REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
106. Takkan Ada Cinta Yang Lain


__ADS_3

Jas yang dikenakan Bimasena sudah basah. Basah oleh air mata Nadia. Ia tidak lagi membujuk wanita itu agar berhenti menangis. Karena ia mengerti bila menangis dapat mengurangi tekanan perasaan.


Ia hanya membiarkan wanita yang duduk di sampingnya menangis di bahunya.


Sementara tangannya mengusap kepala bayi yang duduk di pangkuannya. Bayi itu mengisap jari sambil memandanginya.


Hari sudah setengah gelap. Setengah piringan matahari telah terbenam. Di ufuk barat, langit didominasi warna jingga. Seperti hati yang mulai menjingga, karena sebentar lagi berpisah dengan dua orang yang sedang melekat di hati.


Bayi Glor dan ibu bayi, adalah lukisan yang sempurna di hatinya.


Ia, Nadia dan Glor sedang berada di atas kendaraan, dalam perjalanan menuju ke Bandara. Diantar oleh seorang sopir dari FreddCo Energy.


Jangan tanya bagaimana rasa hatinya, begitu berat meninggalkan Nadia dan Glor. Terlebih Glor yang hampir dua minggu bersamanya siang dan malam. Tidak pernah ingin lepas dari dekapannya. Terus bercanda dan bermain dengannya.


Sudah berkali-kali ia pergi dari satu negara ke negara lain. Tapi baru kali ini ia melihat bagaimana beratnya ditinggalkan dan merasakan bagaimana beratnya meninggalkan.


Ia sering melihat air mata ibunya, setiap kali ia meninggalkan ibunya. Tetapi seorang ibu harus melepaskan anak untuk mencari kehidupan dan membangun peradabannya sendiri.


Ia telah menemukan kehidupannya.


Wanita yang duduk di sampingnya serta bayi lucu di pangkuannya, adalah kehidupan barunya. Sungguh tidak mudah meninggalkan mereka.


"Selama Daddy pergi, Glor nggak boleh nakal ya? Nggak boleh repotin Mami. Glor yang ganti Daddy jaga Mommy." Ia mengajak Glor berbicara.


Tetapi justru membuat Nadia semakin terisak.


Ternyata bukan kalimat yang tepat.


"Wawwa mamma," celoteh Glor. Entah apa maksudnya. Atau melarangnya pergi seperti ibu bayi itu?


Entahlah, mengapa ia seolah kehabisan kata untuk Nadia. Ia ikut terhanyut dalam suasana yang sendu dan haru. Sejak kapan ia jadi pria yang melankolis seperti ini?


"Penthouse-nya kamu yang pilih, terserah kamu senang yang unit mana. Bila sudah ada pilihanmu, Aurel yang akan menyelesaikan pembeliannya. Penthouse -nya atas nama kamu. Jadi kamu yang serah terima dengan developer," ujarnya sambil mengecup kening Nadia.


Tapi wanita itu menggeleng.


"Aku nggak mau penthouse. Aku mau kamu jangan pergi dulu."


Mengapa wanita di sampingnya tidak menggunakan logika? Apa Nadia tidak berpikir bahwa nilai property yang baru saja ia tawarkan lebih dari 20 M? Begitulah bila perasaan mengalahkan logika.


Sama seperti tadi pagi, Nadia menolak dua card yang ia berikan.


"Kamu belum punya kewajiban untuk membiayai hidupku Bim, karena kita belum menikah. Kamu jangan khawatir, aku masih punya tabungan. Lagian sebentar lagi aku bekerja. Aku bisa punya penghasilan sendiri."


"Ini bukan karena kewajiban. Tapi karena aku menyayangi kamu Nadia."

__ADS_1


"Sekarang cukup dengan kasih sayangnya. Kartu-kartu itu aku terima setelah kita menikah," tolak Nadia.


"Kamu lupa aku Ayah Glor? Glor adalah tanggung jawabku. Jangan jadikan aku sebagai seorang ayah yang tidak bertanggung jawab," pungkasnya, barulah Nadia mengalah menerima dua card itu.


Tetapi Nadia menolak pindah ke apartemen atau rumah yang ia tawarkan. Tetap tinggal di Pesona Kayla.


Sekarang ia bukan hanya kehabisan kata. Juga kehabisan cara untuk membujuk Nadia. Bayi di pangkuannya ternyata lebih dewasa dari ibu bayi. Glor hanya mengoceh sendiri, kadang-kadang sambil mengisap tangan.


"Nadia. Sekarang minyak mentah di sana dalam proses pengolahan untuk dijadikan bahan bakar. Masih dalam tahapan destilasi. Setelah seluruh tahapan pengolahan minyak selesai dan BBM serta LPG telah diekspor, aku kembali kesini."


