
Beruntung ada Lily dan Ibu Titiana yang memegangnya. Karena tubuhnya sudah limbung kehilangan keseimbangan, hampir jatuh ke lantai saking kagetnya.
Sebab ... di depan sana, di ambang pintu ruang sidang, seorang pria yang bermata sama dengan mata cokelat Glor, berdiri santai dengan kedua tangan di dalam saku celana.
Sedang menunggunya.
Nadia hanya bisa menatap tidak percaya dengan kehadiran pria itu. Mengapa hadir di saat seperti ini?
Mungkin pria itu datang untuk mencemooh dan menertawakannya. Karena dulu ia meninggalkan pria itu dan kembali kepada Tristan. Ternyata sekarang ia malah diceraikan oleh Tristan.
Bagaimana ia harus menyembunyikan wajahnya?
Matanya melirik ke kiri dan ke kanan. Sekarang ia merutuki arsitektur ruang sidang. Mengapa hanya ada satu pintu masuk di ruang sidang itu? Tidak ada pintu cadangan untuk situasi emergency seperti saat ini?
Siapa sih arsitek yang mendesain ruangan itu? Mungkin masih harus belajar mendesain ruang sidang satu semester lagi.
Tidak ada pilihan kecuali melangkah ragu ke depan, dengan tangan menggandeng di Lily agar tidak terjatuh. Sementara Ibu Titiana dan Ibu Melanie malah berjalan di belakangnya.
Tujuh ...
Enam ...
Lima langkah lagi semakin dekat dengan pria itu.
Sekarang ia menghentikan langkah tepat di depan pria yang menghalanginya di ambang pintu.
Lily malah mengangguk hormat pada pria itu.
"Siang Pak," sapa Lily.
Ia meremas tangan Lily atas sikap yang ditunjukkan Lily pada pria di depannya. Tidak masalah menunjukkan keramahan, tetapi tidak perlu mengangguk hormat seperti itu. Seolah Lily bawahan pria itu saja.
Apa Lily tidak bisa mengenali bila orang di depannya adalah pria yang bernama ... Bimasena?
Padahal ia telah berkali-kali menunjukkan foto pemilik mata seperti Glor itu kepada Lily.
Mungkin Lily sudah terpukau dengan ketampanan wajah pria di depan dan berusaha mencari perhatian.
Bimasena mengangguk membalas Lily lalu menatap ke arahnya.
Ia kembali meremas lengan Lily karena gentar oleh tatapan tajam mata cokelat.
"Kamu baik-baik saja?" tanya pria itu dengan tatapan lembut dan mendalam. Bukan tatapan mengejek seperti yang ia khawatirkan. Sorot mata itu seperti memancarkan ... kerinduan. Atau mungkin dirinya saja yang terlalu kegeeran.
Duh ...
Tapi sapaan itu membuat hatinya menghangat.
Begitu beratnya menahan air mata agar tidak tumpah saat hakim membacakan putusan cerai dengan Tristan tadi.
Tetapi jauh lebih berat menahan diri agar tidak menubruk dan memeluk pria itu.
Ya, ia sangat ingin memeluk pria di depannya.
Menciumnya.
Melepas rindu.
Lalu menghajarnya.
Sampai babak belur.
Karena telah membiarkannya melewati hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan yang begitu berat.
Hampir setengah tahun usia Glor, pria itu baru menampakkan batang hidungnya.
Tapi apa maksud kedatangan pria itu? Apa yang dia inginkan? Apakah dia juga merindu seperti dirinya? Atau hanya Ingin mengejeknya? Atau ingin merebut baby Glor darinya?
"Kamu baik-baik saja?" ulang pria itu, melihatnya bengong melongo terpaku dengan muka bodohnya.
"Iya, aku baik-baik saja," jawabnya gugup.
Sama seperti terhadap Tristan. Ia tidak ingin tampak lemah, harus terlihat kuat di depan Bimasena.
Oleh karena itu ia harus segera meninggalkan pria itu. Sebelum ia lepas kendali untuk menubruk dan memeluk, lalu menangis meraung-raung di bahu ... Bimasena.
__ADS_1
"Permisi, aku harus ke kantor," dalihnya.
Bukan hanya karena malu terhadap pria di depannya, sebab pandangan pria itu tidak pernah berpaling darinya.
Tetapi ia juga tidak tahu harus mengucapkan kalimat apa.
