
Pada hari kamis siang, Tristan sudah dikejutkan oleh sebuah informasi dari group aplikasi pesan kantornya. Membuatnya tidak bisa berkonsentrasi lagi menyelesaikan laporan hasil auditnya.
Malik:
Baru saja saya mendapat informasi bila rekan kita Hakimah kemarin mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke Semarang, di ruas jalan tol Batang-Semarang. Kita doakan semoga tidak terjadi apa-apa dengan Hakimah.
Berita itu bukan hanya mengejutkan baginya, namun membuatnya disergap rasa khawatir.
Apalagi kemarin sebelum Hakimah berangkat ke Semarang, ia sempat berbicara dengan wanita itu melalui sebuah aplikasi pesan. Hakimah mengabarkan padanya, bahwa akan berangkat ke Semarang, memohon restu orang tua untuk bercerai dengan Agustiawan.
Ia pun berusaha mencari informasi kesana kemari mengenai Hakimah.
Ternyata mobil elf yang ditumpangi Hakimah ditabrak oleh sebuah mobil tronton. Mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, empat orang luka berat dan dua orang luka ringan.
Hakimah sendiri termasuk dalam penumpang yangmengalami luka berat karena menderita patah kaki dan diskolasi bahu, yang kemungkinan membutuhkan perawatan rumah sakit lebih dari tiga puluh hari.
*******
"Terima kasih Ly," seru Nadia kepada Lily saat ia hendak turun dari mobil yang dikendarai Lily.
Ia tidak pernah lagi mengendari mobil sendiri karena perutnya yang semakin membesar. Sehingga selalu menumpang kendaraan pada Lily, baik saat berangkat ataupun pulang dari kantor.
Di garasi, ia mendapati mobil Tristan telah terparkir. Tidak biasanya Tristan pulang lebih awal dari kantor. Tidak seperti dirinya yang setiap pukul lima sore sudah berada di rumah.
Begitu ia membuka pintu, tampak Tristan baru keluar dari kamar membawa trolley bag. Tas yang biasa dibawa Tristan setiap bepergian keluar kota.
"Mau kemana?" tanyanya kepada suaminya sambil menghentikan langkah, berdiri menatap Tristan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
"Semarang," sahut Tristan singkat. Tristan juga menghentikan langkahnya di depan pintu kamar.
"Dinas?" Ia mengernyit, karena semalam Tristan tidak pernah menyampaikan kepadanya bila hendak dinas keluar kota. Sehingga ia tidak mempersiapkan pakaian dan perlengkapan suaminya.
"Nggak. Aku mau membesuk Hakimah. Dia kecelakaan."
Ia terkejut mendengar informasi dari Tristan bila Hakimah mengalami kecelakaan. Karena ia mengenal teman suaminya itu. Wanita pintar yang ramah.
"Kecelakaan apa?"
"Mobil. Di jalan tol saat pulang ke Semarang."
"Trus bagaimana keadaannya? Dia kecelakaan sendiri atau bareng suaminya?"
"Sendiri. Nggak mungkin bareng suaminya. Mereka sudah hendak bercerai kok."
Tetapi nampaknya Tristan menyesal setelah melontarkan ucapan itu setelah melihat reaksi dirinya.
"Haaa cerai?" Ungkapan Tristan membuatnya lebih terkejut lagi dibandingkan saat mengetahui Hakimah mengalami kecelakaan. "Mereka kan baru nikah? Kenapa mereka mau bercerai?"
Bukan hanya terkejut mendengar Hakimah yang baru saja menikah hendak bercerai. Namun perasaan was-was telah menghinggapi batinnya.
Bagaimanapun Hakimah adalah wanita yang pernah dikagumi oleh suaminya. Dan sebentar lagi wanita itu kembali berstatus single.
"Nggak usah menggunjing orang Nadia. Gak usah kepoin urusan orang." Tampaknya Tristan kurang senang bila ia mengorek keterangan mengenai Hakimah.
Sehingga ia pun berhenti bertanya lebih lanjut perihal Hakimah.
