REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
35. Seolah Kau Belahan Jiwa


__ADS_3

Mata Bimasena lekat menatap wajah wanita yang memucat dan menggigil dengan kedatangannya yang nyaris bersamaan dengan kedatangan Tristan suaminya.


Sebenarnya ia sangat kasihan melihat Nadia yang gelisah dan ketakutan. Namun tidak ada pilihan lain untuk menemui Nadia selain berkunjung ke rumahnya.


Nomor handphone dan sosial medianya sudah diblokir. Di salonpun Nadia memilih bersembunyi ketimbang menemuinya. Sementara ia harus menyelesaikan seluruh masalahnya dengan Nadia sebelum berangkat ke Australia besok.


Ia mendengar langkah sepatu Tristan berjalan mendekat di belakangnya. Tetapi ia tetap menatap Nadia tanpa menoleh sedikitpun ke arah Tristan.


"Bim, sudah lama? Kok nggak ngomong sih mau datang?" sapa Tristan yang sekarang sudah berdiri di sampingnya.


Sekarang ia memalingkan wajahnya ke arah Tristan. "Baru saja tiba, memang harus ngomong dulu bila harus datang kerumahmu? Kamu nggak menerima tamu yang datang tiba-tiba?"


Tristan tertawa. "Bukan begitu Bim. Bagaimana kalau kamu sudah datang, dan aku tidak ada di rumah?"


Bimasena balas tertawa, "Kan ada Nadia, aku bisa ngobrol dengan Nadia." Ia menunjuk Nadia menggunakan wajahnya.


"Kamu mau ngobrol apa sama Nadia, perawatan kecantikan? Yuk masuk ke dalam!"


Nadia sudah lebih dahulu menghilang ke dalam begitu Tristan mengajaknya masuk.


Begitu tiba di ruang tamu, Tristan memanggil Nadia. "Nadia, bukannya kamu masak suki? Siapkan makanan! Aku mau makan malam dengan Bima."


"Kamu makan aja dulu sama Nadia. Aku tunggu di sini saja, masih kenyang kok," tolaknya pada Tristan.


"Ayolah, kita makan sama-sama." Tristan setengah memaksanya sehingga ia pun ikut masuk ke ruang makan yang menyatu dengan dapur.


Ia kembali mendapati Nadia yang sedang menyalakan kompor kecil di atas meja dengan gugup. Wajah wanita itu sangat tegang. Sangat jelas, Nadia tidak pandai bersandiwara ataupun berbohong. Tidak ada bakat menjadi aktris. Pantas ia begitu cepat terdegradasi dari dunia modelling. Karena tidak punya bakat lain selain di atas catwalk dan berfoto di depan kamera.


Nadia tidak mampu menguasai dirinya. Terlebih lagi saat ia dan Tristan sudah duduk di kursi meja makan. Tangannya gemetar memasukkan bahan-bahan suki ke dalam panci saat kuahnya sudah mendidih. Sehingga tangannya terkena percikan kuah panas dan ia menjerit tertahan.


"Bisa nggak kamu lebih hati-hati bekerja?" Tristan malah membentaknya. Membuat Nadia tersentak kaget, lalu wajahnya berubah muram.


Daripada ia meninju mulut suami Nadia, ia memilih berdiri dan membuka freezer kulkas, mengambil es batu dan memberikannya kepada Nadia.


"Kompres pakai es batu tangannya," imbuhnya kepada Nadia.


Nadia menerima es batunya dengan ragu, lalu mengompres tangannya dengan es itu.


"Sukinya sudah masak, silahkan dimakan," ucap Nadia. Nadia mengambil dua gelas air putih, diletakkan di atas meja kemudian ia hendak masuk ke kamar.


"Kamu mau kemana Nadia? Kok nggak ikut makan? Aku kan temanmu juga, bukan hanya Tristan. Duduklah di sini." Serunya kepada Nadia yang kembali hendak kabur darinya.


