REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
94. Menjadi Bagian Dari Masa Lalu


__ADS_3

Memang tidak mudah menjadi single parent. Apalagi Nadia hanya berdua saja dengan baby Glor di rumah Tristan.


Selain karena ingin lebih maksimal mengikuti tumbuh kembang baby Glor, faktor berhemat merupakan salah satu alasannya tidak menyewa jasa seorang baby sitter. Apalagi di Jakarta, jasa seorang baby sitter bisa menghabiskan separuh gajinya.


Kadang-kadang saat ia sedang makan, tiba-tiba baby Glor menangis tanpa henti. Sehingga ia terpaksa berhenti makan, untuk memastikan popok si kecil dalam keadaan bersih.


Bila popok baby Glor berisi pup bayi, maka ia akan membersihkan terlebih dahulu baby Glor, mengganti popok dan pakaiannya, barulah ia melanjutkan makannya yang tertunda.


Tidak jarang ia membawa baby Glor ke kamar mandi bila hendak mandi atau melakukan aktivitas lain di kamar mandi. Karena bila tidak melihat dirinya, baby Glor akan menangis.


Belum lagi bila tengah malam baby Glor sedang rewel, maka sepanjang malam ia harus menggendong baby Glor sambil menyenandungkan lagu.


Semua ia lakukan sendiri.


Namun melihat tumbuh kembang baby Glor merupakan anugerah yang luar biasa baginya.


Pada usia yang memasuki dua bulan, baby Glor sudah dapat merespon dengan senyuman bila diajak berbicara. Malaikat kecilnya juga sudah bisa menghisap jari tangan untuk menenangkan diri.


Ia mulai bermain dengan malaikat kecilnya menggunakan benda-benda berwarna cerah dan mainan yang bisa berbunyi untuk menstimulasi.


Momen yang paling disenanginya adalah saat bayi mungil dan lucunya menggenggam jarinya dengan erat, menatap matanya dan tersenyum padanya.


Mampu membuatnya melupakan betapa penatnya dunia. Karena kasih yang tak sampai, dan mahligai yang berusaha dipertahankan akhirnya retak, sebentar lagi pecah berkeping-keping.


Tetapi ada hal yang membebani dan selalu membuatnya menangis dalam hati. Karena malaikat kecilnya tumbuh tanpa sosok seorang ayah.


Apa yang harus ia katakan nanti, bila Glor telah besar dan menanyakan ayahnya? Apa ia akan mengatakan pada Glor bila ayahnya telah meninggal?


Bagaimana ia menjawab bila kelak Glor akan bertanya siapa nama ayahnya?


Menjawab Tristan Atmaja, tentu tidaklah boleh. Putranya bukan darah daging tristan.


Apa ia akan menjawab ... Bimasena?


Juga tidak mungkin.


Karena pria itu ternyata sudah tidak pernah datang kembali. Sejak Glor lahir, Bimasena menghilang bak ditelan bumi. Bahkan di media sosialpun Bimasena tidak aktif lagi.


Sebelumnya ia tidak berharap pria itu datang. Tetapi akhirnya ia menyadari, bila puteranya butuh identitas yang jelas.


Sekarang ia kecewa, kecewa pada pria itu. Yang dulu tampak begitu antusias memiliki putera darinya. Namun sampai dua bulan usia bayi mungilnya, tidak ada tanda-tanda kedatangan pria tersebut.


Mustahil Bimasena tidak mengetahui bila ia sudah melahirkan. Karena saat masih bersama di apartemen, Bimasena tahu bulan perkiraannya bersalin.


Sekarang ia sudah menyadari bila,


Kesalahan yang dilakukan orang tua berdampak terhadap anaknya.


Sangat menyedihkan ternyata seorang anak bisa menanggung dosa orang tuanya.


Ia tidak butuh tunjangan hidup untuk puteranya dari Bimasena. Ia hanya butuh pengakuan, bila puteranya memiliki seorang ayah. Demi kejelasan asal usul puteranya.


Ternyata anak yatim lebih memiliki identitas yang jelas daripada anak yang terlahir dari hasil perselingkuhan seperti yang dialaminya.


Akan tiba masa dimana Glor mengerti rasa malu memiliki ayah yang tidak jelas. Tentu akan mempengaruhi mental dan percaya diri puteranya.

__ADS_1


Kesalahan yang dilakukan saat itu adalah harusnya ia berpisah dengan Tristan dan menikah dengan ayah dari anaknya. Demi anaknya, bukan demi Ibu Imelda yang membuatnya meninggalkan pria itu.