"Berapa lama?" pertanyaan berulang keluar dari mulut Nadia.


"Kurang lebih tiga bulan."


"Lama."


"Trus maunya berapa lama?"


"Satu minggu," sahut Nadia sekenanya.


Ia tergelak mendengar jawaban asal dari Nadia.


"Mi amor (sayangku), minyak bumi itu tidak seperti susu ASI, dari pabrik bisa langsung diseruput. Minyak bumi harus melalui proses pengolahan mulai dari destilasi, cracking, reforming, polimerasi dan alkilasi, treating, dan terakhir adalah proses blending. Barulah jadi gas, bensin, oli, lilin dan aspal. Setelah itu baru dilakukan suplai dan ekspor."


"Mi amor itu apa? Kenapa sering panggil aku mi amor."


Jadi Nadia belum tahu rupanya arti mi amor. Ia hanya bisa menahan tawa, agar wanita di sampingnya tidak tersinggung. Mencegah jangan sampai produksi air mata Nadia melebihi produksi minyak di Venezuela.


"Mi amor itu artinya sayangku."


"Seperti itu cara kamu memanggil miss itu? Mi amor ?" Nadia menyeka air matanya.


Daripada menanggapi Nadia yang berujung pada debat tiada berguna, ia lebih memilih bersenandung untuk baby Glor. Menyenandungkan lagu lawas. Yang disambut dengan senyum dan ocehan menggemaskan bayi itu.


Haruskah ku ulangi lagi kata cintaku padamu


Yakinkan dirimu


Masihkah terlintas di dada keraguanmu itu


Susahkan hatimu


Tak akan ada cinta yang lain


Pastikan cintaku hanya untukmu

__ADS_1


Pernahkah terbersit olehmu


Aku pun takut kehilangan dirimu


^^^(Takkan ada cinta yang lain. Ahmad Dhani)^^^


Ia pura-pura tidak melihat Nadia yang tersenyum, karena menyembunyikan senyum pada lengannya.


Tugasnya kali ini mengeloni dua orang sekaligus. Bayi dan ibu bayi.


Sebagai penumpang first class, tidak ada hambatan baginya membawa Nadia dan Glor untuk masuk ke lounge menunggu pesawat. Seorang asisten dari maskapai sudah mengurusi semua hal, mulai dari membawa bagasi dan membantu proses imigrasinya. Juga akan mengantarnya naik ke pesawat.


Dan saat yang terberat adalah ... ketika asisten itu menyampaikan kepadanya bila ia harus naik ke pesawat.


Tiba saatnya untuk berpisah.


Terlebih Glor tidak ingin lepas dari gendongannya. Setiap ia lepas, maka Glor menangis.


Maka sempurnalah, melihat Nadia dan Glor berbarengan menangis.


Bukankah ia ke Venezuela untuk bekerja lalu kembali lagi? Tetapi Nadia dan Glor melepasnya seperti seorang prajurit berangkat ke medan perang, yang belum tentu kembali dalam keadaan hidup.


Tapi mengapa rasanya ingin menangis juga? Sejak kapan dirinya menjadi pria lebay macam begini?


"Kamu jaga diri baik-baik sayang." Ia mengecup kening Nadia. Lalu mencium pipi gembul puteranya berkali-kali yang kini berada dalam gendongan Nadia.


"Anak lelaki nggak boleh cengeng ya?" serunya kepada Glor yang menangis mengulurkan tangan kepadanya, berharap digendong olehnya.


********


Glor sudah terlelap di atas tempat tidur.


Kini Nadia duduk di belakang jendela, menatap keluar jendela menembus pekatnya malam. Ke atas sana. Ke langit hitam yang dipenuhi kerlipan bintang. Di atas sana, kekasih hatinya sedang berada saat ini, tidak terjangkau oleh pandangannya.


"Apa yang dilakukan Bimasena di atas pesawat? Apa Bimasena juga memikirkannya seperti ia memikirkan pria itu? Apa Bimasena merindukannya seperti ia merindukan pria itu?"


Detik demi detik begitu berat dilalui tanpa pria itu. Apa lagi ia harus menghitung hari dan bulan.


Hanya dalam seminggu, Bimasena telah mengubah pribadinya menjadi wanita manja dan cengeng. Padahal Tristan telah menempanya menjadi wanita yang tegar.


Pria itu datang mengurai mendung di hatinya pasca perceraian dengan Tristan. Kata-kata dan perlakuan yang begitu manis.


Bima kamu lagi ngapain di atas sana?


Aku kangen ...

__ADS_1


__ADS_2