untuk 4 orang.
Diantara nama yang tertera pada invoice, terdapat nama Tristan dan Hakimah.
Minggu depan Tristan mau ke Jepang, kenapa nggak pernah ngomong sih?
"Kamu mau ke Jepang minggu depan?" Akhirnya pertanyaan itu dilontarkan saat mereka makan malam.
"Iya," jawab Tristan singkat sambil mengunyah makanan.
"Kok nggak pernah ngomong sih?" protes Nadia.
"Kan berangkatnya juga minggu depan," sahut Tristan datar.
"Tapi aku kan mau ikut Tristan. Kenapa nggak ngajak aku? Aku masih bisa ikut nggak?" seru Nadia dengan wajah memelas penuh harap.
"Mana bisa, kuotanya udah cukup. Belum lagi urus visa dan lain-lain yang butuh waktu. Ngapain juga ke Jepang ngabisin uang?"
Nadia mendesah kecewa. Tristan yang selalu tenggelam dalam keasyikan dunianya sendiri, sekarang kembali ingin bersenang-senang sendiri.
"Aku juga ingin lihat bunga Sakura, gunung Fuji dan Disney Land, Tristan. Kamu nggak usah khawatir kalau soal uang. Aku punya tabungan sendiri kok. Lah kamu juga ingin lihat Jepang, sama."
"Kalau kamu punya uang mending pake untuk lunasin utang kakak Kamu di Bank. Dari pada setiap bulan terbebani oleh utang. Kalau aku ke Jepang karena bersama teman kantor. Kami butuh refreshing karena tekanan pekerjaan yang tinggi," ucap Tristan tanpa ekspresi.
Nadia kembali mendesah kecewa. Ia mendadak kehilangan selera makan. Ia pun berhenti makan lalu berdiri membawa piringnya ke bak cuci piring.
Setelah itu ia masuk ke dalam kamar, dan berbaring di tempat tidur. Tidak peduli meskipun ia baru saja makan. Tentu bisa berpengaruh ke bentuk badannya. Toh apa yang ia miliki tidak ada pengaruhnya bagi Tristan. Mungkin bukan wanita sepertinya yang diinginkan Tristan.
Begitu sulit menciptakan suasana yang baik antara ia dan Tristan. Nadia tidak mengerti apa karakter Tristan yang seperti itu? Suami yang tidak peduli? Atau memang Tristan sudah tidak menyukainya lagi?
Nadia tidak pernah mempermasalahkan bila dengan santainya Tristan hanya leyeh-leyeh, tidak pernah membantunya saat ia mengerjakan tugas rumah tangga sendirian. Ia mengerti bahwa suami lelah bekerja di kantor. Namun Tristan tidak pernah lagi mengajak ia keluar untuk nonton, makan malam atau main ke mall. Hanya pada saat awal pernikahan Tristan seperti itu. Semakin lama Tristan menjelma menjadi batu.
Dirinya bukanlah sosok yang penting bagi Tristan. Tidak pernah diprioritaskan.
Sekarang Tristan akan berangkat ke Jepang liburan bersama teman-temannya. Tidak ada keinginan Tristan untuk mengajak serta dirinya. Tristan kembali ingin bersenang-senang sendiri.
Saat hari dimana Tristan berangkat ke Jepang, Tristan menerima tawarannya untuk diantar ke Bandara. Namun terlebih dahulu mereka menjemput teman Tristan yang bernama Hakimah.
Hakimah, beberapa kali Tristan memuji wanita itu karena kecerdasannya. Mungkin Tristan ingin ia seperti Hakimah.
"Hi Kak Nadia, maaf Imah jadi ngerepotin nih," sapa Hakimah saat ia naik ke atas mobil di seat belakang.
__ADS_1
"Hi, nggak apa-apa kok," jawab Nadia tersenyum sambil menoleh ke belakang memandangi Hakimah dengan perasaan kerdil. Suaminya sering menyanjung nama itu, membuat kehilangan percaya diri saat bertemu Hakimah.
"Mbak Nadia kok nggak mau ikut liburan ke Jepang?" tanya Hakimah kemudian.
Nggak mau ikut? Siapa yang tidak mau ikut?
Tapi belum juga Nadia menjawab, Tristan buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.
"Pihak Travel sudah menyetujui kita untuk mencoba kereta api cepat di Jepang, sudah dijadwalkan dalam agenda tour, " ujar Tristan.
"Naik kereta?" seru Nadia. Baginya tidak masuk akal jauh-jauh ke Jepang hanya untuk mencoba naik kereta.
"Untuk melihat teknologi transportasinya Nadia. Jepang kan negara yang berhasil mengembangkan transportasi massal yang paling canggih," gumam Tristan sambil menggelengkan kepala. Sepertinya ia tidak senang mendengar pertanyaan bodoh Nadia.
"Imah belum pernah ke Jepang Kak. Jadi Ima mau lihat kereta api cepat yang bernama Shinkansen yang berkecepatan 270 km per jam. Kereta itu mampu mencapai Osaka hanya dengan dua setengah jam. Transportasi di Jepang menjadi model keberhasilan pengembangan transportasi massal bagi negara-negara lain. Oleh karena itu Ima penasaran ingin lihat Kak," jelas Hakimah.
"Disitu bedanya kamu dengan Hakimah. Hakimah kalau travelling ia akan melihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi daerah yang didatangi. Kalau kamu lihat mode dan tempat yang instagramable," sindir Tristan dengan nada mencemooh.
Mulai saat itu Nadia memilih diam. Ia hanya mendengarkan Tristan dan Hakimah berkomunikasi. Lagian topik pembicaraan mereka terlalu tinggi untuk Nadia. Ilmunya tidak sampai ke sana. Membahas perkembangan teknologi melulu.