Dan yang terpenting adalah, Bimasena harus tahu bila ia sudah memiliki pekerjaan. Dia harus tahu bila Ia tidak terpuruk meskipun Tristan menceraikannya, karena sudah bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Bimasena tersenyum, lalu bergeser satu langkah untuk memberinya akses keluar dari pintu. "Silahkan."
Ia sedikit lebih lega, karena pria itu tidak ingin mempersulit keadaan, yang memang sudah sulit sebelumnya.
Tanpa membalas senyum, ia menarik tangan Lily secepatnya keluar dari ruang sidang meninggalkan Bimasena. Agar Lily tidak terpukau melihat wajah tampan tersebut.
"Iiiih pelan dikit kenapa sih Nadia?" protes Lily, karena ia menyeret Lily keluar dari ruang sidang.
"Li, kamu tau, orang itu yang bernama Bimasena," bisiknya pada Lily.
"Lalu kenapa kita harus buru-buru pulang. Kenapa kamu nggak mengobrol dengannya saja dulu?"
"Aku gugup Ly. Nggak tahu harus ngomong apa," keluhnya. "Aku juga nggak tahu apa maksud kedatangannya setelah sekian lama menghilang."
"Bagaimana kamu tahu maksud kedatangannya Nadia kalau kamu tidak berbicara dengannya?"
"Aku malu Ly. Sudah setengah tahun kami tidak bertemu dan berkomunikasi. Dia pasti datang untuk menertawai kegagalanku."
"Ah kamu jangan terlalu berprasangka buruk. Kamu nggak bisa mengartikan tatapan mata seorang pria?"
"Nggak. Memang tatapannya kenapa Ly?"
"Ia memandangmu penuh kasih sayang. Kalau kamu ingin mengetahui kebenaran, tatap matanya," ujar Lily sok tahu.
"Masa sih?"
Tetapi ia kurang menyukai jawaban Lily kemudian.
"Entahlah. Jangan sampai aku salah." Lily mengangkat bahu.
Sehingga ia hanya mendengus mendengar jawaban Lily.
"Tuh!" Lily menunjuk ke satu arah menggunakan isyarat wajah.
Matanya pun bergerak ke arah yang ditunjuk oleh Lily. Melihat Ibu Titiana dan Ibu Melanie sedang berbicara di depan ruang sidang.
"Apa yang mereka omongin?" tanyanya kepada Lily.
"Nggak tau," Lily kembali mengangkat bahunya.
Sebenarnya ia sangat penasaran, mengapa Bimasena mencegat dua pengacara itu. Apa yang dibicarakan kepada kedua wanita tersebut.
Apa Bimasena memperkenalkan diri sebagai pria yang pernah berselingkuh dengannya?
Dugaan itu yang membuatnya malu bertanya kepada Ibu Titiana maupun Ibu Melanie. Sehingga di dalam kendaraan ia hanya diam membisu.
Tadi ia hanya berbohong kepada Bimasena. Mengatakan bila ia hendak ke kantor. Hanya untuk memamerkan bila ia telah menjadi orang kantoran. Padahal ia meminta izin pulang ke rumah pada Ibu Titiana untuk menenangkan diri.
Hari ini ia hampir saja gila. Ia merasakan beberapa perasaan yang bertentangan, hampir dalam satu waktu.
Baru beberapa menit ia merasakan kesedihan, dunianya berakhir saat hakim membaca putusan cerai, selang beberapa saat kemudian ia merasa bahagia, malu dan asa bangkit kembali.
Dan begitu Mpok Nana yang menjaga baby Glor saat ia menghadiri sidang cerai, pulang dari rumahnya dijemput Bang Herial, ia mematut diri di dalam cermin.
Wajahnya sungguh menyedihkan. Bukan hanya tidak pernah menyentuh klinik kecantikan lagi karena sibuk bekerja dan mengurus bayi. Pipinya pun tidak tirus seperti dulu karena ia tidak mengenal diet lagi.
Hanya mengandalkan skin care tanpa ke klinik untuk perawatan, membuat wajahnya tidak seglowing dulu lagi.
Belum lagi bila ia memandang ke arah bawah. Dada yang mengembang karena kandungan ASI. Perut belum merata pasca melahirkan. Pinggul bertambah lebar. Semakin menyedihkan.
Bagaimana ia bisa memiliki kepercayaan diri untuk bertemu Bimasena dalam keadaan seperti ini? Kondisi ini merupakan salah satu penyebab sehingga ia segera kabur dari Bimasena tadi.
