
Sadar bahwa ia berada di dalam kandang singa lapar, otot-otot kecil pada kulit Nadia menegang.
"Tapi aku nggak bawa pakaian kemari, Bim," ujarnya.
"Kamu nggak butuh pakaian di sini, Sayang," ucap Bimasena dengan suara pelan. Tapi membuatnya semakin merinding. Apalagi satu tangan pria itu mulai mengelus dan meremas.
"Biiiiim, maksud kamu apa?" pekiknya. Tangannya berusaha mencegah tangan Bimasena agar tidak menyentuh bagian yang tidak semestinya.
"Maksudku jelas. Kamu ngerti kok."
Alasan apalagi yang harus ia lontarkan?
"Bim, aku nggak bawa pompa ASI kemari. Kalau ASInya nggak dipompa, dadaku mengeras dan sakit," ibanya, berharap Bimasena mengerti dan membolehkannya kembali ke hotel.
Tapi ...
Apa kata Bimasena?
"Mi amor, kalau bersama aku di sini, kamu nggak perlu pakaian dan gak perlu pompa ASI."
Ia menarik nafas panjang demi mendengar ucapan Bimasena.
Tanpa disengaja tubuhnya menggelinjang karena Bimasena melabuhkan ciuman pada sisi kanan lehernya dari belakang.
Ia benci mengapa tubuhnya memberi reaksi yang terlalu berlebihan seperti ini. Dikala otaknya berpikir keras mencari alasan untuk menghentikan Bimasena, kepalanya malah bergerak ke kiri. Memberi ruang kepada Bimasena agar lebih lebih leluasa mengeksplor lehernya dengan hisapan dan gigitan kecil yang membawa gelenyar hebat.
Yang berarti otaknya sudah tidak dapat mengendalikan kerja organ tubuh.
Tidak, ia tidak boleh larut.
Tidak boleh membiarkan senja ditenggelamkan malam sebelum waktunya. Tidak boleh membiarkan Bimasena mengulanginya sebelum diikat janji suci. Tidak boleh jatuh pada lubang dan dosa yang sama.
Otaknya mendadak cemerlang. Ia memiliki cara untuk menghentikan aksi Bimasena.
Dengan segera ia berbalik, menghadap ke arah Bimasena. Menantang mata cokelat pria itu yang mulai gelap diselimuti hasrat.
"Bim, kenapa kamu minta aku mencari cinta yang lain? Maksud kamu apa?"
Bimasena mendengus karena merasa terganggu, namun menghentikan aksinya.
Berhasil kan?
Sukses menghentikan aktivitas nakal Bimasena.
Untung saja ia ingat isi surat Bimasena.
"Atau kamu yang ingin mencari cinta yang lain, Bim?" serangnya. Siap berdebat dengan Bimasena.
Tetapi Bimasena malah tergelak mendengar ucapannya.
Dimananya yang lucu?
"Dalam keadaan terkurung begini, bertemu cinta sendiri saja sulit, bagaimana caranya mencari cinta yang lain?" Bimasena menyapukan ibu jari pada bibirnya.
"Lalu mengapa kamu minta aku mencari cinta yang lain?" cecarnya. Menjauhkan bibirnya dari tangan Bimasena.
Pria itu lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Sini!" Bimasena menarik tangannya hingga ia terduduk di pangkuan Bimasena dengan posisi menyamping.
__ADS_1
"Nadia! Bagaimana bila nanti hakim menjatuhkan vonis lebih dari sepuluh tahun penjara? Apa kamu mampu menungguku selama itu?" tutur Bimasena yang membuatnya tertegung.
Ia memandang mata cokelat itu dengan tatapan berkaca-kaca.
Akankah selama itu kekasihnya terkurung di negeri yang sangat jauh dari jangkauannya?
Bibirnya bergetar karena tak mampu mengungkapkan rasa lara yang menyeruak, menyesakkan hatinya.
Ia baru sadar telah menangis saat tangan Bimasena menyeka air matanya.
"Kalau aku mengedepankan egoku, maka aku akan memintamu untuk menunggu dan membiarkanmu bertahun-tahun melalui malam yang sepi hanya bersama Glor."
