REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
112. Ranting-ranting Asa yang Patah


__ADS_3

Dengan suara bergetar Nadia bertanya kepada Ibu Imelda,


"Di mana Bima, Bu?"


Bukannya menjawab, Ibu Imelda malah terisak dengan bahu yang berguncang.


Pertanda ia akan mendengar kabar yang tidak baik.


"Di mana Bima, Bu?" Ia mengulangi pertanyaannya dengan mata yang mulai basah. Padahal ia rasanya tidak akan mampu untuk mendengar kabar apa yang hendak disampaikan Ibu Imelda.


Bukannya menjawab, Ibu Imelda malah memeluknya lalu berujar,


"Kita masuk ke dalam dulu, Nadia."


Ibu Imelda berjalan sambil merangkulnya, masuk ke dalam rumah.


"Di mana Bima, Bu?" tanyanya kembali begitu sampai di ruang tamu, tangannya menggenggam dua tangan Ibu Imelda. Lupa bila harus mempersilahkan tamunya duduk di sofa.


"Glor di mana? Ibu ingin melihat cucu," Ibu Imelda bahkan tidak menjawab pertanyaannya. Tangan wanita itu membuka tas yang terlihat mewah dan eksklusif. Mengeluarkan sebuah amplop, lalu diberikan kepadanya.


"Glor tidur di kamar, Bu. Silahkan!" Ia menunjuk kamar depan, tempatnya tidur bersama Glor lalu menerima amplop dari Ibu Imelda.


Begitu Ibu Imelda masuk ke dalam kamar, ia duduk di sofa dan membuka amplop dengan tangan gemetar.


Terdapat selembar kertas di dalam amplop tersebut. Yang tampak seperti sebuah surat.


Tulisan tangan Bimasena.


Hatinya berdebar tiada kira saat membaca tulisan pria tersebut.


____________________


Nadiaku sayang,


Maafkan aku tidak bisa pulang memenuhi janjiku.


Malam itu di club, terjadi insiden.


Pilihanku hanya dua, menghilangkan nyawa atau kehilangan nyawa.


Setelah insiden malam itu, aku menjadi tahanan Polisi Venezuela.


Kesalahanku adalah,


Aku menginginkan segalanya. Harta, kekuasaan, selalu ingin menjadi penakluk.


Terlalu banyak yang kuinginkan.


Sehingga aku kehilangan kesempatan untuk mewujudkan mimpiku membangun keluarga bersamamu.


Kehilangan waktu menjadi Ayah yang bisa melindungi Glor secara langsung.


Ternyata dunia yang sudah aku genggam tiada artinya. Karena aku tidak bisa bersama dirimu.


Tanpamu aku tidak sempurna.


Kasusku berat.

__ADS_1


Mungkin kebebasanku akan dikekang dalam jangka waktu yang lama.


Oleh karena itu aku membebaskanmu, untuk memilih.


Menungguku tanpa kepastian kapan aku bisa kembali. Atau mencari cinta yang lain.


Bukan karena aku tidak mencintaimu.


Tetapi karena aku mengerti bila kamu membutuhkan cinta dan kehangatan.


Maafkan aku, Mi Amor


Aku titip Glor.


Bimasena


__________________


Ia meletakkan surat itu di dadanya yang sesak. Butiran-butiran air pun berjatuhan membasahi pipi. Seiring cahaya sore yang mulai meredup di luar sana, jiwanya larut dalam suasana kelabu.


Ia telah merenda asa bersama sang kekasih. Menggelorakan asmara dengan rasa yang paling paripurna. Tetapi ada kekuatan besar dari Pemilik Alam yang mematahkan ranting-ranting asa, saat ia menunggu untuk disunting.


Mencari cinta yang lain? Tidak mungkin. Hatinya telah penuh oleh nama Bimasena. Tidak ada ruang tersisa untuk nama baru.


Ia bisa menerima suratannya. Bahwa lengkungan garis tangan tidak berpihak pada kehendaknya.


Ia akan menunggu, menunggu pria itu datang kembali. Bahkan bila sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya.


Tetapi ada rindu dan risau meletup-letup, mendera dan terus menusuk batinnya. Angin penawar rindu bahkan enggan berhembus. Membiarkannya dibakar oleh rindu dan menjadi arang.


Bimasena.


Ia menyusul Ibu Imelda ke dalam kamar. Mendapati wanita itu sedang berurai air mata memandangi Glor yang sedang tidur dengan nyenyak.


"Glor persis dengan Bimasena saat bayi. Hidungnya, matanya, rahangnya, kulitnya, badannya, sangat persis," gumam Ibu Imelda.


"Baru sesaat kami merasa bangga dengan kesuksesan Bimasena di Venezuela, sekarang hatiku hancur mendengar masalah yang membelit puteraku, Bimasena."


"Ayahnya menyesal mengirim Bimasena ke Venezuela. Tidak menyangka Bimasena akan berkonflik dengan mafia lokal dan berakhir seperti ini."


"Bimasena memiliki pribadi yang baik. Dia mampu membangun hubungan kerja yang positif dimanapun ditempatkan. Tetapi anak itu tidak suka diancam dan diintimidasi. Dia melakukan perlawanan tanpa berusaha menghindari bentrokan."


