
Akhirnya waktu cuti melahirkannya telah usai. Nadia harus kembali masuk kerja.
Beruntung ia memiliki atasan yang baik. Ibu Titiana memberi kebijakan untuknya, boleh membawa bayinya ke kantor.
Pagi-pagi ia sudah meletakkan baby Glor di baby bather, bersiap memandikannya. Sambil memandikan, ia mengajak Glor berbicara untuk merangsang kemampuan berkomunikasi puteranya.
"Ayang-ayangnya mami, kecil-kecil udah ikut ke kantor. Bareng mami cari uang. Untuk sekolahnya Glor nanti. Glor harus sekolah ya tinggi ya nak, jangan seperti mami."
Mata cokelat bayinya membulat menatapnya.
Baby Glor menanggapinya dengan mengeluarkan celotehan, "Oooooh."
Kadang-kadang baby Glor tersenyum, kadang tertawa bila ia mengajak berbicara. Bayinya memberi respon yang cukup baik setiap kali diajak berkomunikasi.
Di usia tiga bulan, bayinya tumbuh semakin lucu dan menggemaskan. Pipi dan pan tat bayi itu semakin montok.
Beberapa kali Ibu Titiana bersama asistennya, datang khusus mengunjunginya, hanya untuk membawa baby Glor berjalan-jalan ke Mall. Setiap pulang dari Mall, baby Glor mendapat gift yang banyak dari Ibu Titiana.
Pakaian bayi, mainan, dan peralatan bayi lainnya menumpuk di rumahnya. Semua dari Ibu Titiana. Sehingga ia jarang membeli perlengkapan bayi lagi. Cukup membeli diapers untuk bayi lucunya.
"Nadia, ibu sangat ingin mengadopsi baby tampan ini," ungkap Ibu Titiana. "Senangnya punya bayi lucu seperti ini."
Ya wajarlah bila Ibu Titiana mengatakan itu. Karena di usia yang hampir kepala enam, atasannya belum memiliki penerus. Jangankan penerus, bahkan Ibu Titiana belum memiliki pasangan. Kesibukan mengejar karir membuat Ibu Titiana kesulitan menemukan pasangan yang sesuai dengan keinginan.
Tetapi sesusah apapun hidupnya, ia tidak akan pernah memberikan puteranya untuk diadopsi oleh orang lain. Meskipun orang itu Ibu Titiana, atasannya sendiri, yang sangat baik hati padanya.
Begitupun Lily. Beberapa kali Lily 'meminjam' baby Glor. Membawa baby Glor hang out.
Saat baby Glor ikut hang out, baik bersama Ibu Titiana maupun Lily, kesempatan itu ia gunakan untuk membersihkan rumah.
Ataupun ia gunakan untuk merawat dirinya. Kesibukannya mengurus baby Glor, membuat kurangnya kesempatan memanjakan diri.
Sejak Glor lahir, ia tidak pernah melakukan perawatan di klinik kecantikan lagi. Karena kebutuhan baby Glor lebih utama, sehingga ia harus berhemat.
Badannya tidak selangsing dulu lagi. Ia harus makan lebih banyak dari biasanya, untuk menjamin suplai ASI baby Glor. Karena ia berencana memberi ASI eksklusif untuk puteranya.
"Ly, kalau kamu sering bepergian dengan baby Glor, nanti cowok-cowok bakalan mengira kamu udah punya anak. Gak takut nanti gak laku?" tegurnya pada Lily yang serupa Ibu Titiana. Selalu 'meminjam' baby Glor untuk diajak jalan.
"Kalau aunty gak laku, aunty nanti tunggu baby Glor dewasa, trus kita nikah ya baby?" seloroh Lily sambil mengajak baby Glor berbicara.
"Aaaaaaaw," celoteh baby Glor sambil tersenyum kepada Lily.
"Nah tuh kan, Glor bilang mau," seru Lily bertepuk tangan. "Asyik, bakal punya suami tampan."
"Ih amit-amit, anakku nikah sama ninik-ninik," Nadia tertawa. "Ayang-ayang mami jangan mau ya?" Nadia mencubit pipi gembul bayinya dengan lembut.