Ia hanya berpikir sesaat saat mengambil keputusan, tidak memikirkan dampak jangka panjangnya, serta dampak terhadap anaknya.


Tapi semuanya telah terjadi dan tidak mungkin diulang kembali.


Meskipun anaknya membutuhkan pengakuan dari seorang ayah, Ia masih berpikir dua kali bila harus menghubungi Bimasena.


Mungkin pria itu telah bahagia, dan tidak ingin menoleh ke belakang lagi. Menganggapnya sebagai masa lalu dan angin lalu.


Yang lebih ia khawatirkan bila ia menghubungi Bimasena, lantas pria itu tidak bersedia mengakui puteranya. Maka kenyataan itu akan lebih menyakitkan.


Jadi biarlah.


Biarlah ia hidup berdua dengan Glor dengan segala keterbatasan.


Satu hal lagi yang membuatnya gelisah. Sudah satu bulan Tristan meninggalkannya, pria itu belum juga mengajukan gugatan cerai, dengan beralasan sibuk. Sehingga sampai saat ini statusnya sebagai janda masih abu-abu.


Apa yang ia rasakan saat ini merupakan buah dari kesalahan, dan pengambilan keputusan yang tidak tepat pasca kesalahan yang dilakukannya.


Ia tidak begitu menyesalkan kesalahan yang ia lakukan dengan Bimasena. Karena kesalahan itulah ia memiliki Glor, buah hati yang lama diidam-idamkan.


Pernah merajut kasih dengan pria bernama Bimasena juga merupakan kisah terindah dalam hidupnya.


Yang ia sesalkan adalah keputusannya meninggalkan Bimasena. Lalu kembali kepada Tristan. Yang pada akhirnya ia juga harus berpisah dengan Tristan.


Sekarang ia harus menanggung risikonya. Bukan hanya dirinya, bahkan baby Glor yang tidak berdosa pun harus turut menanggung kesalahannya.


Ia hanya berharap, cukup dirinya wanita yang melakukan kesalahan, sekaligus mengambil langkah yang salah. Cukup dirinya wanita yang menanggung beban seperti ini.


*********


Saat menunggui operasi Hakimah, ia mengenal wanita yang bernama Triyasih. Kakak kandung Hakimah. Wanita itu berusia empat tahun lebih tua dari usianya, namun masih lajang.


Seorang dosen statistik pada salah satu universitas negeri di Jakarta. Lebih cerdas dan lebih dewasa dari Hakimah.


Setelah beberapa kali mereka bertemu, dan berkali-kali menjalin komunikasi melalui telepon, ia merasa memiliki visi dan misi hidup yang searah dengan Triyasih. Salah satu hal yang menjadi bahan pertimbangan dalam menjalin sebuah realtionship.


Triyasih bisa memahami kondisinya. Juga memberi dukungan kepadanya untuk mengajukan gugatan cerai kepada Nadia.


"Kasus perceraian di Negara kita setiap tahun memang meningkat. Berdasarkan hasil penelitian, ada tiga penyebab terbanyak perceraian dewasa ini, yakni perselingkuhan, pendapatan istri yang lebih besar, serta suami yang tidak bekerja."


Sebagai orang statistik, ternyata Triyasih memiliki banyak data. Termasuk data tingkat perceraian dewasa.


"Aku bisa memahami bagaimana perasaanmu menghadapi pasangan yang keluar dari koridor pernikahan, menjalin hubungan perasaan dengan pria lain. Terlebih lagi sampai hamil dan melahirkan seorang anak dari pria itu, hal yang sangat bertentangan dengan aturan agama."


"Meskipun kecenderungan perselingkuhan lebih besar bila komunikasi pasangan suami-istri tidak berjalan baik."


"Bila aku menjadi kamu, maka aku akan melakukan hal yang sama. Karena apa yang dilakukan oleh istrimu, menunjukkan ketidakhormatannya kepada kamu. Begitupun bila aku menjadi Hakimah. Aku tidak akan membiarkan diriku dibohongi oleh pasangan."


Memang belum ada komitmen yang terbangun di antara mereka. Karena mereka baru saja saling kenal. Tetapi saat ini ia merasa hatinya lebih cenderung kepada Triyasih ketimbang Hakimah.


Apalagi Hakimah belum menampakkan respon welcome kepadanya. Hakimah juga masih harus menghadapi permasalahan rumah tangga dengan Agustiawan serta melalui rasa trauma akibat perceraian.