"Ke Semarang sama siapa?" Pertanyaan yang mengandung kecurigaan terlontar dari mulutnya. Matanya mengikuti Tristan yang duduk di sofa mengenakan sepatu.
"Sendiri," jawab Tristan tanpa menatap matanya.
"Kok nggak bareng teman kantor," cecarnya
"Mereka sibuk."
"Memang kamu nggak sibuk?"
"Jelaslah sibuk Nadia. Tapi Hakimah itu anggota timku, nggak enak kalau aku nggak membesuk," kilah Tristan. Tristan sepertinya mulai gerah dicecar berbagai pertanyaan olehnya.
"Aku berangkat ya?" pamit Tristan.
"Berapa lama?"
"Aku pulang secepatnya."
Jawaban Tristan terdengar ambigu baginya. Karena kata 'secepatnya' tidak jelas maksudnya, kapan pulangnya.
"Hati-hati," ucapnya dengan berat hati.
Jelaslah ia merasa berat hati. Bukan hanya karena suaminya mengunjungi Hakimah meskipun dengan dalih membesuk. Tetapi kondisinya saat ini yang sedang hamil tua, tinggal menunggu hari persalinannya tiba.
Ia masih mengantar Tristan ke teras rumah, sampai Tristan naik ke atas taxi online yang akan membawa Tristan ke bandara, meski dengan hati kecewa.
Meskipun perasaannya menjadi sedih dan pikirannya tidak menentu, ia berusaha menerima dengan hati yang lapang bila suaminya berangkat ke Semarang untuk membesuk wanita yang sering dibangga-banggakan dulu. Dan mungkin juga masih dipuja sampai sekarang.
Walau sudah berusaha menerima dengan hati yang lapang, berangkatnya Tristan ke Semarang untuk membesuk Hakimah ternyata terus mengganggu pikirannya. Sehingga hanya quntuk mengetik surat di kantor yang sudah dibuatkan konsepnya oleh seorang junior lawyer pun berkali-kali salah. Bukan hanya mengganggu pikirannya. Juga mengganggu pencernaannya karena berkali-kali perutnya mules memikirkan Tristan.
"Kamu kenapa?" tanya Lily kepadanya. Mungkin Lily memperhatikan dirinya yang gagal fokus sepanjang hari.
Ia pun berhenti mengetik, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Tristan ... ke Semarang untuk membesuk Hakimah yang kecelakaan," ungkapnya pada Lily.
Lily hanya tertawa kecil lalu berujar, "Kan Hakimah udah menikah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi kan?"
Ia bukan hanya pernah bercerita tentang Bimasena kepada Lily. Juga tentang Hakimah, wanita yang dikagumi suaminya pun pernah ia ceritakan kepada Lily.
__ADS_1
"Hakimah sebentar lagi akan bercerai dengan suaminya. Tapi aku nggak tahu apa masalahnya. Tristan menutupinya."
Ia melanjutkan lagi, "Ly, menurutmu bila Hakimah bercerai dengan suaminya, apa Tristan tidak akan mengejarnya ya?"
Lily malah menertawainya.
"Kamu jangan terlalu berprasangka buruk pada Tristan. Jangan sampai berpengaruh ke kandungan kamu."
"Sejak semalam memikirkan Tristan betangkat ke Semarang membuat perutku selalu mules Ly," keluhnya kepada Lily. "Aku ke toilet dulu."
Ia berdiri meninggalkan Lily di ruang arsip, berjalan dengan langkah tergesah menuju toilet.
*******
Bagaimanapun Lily merasa heran dengan Nadia yang berkali-kali menuju toilet. Sebenarnya ia menduga Nadia sudah mengalami kontraksi hendak melahirkan. Tetapi sebagai orang yang belum pernah punya pengalaman melahirkan, ia hanya memperhatikan tetangganya itu mondar-mandir ke toilet kantor.
"Nadia, jangan-jangan kamu mules karena hendak melahirkan?" Akhirnya ia mengemukakan dugaannya.
