REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
30. Kala Memberimu Dosa


__ADS_3

Ia pun menggeser tubuhnya ke kiri demi memastikan ... agar Ia bisa melihat siapa yang sedang mengemudi.


Pada saat yang sama, pengemudi itu berucap sambil menepikan kendaraannya.


"Sama-sama Nadia, pindahlah ke depan. Duduklah di sampingku."


"Bima?" seru Nadia, antara senang dan haru.


Bimasena turun membukakan pintu belakang dan juga pintu depan untuknya.


"Bim, kenapa mengantarku pulang? Kamu kan banyak tamu di rooftop?" ucapnya saat ia turun dari mobil. Ia menyembunyikan wajahnya dari Bimasena, karena ada air mata yang mengalir yang tidak perlu dilihat Bimasena.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan tamu di rooftop. Yang perlu dikhawatirkan karena kamu harus pulang sendiri tengah malam begini."


Tadi rasanya ingin memeluk dan mengadu kepada Bimasena. Tetapi begitu pria itu berada di sampingnya, keberaniannya raib entah kemana.


Ia juga tidak ingin terlihat cengeng oleh Bimasena. Sehingga ia hanya bertanya hal lain.


"Ini mobil siapa?" Nadia mengamati interior mobil Mercedes Benz A Class itu. Untuk pertama kalinya Bimasena menggunakan mobil yang berbeda.


"Mobil pribadi. Jarang dipakai. Lebih banyak tinggal di basement apartemen," jawab Bimasena sembari mengulurkan kotak tissue padanya.


Mobil pribadi? Satu kata untuk pria di samping. 'Wouw'. Koleksi mobilnya nggak ada yang nanggung.


Ia sudah berusaha menyembunyikan wajah habis menangisnya, namun tetap saja, tidak luput dari perhatian Bimasena.


"Jangan terlalu sering membuang air mata. Kamu berhak bahagia Nadia."


Nadia hanya menghela nafas dengan berat. Rasanya ingin membagi beban, tetapi tidak tahu bagaimana merangkai kata. Lagian Bimasena tidak perlu tahu persoalan pribadinya. Biarlah beban itu ia pikul sendiri.


"Ada yang ingin kamu katakan? Katakan saja, tidak ada yang perlu ditutupi." tanya Bimasena. Sepertinya bisa membaca peliknya hati dan pikirannya.


Nadia hanya menggeleng. Tidak ada cerita bagus tentang dirinya yang menarik dibagi ke Bimasena. Yang membanggakan pada dirinya hanya saat SMA, dimana ia sering memenangi kontes kecantikan. Kejayaan itu sudah lama berlalu dan tidak menyisakan apa-apa.


"Kapan kamu mau terbuka kepadaku Nadia?"


Nadia kembali hanya diam saja dan menunduk. Masalahnya tidak perlu orang lain tahu. Juga Bimasena.


"Baiklah kalau kamu tidak ingin bicara. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, tetapi begitu sulit untuk bertemu. Aku rasa sudah saatnya aku mengatakannya Nadia."


Bimasena menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Mungkin selama ini kamu mengira bila aku menyukaimu hanya gurauan saja. Hanyalah permainan. Tetapi aku tidak bercanda. Aku serius."


"Aku menyukaimu Nadia." Bimasena melirik ke arah Nadia yang menunduk.


"Aku sayang kamu."


"Dan yang paling parah, aku ingin memiliki kamu."


Nadia terperanjat. Bagai kilatan petir menyambar dadanya.


Apa ia tidak salah dengar?


Apa benar Bimasena mengucapkan sayang padanya?


Beginikah rasanya?


Detak jantung menjadi tidak karuan. Apalagi yang mengucapkannya adalah Bimasena. Pria yang bisa membutakan hati wanita mana saja. Bahkan yang telah bersuamipun seperti dirinya.


Rasa angkuh di jiwanya mendadak sirna. Lidahnya tiba-tiba kelu, otaknya buntu.


Baru saja mendengar ucapan menyakitkan dari Tristan, tiba-tiba mendengar ucapan sayang dari Bimasena. Begitu mudahnya situasi mempermainkan dirinya. Kapasitas otaknya terlalu kecil untuk mencerna kejutan ini. Sebentar lagi ia jadi pasien rumah sakit jiwa.


"Mungkin kamu akan mengatakan bila kita bertemu pada waktu yang tidak tepat."


"Karena kamu sudah terikat pernikahan."


"Memang bukan untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Tetapi aku tidak pernah merasa sekacau ini. Setersiksa ini."


"Mungkin karena kamu tidak sendiri lagi sehingga aku tidak leluasa."


"Aku benar-benar kacau Nadia."


"Dimanapun aku berada otakku selalu memikirkanmu. Padahal aku sudah berusaha menyingkirkan bayanganmu. Karena aku tahu ini salah. Tetapi bayanganmu malah semakin sering datang mengganggu."


"Rindu terus menyiksaku. Mungkin ini terdengar lebay. Tetapi seperti inilah kenyataannya."