"Teknologi Jepang memang nggak pernah setengah-setengah, bahkan teknologi juga sampai ke toilet. Toilet dengan beragam tombol. Mulai dari tombol yang berfungsi untuk mengatur kuat atau lemah pancuran, bahkan hingga musik untuk menyamarkan suara yang ada di dalam bilik toilet," tambah Hakimah lagi.
Kesan yang ia dapat selama perjalanan ke Bandara bersama Hakimah, gadis itu adalah gadis yang cerdas dan berwawasan luas. Sama persis yang sering diagung-agungkan oleh Tristan.
Tristan sudah membandingkannya dengan Hakimah di depan Hakimah sendiri. Membuat dirinya seolah-olah menjadi orang yang tidak berarti.
Dari situ ia bisa belajar, bahwa orang yang sudah diberikan kepercayaan, terkadang malah ia yang menyakiti. Tidak bisa menghargai perasaan dan tidak menjaga pasangan dari rasa sakit hati.
Dari pada terus-terus memikirkan Tristan, malah membuatnya sakit hati, sepulang dari bandara ia mampir di klinik kecantikan. Memanjakan diri dengan melakukan perawatan kecantikan yang tidak terdapat di salonnya.
Siapa lagi yang akan membahagiakannya kalau bukan dirinya sendiri. Berharap pada Tristan untuk membahagiakannya? Sesuatu yang tidak mungkin.
Bimasena? Sejak pria itu berangkat ke Amerika seminggu yang lalu, tidak pernah ada kabarnya lagi. Ia pun menyesal mengucapkan kalimat jangan lama-lama kepada Bimasena yang nampaknya hanya bermain hati padanya.
Disaat ia rindu, lelaki itu menghilang. Namun disaat ia berusaha melupakan, lelaki itu selalu datang tiba-tiba, pada saat yang tidak tepat.
Lalu kenapa ia memikirkan Bimasena? Oh tidak. Ini merupakan suatu kesalahan.
Lebih baik berharap Tristan suatu saat akan berubah dari pada berharap kepada Bimasena. Ia tidak percaya mengapa dirinya jadi seperti itu. Betapa lemah pertahanannya sebagai seorang istri yang begitu mudah terpikat pesona pria lain.
Meskipun sakit hati kepada Tristan, namun pada sisi yang lain ia merasa berdosa. Karena tanpa ia sengaja, ia sudah merindukan pria lain.
__ADS_1
Ia hampir lupa membelokkan kendaraannya masuk ke dalam kompleks perumahan karena otaknya tidak fokus mengemudi. Karena kembali lagi memikirkan Tristan yang membanding-bandingkannya dengan Hakimah. Sangat menyesakkan dada.
Tanpa sempat menyalakan lampu weser, ia segera membanting stir ke kiri. Nyaris saja mobilnya ditabrak oleh kendaraan dari belakang ketika secara tiba-tiba ia berbelok. Untung saja ia masih terhindar dari kecelakaan. Tidak lupa ia mengucapkan syukur kepada Tuhan yang masih melindunginya.
Namun begitu kendaraannya masuk di blok rumahnya, tanpa ia perintah kakinya refleks menginjak pedal rem sehingga kendaraannya berhenti mendadak.
Bagaimana tidak, dari arah yang berlawanan, sebuah mobil bergerak dengan lambat dan berhenti tepat di depan rumahnya.
Mobil itu sangat familiar baginya. Audy R8 Grey.
Ia sudah kembali dari Amerika?
Di tengah jantungnya yang kembali berpacu lebih cepat, senyumnya terkembang sempurna.
Tristan yang sudah menyakiti perasaannya bersama Hakimah, sudah jauh terlempar dari pikirannya. Yang ia pikirkan sekarang bagaimana menghadapi pria di dalam mobil sport itu.
Selalu saja seperti ini. Datang tiba-tiba.
Dari balik kemudi ia menyaksikan bagaimana pria tampan itu turun dari mobil sport nya. Sangat elegan dengan setelan jas casual tanpa dasi.
Wanita mana coba yang tetap kuat melihat pemandangan indah itu di depan sana?
Seberapa besarpun usahanya untuk bisa menguasai diri dan percaya diri menghadapi Bimasena, tetap saja ia berjalan dengan kaki gemetar dan wajah yang gugup menghampiri pria yang sudah memasang senyum mematikan itu.
"Kok cepat pulang dari Amerika?" Sapaan yang kurang tepat ia layangkan kepada Bimasena.
Karena jawaban Bimasena atas pertanyaan itu, sudah melemparkan ia jauh tinggi di atas awan.
"Sebenarnya masih ada penerapan teknologi baru dalam pengeboran di Amerika yang harus aku lihat."
"Tetapi sebelum berangkat ke Amerika kemarin, ada orang yang berpesan padaku, jangan lama-lama. Aku merasa terbebani oleh pesan orang itu. Makanya aku tidak bisa lama-lama di Amerika."
"Lagian juga aku mengkhawatirkan orang itu. Karena selama tujuh hari ke depan, sepertinya ia akan tinggal sendiri di rumah. Tidak ada yang menjaganya."
*******
Readersku tersayang,
Terimakasih buat yang selalu menunggu novel ini UP. Yang mengirim DM ke Author, kapan Bimasena UP? Bukan kapan Reuni UP? Lain kali DM nya diganti. Kapan Tristan UP? Karena Tristan sudah cemburu, kalian nyebut Bimasena melulu sih 😁.
Terimakasih atas segala dukungannya.
__ADS_1
Salam sayang dari Author.
😘😘😘