Ucapannya tidak urung membuat Nadia terperangah. "Memang seperti ini rasanya ya kalau hendak melahirkan?"
"Mana aku tahu Nadia." Ia mengangkat bahu, karena ia bukan orang yang tepat untuk menjawab pertanyaan Nadia. "Tunggu aku tanya wanita yang pernah melahirkan dulu."
Mungkin ia terlalu heboh bertanya, sehingga hampir semua karyawan yang berada di kantor masuk ke ruangannya untuk menengok Nadia, termasuk Ibu Titiana.
"Kamu kenapa Nadia?" tanya Ibu Titiana cemas.
"Dari tadi malam perutku mules Bu. Perut dan punggung bawahku kadang-kadang kram," keluh Nadia dengan rasa risih karena telah dikerumuni orang. Mata wanita itu melotot menyalahkannya.
"Itu tanda-tanda hendak melahirkan Nadia. Kamu harus segera ke rumah sakit bersalin," Ibu Helmi menyela. "Nggak ada cairan atau darah yang keluar?"
Nadia menggeleng dengan ekspresi menahan nyeri.
Baik Nadia, dirinya maupun Ibu Titiana belum pernah merasakan pengalaman melahirkan. Sehingga Ibu Helmi yang memegang peranan kali ini.
"Aku harus kembali ke rumah mengambil perlengkapan dulu Bu," sahut Nadia sambil meringis.
"Baiklah, kita ke rumahmu lalu ke rumah sakit," ucap Ibu Titiana begitu sigap.
"Aku hubungi Tristan dulu," ucapnya. Meskipun ia heran sendiri, mengapa harus dirinya yang menghubungi Tristan? Bukan Nadia saja?
Lily : Tristan, kamu di mana?
Tristan : Semarang, ada apa Lily?
Lily : Nadia, perutnya mules. Sepertinya sudah hendak melahirkan.
Tristan : Tolong antar Nadia ke rumah sakit Ly. Aku akan hubungi ibuku dan Mpok Nana. Aku pulang secepatnya.
********
Sekarang Tristan dilanda dilema setelah menerima telepon Lily. Di Jakarta Nadia hendak masuk rumah sakit untuk melahirkan. Sementara di sini, di Semarang, kondisi Hakimah belum stabil karena mengalami luka berat akibat kecelakaan. Hakimah masih menjalani perawatan non bedah.
Ia sudah terlanjur berkata kepada orang tua Hakimah, akan menemani Hakimah yang akan dirujuk ke Jakarta besok, ke rumah sakit dengan dokter terbaik untuk melakukan bedah ortopedi.
Sekarang ia menjadi bingung. Harus kembali ke Jakarta mendampingi Nadia melahirkan, yang berarti mengingkari janjinya pada orang tua Hakimah untuk menemani Hakimah yang akan dirujuk ke Jakarta besok, atau tetap tinggal di Semarang dan mempercayakan Nadia pada Mpok Nana serta orang tuanya?
Ia pun menghubungi Mpok Nana serta ayah ibunya sendiri. Meminta mereka mendampingi Nadia di rumah sakit sebelum ia kembali ke Jakarta.
*********
Jumat sore begitu menerima telepon dari Tristan, Nana dan suaminya Herial bergegas menuju rumah sakit bersalin. Sesampainya di rumah sakit, terdapat beberapa orang yang menemani Nadia. Mungkin teman-teman dari kantornya. Lily tetangganya juga ada di rumah sakit itu.
Nadia masih berada di ruang pemeriksaan. Bidan sedang memeriksa tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, suhu tubuh, dan detak jantung janin untuk memantau kondisi Nadia dan janin.
Setelah itu dokter obgyn melakukan pemeriksaan dalam. Dengan memasukkan jari ke dalam va**na Nadia untuk menilai pembukaan rahim.
"Bunda masih dalam tahap pembukaan kedua," terang dokter obgyn kepada Nadia. Hasil pemeriksaan Nadia kemudian dicatat oleh bidan dalam rekam medis.
