
Danindra sedang fokus mendengarkan presentase desain pembangunan tiga tower apartemen di rencana ibu kota baru dari divisi perencanaan dan pengembangan, saat telepon dari Bimasena masuk di handphone -nya.
Danindra : I'm in a meeting, don't disturb (Aku sedang rapat, jangan ganggu). I'll call you later (Aku hubungi nanti).
Padahal meeting -nya tidak begitu penting. Tetapi ia harus terlihat sebagai orang penting dalam pandangan Bimasena. Bahkan harus lebih penting dari Bimasena.
Karena Bimasena sudah mengerdilkannya dengan menganggap kemampuan bisnisnya hanya level nasional. Tidak seperti pria itu, mampu berkompetisi dalam level internasional.
Bimasena : Ndra. Aku titip Nadia. Tolong bimbing dia dalam bisnisnya.
Suara sahabatnya sangat lemah, tidak seperti biasanya.
Danindra : Woi, Maksud lu apa?
Meskipun tetap melanjutkan meeting -nya, namun ia terus kepikiran ucapan Bimasena. Bukan kali ini saja Bimasena memintanya mengajari Nadia dalam pemasaran property, namun sebelumnya dengan intonasi memerintah. Seperti seorang bos terhadap bawahannya.
Berbeda dengan intonasi kali ini, mirip sebuah pesan tetapi penuh pengharapan. Sejak kapan Bimasena merendahkan diri padanya? Mungkin ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu?
Begitu meeting -nya usai, ia menghubungi nomor Bimasena. Panggilannya tersambung namun tidak pernah dijawab oleh Bimasena. Akhirnya ia menghubungi Nadia, karena Nadia pasti tahu apa yang terjadi pada Bimasena.
Danindra : Nadia, ada apa dengan Bimasena?
Namun ia malah mendengar suara Nadia yang berubah serak sambil terisak.
Nadia : Aku nggak tau Mas, tadi dia sempat menghubungiku. Cuman bilang nitip Glor. Setelah itu teleponnya putus. Aku telepon berkali-kali ia tidak pernah jawab. Mas Indra tahu ada apa dengan dia?
Ia bisa merasakan kecemasan dari suara wanita itu.
Danindra : Kamu tenang saja, aku cari informasi dulu.
Sekarang ia yakin sahabatnya sedang memiliki masalah. Kepalanya mulai memikirkan jejaring untuk mencari informasi mengenai Bimasena.
*******
Mendengar handphone -nya berdering dengan nada dering khusus, rasanya bagai bulan jatuh di ribaan.
"Ada telpon Daddy, Glor," serunya mengabarkan sesuatu yang sangat penting kepada Glor dengan hati yang penuh suka cita. Padahal puteranya yang sedang digendongnya itu belum mengerti apa-apa.
Nadia tidak tahu mengapa hatinya sedari tadi selalu gelisah, gundah dan gulana. Terlebih saat Bimasena menghubunginya, mengatakan akan ke sebuah klub malam bersama teman-teman kantornya. Hatinya pun semakin tidak tenang.
Ia tahu apa yang membuat gelisah. Ia menyesal mencari tahu tentang Negara Venezuela di internet. Venezuela adalah gudangnya wanita cantik. Pabrik ratu kecantikan. Sebuah ancaman yang serius baginya. Bagaimana bila tiba-tiba hati Bimasena terjerat oleh pesona salah satu gadis di sana? Hal itu terus nenghantuinya. Membuatnya tidak tenang.
Sambil menggendong Glor, ia meraih handphone yang ia letakkan di atas tempat tidur lalu menjawab panggilan Bimasena.
Nadia : Biiiim
Ia hendak protes, mengapa Bimasena tidak melakukan panggilan video call padanya. Padahal ia ingin melihat situasi kelab malam. Lebih jelasnya memastikan bila tidak ada wanita lain di dekat ayah puteranya tersebut.
Belum sempat ia berucap lebih lanjut, ia mendengar kata-kata dari Bimasena yang membuatnya terhenyak.
Bimasena : Mi amor, aku titip Glor.
Bimasena : Ingatlah selalu, aku sangat mencintaimu. Cintaku bukan hanya sampai akhir hidupku. Juga saat hidup setelah matiku.
Bimasena : Maafkan aku.
Setelah sempat termangu, ia sadar bila harus berbicara.
Nadia : Bim ?
Panggilan diputus oleh Bimasena tanpa memberinya kesempatan untuk bertanya.