"Kalau sudah dapat cowok, kenali kepribadiannya baik-baik sebelum memutuskan menikah. Jangan sampai kamu menjadi korban pria yang mudah bosan, atau tertipu dengan pria yang mudah mengumbar janji palsu." Untuk kesekian kalinya ia menasehati Lily. Agar Lily tidak mengalami hal yang sama seperti yang ia rasakan.
Setelah memandikan baby Glor, gilirannya yang mandi. Seperti biasa, ia mandi di dalam kamar mandi tanpa menutup pintu. Karena baby Glor ia letakkan di atas stroller bayi di depan pintu kamar mandi. Sebab bila tidak melihat siapa-siapa, baby Glor akan menangis.
Seperti saat ia masih hamil, ia berangkat ke kantor menumpang mobil Lily. Membawa stroller dan perlengkapan bayi yang diperlukan selama Glor berada di kantor. Mulai dari diapers, baju ganti, bantal guling dan perlengkapan lainnya.
Begitu tiba di kantor, bayi tampan dan lucu Glor menjadi bayi yang diperebutkan oleh para wanita. Baik yang sudah berkeluarga maupun yang masih single. Bayi yang berkulit putih bersih itu berpindah dari satu gendongan ke gendongan lain.
"Duh baby Glor cakep banget, mirip siapa ya?" lontar Vera, seorang Junior Lawyer.
Meskipun Vera memuji bayinya, namun kata 'mirip siapa' cukup mengiris hatinya. Karena mengingatkan kepada seseorang yang sulit untuk dilupakan.
Pria yang telah menjatuhkan hatinya, mengubah arah hidupnya. Pria itu telah menghilang ditelan lautan waktu. Menghilang bersama kata-kata manis yang pernah diucapkan dulu.
__ADS_1
Tetapi ia tidak menyalahkan pria itu. Karena pria tersebut telah berusaha memperjuangkannya waktu itu. Namun dirinya sendirilah yang mengambil keputusan yang salah.
Ia meletakkan semua peralatan dan perlengkapan bayinya di ruang arsip, di ruang kerjanya.
Baik Ibu Titiana maupun para Senior Lawyer di kantornya, tidak ada yang memberi tugas yang berat kepadanya. Mereka sangat mengerti bila ia bersama dengan seorang bayi, sehingga tidak bisa bekerja dengan maksimal.
Bagaimanapun juga rasa tidak enak menyelimuti dirinya, karena mendapat perlakuan istimewa seperti itu. Sebab dirinya bukanlah siapa-siapa di kantor itu.
"Semua orang di sini menghormati kamu dan menyayangi baby Glor," ucap Lily saat ia mengungkapkan rasa tidak enaknya kepada Lily.
*******
Setelah melalui tahapan sidang proses perceraian yang panjang, mulai dari kelengkapan berkas, mediasi sampai sidang kesimpulan, akhirnya proses perceraian Nadia dengan Tristan sampai ke tahap pembacaan keputusan.
Pukul 9 pagi Nadia sudah berada di pengadilan bersama kuasa hukumnya, Ibu Melanie.
Ibu Titiana juga mendampinginya bersama Lily. Ibu Titianalah yang datang menjemputnya di rumah dan ia menumpang mobil Ibu Titiana ke pengadilan.
Sementara baby Glor ia titip pada Mpok Nana. Pagi-pagi Mpok Nana sudah datang di rumahnya diantar oleh Bang Herial.
Ia lebih dahulu hadir di pengadilan mendahului Tristan. Tristan datang kemudian bersama kuasa hukum dan Triyasih.
Meskipun sudah beberapa bulan hidup berdua dengan Glor, tetapi menjalani proses perceraian dan berada di ambang perceraian tidak urung membuatnya stres berat dan berlarut-larut dalam kesedihan.
Menjalani proses perceraian tidak semudah mengatakannya. Meskipun ia dan Tristan sudah sepakat untuk bercerai, tidak ada rebutan harta gono-gini maupun rebutan anak, tetapi tetap membuat kondisi mentalnya up and down.