Nadia berhenti melangkah, lalu tanpa berbalik Nadia berucap, "Kalian makanlah, aku kenyang, sudah makan tadi sebelum kalian datang."


"Gitu aja kamu ngambek. Belajarlah menghargai tamu yang datang. Ayo makan sama-sama," perintah Tristan kepada Nadia.


Akhirnya Nadia kembali ke meja makan. Duduk tepat di hadapannya. Sangat jelas bila wajah wanita itu sangat tertekan. Ia makan dengan terus menunduk. Sama sekali tidak berani menatapnya. Bahkan tidak pernah menimpali pembicaraannya dengan Tristan.


"Sukinya enak banget Nadia. Kamu pintar masak juga rupanya. Beruntung kamu Tristan punya Nadia."


"Ah baru juga kok. Nggak tahu kenapa, sejak malam reuni kamu, tiba-tiba Nadia jadi baik dan perhatian banget sama saya," ungkap Tristan.


Membuat Nadia tersedak makanan dan terbatuk-batuk. Tampaknya ia sangat kaget mendengar ucapan Tristan.


Bimasena pun segera mendorong gelas yang berisi air putih ke arah Nadia. "Minum Nadia."


Sebenarnya ia juga kaget mendengar pernyataan Tristan. Tetapi ia adalah orang yang terbiasa menguasai keadaan dengan cepat, sehingga tidak ada reaksi mencolok yang muncul. Tidak seperti Nadia yang semakin gugup.


******


Entah penyiksaan apa yang menimpanya malam ini. Bagaimana ia bisa makan malam dengan Tristan dan Bimasena sekaligus.


Tristan mengomelinya di depan Bimasena dan Bimasena tidak berhenti menikam jantungnya dengan tatapan mata.


Ia tidak pernah merasa setegang ini seumur hidupnya. Melihat Bimasena yang semakin berani mendekatinya dan memberikan perhatian di depan Tristan.


Sadarkah Bimasena bahwa ia nyaris membunuhnya?


Bimasena dan Tristan masih mengobrol di meja makan saat ia membersihkan seluruh peralatan makan di atas meja makan.


"Punya rokok?" tanya Bimasena kepada Tristan.


Apa pria itu merokok? Mengapa ia tidak menjaga kesehatannya?


Kenapa juga ia yang jadi cemas bila Bimasena merokok?


"Kamu merokok?" Tristan balas bertanya.


"Kadang-kadang. Bila kepala sedang pusing," jawab Bimasena sambil menandaskan gelas yang berisi air putih di depannya.

__ADS_1


"Aku nggak merokok Bim. Tunggu aku ke minimarket dulu belikan kamu rokok. Merk apa?"


"Nggak usah. Biar aku saja. Ngerepotin lagi."


"Biar aku saja. kamu kan tamu. Merk apa?" Tristan sudah berdiri mendahului Bimasena. "Tekanan pekerjaan?" lanjut Tristan.


"Masalah hati," seloroh Bimasena, tapi membuat darahnya berdesir.


Akhirnya Bimasena menyebutkan merk-nya dan Tristan pun berangkat ke minimarket.


Situasi semakin menegangkan karena ia tinggal berdua di dalam ruang makan bersama Bimasena.


"Kenapa Nadia? Kenapa tiba-tiba berubah?" Bimasena mengulang kembali pertanyaannya begitu Tristan keluar rumah.


Nadia yang sedang berdiri di dekat bak cuci piring berbalik menghadap ke Bimasena.


"Bim kamu ingin melihat aku mati ya? Mengapa kamu datang kemari? Mengapa sikapmu seperti itu di depan Tristan? Atau kamu ingin memberitahu Tristan tentang apa yang pernah kita lakukan?" sosor Nadia dengan suara serak nyaris menangis.


"Nadia, kamu salah bila berpikiran aku hendak mencelakaimu. Aku hanya ingin tahu mengapa kamu tiba-tiba berubah? Kamu tidak membuka ruang komunikasi denganku sehingga aku datang kemari."