Dibalut rasa penasaran yang teramat tinggi, ia meletakkan Glor di atas tempat tidur lalu menghubungi Bimasena melalui panggilan video call.
Namun berkali-kali ia menghubungi nomor pria itu, tetap tidak ada jawaban dari pria tersebut.
Telepon dari Danindra membuat hatinya semakin gamang.
__ADS_1
Danindra : Nadia, ada apa dengan Bimasena?
Nadia : Aku nggak tau Mas, tadi aku sempat menghubungiku. Cuman bilang nitip Glor. Setelah itu teleponnya putus. Aku telepon berkali-kali ia tidak pernah jawab. Mas Indra tahu ada apa dengan dia?
Danindra : Nadia tenang saja, gua cari informasi dulu.
Ia tidak pernah berhenti menghubungi nomor telepon kekasihnya. Namun begitu sore tiba, nomor telepon tersebut sudah tidak aktif. Begitupun saat malam tiba.
Awan kecemasan bergumul menyelimuti hatinya. Bahkan keheningan malam tak mampu melelapkannya. Matanya enggan terpejam menunggu kabar dari sang terkasih.
Ada apa dengan pria yang bertahta di hatinya?
Bahkan Danindra yang ia andalkan belum mendapat informasi. Begitupun Aurel, mantan sekretaris Bimasena.
"Keluarga Bimasena tidak bisa dihubungi," terang Danindra. Jawaban yang sama dengan Aurel.
Bahkan dua hari berlalu ia belum juga bisa mendengar suara ataupun mendapat informasi mengenai Bimasena yang bisa membawanya ke titik terang.
Dua malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan ia tidak ingin bekerja mencari calon pembeli perumahan yang sedang dipasarkan.
Ia hanya duduk termangu di balik jendela memandang ke jalan, berharap Bimasena tiba-tiba datang. Bergantian memandang ke arah handphone -nya, berharap handphone itu berbunyi dengan nada dering khusus.
Ketika jumat tiba, hari yang dijanjikan pria itu datang di Indonesia, ia berharap Bimasena akan datang memberikan sebuah kejutan. Sehingga ia telah menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangan pria itu.
Namun sampai malam menyelimuti bumi, serta dua jarum jam dalam posisi tegak berdiri menunjuk ke arah atas, laki-laki yang ia tunggu tidak kunjung menampakkan diri.
Glor sudah tertidur pulas sedari tadi. Tinggallah dirinya berteman keheningan malam dengan hati yang sepi.
Tidak ada yang lebih menyiksa saat rasa cemas beradu dengan rindu. Bagaimana membunuhnya?
Ia melangkah memandangi baju putih, yang akan dikenakannya saat pertunangan lusa. Juga baju Glor yang sudah disiapkan khusus. Apa rencana itu masih bisa terwujud?
Bahkan Aurel yang ia hubungi tadi pun bingung. Melanjutkan acara itu atau membatalkan.
Saat mega hitam berarak di hatinya, maka matapun tidak berhenti menghujankan air mata. Ia tidak berdaya oleh keadaan. Betapa lemah dirinya sebagai seorang wanita. Ia tidak mengerti apa yang terjadi dan apa yang harus ia lakukannya.
Acara sudah dibatalkan.
Ia hanya duduk di lantai memeluk gaun putihnya. Mata sembabnya memandang mata cokelat Glor yang sibuk dengan mainan bunyi-bunyian. Rindu pada pria dewasa pemilik mata cokelat menelikungnya dengan kejam.
"Glor, mommy rindu daddy. Daddy ada di mana Glor? Katakan pada daddy, Glor, jangan siksa mommy seperti ini," rintihnya pada bayi yang belum mengerti apa-apa.
"Bibbii." Hanya itu jawaban Glor. Tersenyum padanya. Seakan ingin menguatkannya agar tetap tegar atas kondisi yang dihadapinya.
"Bilang pada daddy, Glor. Pulanglah cepat sebelum mommy mati. Mommy sakit Glor. Mengapa daddy tega membiarkan mommy seperti ini?" Ia tidak berhenti mengajak Glor berbicara. Karena tidak tahu kepada siapa meluapkan perasaannya yang gundah gulana.
Ia merana karena batalnya acara pertunangan. Namun ia menderita karena tak kunjung mendapatkan kabar tentang kekasih hatinya.
