REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
97. Lagu Tentang Cinta


__ADS_3

Lalu dengan perlahan Nadia membuka pintu ruang tamu.


Dan ...


Wajah segar seorang pria berwajah mirip Glor nampak dari balik pintu. Tersenyum kecil dengan tatapan tajam yang menikam jantungnya.


Begitu mencium wangi berkelas pria itu, ia pun mundur satu langkah. Tentu ia tidak ingin pria itu mencium bau tubuhnya. Bau susu basi.


Namun tangannya tetap pada pintu untuk menghalangi pria itu masuk ke dalam rumahnya.


"Kenapa kamu datang?" Entah mengapa ia kehilangan etika dan tata krama menerima tamu. Padahal orang tuanya tidak pernah mengajarkan hal demikian.


Untung saja Bimasena hanya menanggapinya dengan merekahkan senyum hangat.


"Dulu kamu bilang aku datang pada waktu yang salah. Sekarang, katakan, apa waktunya masih salah?" Bimasena malah balik bertanya kepadanya.


Pertanyaan sederhana, namun membuat ia tersudut, tidak tahu harus menjawab apa. Tetapi jujur, darahnya berdesir mendengar jawaban itu.


"Kamu sudah lama menghilang, kenapa muncul kembali?" Ia bahkan memberondong tamunya dengan pertanyaan tanpa menyilahkan untuk masuk ke ruang tamu. Membiarkan pria itu berdiri di muka pintu.


"Nadia. Jangan mengira aku menghilang. Jangan tanya mengapa aku datang karena aku nggak pernah pergi. Aku hanya menghindari diri melakukan kesalahan kembali, karena ternyata tidak membuahkan hasil yang baik. Aku hanya menunggu waktu yang tepat," terang pria itu.


Ia tidak bisa mengelak, bila kehangatan memeluk hatinya. Seolah kelam berganti dengan terang, yang dibawa oleh pagi.


Tetapi jangan harap ia akan memasang wajah ramah pada pria di depannya.


"Kamu akan membiarkan aku terus berdiri di sini?" mata pria itu menyipit.


Ia mengangguk.


"Bukankah lebih baik bila kita berdiskusi di dalam?" Tangan pria itu menunjuk ke arah sofa.


Ia menggeleng sebagai tanda penolakan.


Sekarang ia seorang janda yang harus menjaga sikap, perilaku dan nama baik. Bukan menjadi seorang wanita yang mudahan atau murahan.


Agar tidak menjadi bahan gunjingan orang lagi seperti sebelumnya.


Sehingga ia tidak akan membiarkan seorang pria dengan leluasa memasuki rumahnya. Termasuk orang di depannya.


Tidak masalah bila ia dianggap tidak memiliki etika terhadap tamunya yang satu ini.


Lagian ia belum mampu menguasai debaran jantungnya. Bila pria itu masuk ke dalam rumahnya, ia khawatir bisa mengalami serangan panik lalu jatuh pingsan. Karena ia sudah lupa bagaimana cara menghadapi pria di depannya.


"Kamu tidak ingin mendapat stigma negatif dari tetangga?" tanya pria itu.


Syukurlah Bimasena bisa memahami kegelisahannya, meskipun ia tidak menjelaskan secara rinci. Pria yang sangat pengertian.

__ADS_1


Ia pun kembali mengangguk.


Tetapi ternyata tamunya lebih tidak memiliki etika daripada tuan rumah. Apa karena terlalu lama hidup di negeri barat?


Bimasena menoleh ke kanan dan ke kiri rumah. Melihat rumah tetangga yang masih terang benderang.


"Iya sih. Tetanggamu belum pada tidur." Bimasena tersenyum licik. "Kamu ingin tetanggamu melihat aku memeluk dan menciummu di sini?" ancam pria itu kemudian, maju setengah langkah ke arahnya.


Yang membuatnya tersentak dan refleks mundur beberapa langkah. Matanya melotot hendak menonjok pria itu. Tetapi tubuhnya ternyata sangat penakut, pengkhianat, dan pengecut.


Karena tangan dan kakinya malah gemetaran saat Bimasena melangkah masuk ke dalam ruang tamu, mendekatinya, lalu berdiri tepat di depannya dalam jarak dua langkah.


Pria itu tertawa senang karena berhasil menindasnya. Tetapi ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi mainan pria itu lagi. Apalagi menjadi santapan.


"Kamu gila Bim! Gak punya sopan santun!" pekiknya. Rasanya ingin mengirim pria itu ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan rehabilitasi terpadu.


"Bim?" Bimasena tersenyum dan mengernyit kepadanya. "Sudah lama aku nggak mendengar kamu menyebut namaku." Mata cokelat itu menyipit memandangnya penuh arti. "Aku rindu kamu memanggil namaku."


Tidak, ia tidak boleh terpengaruh rayuan pria itu. Tetapi mengapa mulutnya terkunci, tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk melawan?


"Glor udah tidur?" tanya Bimasena, mengalihkan pandangan ke arah kamar.


Bagaimana Bimasena tahu bila nama puteranya adalah Glor?


"Siapa yang memberitahu kamu nama anakku adalah Glor?" Ia mengemukakan pertanyaan di atas rasa penasarannya.


"Mana mungkin aku tidak mengetahui nama puteraku, Nadia." Pria di depannya begitu percaya diri.


"Bagaimana kamu yakin bila Glor adalah puteramu? Kamu belum pernah melakukan tes DNA." Keberanian muncul begitu saja untuk melawan Bimasena, mengingat hampir setengah tahun ia melewati segalanya hanya berdua dengan Glor.


