REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
76. Cerita Telah Berlalu


__ADS_3

Apa yang harus Nadia katakan pada Bimasena? Bagaimana caranya pamit dari kehidupan sang kekasih hati?


Ia telah merangkai kata, tapi begitu sulit bibir untuk bertutur.


Bagaimana mulut bisa bertutur sementara jiwa sedang rapuh?


Ia sudah menggenggam pria itu dengan kuat, namun ternyata Bimasena bukan takdirnya. Takdir lebih kuat dari genggamannya.


Hidup yang penuh warna di depan mata berubah menjadi monokrom.


Sekarang ia menyerah pada keadaan yang tidak berpihak. Pilar tempatnya berpegang telah goyah. Ia pamit pada Bimasena dengan mengirim sebuah pesan melalui sebuah aplikasi pesan.


Nadia:


Bim, aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Tapi kita bertemu pada waktu yang salah. Cinta itu datang terlambat. Apa yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan dan dosa besar. Sebaiknya kita menyudahi semua ini.


Nadia:


Biarkanlah aku melanjutkan hidupku sendiri. Dan kamu akan mendapatkan wanita yang terbaik untuk menjadi pendampingmu.


Nadia:


Terima kasih pernah datang memberi warna dalam hidupku. Aku sudah berusaha menggenggammu dengan erat. Tetapi ternyata takdir tidak berpihak.


Nadia:


Semua barang berharga yang kamu berikan aku simpan di dalam brankas. Aku hanya membawa bunga baby breath sebagai kenangan.


Nadia:


Bima aku pamit. Dan tolong Jangan pernah mencariku.


Bunga-bunga di taman hati sudah tidak bermekaran. Daunnya pun mengering berguguran.


Pergi membawa sepenggal hati yang terluka, setelah berjuang timbul tenggelam dalam lumpur noda dan dosa.


Ia meninggalkan apartemen mewah itu bersama lara dan sesak di dada. Merelakan hatinya diserang rasa kehilangan, pilu dan nestapa.


Meninggalkan semua yang diberikan Bimasena untuknya. Pakaian, credit dan debit card, handphone, kalung serta cincin blue shaphire. Ia pergi hanya membawa pakaian dan handphone yang ia beli sendiri saat tinggal di rumah kost.


Hanya satu pemberian Bimasena yang ia bawa pergi.


...Bunga baby breath....


Lalu kemana langkah kaki harus ia bawa?


Sebentar lagi ia melahirkan. Sementara ia butuh teman untuk mendampinginya. Sehingga meskipun berat ia harus pulang ke ...


*******


Bimasena sedang berada di dalam salah satu meeting room yang berukuran besar di hotel Jumeirah Al Qasr di Al Sufouh, Dubai. Mengikuti konferensi internasional perusahaan minyak bumi dan gas bumi.


Ia sangat menyenangi fasilitas yang dimiliki hotel itu. Hotel bintang lima mewah yang tidak jauh dari private beach. Kamar-kamarnya luas, memiliki jendela besar dengan balkon pribadi yang menghadap ke teluk arab.


Hotel ini memiliki taman lanskap yang luas, dengan saluran air bergaya kanal. Talise Spa menyediakan ruang-ruang perawatan di atas air. Kolam renang besar dengan area khusus untuk anak-anak dan lounge lobi dari marmer dengan pohon-pohon palem.

__ADS_1



Kelak ia akan membawa Nadia bersama puteranya bila telah lahir ke tempat itu. Ia yakin Nadia akan menyenangi tempat tersebut karena sangat instagramable.


Saat acara konferensi diistirahatkan untuk memberi kesempatan kepada peserta makan siang, Bimasena barulah mengaktifkan handphone-nya. Dari sekian pesan yang masuk, pesan yang pertama dibacanya jelaslah pesan dari Nadia.


Tapi pesan Nadia justru membuat keningnya berkerut, lalu tiba-tiba ia diselimuti kegelisahan.


Apa yang terjadi?


Tanpa membuang-buang waktu, ia segera menghubungi nomor Nadia. Tetapi nomor yang ia hubungi sudah tidak aktif.


Bimasena segera memonitor CCTV pada unit apartemen yang ditempati Nadia. Beberapa ruangan yang dilengkapi dengan CCTV tidak menunjukkan pergerakan seseorang di sana.