Ucapan terakhir pria itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Tak ada satu huruf pun yang ia lupakan.
Mi amor, aku titip Glor.
Ingatlah selalu, aku sangat mencintaimu. Cintaku bukan hanya sampai akhir hidupku. Juga saat hidup setelah matiku.
Maafkan aku.
Apa yang terjadi pada Bimasena?
Bila pria itu ingin pergi darinya mengapa tidak pamit secara baik-baik padanya? Ia ikhlas bila Bimasena ternyata mendapat wanita yang lebih pantas, asal pria itu bahagia.
Tetapi mengapa Bimasena mengucapkan kalimat hidup dan mati?
Oh tidak, ia tidak ingin melihat pria itu mati. Ia tidak akan bisa.
Karena jiwanya akan turut mati.
Ia lebih mampu melihat pria itu bahagia bersama wanita lain daripada melihatnya mati.
__ADS_1
Bunga merekah tak pernah sampai semusim, selalu layu sebelum saatnya.
Saat ia hendak menulis kisah dalam lembaran buku baru, waktu memutar keadaan ketika ia telah mendekati impian. Jalan yang akan ditempuhnya diselimuti kabut, membuat arah dan tujuannya menjadi tidak pasti.
Ia tidak tahu harus membawa langkahnya kemana kecuali menanti, meskipun harus dengan penantian panjang. Karena pria itu telah mencuri singgasana hatinya.
Ada atau tidak ada Bimasena, nama itu sudah terlanjur terpatri di dalam hati. Nama itu merajai dirinya.
Sepuluh hari berlalu.
Di suatu senja yang muram.
Saat ia masih seperti hari-hari sebelumnya, duduk termenung di balik jendela menunggu kekasih hati datang kembali. Dengan hati yang menyanyi sendiri, melantunkan kidung kelabu yang menyayat. Rasa perih meronta. Jiwanya penuh derita kala asanya telah sirna tergulung ombak takdir.
Ia berharap ayah Glor segera pulang, membawa air cinta untuk menyiram gejolak rindu. Ia tidak sabar sabat, melihat pria itu berdiri gagah di ambang pintu.
Wajah pucatnya kembali teraliri darah manakala melihat sebuah mobil mercy berhenti tepat di depan rumahnya. Ia sangat mengenali mobil berwarna hitam tersebut. Karena ia memiliki kenangan yang tidak bisa ia lupakan di dalam mobil itu.
"Biiiiiiiiim," serunya. Jiwa yang tadinya mati hidup kembali.
Ia berlari, melesat secepat laju panah, keluar dari kamar. Melewati ruang tamu dan membuka pintu utama. Ia sudah tidak sabar untuk memeluk pria itu. Memeluk dengan erat dan tidak pernah melepaskan lagi. Lalu menangis tersedu-sedu dalam dekapan pria tersebut.
Ia akan mengikat Bimasena di rumah ini dan tidak akan membiarkannya lagi pergi.
Saat pintu belakang mobil terbuka, ia melompati teras rumah, tidak sabar ingin menubruk sang pujaan hati.
Namun yang keluar dari mobil bukan kekasih yang lama dinanti.
Tetapi ... Ibu Imelda, ibu dari Bimasena, dengan wajah sendu menatap nanar padanya.
Membuat langkahnya untuk mendekat langsung terhenti.
Tetapi ia masih menunggu sosok lain turun dari mobil.
Satu lagi yang turun, sopir Ibu Imelda. Setelah itu tidak ada lagi orang yang turun dari mobil.
Orang yang ditunggunya tidak ada di atas kendaraan tersebut.
Dengan suara bergetar ia bertanya kepada Ibu Imelda,
"Di mana Bima, Bu?"
Bukannya menjawab, Ibu Imelda malah terisak dengan bahu yang berguncang.
Pertanda ia akan mendengar kabar yang tidak baik.
******
Readersku tersayang,
Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberikan limpahan kesehatan dan rezeki dari Sang Pencipta.
Sebagai ucapan terimakasih kepada dukungan readers, author akan memberikan gift berupa bunga artificial cantik kepada sepuluh readers dengan dukungan tertinggi yang dilihat pada episode terakhir.
Terima kasih atas segala dukungannya terhadap novel ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan readers.
Salam sayang dari
Author Ina AS
πππ
**********
Satu lagi novel baru untuk menjadi koleksi di rak buku kalian, cerita tentang si Adam yang nakal namun banyak akal.
__ADS_1