
"Ah Nadia, di otak dan hatiku sekarang yang ada hanya kamu. Tanpa aku perintahpun terus memikirkan kamu. Sekarang kamu yang menguasai pikiranku. Tidak ada ruang lagi yang tersisa untuk orang lain apalagi orang banyak."
"Kamu tahu bagaimana rasanya jatuh cinta pada istri orang? Kamu tahu bagaimana rasanya merindukan istri orang? Lebih parah daripada cacar air. Lebih menyiksa daripada cacar air. Jadi jangan bersedih Nadia. Karena yang aku alami lebih parah dan lebih menyiksa."
Membuat Nadia yang sementara menangis langsung tertawa. Serupa orang yang menderita Pseudobulbar affect, menangis sambil tertawa.
Tristan membuatnya menangis sementara Bimasena membuatnya tertawa. Kedua pria itu bisa membuat sistem sarafnya terganggu seketika. Kasarnya, gila.
"Kok tertawa, kamu ternyata senang ya melihat aku menderita?"
"Nadia kamu harus tanggung jawab. Sudah membuatku seperti ini. Atau kamu akan terus membuat aku menderita?"
"Nggak punya empati atau simpati sama sekali padaku?"
Nadia kembali terbahak-bahak sambil menyeka air matanya.
"Cukup Bim jangan gendeng kamu." Nadia memegang perutnya yang ikut sakit karena tertawa.
"Jadi kamu sudah tahu kalau aku gila?"
"Tapi apa kamu sadar kamu yang membuatku jadi tidak waras Nadia?"
"Kalau kamu nggak tanggung jawab Nadia sebentar lagi aku menderita brokenheart syndrome. Gejalanya mirip dengan serangan jantung, mengalami nyeri dada, sesak napas. Lama-lama bisa mati."
"Atau kamu ingin Aku mati sehingga tidak ada orang yang mengganggu kamu lagi?" Bimasena melirik dan tersenyum nakal kepadanya.
"Cukup Bim, perutku sakit nih ketawa melulu."
Bimasena memang membuatnya tertawa. Namun semua ucapan Bimasena tidak urung membuatnya grogi juga. Tidak jelas, serius atau hanya candaan.
"Gak masalah kalau aku mati. Paling juga arwahku nongkrong di kamarmu. Melihat semua aktivitasmu di kamar. Mulai dari mem ...."
"Biiiimmm ..." Belum selesai ucapan Bimasena, Ia sudah meneriakkan nama Bimasena. Karena khawatir Bimasena hendak berbicara vulgar.
Tanpa diperintah tangannya bergerak mencubit lengan Bimasena.
Namun pemilik lengan ternyata senang mendapat cubitan dari Nadia.
"Cubit lagi dong! Aku senang kamu mulai berani. Awalnya hanya mencubit. Nggak lama kemudian sudah berani menci ...."
"Bimaaaaaaa." Teriak Nadia segera memotong Bimasena. "Kalau kamu godain terus aku turun disini!" Nadia mulai mengancam dengan suara manja. Membuat Bimasena tertawa karena telah berhasil mengerjainya.
Tapi mengapa ia mulai bermanja pada Bimasena? Tidak percaya bisa begitu.
"Bim!" Nadia memanggil nama Bimasena saat tawa Bimasena sudah berhenti.
"Hmmm?" Bimasena melirik ke arahnya.
"Kamu jangan mati ya?" Entah mengapa ia mengucapkan kalimat itu. Ia mengucapkannya tanpa memandang Bimasena. Menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Haaah?" Bimasena malah tertawa senang mendengar ucapannya. Sangat senang. Seolah Bimasena habis menang lotre.
"Takut arwahku nongkrong di kamarmu atau ... takut kehilangan?"
"Dua-duanya." Kembali lagi Nadia tidak percaya apa yang baru Ia ucapkan. Sangat memalukan. Sehingga Ia tidak berani menatap ekspresi Bimasena.
Namun selanjutnya ucapan Bimasena nyaris membuat Nadia terkena serangan jantung.
"Tidak Nadia. Aku tidak akan mati."
"Tidak akan mati sebelum menikahi kamu."
"Tidak akan mati sebelum memiliki anak-anak dari kamu."
Diucapkan dengan sangat serius.
Sekarang ... malah Nadia yang akan mati.
Nadia ... apa pesan terakhirmu?
******
Jantungnya kembali melorot ke perut, sebab ketika turun dari mobil, Bimasena menggandeng tangannya berjalan masuk ke dalam klinik.
"Bim, nanti kamu tertular," Nadia panik. Berusaha menarik tangannya. Tidak jelas panik karena khawatir Bimasena tertular atau karena tangannya digandeng Bimasena
Namun pria itu tidak peduli, tidak melepaskan tangannya dari tangan Nadia.