Ia pun segera membuka rekaman CCTV beberapa jam terakhir. Melalui layar handphone, ia melihat Nadia keluar dari apartemen membawa sebuah tas dan bunga baby breath. Hatinya pun diliputi tanda tanya dan kerisauan.


Kemudian ia membuka rekaman beberapa jam sebelumnya lagi. Membuat terhenyak begitu melihat Nadia bersama ibunya duduk di atas sofa.


Kini ia mengerti mengapa Nadia mengiriminya pesan seperti demikian, meskipun ia tidak tahu apa yang dibicarakan Nadia dengan ibunya.


Ia bisa mengerti bila ibunya tidak bisa menerima Nadia, semata-mata karena status Nadia. Ia juga bisa memahami bila Nadia mengambil sikap demikian, karena Nadia tipikal wanita yang kurang mampu menghadapi tekanan dan memiliki cara berpikir yang kurang fleksibel.


Meskipun gelisah karena Nadia tidak bisa ia hubungi, ia berusaha tetap tenang. Karena ia yakin, setiap masalah datang lengkap dengan solusinya. Tergantung bagaimana daya tahan seseorang menghadapi masalah.


Bimasena tetap terstruktur dalam hal berpikir dan bertindak menghadapi masalahnya bersama Nadia. Setelah acara hari ini selesai, ia akan menghubungi ibunya untuk membicarakan Nadia. Menyampaikan langkah yang telah mereka tempuh terkait status Nadia. Dan yang lebih utama, membicarakan janin yang sedang dikandung Nadia.


Ia juga tidak perlu risau bila Nadia meninggalkan apartemen. Karena dari Dubai pun ia bisa memonitor kemana Nadia pergi. Tidak ada tempat bersembunyi bagi Nadia di permukaan bumi ini. Oleh karena itu ia tetap menyelesaikan urusannya di Dubai sebelum bertolak kembali ke Indonesia.


*******


Ia sudah bisa menebak apa yang terjadi.


Dengan segera ia menghampiri adik iparnya, lalu memeluknya. Sejenak membiarkan adik iparnya menangis di bahunya.


"Mpok mengerti kamu mencintainya, tapi cinta saja tidak cukup Dik. Mereka memiliki dunia yang berbeda dengan kita. Mereka jauh di atas kita. Apalagi statusmu, menjadi penghalang terbesar bagi kalian." Ia memberi nasihat kepada adik iparnya sambil mengelus punggung Nadia.


Nana sudah menduga hal ini akan terjadi, begitu Ibu Imelda datang menemuinya dan Herial. Menyatakan keberatan atas hubungan Nadia dan Bimasena.


"Jangan menangis. Hidup harus terus berjalan. Kuatlah demi bayi yang kamu kandung," lanjutnya lagi.


********


Nadia kembali lagi berada di rumah Bang Herial. Mengurung diri di dalam kamar sempit. Rumah yang ia tinggalkan dulu secara diam-diam. Melewati jendela dan memanjat pagar demi bertemu sang pujaan hati. Berharap kebahagiaan datang menyongsong. Ternyata ia pulang ke rumah itu membawa kekalahan.


Lalu apa kabar hatinya sekarang?


Jelas ia patah hati. Hatinya terluka hebat.


Dua insan yang saling mencintai, tetapi harus terpisah karena waktu dan keadaan. Hal ini yang sangat melukai hatinya.


Cerita telah berlalu. Wajah menawan yang membuatnya mabuk kepayang tidak akan menghiasi hari-harinya lagi. Suara yang selalu menjadi pengantar tidurnya setiap malam tak akan didengarnya lagi.


Di dalam kamar sempit dan panas ini, ia membeku kedinginan. Tidak berhenti meneteskan air mata mengingat wajah Bimasena.


Apa yang dirasakan Bimasena saat membaca pesannya?

__ADS_1


Ia bahkan tidak menunggu Bimasena membaca pesan, segera mematikan handphone dan meletakkannya di dalam brankas bersama barang berharga lainnya yang diberikan Bimasena untuknya.


Ia tidak akan sanggup untuk tidak menangis bila mendengar suara Bimasena.


Dan hari ini adalah hari dimana ia memilih hidup sendiri. Pergi dari Bimasena, namun tidak kembali kepada Tristan.


Ia pergi dari Bimasena, tetapi pikirannya selalu kembali kepada pria itu. Bayang wajah itu tidak pernah beranjak pergi. Selalu datang menyiksanya dengan rindu. Sehingga sempurnalah penderitaannya.