Ia harus berjuang melawan depresi. Ia juga mengalami trauma pernikahan, juga trauma memiliki hubungan yang mendalam dengan seorang pria.
Hanya baby Glor yang menjadi kekuatannya saat ini. Penghibur jiwanya. Kekuatannya untuk bangkit dari keterpurukan dan melangkah maju. Saat ini baby Glor adalah fokus utamanya, di atas segalanya.
Dan saat Hakim membacakan putusan,
"Telah mendengar keterangan Pemohon dan para Saksi, serta memeriksa bukti-bukti lainnya di persidangan."
" ........... "
"Mengadili ...."
"Mengabulkan permohonan Pemohon."
"Membebankan kepada Pemohon untuk membayar biaya perkara sebesar Rp....."
Berakhir sudah ikatan pernikahannya dengan Tristan. Walaupun ada rasa lega di dalam ruang hati, namun dunianya seakan runtuh. Menjadi single mother bukanlah hal yang mudah. Bagaimanapun perceraian mempengaruhi kondisi psikisnya karena hidup yang mengalami pergeseran.
Saat Tristan berdiri untuk menyalami Hakim, ia bahkan tidak bisa berdiri dari kursinya, karena kakinya terasa sangat lunak. Berbeda dengan Tristan yang tampak lega setelah putusan Hakim. Ia merasa dirinya sangat terpuruk.
Meskipun didampingi pengacara, selalu diberi semangat oleh Ibu Titiana dan Lily, namun ia merasa sendirian.
Mungkin ia butuh sosok yang memeluknya dan menggenggam tangannya, memberi kekuatan bahwa hidup tidak berakhir hanya dengan perceraian. Bahwa ia baik-baik saja meskipun keadaan telah berubah. Tidak perlu takut akan merasakan kesulitan hidup setelah perceraian.
Akhirnya Hakim yang mendatanginya dan menyalaminya. Karena ia merasa raganya tidak bernyawa lagi, begitu sulit untuk bangkit dari kursinya.
Di belakang Hakim sudah ada Tristan yang menunggu. Saat hendak bersalaman dengan Tristan, ternyata ia masih memiliki sisa tenaga untung bangkit berdiri.
"Maafkan aku Nadia," ujar Tristan meraih tangannya.
Meski hatinya remuk redam, ia tetap berusaha untuk tersenyum kepada Tristan. Karena ia harus tampak kuat meskipun hatinya sesungguhnya rapuh.
"Aku yang harus minta maaf Tristan. Aku harap setelah semua yang terjadi, kamu bisa meraih kebahagiaanmu. Menikahlah secepatnya, dan mulailah hidup barumu." Ia melirik Triyasih yang berdiri di samping Tristan, sedikit lebih ke belakang.
__ADS_1
Tristan mengangguk. "Demikian pula kamu, kembalilah padanya dan menikahlah. Aku harap kamu juga bahagia."
Tetapi ia menggeleng. Mengapa juga Tristan menyinggung dia. Justru semakin membuat lara hatinya.
Apa Tristan berpikir bila komunikasinya dengan Bimasena lancar? Tristan tidak tahu, bila pria itu sama sekali tidak pernah mempedulikan puteranya, apalagi mempedulikan dirinya.
Cinta Bimasena bukan untuknya lagi. Juga bukan untuk Glor.
Bukan perpisahan dengan Tristan yang teramat ia tangisi sehingga ia merasa hancur. Tapi kekhawatiran tidak bisa memberi masa depan yang baik untuk Glor, karena kemampuan dan kekuatannya yang sangat terbatas.
Sebentar lagi ia harus menghadapi stigma negatif sebagai seorang janda. Tekanan sosial menjadi salah satu hal yang harus diterima oleh seorang janda seperti dirinya.
"Baik-baiklah dengan Glor. Aku pulang Nadia," ucap Tristan kemudian, lalu memeluknya.
Sedapat mungkin ia menahan air mata. Tetapi ternyata tidak mudah. Ia tidak mampu. Beberapa saat ia menangis di bahu Tristan.