"Baiklah karena kamu tanya itu Bim." Nadia meneguhkan dirinya untuk berkata, "Aku menyesal atas pengkhianatan yang telah aku lakukan kepada Tristan, jadi aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi."


"Bim, kumohon jangan ganggu aku lagi. Jangan ganggu rumah tangga kami lagi. Aku tidak ingin merusak rumah tanggaku dengan Tristan. Bagiku kamu hanya ujian pernikahan. Kumohon sekali lagi Bim. Tinggalkan aku! Hargailah pernikahanku dengan Tristan. Hargai teman kamu Tristan!" Ia tidak kuasa menahan tangisnya lagi.


"Jadi kehadiranku selama ini hanya mengganggu kamu Nadia?" Bimasena mengajukan pertanyaan yang begitu sulit untuk ia jawab.


Suasana hening sejenak.


"Mengganggu pernikahanku dengan Tristan Bim," jawabnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar lagi tertelan kesedihan.


Bimasena tersenyum hambar, lalu mengangguk-angguk. "Baiklah. Jangan nangis Nadia. Kamu tidak perlu mencemaskan aku lagi."


"Aku hanya berharap kehadiranku bisa berarti bagimu. Bisa membuatmu bahagia. Tetapi bila ternyata kamu tidak membutuhkanku atau merasa terganggu, aku janji tidak akan mendekatimu lagi."


"Jangan menangis Nadia. Jangan khawatirkan aku, aku tidak akan mengganggu kamu lagi." Bimasena menyodorkan kotak tissue untuknya, lalu berdiri di depannya. "Maafkan bila kehadiranku ternyata hanya membuatmu susah. Dan maaf untuk semua yang pernah aku lakukan padamu." Lanjut Bimasena, lalu pria itu melangkah ke ruang tamu meninggalkannya.


Dengan tergesa Nadia masuk ke kamar mandi, dan menumpahkan tangisnya di sana. Ia memutar keran air untuk menyamarkan suara tangisnya agar tidak terdengar keluar.


Ia merasa hancur sehancur-hancurnya.


Seperti inikah rasanya patah hati?


"Maafkan bila kehadiranku ternyata hanya membuatmu susah."


Ia tidak kuasa mengingat semua ucapan Bimasena tadi.


Tidak Bima, kamu tidak pernah menyusahkanku. Kamu tidak pernah menggangguku. Justru kehadiranmu membuatku bahagia. Tetapi keadaan tidak memungkinkan kita berdua bersama. Waktu tidak berpihak kepada kita. Maafkan aku Bim.


Terima kasih perhatianmu Bim selama ini.


Aku akan mengingatnya seumur hidupku.


Aku tidak akan pernah bisa melupakannya.


Ia hanya menggumamkan seluruh ucapan itu dalam hatinya.Tidak akan tersampaikan.


Ia belum pernah merasa memiliki Bimasena. Tetapi mengapa sekarang ia begitu kehilangan. Seolah ada bagian dari dirinya yang hilang. Seolah semangatnya dibawa pergi Bimasena. Hatinya begitu teriris pedih.


Ia membasuh wajahnya dengan air. Tetapi tangisnya tidak kunjung berhenti. Ingin rasanya keluar dan memeluk Bimasena. Namun segala keinginannya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Sesuatu yang terlarang.


Ia masih ingin menangis di kamar mandi. Namun Tristan sudah menggedor pintu kamar mandi.


"Ngapain saja sih di dalam? Tidur di kamar mandi?" sungut Tristan kesal.


Nadia keluar dengan wajah tertunduk untuk menyembunyikan wajah sembabnya dari Tristan. Saat ia hendak masuk ke dalam kamar, ia sempat menoleh ke ruang tamu. Bertemu pandang dengan Bimasena.


*******


Bimasena hanya bisa berdecak kesal ketika mendengar Tristan memarahi Nadia lagi.