"Tapi kamu berhak mendapatkan cinta dan kehangatan. Kamu berhak hidup bahagia. Bukankah selama menjalin hubungan denganku kamu lebih banyak susahnya?" sambung Bimasena. Jari telunjuk pria itu bergerak membelai pipinya.
"Keputusan itu ada padamu, Nadia. Siap menungguku bertahun-tahun lamanya atau mencari cinta yang lain dan menemukan kebahagiaan baru," gumam Bimasena. Jari yang tadinya membelai pipi, beralih membelai rambutnya.
Kata-kata itu diucapkan demikian lembut oleh pria yang telah mengukir cinta di hatinya. Cinta itu telah terpatri, tak akan pernah hilang meskipun waktu datang dan pergi.
"Aku nggak bisa, Bim. Aku nggak mau yang lain selain kamu. Aku akan menunggumu sampai kapan pun. Dan bilamana kamu tidak kembali, aku memilih hidup sendiri," ucapnya tersedu dengan suara yang berubah jadi serak. "Aku akan menghabiskan waktu membesarkan Glor, sampai ajal datang menghampiri."
"Kamu bisa menunggu sepuluh sampai lima belas tahun, Sayang?" tanya Bimasena. Mata cokelatnya terang dan fokus kepadanya.
Sepuluh, lima belas, bahkan lima puluh tahun, ia akan menunggu.
"Aku akan menunggu kamu, Bim. Tapi jangan memintaku untuk mencari cinta yang lain. Hatiku sakit kalau kamu mengucapkan kalimat itu," rintihnya, kedua tangannya memegang bahu Bimasena.
Bimasena tersenyum penuh makna kepadanya.
"Aku tidak akan mengucapkan kalimat itu lagi. Terima kasih sayang atas kesediaanmu untuk menungguku pulang."
Secara perlahan Bimasena mendekatkan wajah, semakin dekat hingga rinai air matanya membasahi wajah Bimasena. Matanya terpejam, bibirnya merekah, menunggu bibir hangat pria itu berlabuh.
Ia terhanyut dalam nuansa jingga ciuman. Perpaduan halusnya rasa kasih di dalam hati dan luma tan yang terkadang berubah menjadi kasar.
Desa han dan bunyi nafas menggantikan diksi, untuk menyampaikan pesan kalbu yang diselimuti cinta dan dilukai rindu karena lama tak bertemu.
Tangannya melingkar, mencengkeram keras punggung pria itu.Tidak ingin membiarkan pria itu jauh lagi darinya. Ingin segera hidup bersama, menghadapi tantangan hidup, menghabiskan hari-hari sebagai suami istri. Menjalani kehidupan yang luar bisa bersama.
Bibir pria itu menelusuri garis rahangnya, lalu membenam di lehernya. Memberi gigitan-gigitan kecil penuh gelora. Membuatnya beberapa kali harus menggeliat, karena gerakan gelombang hebat menjalar di jiwanya.
Bibirnya dan bibir Bimasena kembali berpagut. Lidah menari. Ia merasakan panasnya api cinta yang membakar.
Gedung yang mengekang raga manusia itu diam terpaku menjadi saksi. Merelakan salah satu biliknya menjadi tempat bermain asmara.
Saat ini jiwanya bukan hanya haus akan kasih. Tapi menuntut sesuatu yang belum selayaknya. Membuat dadanya sesak tak mampu bernafas. Ia sepertinya kehabisan oksigen.
Apa karena ciuman pria itu yang mampu menghanyutkan dan membakar?
"You look like an angel (Kamu seperti bidadari)," desah Bimasena.
Atau karena bisikan nan lembut di telinganya yang membuatnya mabuk dan melayang?
Bukan, bukan karena itu ia menjadi sesak. Ia merasakan tubuhnya memikul beban yang berat. Beban tubuh pria yang sedang berada di atasnya.
Berada di atasnya?
Tiba-tiba ia tersentak. Kesadarannya pulih, setelah sekian lama terhipnotis oleh cumbuan pria bermata cokelat.