Tidak ada yang menginginkan perceraian. Perceraian memang menyakitkan, selalu ada kecewa, air mata dan hati yang terluka. Tetapi tidak semua pernikahan yang dapat dipertahankan. Kadang-kadang perceraian adalah pilihan dan jalan yang terbaik.
Setelah Tristan dan Triyasih berlalu, ia kembali duduk di kursinya. Mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk menghadapi hari esok. Berusaha menerima kenyataan bila ia telah sendiri.
Ibu Titiana berdiri dari kursi, melangkah ke depannya dan mengulurkan tangan.
"Bangkitlah Nadia, songsong hidup barumu. Ibu yakin kamu akan lebih bahagia bersama baby Glor," ujar Ibu Titiana memberi semangat kepadanya. Lily dan Ibu Melanie juga turut berdiri di depannya.
Ia kembali berdiri, memeluk Ibu Titiana dan menangis tersedu di dalam pelukan Ibu Titiana.
Ibu Titiana adalah orang yang paling berjasa padanya saat ini. Ibu itu telah menerimanya bekerja di tempat yang sangat ia pahami bila kantor itu tidak membutuhkan ilmunya sama sekali.
Ibu Titiana juga mengizinkannya membawa Glor ke kantor. Sehingga ia tidak perlu menitip bayinya di tempat penitipan. Padahal ia tidak melihat karyawan lain membawa bayi seperti dirinya.
Jasa pengacara Ibu Melanie juga ditanggung oleh Ibu Titiana, sehingga ia tidak perlu mengeluarkan budget untuk membayar jasa pengacara.
Ia juga berpelukan dengan Lily dan Ibu Melanie. Kedua wanita itu turut memberinya semangat.
"Akhir hubungan jangan sampai mematahkan semangat. Jangan takut menghadapi tantangan hidup ke depan, karena memilih untuk bercerai itu butuh keberanian, butuh nyali. Kamu memiliki keberanian dan nyali itu, disaat wanita lain memilih bertahan dalam pernikahan yang buruk karena takut bercerai," ibu Melanie mengelus-elus punggungnya.
"Jangan nangis Nadia. Kamu tidak sendiri, aku akan selalu menemanimu. Kamu harus kuat, karena ada baby Glor yang butuh kasih sayangmu," Lily juga ikut menguatkannya. "Hidup tidak akan sesulit yang kamu duga. Percayalah, boleh jadi hidupmu setelah ini akan jauh lebih baik lagi."
Ia pun mengangguk dan mencoba tersenyum.
"Kita pulang Nadia?" ujar Ibu Titiana.
"Terima kasih Bu Titi, Terima kasih Ibu Mel, Terima kasih Lily," ia menyampaikan ungkapan terima kasih pada satu persatu wanita yang telah mendampinginya.
Ia kemudian mengambil tas yang ia letakkan di kursinya, lalu mengajak ketiga wanita yang masih menunggunya itu untuk pulang bersama, "Yuk kita pulang."
Kisahnya dengan Tristan telah usai. Kini ia harus bangkit dari keterpurukan dan berjuang. Menjadi wanita mandiri dan mampu bertumpu di atas kaki sendiri. Glor memberinya kekuatan yang luar biasa.
Sekarang ia akan pulang, untuk menata hidupnya kembali bersama baby Glor.
Demi hidup yang lebih baik.
Namun saat ia berbalik membelakangi meja Hakim dan hendak melangkah keluar dari ruang sidang, ia seakan membentur tembok dengan sangat keras.
Sehingga ia terpental beberapa langkah ke belakang. Kemudian palu hakim seakan mengetuk jantungnya berkali kali. Membuat jantungnya tidak berirama, berdebar tidak karuan.
Beruntung ada Lily dan Ibu Titiana yang memegangnya. Karena tubuhnya sudah limbung kehilangan keseimbangan, hampir jatuh ke lantai saking kagetnya.
Sebab ... di depan sana, di ambang pintu ruang sidang, seorang pria yang bermata sama dengan mata cokelat Glor, berdiri santai dengan kedua tangan di dalam saku celana. Sedang menunggunya.
__ADS_1
Cobaan apa lagi yang akan ia hadapi?