"Ngapain saja sih di dalam? Tidur di kamar mandi?"


Berapa kali dalam sehari Nadia mendapat perundungan dari Tristan? Nadia yang terlalu lemah atau Tristan yang tidak punya hati?


Saat Tristan sudah berada di kamar mandi, wanita itu muncul dengan mata sembab.


Tidak, dia habis menangis di kamar mandi. Bukankah aku katakan jangan menangis Nadia.


Mereka hanya saling berpandangan tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Sampai akhirnya Nadia yang bersuara.

__ADS_1


"Tolong jangan merokok Bim, jaga kesehatanmu," Suaranya serak. Air matanya mengalir di pipinya. Membuat Bimasena tertegung memandangnya. Tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.


Wanita itu akhirnya menghilang di balik pintu kamarnya.


Bimasena akhirnya mematikan rokoknya dan meletakkan puntung rokok yang masih panjang di dalam asbak. Begitupun bungkus rokok dan korek ia letakkan di samping asbak. Tidak membawanya pulang. Sebagai bukti kepada Nadia, bahwa ia mengindahkan ucapannya.


Dan saat dalam perjalanan pulang, ia menghubungi Danindra.


Bimasena: Ndra, Hari Sabtu jadi ya touring-nya?


Danindra: Jadi, emang kenapa? Kamu mau keluar negeri lagi?


Bimasena: Besok aku ke Australia. Tetapi Jumat sudah kembali.


Bimasena: Nggak bisa ya touring-nya kita ganti yang lebih menantang lagi? Bosan mobil sport di medan datar melulu.


Danindra: Memang maunya kamu apa?


Bimasena: Kita coba off road yuk? Maksudku motor trail. Sepertinya lebih seru, medannya lebih berat dan menantang.


Danindra: Kamu yakin bisa? Masuk hutan, jalanan nggak mulus oy?


Bimasena: Jangan pandang enteng aku. Bukankah pekerjaanku lebih banyak di hutan? Kamu siapain aja deh kendaraan sama track-nya. Cari medan yang ekstrim ya? Hari sabtu kita beraksi. Biayanya nanti aku transfer. Beliin motor trail terbaik ya?


Ya, ia membutuhkan aktivitas berat untuk mengalihkan pikirannya dari istri Tristan dan mengatasi mood-nya yang lumayan kacau lagi-lagi karena istri Tristan.


Tidak lupa ia mengajak Alfredo, teman SMAnya yang menceritakan hobby trailnya sehingga ia tertarik untuk mencoba.


*******


Nadia menutup pintu rumahnya begitu Tristan berangkat ke kantor. Ia tidak bisa melakukan apa-apa hari ini. Sepertinya ia kehilangan tenaga. Raganya seolah tidak bernyawa. Kakinya begitu lemah untuk melangkah, tidak mampu menopang tubuh. Sehingga ia memilih tinggal di rumah saja, tidak berangkat ke salon.


Ia kembali ke kamar dan memutar musik. Sambil berbaring, ia mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh Bunga Citra Lestari.


Lamunan membawanya kembali pada sosok yang telah menyemaikan rasa di hati.


Ketika engkau datang


Mengapa di saat ku


Tak mungkin menggapaimu


Meskipun tlah kau semaikan cinta


Dibalik senyuman indah


Kau jadikan seakan nyata


Seolah kau belahan jiwa


Meskipun tak mungkin lagi


Tuk menjadi pasanganku


Namun ku yakini cinta


Kau kekasih hati


Oh


Terkadang begitu sukar


Untuk dimengerti


Semua ini kita terlambat


Meskipun tlah kau semaikan cinta


Dibalik senyuman indah


Kau jadikan seakan nyata


Seolah kau belahan jiwa


Meskipun tak mungkin lagi


Tuk menjadi pasanganku


Namun ku yakini cinta kau kekasih hati

__ADS_1


(Soulmate, C. Yovie W)


__ADS_2