Apa yang harus aku katakan? Sungguh malu bila aku mengatakan, aku juga sayang kamu Bim. Aku juga rindu kamu Bim. Aku juga menginginkan kamu. Tidak Nadia, sadarilah dirimu. Dirimu siapa ... Bimasena siapa ... Jangan terlalu mudah jatuh.


"Kenapa aku Bim? Aku bukan siapa-siapa? Aku tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Aku hanya pekerja salon receh. Aku bahkan hanya tamatan SMA. Dan ... aku istrinya Tristan."


"Kamu mengenal aku hanya pada kulit terluarnya saja. Kamu tidak tahu bagaimana peliknya hidupku."

__ADS_1


"Rasa sukamu itu hanya datang sesaat. Begitu hasrat dan penasaranmu hilang, maka aku tidak berarti apa-apa lagi untukmu Bim. Semua rasa yang kau ucapkan tadi, akan hilang tidak berbekas."


"Buktinya, Tristan hanya dalam beberapa tahun bersama aku, ia sudah jenuh. Jangan membuang waktu untukku. Mitha dan Reyna bahkan jauh lebih baik dariku."


Bimasena tertawa sumbang mendengar ucapan Nadia.


"Jangan tanya kenapa Nadia. Karena rasa ini datangnya dari Sang Pencipta. DIA yang meniupkan rasa. DIA yang menumbuhkan rasa. DIA pula yang memeliharanya."


"Jadi bagiku tidak ada kata terlambat. Atau waktu yang kurang tepat. Atau dirimu yang tidak pantas. Karena memang kita sudah ditakdirkan untuk bertemu pada saat seperti ini dan dalam kondisi begini."


Bimasena menunggu jawaban Nadia, tetapi Nadia hanya diam dan menunduk. Akhirnya Bimasena kembali berucap.


"Nadia, apakah kamu mengizinkan aku masuk lebih jauh dalam hidupmu?"


"Apakah kamu akan memberiku harapan?"


"Ataukah kamu akan mematahkan hatiku?"


Pertanyaan Bimasena seperti peluru, tepat bersarang di hatinya. Ia tahu jawabannya, tetapi ia hanya dapat menjawab dalam sunyi. Bukan untuk Bimasena dengar. Biarlah ia simpan di palung hati terdalam.


"A a aku tidak tahu harus jawab apa Bim. Tolong jangan desak aku. Kamu kan tahu bagaimana kondisiku."


"Aku tidak mendesak ataupun memaksamu Nadia. Tetapi berikanlah aku jalan untuk memasuki hidupmu. Agar kamu bisa mempertimbangkan aku."


"Tidak masalah kalau aku hanya menjadi alternatif pilihan. Sampai hatimu betul-betul mantap menentukan siapa pilihan hidupmu."


"Dan bila pada akhirnya kamu akan memilih bertahan dengan Tristan, aku akan menerima dan berhenti mengganggumu."


"Tetapi beri aku kesempatan menunjukkan diriku padamu."


"Dan tolong jangan samakan aku dengan Tristan."


"Aku tidak mengatakan aku lebih baik dari Tristan. Bisa jadi aku lebih buruk dari dia. Tetapi aku akan berusaha memberikan kamu yang terbaik. Dan menjadikan kamu yang paling utama."


Tanpa terasa mereka sudah tiba rumah Nadia. Bimasena menepikan dan memarkir kendaraan di depan garasi rumah Nadia.


Dengan segera Bimasena turun membuka pintu mobil untuk Nadia.


"Terima kasih Bim," ucapnya pada Bimasena yang berdiri di samping mobil.


Seperti biasa, Bimasena akan menunggunya masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, mematikan lampu, barulah pria itu pulang.


"Masuklah Nadia," ujar Bimasena karena melihatnya hanya berdiri mematung.


Bimasena tertawa. "Kamu tahukan aku tidak akan pulang sebelum memastikan kamu berada di dalam kamar? Memastikan kamu sudah aman?"


***


Nadia berdiri mematung menatapnya. Belum melangkah masuk ke dalam rumahnya.


"Masuklah Nadia," ujarnya kepada Nadia.


Tidak seperti biasanya Nadia menurut, sekarang Nadia menggeleng. "Aku ingin melihat kamu pulang."


Ia pun tertawa. Ada apa dengan Nadia?


"Kamu tahukan aku tidak akan pulang sebelum memastikan kamu berada di dalam kamar? Memastikan kamu sudah aman?"


"Nggak mau. Aku masuk kalau kamu sudah pulang." Nadia tetap bersikukuh. Sekarang malah berani menantang tatapannya.


Baiklah Nadia, akan kuberikan apa yang kamu butuhkan.


Kamu tidak akan melupakan malam ini.


"Kalau kamu nggak mau masuk, aku yang bawa kamu masuk."


Nadia terperangah karena Ia meraih tangannya dan menariknya dengan lembut menuju pintu rumah.


"Mana kuncinya?" Bimasena menengadahkan tangannya.


Tangan Nadia meraba-raba ke dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah kunci rumah.


Ia mengambil kunci itu, mengunci dan membuka pintu rumah. Lalu ia masuk mendahului Nadia. Nadia menyusulnya.


Setelah Nadia masuk ke dalam rumah, ia menutup dan mengunci pintu dari dalam.