Ia belum siap bertemu.
Foto Miss Venezuela selalu membayangi dirinya. Membuatnya membandingkan diri dengan wanita cantik nan seksi itu. Apalah artinya dirinya?
Mengapa juga ia begitu kegeeran bila Bimasena ingin kembali kepadanya? Atau jangan-jangan ia berharap demikian?
__ADS_1
Sudahlah Nadia.
Jangan gantungkan asa terlalu tinggi lagi. Jangan berharap pada pria yang mengorbit jauh di atas bumi.
"Byu byu byu, Ayang-ayang Mami udah kenyang makan tangan? Nggak lama lagi bisa makan MPASI. Boleh makan bubur, biskuit. Ya anak mami sayang?" Ia mencium wajah baby Glor dengan gemasnya.
Lalu mengganti diapers, juga pakaian baby Glor dengan baju tidur. Ia sudah menjadwalkan waktu tidur puteranya agar tidurnya teratur. Tidak bangun tengah malam lagi begadang seperti sebelum-sebelumnya.
Setelah itu ia mengambil posisi tidur di samping Glor. Meskipun Tristan sudah tidak berada di rumah itu lagi, ia tetap tidur di kamar depan bersama Glor
Saat meng-ASI baby Glor, maka ia akan terlelap bersamaan dengan Glor. Kadang-kadang bila lelah ia tidur mendahului Glor. Dan baru terbangun saat Glor menangis meminta ASI lagi.
Jam biologis tubuhnya sudah mengirim sinyal untuk tidur. Ia pun mulai merasa terayun-ayun bersamaan dengan baby Glor yang berhenti mengisap pu**ng su**nya.
Saat sistem tubuh dan pernapasannya mulai melambat, bersiap mengirimnya ke alam mimpi, sayup-sayup ia mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumahnya. Membuat matanya membelalak seketika, menjadi terang benderang. Jantungnya melompat dari sarangnya.
Ia sangat mengenali dan tidak akan pernah lupa bunyi kendaraan itu. Dengan perlahan ia menarik pu***ng su** nya dari mulut Glor. Lalu bangkit dari tidurnya menyingkap kain gorden dan menengok ke luar jendela.
Mobil itu.
Masih mobil yang sama.
Audy R8 grey.
Membuatnya lemas, kehilangan tenaga seketika. Apalagi melihat pengemudinya turun dan berjalan ke arah pintu rumah.
Tadi ia sudah punya feeling bila pria itu akan datang. Mengapa ia tidak percaya dan mengandalkan feeling-nya? Ia tidak menyiapkan kedatangan Bimasena dengan mengenakan pakaian yang layak? Bukan memakai daster ibu menyusui seperti ini?
Ia semakin kacau manakala mendengar suara bel pintu berbunyi.
Buka? tidak? buka? tidak? buka? tidak? buka? tidak?
Ia belum mengenakan riasan pada wajahnya. Rambutnya begitu kusut. Ia juga belum memakai bra. Oh no.
Suara ketukan pintu yang mendesak semakin mengacaukannya. Bahkan ia tidak tahu harus melakukan apa.
Buka? tidak? buka? tidak? buka? tidak? buka? tidak?
Mengapa pria itu tidak memberikan waktu untuk merapikan dirinya? Ia hanya bisa mendesah putus asa.
Akhirnya dengan hati berdebar ia keluar dari dalam kamar dan menyalakan lampu ruang tamu.
Lalu dengan perlahan ia membuka pintu ruang tamu.
Dan ...
Wajah segar seorang pria berwajah mirip Glor nampak dari balik pintu. Tersenyum kecil dengan tatapan tajam yang menikam jantungnya.
Dua sejoli bertemu.
Seorang pria yang baru habis mandi dari telaga indah, bertemu seorang wanita yang baru menyembul dari kubangan kerbau.
Sangat tidak sepadan.
Ada yang tahu bagaimana caranya menghilang?
********
Readersku tersayang,
Apa kabarnya hari ini? Semoga kalian selalu diberi kesehatan dan limpahan rezeki oleh Tuhan.
Mohon maaf karena update novel ini sangat lambat. Membuat readers banyak yang berteriak. Anggap saja, sedang diuji kesabarannya. πππ
Terima kasih atas segala dukungannya.
Salam sayang,
Author Ina AS
πππ
*****
__ADS_1