Nadia masih mengalami kontraksi yang hilang-timbul. Bila kontraksi datang, Nadia tampak meringis.
"Mpok sakit Mpok," rintih Nadia kepadanya.
"Iya memang seperti itu sakitnya Dik bila hendak melahirkan," ujarnya. Tangannya memegangi tangan Nadia yang bergerak mencari pegangan.
"Sebaiknya Bunda banyak berjalan dulu untuk membantu membuka jalan lahir. Agar proses pembukaan bisa lebih cepat," imbuh Dokter Obgyn kepada Nadia.
Ia pun menuntun Nadia berjalan kaki di sepanjang lorong rumah sakit. Beberapa kali bila kontraksi datang, Nadia berhenti berjalan. Menggigit bibir dan mengepalkan tangan menahan sakit.
"Mpok, wanita lain yang hendak melahirkan, ditemani suaminya berjalan. Hanya aku yang ditemani saudara," ringis Nadia menahan sakit yang timbul. Berhenti sejenak berpegangan pada dinding. Air mata adik iparnya mulai menetes.
"Sabar Dik, Tristan kan sedang dinas. Sebentar lagi pulang." Ia mencoba menguatkan Nadia agar bisa melewati rasa sakitnya hendak melahirkan meski Tristan belum datang.
"Kenapa Tristan belum pulang Mpok?" berkali-kali Nadia menanyakan suaminya sambil menahan sakit.
Ia juga heran, karena sampai tengah malam, Tristan belum muncul juga. Yang datang hanya kedua orang tua Tristan.
Ia mencoba menghubungi Tristan, namun handphone suami adik iparnya itu sedang tidak aktif.
Mungkin Tristan sudah di pesawat.
Ia mengira Nadia akan melahirkan pada malam hari. Namun sampai pagi tiba Nadia masih berkutat menahan sakit. Kekuatan kontraksi yang dialami adik iparnya semakin meningkat.
Tetapi baginya, Nadia tergolong wanita yang tabah menahan sakit. Adik iparnya hanya merintih dan meringis dengan suara yang pelan. Hanya air mata yang deras keluar menandakan bahwa adik iparnya menahan sakit yang hebat.
Berbeda dengan dirinya yang penuh jeritan setiap kali melahirkan.
__ADS_1
Ia jadi iba melihat adik iparnya yang berjuang sendiri tanpa didampingi suami.
"Tidak usah menghubungi Tristan lagi, ia tidak akan datang Mpok," lirih Nadia.
Ia melap keringat adik iparnya dengan kertas tissue.
"Berdoa ya Nak," ujar Ibu Tristan kepada Nadia.
"Kemana sih Tristan sampai sekarang belum muncul," dengus Ibu Tristan, terlihat mulai sebal karena hampir dua puluh jam Nadia menahan sakit di rumah sakit, putranya itu belum juga muncul. Tidak bisa dihubungi pula.
Namun Nadia tidak pernah menyebut nama Tristan lagi. Nadia tidak pernah menanyakan suaminya lagi. Mungkin adik iparnya sudah kecewa dengan Tristan.
Ia bisa memahami bagaimana perasaan saudara iparnya. Wanita yang hendak melahirkan butuh dukungan suami di sisinya. Ingin didampingi suami saat melahirkan. Tetapi Nadia tidak bisa merasakan itu.
Sekarang ia bertanya-tanya dalam hati, apa ada masalah antara Nadia dan Tristan? Karena penerbangan dari Semarang ke Jakarta hanya butuh waktu sejam. Sementara saat ini sudah lebih dua puluh jam berlalu, Tristan belum juga muncul.
Ia sudah merasa lelah karena sejak kemarin mendampingi Nadia. Ia bersama Lily juga ibu mertua Nadia tidak pernah meninggalkan Nadia. Terus menemani Nadia di rumah sakit.
Setelah pukul setengah dua belas siang, kontraksi yang dialami Nadia semakin sering. Sehingga bidan memindahkan Nadia ke kamar bersalin untuk persiapan melahirkan.