Sekarang ia rindu makan dengan makanan yang menggunung di atas piring. Padahal sebelumnya selalu membuatnya kesal pada Bimasena.


Nadia, meskipun aku nggak ada di sampingmu, kamu harus makan dengan porsi dan gizi yang sama dengan sekarang. Lakukan hal terbaik untuk bayimu. Soal bentuk tubuh, setelah melahirkan bisa dikembalikan seperti semula.


Tangisnya semakin menderas mengingat ucapan Bimasena saat malam terakhir mereka bersama.


Nadia, kamu tidak akan melupakan malam ini.


Tidak mungkin ia melupakan malam terakhir mereka berdua. Juga malam-malam sebelumnya.


Berdua menghabiskan malam menikmati pemandangan malam kota Jakarta dari lantai tertinggi apartemen. Rayuan, candaan dan kejahilan pria itu yang mengesalkan sekaligus menyenangkan.


Tidur berbantal paha pria menawan itu, ataupun bersandar di bahu yang kokoh. Bagaimana hangat, aman dan nyaman berada dalam dekapan Bimasena.


Penolakan yang selalu mengawali, namun leguhan yang selalu mengakhiri. Dua peluh dan nafas yang saling bercampur, menyatukan raga, hasrat dan cinta.


Namun langkahnya sudah diatur garis takdir. Sore hari ia meninggalkan apartemen Bimasena, malam hari Tristan bersama kedua orang tuanya telah datang ke rumah Bang Herial untuk menjemputnya pulang.


"Maafkan, aku tidak layak untuk kembali bersama Tristan. Aku penuh dengan noda dan dosa. Sehingga tidak pantaslah untuk bersanding dengan Tristan," tolaknya dengan canggung menatap wajah Tristan dan kedua mertuanya.


"Kembalilah, kita mulai dari awal. Kita mulai kehidupan baru, menjadi lebih baik bersama," ucapan yang sangat singkat dari Tristan.


"Nadia, tidak ada hubungan suami istri yang selalu cerah. Tetapi bagaimana mereka bisa bertahan menghadapi badai. Bila kejujuran, kepercayaan, dan kesetiaan ternodai, maka solusinya bukanlah perceraian. Tetapi memaafkan dan janji yang teguh untuk tidak mengulangi kesalahan," nasihat Ayah Mertuanya.


"Jangan pernah biarkan pernikahan ataupun mahligai rumah tangga yang telah dibina, dihancurkan oleh permasalahan yang seharusnya dapat diselesaikan dengan kepala dingin serta diskusi bersama," Ibu Mertuanya ikut menimpali.


Namun ia bersikukuh untuk tetap tinggal di rumah Bang Herial dan tidak kembali kepada Tristan.


Ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi. Hidup bersama dengan Tristan, sementara hatinya telah dipasung oleh Bimasena. Bila hal itu ia lakukan, maka sama saja ia menyakiti Tristan untuk yang kedua kalinya.


"Nadia, anak yang akan kamu lahirkan itu butuh sosok ayah. Jangan egois. Jangan membuat seorang anak menjadi yatim sementara ia masih memiliki ayah. Pertahankanlah pernikahanmu," hardik Bang Herial begitu Tristan dan mertuanya meninggalkan rumah Bang Herial.


"Lalu bagaimana bila ini bukan anak Tristan Bang?" Ia merasa didesak oleh Bang Herial.


"Nadia, bukankah Tristan sudah mengatakan tadi, bila ia akan menerima meskipun ternyata itu bukan anaknya?" sela Mpok Nana.


Ternyata Tristan bersama ayah dan ibu mertuanya tetap gigih datang setiap malam untuk membujuk dan menjemputnya. Namun ia tetap pada pendiriannya, memilih melanjutkan hidup sendiri tanpa Bimasena maupun Tristan.


Tetapi karena desakan yang bertubi-tubi dari Bang Herial dan Mpok Nana, serta penghargaan yang sangat tinggi kepada kedua mertuanya,


akhirnya pada malam ketiga Tristan datang bersama kedua mertuanya, pertahanannya pun goyah.


Ia akhirnya ikut pulang, kembali ke rumah Tristan, serta mencabut gugatan cerainya terhadap Tristan di pengadilan.


********


__ADS_1



__ADS_2