"Di kelab malam, Bima berkelahi dengan pemimpin sebuah gangster setempat. Yang berujung Bima melepaskan tembakan kepada orang itu. El Maro mati di tempat dan Bimasena ditahan Polisi Venezuela."


Menghilangkan nyawa atau kehilangam nyawa.


Meskipun Bimasena harus ditahan sehingga ia batal menikah dengan Bimasena, hal itu masih lebih baik ketimbang ia mendengar Bimasena yang meregang nyawa karena pemimpin gagster tersebut.


"Bagaimana kabar Bima di sana, Bu? Dia baik-baik saja kan? sehat kan? Nggak ada cedera atau apa? Ibu sudah bertemu dengan Bima?" Ia memberondong Ibu Imelda dengan pertanyaan.


Ibu Imelda memandangnya penuh haru.


"Kata Ayahnya yang datang mengunjungi Bima, Bima baik-baik saja. Tetapi feeling seorang Ibu tidaklah demikian. Bima memiliki mental yang tangguh, ia bisa menerima kenyataan dengan jiwa besar."


"Tetapi Ibu belum bisa menerima, anak yang menjadi harapan Ibu mendapat masalah berat demikian." Ibu Imelda tersedu. Begitupun dirinya.


"Ibu belum pernah bertemu dengan Bima?" Ia bertanya dengan suara parau.

__ADS_1


Ibu Imelda menggeleng.


"Ibu dilarang kesana. Di sana berbahaya. Meskipun anggota kelompok The King yang ada di kelab malam itu sudah ditahan, tetapi di luar masih banyak loyalis El Maro yang berkeliaran, ingin membalas dendam pada Bimasena atau orang-orang di sekitar Bimasena."


"FreddCo Energy Venezuela sekarang dijaga ketat oleh Polisi, situasi memanas karena meninggalnya El Maro."


Ibu Imelda memperbaiki letak guling Glor yang menggelinding tertendang kaki mungil bayi itu. Lalu kembali menyeka air mata.


"Tidak ada yang lebih perih bagi seorang Ibu, ketika tidak bisa berada di samping anaknya saat anaknya tertimpa masalah. Bahkan berkomunikasipun tidak bisa," rintih Ibu Imelda.


Baru saja Ibu Imelda menyeka air mata, wanita itu kembali terisak.


Kini ia mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu sejak memiliki Glor. Bukan hanya hatinya yang hancur karena gagal menikah dengan Bimasena. Hati Ibu Imelda juga mungkin lebih hancur, karena putera kesayangan terbelit masalah yang berat. Serta kehilangan akses komunikasi dengan putera tercinta.


"Tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk meringankan hukuman Bima, Bu?"


"Kami sudah berupaya menempuh berbagai langkah. Termasuk menyewa pengacara terbaik, Nak," terang Ibu Imelda. "Tapi kasusnya berat, karena kasus pembunuhan."


"Aku ingin ke Venezuela, Bu. Aku ingin bertemu Bima," pintanya. Berharap Ibu Imelda bisa memfasilitasinya untuk bertemu dengan Bimasena.


Tetapi ia harus menahan kekecewaan karena Ibu Imelda menggeleng.


"Tidak Nadia. Ibu mengerti bagaimana rindunya kamu pada Bimasena. Begitupun Ibu. Tetapi seperti yang Ibu ceritakan tadi, Venezuela berbahaya. Kalau terjadi apa-apa denganmu, siapa yang akan merawat Glor?"


"Tinggallah di sini, rawat Glor dengan baik untuk Bimasena. Bima juga tidak mungkin mengizinkan kamu kesana. Jangan bermain-main dengan keselamatan. Cukup kejadian seperti ini menimpa Bima."


"Memang berat. Tetapi lambat laun kamu akan bisa menerima kenyataan. Kami sudah berusaha keras untuk Bimasena, Nadia."


Matanya sayu memandangi Ibu Imelda bermain dengan Glor yang sudah bangun dari tidur. Berkali-kali netranya menangkap Ibu Imelda menyeka air mata. Ibu Imelda melihat Glor seperti melihat Bimasena. Glor menjadi pengobat rindu Ibu Imelda kepada Bimasena.


Tetapi tidak dengan dirinya. Ia sudah sekarat dilanda rindu. Kegelisahan membakar jiwanya.


Ia hanya bisa tertolong bila sudah bertemu dengan Bimasena.


Sehingga ...


Bagaimanapun caranya, sebesar apapun bahayanya, ia sudah nekat.


Berangkat ke Venezuela menemui Bimasena. Kekasih hatinya.


*******


Readersku tersayang,


Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.


Sebagai ucapan terimakasih kepada dukungan readers, author akan memberikan gift berupa bunga artificial cantik kepada sepuluh readers dengan dukungan tertinggi yang dilihat pada episode terakhir.


Terima kasih atas segala dukungannya terhadap novel ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan readers.


Salam sayang dari


Author Ina AS


😘😘😘


**********

__ADS_1


__ADS_2