Sejak kapan posisinya yang duduk dipangku Bimasena berubah? Berubah berbaring dengan tubuh ditindih pria itu?
__ADS_1
Oh tidak!
Posisinya saat ini sangat membahayakan.
Begitu mudahnya Bimasena membalikkan keadaan. Ia hanya kelinci kecil yang menjadi mainan singa kelaparan. Bila tidak segera meloloskan diri, maka akan menjadi santapan pria itu sepanjang malam.
Kepalanya kembali berpikir bagaimana cara melepaskan diri dari pria yang sedang berusaha menanggalkan pakaiannya.
"Bim, aku mau pipis," dalihnya, tangannya menahan aksi tangan Bimasena yang hendak meloloskan pakaiannya melewati kepalanya.
Tetapi pria itu begitu terlatih. Meskipun menghadapi penolakan, dengan mudah meloloskan blus yang ia kenakan melewati kepala.
"Biiiim, jangan!" tolaknya. Tangannya menutupi bra yang sudah basah oleh rembesan ASI. Karena produksi ASInya sedang banyak-banyaknya dan tidak ada Glor yang mengonsumsinya.
Namun Bimasena tidak menghiraukannya.
"Biiiim, mau pipis," desisnya lagi, mendorong tubuh yang menidihnya.
Dua tangannya disatukan oleh Bimasena di atas kepala sehingga ia tidak dapat berontak lagi.
"Pipis aja di sini," seringai Bimasena.
Dasar pria badung. Rasanya ia sudah kehabisan akal untuk menghentikan pria yang sudah diselubungi gairah.
Sorot mata cokelat itu menghujam pertanda tidak ingin dicegah.
Bagaimana ia bisa mencegah, sementara ia malah terhanyut oleh gelombang gairah yang dibangkitkan kembali pria itu. Begitu mudahnya ia diombang-ambingkan. Ibarat perahu kertas berlayar di tengah samudera, menerjang gelombang.
"Nadia Humeerah, aku mencintaimu sejak kita masih SMA. Tidak ada yang bisa menyimpan rasa cinta tanpa bersama dan tanpa komitmen selama itu."
Bimasena sangat tenang, menghipnotisnya dengan belaian dan bisikan yang menenangkan. Membungkam mulutnya yang selalu menolak, menggoyahkan akal sehatnya.
"Aku mencintaimu, sepenuh hatiku."
Rindu yang begitu berat dan melelahkan. Sejak hatinya tertaut pada Bimasena, segalanya terasa mati tanpa kehadiran pria itu.
Disela-sela ia terbuai dalam keindahan yang diciptakan Bimasena, serpihan kesadarannya kembali muncul saat menerima gigitan kecil dari pria itu.
"Biiim, aku kangen Glor," lirihnya ditengah-tengah akal sehat yang timbul tenggelam. Berharap bisa menghentikan pria yang semakin tidak terkendali itu.
Nafasnya tidak berirama, terengah-engah terpanggang oleh hasrat.Tangannya mencengkeram rambut pria itu.
Bimasena bergerak dari bawah, mendekatkan wajah ke wajahnya.
"Kamu rindu Glor? Akupun rindu. Karena aku ayahnya. Rindumu sama dengan rinduku."
"Tapi Glor tidak rindu kita," bisik Bimasena yang membuat keningnya mengerut.
Bimasena melanjutkan lagi sebelum ia mengajukan protes,
"Glor merindukan adik perempuan yang cantik dan lucu."
"Jadi kita harus mengabulkan keinginan putera kita yang sama-sama kita rindukan."
"Membuat bayi perempuan yang cantik dan lucu untuk Glor."
Tidak ada pilihan lagi, kecuali menerima perlakuan pria itu. Berselancar bersama di lautan asmara, menghadapi gulungan-gulungan ombak. Bimasena adalah peselancar dan dirinya hanyalah papan selancar. Tubuhnya menari setiap gelombang datang, dibawah kendali pria itu.
Pria yang sudah meruntuhkan pagar keimanannya.
__ADS_1