Ia seorang pria, tidak perlu berlarut-larut dalam duka dan patah hati karena rumah tangganya dengan Nadia yang kandas. Ia tidak perlu berlama-lama hidup dalam kegalauan.

__ADS_1


Ia harus bisa memisahkan emosi dan logika, menempatkan hubungan yang telah berakhir sebagai bagian dari masa lalu. 


Sekarang ia sudah memiliki target, siapa wanita yang akan ia pilih untuk menemaninya dalam setiap perjuangan hidup. Berharap wanita itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Bersedia melanjutkan hubungan baik yang telah terbangun, ke jenjang yang lebih serius.


*********


Akhirnya Tristan sudah mengajukan gugatan cerai kepadanya. Panggilan sidang pertama telah ia terima. Sidang kelengkapan berkas. Namun ia sepakat dengan Tristan untuk tidak menghadiri sidang tersebut. Mereka mempercayakan kepada pengacara.


Ibu Titiana sudah membantunya dengan pengacara untuk mendampinginya. Sehingga ia tidak perlu repot mengurus perceraian, bisa fokus mengurus baby Glor.


Ia baru menghadiri sidang saat sidang mediasi. Ia didampingi oleh Lily dan pengacaranya, Ibu Melanie. Sedangkan baby Glor ia titip pada Mpok Nana, lengkap dengan stok ASInya.


Pertanyaan hakim saat mediasi  membuat jidat sedikit berkerut.


"Apa anda yakin dengan keputusan Anda sekarang?" tanya Hakim kepada Tristan.


"Iya, saya yakin Pak Hakim," jawab Tristan dengan mantap.


"Apakah anda tidak berniat untuk rujuk?"


"Tidak sama sekali Yang Mulia," tandas Tristan. Tidak ada keraguan terdengar dalam nada suara Tristan. Sepertinya Tristan sudah tidak sabar untuk segera bercerai dengannya.


"Kepada pihak tergugat, apa anda setuju dengan keputusan penggugat?" gilirannya ditanyai oleh Hakim.


Ia mengangguk lemah, "Setuju Pak Hakim."


"Apa alasannya, mengapa anda setuju dengan penggugat?"


Sekarang ia kebingungan harus menjawab apa. Apa ia harus mengatakan yang sebenarnya dan membongkar aib dirinya?


Tetapi disitulah gunanya pengacara. Saat ia terpojok, maka saat itu pula Ibu Melanie beraksi. Ia pun bisa bernafas lega atas peran pengacaranya.


Dan sidang mediasi berakhir gagal membuat rujuk Tristan sebagai penggugat dan ia sebagai tergugat. Sehingga perkara perceraian dapat dilaksanakan.


Tetapi ada sesuatu yang mengejutkannya. Karena saat bertemu Tristan di pengadilan, selain didampingi seorang pengacara pria, seorang wanita dewasa yang tidak ia kenal juga mendampingi Tristan.


Wanita itu tidak begitu cantik, sederhana, namun nampak terpelajar dan percaya diri.


"Triyasih." Begitu nama wanita itu saat memperkenalkan diri kepadanya. Menatapnya dengan penuh percaya diri, membuatnya menjadi kikuk dan merasa kerdil.


Dari tatapan mata dan bahasa tubuh antara Tristan dan Triyasih, menunjukkan bahwa Tristan dan wanita itu memiliki kedekatan secara psikologis.


Apa ia cemburu?


Tidak, ia sama sekali tidak cemburu. Berbeda saat melihat foto Bimasena dengan Miss Venezuela yang membuatnya patah hati.


Ia justru turut bahagia bila Tristan sudah memiliki pengganti dirinya. Tetapi bukankah baru sebulan ia dan Tristan pisah rumah?


Tidak terhitung hari Tristan sudah memiliki pengganti dirinya.


Mengapa Tristan tidak menjaga perasaannya? Apa Tristan sengaja memperlihatkan padanya bila sudah tidak sendiri lagi?


Mungkin seperti itulah seorang pria. Lebih cepat move on dari wanita. Dan ia harus menerima itu. Sebagai konsekuensi dari kesalahan masa lalunya.


Dua pria yang pernah mengaku cinta dan sayang padanya, hanya dalam hitungan hari sudah memiliki wanita pengganti dirinya. Tidak ada cinta yang abadi di dunia, kecuali cinta seorang ayah dan ibu terhadap anaknya. Rasa sayang pun dapat hilang tergerus oleh waktu.

__ADS_1


__ADS_2