Tapi jawaban Bimasena membuatnya mati langkah.


"Nadia. Dari awal, saat kita melakukannya di ruangan ini, di atas sofa yang sudah kamu ganti, aku sudah tahu, bila aku akan memiliki seorang anak setelah malam itu."


Api seakan membakar wajahnya. Karena Bimasena mengingatkan kembali kepada kejadian memalukan itu. Saat dengan mudahnya ia bertekuk lutut pada rayuan dan cumbuan Bimasena. Membiarkan semalaman tubuhnya menjadi santapan Bimasena.


"Glor lahir bukan karena ketidaksengajaan. Tetapi sesuatu yang sudah terencana," ungkap Bimasena.


Mengapa otaknya begitu lamban berpikir, begitu sulit menelaah maksud ucapan Bimasena.


Bukan ketidaksengajaan, tetapi terencana. Apa maksudnya?


Pria itu melanjutkan lagi, "Terima kasih ya?"


"Terima kasih untuk apa?" Akhirnya ia bisa bersuara.


"Terima kasih karena telah memberikan nama Glor Gerardo untuk puteraku. Meskipun tidak dilengkapi dengan nama Bimasena di belakangnya."

__ADS_1


Sekarang waktu baginya untuk menyerang Bimasena.


"Kamu jangan mengaku-ngaku Glor itu puteramu. Kemana saja kamu selama ini? Kamu mengaku ayahnya tetapi menelantarkan anakmu." Sekarang ia memiliki tenaga penuh untuk meluapkan kekecewaannya kepada Bimasena. Melampiaskan emosi yang sekian lama terpendam.


"Kamu pikir apa yang aku lalui dengan Glor itu mudah? Aku melalui hidup yang berat hanya berdua dengan Glor. Aku membesarkannya sendirian. Aku sudah biasa hidup berdua dengan Glor. Jadi kamu tidak usah datang belakangan mengganggu kami." Bukan hanya suara yang meledak. Tetapi tangisnya juga meledak.


Namun pria di depannya tetap tenang. Hanya tersenyum melihatnya menangis.


"Nadia. Bukannya kamu sendiri yang memilih meninggalkan aku? Tidak mungkin aku menemani kamu melahirkan, karena kamu berstatus istri Tristan. Meskipun saat itu Tristan lebih memilih menemani wanita lain yang kecelakaan."


Ungkapan Bimasena membuatnya terperanjat meskipun diucapkan dengan sangat tenang. Bagaimana pria itu bisa mengetahui yang terjadi saat ia melahirkan?


"Tidak mungkin aku menemani kamu merawat Glor karena status pernikahanmu."


"Bahkan saat Tristan keluar dari rumah ini, aku masih berusaha menahan diri untuk tidak menemuimu. Kenapa? Karena meskipun kalian pisah rumah, kamu dan Tristan masih terikat pernikahan. Aku tidak boleh mengulangi kesalahan mengganggu istri orang," sambung Bimasena.


Sekali lagi ia terperangah mendengar pernyataan Bimasena. Bagaimana pria itu tahu segala sesuatu yang terjadi pada dirinya? Darimana?


Bimasena melanjutkan lagi.


"Bukan cuma kamu yang melalui hari yang berat. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya bila orang yang kamu sayangi diluar jangkauan dan kamu tidak memiliki daya sama sekali."


"Aku tidak lebih dari orang bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menunggu dalam ketidak pastian. Lebih setengah tahun aku menunggu kamu Nadia dalam ketidak pastian."


Meskipun diucapkan dengan tenang, setiap kata-kata Bimasena bagaikan kilatan petir yang membelah hatinya. Membuatnya terkesima oleh kalimat-kalimat sederhana namun terasa manis.


Apa benar Bimasena menunggunya? Meskipun terselip keraguan di dalam hatinya, namun ia begitu tersentuh dengan ucapan pria tersebut.


Matanya memandang makhluk yang terlihat begitu sempurna baginya. Pantaskah Bimasena melakukan itu semua kepadanya?


"Kamu nyaris membuat aku jadi bujang lapuk," keluh Bimasena dengan suara serak.


Sekarang otaknya sudah buntu. Lidahnya kelu untuk membalas ucapan Bimasena. Hanya air matanya yang terus mengalir. Ia sudah kalah telak berdebat dengan Bimasena.


"Tapi soal Glor, kamu salah bila aku menelantarkannya Nadia. Aku tidak pernah datang belakangan. Tetapi keadaan membuat aku tidak bisa maksimal menjalankan peran sebagai seorang ayah." Bimasena diam sejenak memandangnya.


"Dan sekarang, waktunya telah tiba. Aku akan menjadi ayah sepenuhnya dan seutuhnya bagi puteraku," ucap Bimasena dengan mantap.


Pria itu lalu membuka handphone, kemudian menyerahkan kepadanya.


Dengan tangan gemetar ia menerima handphone itu. Lalu dengan rasa penasaran ia melihat layar handphone tersebut.


Tetapi apa yang dilihatnya justru membuatnya membelalak. Karena yang ada pada layar handphone itu, lebih mengejutkan lagi dari apa yang ia dengar dari Bimasena tadi.


Mulutnya membulat dan sorot matanya meminta penjelasan kepada Bimasena atas apa yang ia lihat pada handphone milik pria itu.


"Kamu dan Glor adalah alasanku untuk kembali ke Indonesia," terang pria itu.

__ADS_1


Salahkah bila ia merasa menjadi wanita yang berharga? Ataukah apa yang didengarnya hanyalah bujuk rayu semata?


__ADS_2