Tentu saja, Nadia sangat takut bila ada orang yang mengenalinya. Bukan karena malu akibat cacar air yang dideritanya. Namun karena Ia bersama Bimasena. Terlebih lagi pria itu menggenggam tangannya.
Mengapa Bimasena tidak melepaskan genggamannya?
Jangan membunuhku Bim.
Mereka bahkan tidak sempat duduk antri menunggu, langsung masuk ke ruang dokter. Segalanya sudah diatur oleh wanita cantik tadi.
"Itu siapa Bim?" tanyanya penasaran pada Bimasena.
"Sekretarisku," jawab Bimasena singkat.
"Kirain hanya di film dan sinetron aja sekretaris itu cantik-cantik dan seksi. Ternyata di dunia nyata juga," desis Nadia skeptis.
Tetapi ternyata desisannya terdengar Bimasena sehingga pria itu menghentikan langkahnya. Lalu berbalik ke arahnya. Menautkan alisnya lantas tersenyum.
"Kamu cemburu?"
Nadia hanya ternganga dengan wajah merona atas pertanyaan Bimasena. Tidak tahu harus menjawab apa.
Apa memang Ia cemburu?
__ADS_1
Tidak, Nadia tidak cemburu kok. Ia hanya merasa terancam dan kurang senang saja, Bimasena memiliki sekretaris cantik dan seksi.
Itu cemburu Nadia bodoh.
Dokter melakukan pemeriksaan fisik, mengamati kondisi ruam dan bintil-bintil pada kulit Nadia.
"Ruamnya jangan digaruk ya agar tidak infeksi!"
"Oleskan salepnya untuk mengurangi gatal!"
"Kalian sudah punya anak belum?" tanya dokter wanita itu kepada Nadia. "Kalau sudah punya hindari dulu kontak dengan anak," lanjut dokter itu tanpa menunggu jawaban Nadia yang sudah gelagapan.
"Saya kasih obat pereda demam dan antivirus untuk menghambat aktivitas virus. Bila sudah tidak demam, obat pereda demamnya tidak perlu diminum lagi."
"Senang ya punya suami romantis? Meskipun sedang cacar air tangan tidak berhenti menggenggam? Padahal resiko penularannya semakin tinggi bila melakukan kontak kulit dengan penderita. Jangan dululah sentuh-sentuhan. Tunggu sampai cacarnya sembuh ya!" ujar dokter itu sambil tersenyum.
Wajah Nadia memanas seketika. Semua darahnya seolah berkumpul di muka lantas mendidih di sana. Ia sangat yakin, wajahnya sudah merah padam.
Ia tidak percaya begitu melirik Bimasena, pria itu hanya tertawa dengan santainya.
Apa Bimasena sudah tidak memiliki rasa malu?
Dan saat Ia dan Bimasena melangkah keluar, Nadia mendengar seseorang memanggil namanya.
Membuat Ia terkejut bukan main, seolah kehilangan semua fungsi panca inderanya begitu saja.
Dan saat ia menoleh ke sumber suara, rasanya ia ingin pingsan.
Reyna?
Sekarang Reyna berjalan ke arah mereka dengan tatapan curiga.
Ia segera melirik Bimasena di sampingnya, nampaknya pria itu adem-adem saja, tidak ada ketakutannya sama sekali kepergok berdua dengannya.
Tidak seperti dirinya yang sudah menggigil dengan kaki gemetaran.
Tadi Bimasena tidak ada malunya, sekarang tidak ada takutnya, terbuat dari apa pria di sampingnya?
"Kenapa kalian di sini?"
"Aku cacar air. Habis periksa dokter." Ia tidak boleh memberikan kesempatan kepada Bimasena berbicara. Jangan sampai Bimasena blunder.
"Trus kenapa kalian sama-sama?" Reyna melihatinya lalu melihat Bimasena dengan sorot menuduh.
"Kami kebetulan bertemu di sini. Oh ya aku pulang duluan ya, aku sudah pesan taxi online." Dengan langkah tergesa Nadia meninggalkan Bimasena dan Reyna keluar dari klinik. Dan dengan nafas memburu serta jantung yang menghentak kuat, Ia bersembunyi di balik kendaraan yang terparkir sembari mengatur nafasnya.
Tidak lama kemudian ponselnya bergetar. Bimasena pasti sedang mencarinya.
Begitu melihat Bimasena berada di samping mobilnya, Nadia secepat kilat melesat masuk ke dalam mobil Bimasena. Khawatir telihat oleh Reyna lagi.
__ADS_1
Ah, betapa sempitnya dunia.
"Nadia, bila menghadapi situasi yang genting seperti tadi, calm down baby (tetap tenang sayang). Kita harus bisa menguasai keadaan. Don't panic! " imbuh Bimasena saat kembali mengemudi kendaraannya.