Membuat Nadia melongo. Pasti wanita itu bertanya-tanya apa yang hendak dilakukannya. Mengapa ia menutup dan mengunci pintu sementara ia masih di dalam rumah.


Bimasena hampir tertawa melihat wajah Nadia mendadak pucat pasi dengan wajah melongo.


Ia maju satu langkah sehingga jarak mereka menjadi sangat dekat. Nadia pun terlihat semakin tegang. Wajahnya seolah tidak dialiri darah.


Please Nadia, harusnya kamu sudah tidak sekaku itu.

__ADS_1


Bimasena meraih bahu Nadia dan menarik lebih dekat lagi dengannya. Satu tangannya mengangkat dagu Nadia dengan lembut, sehingga wajah wanita itu menengadah menghadap kepadanya.


Dengan perlahan Bimasena mendekatkan wajahnya ke wajah Nadia. Kemudian berbisik,


"Nadia jawablah, apa kamu mengizinkan aku masuk lebih jauh ke dalam hidupmu?"


Ekspresi wajah Nadia meluruh. Sorot matanya melembut. Dengan pelan ia mengangguk. lalu menggigit bibirnya.


Bimasena seperti ketiban bulan karena anggukan pelan wajah indah itu. Wajah yang selalu mengganggu harinya.


"Terima kasih Nadia," ucapnya seraya tersenyum.


Jarinya menyapu bibir Nadia agar wanita itu berhenti menggigit bibirnya. Dengan pelan ia mendekatkan bibirnya ke bibir Nadia.


Nadia terkesiap begitu kedua bibir mereka bersentuhan.


Namun akhirnya, secara perlahan-perlahan wajahnya meluruh. Tenggelam dalam hening yang ditimbulkan dua bibir yang saling berpagut, dengan wajah merah jingga.


Akhirnya Bimasena bisa merasakan bibir manis itu, rasanya jauh lebih manis dari yang dibayangkan. Sangat lembut dan nikmat. Nikmatnya luar biasa meskipun bibir itu hanya pasrah berserah tidak menyambut.


Tangan kiri Bimasena melingkar di pinggang Nadia dan tangan kanannya menahan bagian belakang kepala wanita itu. Ia menarik tubuh Nadia agar semakin merapat padanya.


Tidak ada lagi jarak tercipta, sehingga ia bisa merasakan lekuk tubuh indah itu. Bahkan Ia bisa merasakan detak jantung Nadia yang menghentak begitu kuat.


Memicu gejolak gairah di dalam diri. Sehingga ciuman lembut mulai memanas. Terlebih lagi Nadia yang awalnya hanya memasrahkan bibirnya, kini mulai membalas. Lidahpun turut bermain membangunkan semesta. Tidak ingin mengakhirinya.


***


"Bim!" pekik Nadia.


Nadia terlonjak kaget, sehingga ciuman mereka terlepas. Karena tangan Bimasena mulai merayap dari pinggang turun ke bawah dan meremas.


Nafasnya memburu.


Bimasena menarik Nadia dan memutar arah mereka. Lalu dengan lembut didorongnya Nadia sampai tersandar di pintu.


Bimasena kembali melekatkan tubuhnya. Semakin erat. Sehingga tidak ada lagi ruang bagi Nadia membuat jarak.


"Jangan menolak Nadia."


"Nikmatilah," bisik pria itu di telinganya.


"Tapi ... " belum selesai ucapannya, Bimasena sudah memotong.


"Jangan khawatirkan Tristan. Aku bisa memantau rooftop dari sini."


Ucapan Bimasena sangat menghipnotis dan menenangkan.


Sehingga ia hanya bisa pasrah dan memejamkan mata ketika Bimasena mulai menjelajah. Bimasena sudah meluluh lantahkan pertahanannya.


Sangat nikmat, sentuhan pria itu di kulitnya.


Rasanya sungguh berbeda.


Amat sangat istimewa.


Tidak ada lelah rasanya berdiri di belakang pintu. Karena ia sudah tidak tahu, ia berada di mana.


Bimasena menerbangkannya ke langit hitam, menari bersama bulan dan bintang. Asmara bergelora, membiakkan gairah.


Dan saat gaun sudah melorot ke lantai, gairah semakin memuncak. Tak ada sesenti kulitpun yang luput dari cumbuan pria itù.


Sentuhan dari wajah yang belum bercukur itu membuat hasrat semakin meletup-letup. Ia menjadi wanita dahaga, berharap Bimasena segera memberinya dosa yang paling indah.


Dan Bimasena mungkin segera menabur dosa dalam dirinya. Karena pria itu berbisik di telinganya,


"Sambil berdiri di sini? Baring di sofa? Atau di kamar?"


*******


Readersku tersayang.


Sekali lagi novel ini ditulis untuk menjadi bahan hiburan. Jangan ditiru !


Bila readers melihat nilai positif yang terkandung, silahkan dijadikan pelajaran.


Jangan mendekati selingkuh !


Terlebih lagi jangan mendekati zina !


Terima kasih atas segala dukungannya.


Salam sayang dari Author Ina AS

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2