"Mpok, sakit, aku nggak kuat lagi," rintih Nadia yang disertai isak tangis karena menahan nyeri yang hebat. Tangis saudara iparnya mulai terdengar.
"Kamu harus kuat Dik, sebentar lagi bayimu lahir," tangkasnya memberi semangat kepada Nadia.
Ia, Lily dan Ibu Mertua Nadia turut serta masuk ke dalam ruang bersalin untuk menemani Nadia menjalani persalinan
Dokter melarang Nadia yang berkali-kali mengejan setiap kontraksi datang.
"Belum waktunya mengejan Bunda, karena pembukaan belum sempurna," cegah Dokter Obgyn itu.
Namun ia tiba-tiba terperanjat mendengar rintihan yang berbeda dari sebelumnya keluar dari mulut Nadia.
"Biiiiiim, sakit Biiiiiim. Tolong aku Biiiiiim," rintih Nadia sambil mengejan menahan sakit.
Ia pun segera menutup mulut Nadia dengan tangannya, agar saudara iparnya tidak mengulangi menyebut nama pria itu lagi.
Lalu ia berbisik ke telinga saudara iparnya itu, "Nadia, jangan sebut nama pria itu, ada Ibu Mertuamu di sini!"
Ia harus menahan rasa tidak enak pada Ibu Mertua Nadia. Karena ia yakin, Ibu Tristan itu mendengar Nadia menyebut nama pria tersebut.
Tetapi Nadia sepertinya tidak peduli lagi karena deraan rasa sakit yang hebat. Beberapa kali Nadia menyebut nama pria itu disela-sela rintihannya, meskipun sangat lirih.
"Biiiiim, pegang tanganku."
"Biiiiim."
Ia hanya bisa berpandangan dengan Lily, tidak mampu lagi mencegah Nadia agar berhenti mengucapkan nama itu.
******
Biiiiiim ... Biiiiiiim ...
Tiba-tiba saja Bimasena tersentak, terjaga dari tidurnya. Dengan kening dan leher yang bermandi peluh. Terengah-engah seperti habis berlari cepat. Padahal udara di dalam kamarnya sangat dingin oleh pendingin udara. Begitupun di luar, udara Caracas sangat dingin
Apa ia tidak salah dengar? Atau ia sedang bermimpi? Antara sadar dan tidak, saat tidur ia mendengar namanya dipanggil-panggil oleh seorang wanita.
Ia sangat kenal suara itu.
Suara Nadia.
Kecemasan serta merta memenuhi rongga kalbunya.
Ia menoleh ke arah jam dinding. Pukul satu malam. Berarti di Indonesia yang sebelas jam lebih cepat dari Caracas sedang pukul 12 siang.
Apa yang terjadi pada Nadia?
Ia segera meraih handphone-nya dari atas nakas. Mencoba menghubungi seseorang.
Bimasena : Bagaimana kabar Nadia?
-------------- : Dari kemarin Nadia masuk rumah sakit bersalin Pak, karena sudah mengalami kontraksi. Sekarang sudah berada di ruang bersalin, persiapan melahirkan karena pembukaan hampir lengkap.
Bimasena : Bagaimana keadaannya?
-------------- : Nadia terus menangis menahan sakit. Oh ya, berkali-kali dia menyebut nama Bim bila kontraksi dan sakitnya datang.
Ia terperangah mendengar informasi yang didengarnya. Jadi tadi saat ia mendengar Nadia memanggil namanya, bukan imajinasi atau mimpinya saja?
Bimasena : Siapa yang menemani Nadia di ruang bersalin?
-------------- : Mpok Nana dan ibu mertuanya.
Bimasena : Tristan kemana?
-------------- : Tristan belum pulang dari Semarang Pak.
Ia hanya bisa mendesah mendengar informasi terakhir.
Bimasena : Mendekatlah ke Nadia. Aku ingin mendengar suaranya.
Namun begitu mendengar rintihan dan tangis Nadia menahan rasa sakit, tiba-tiba saja ia merasakan sensasi rasa sakit. Seolah ia bisa merasakan sakit yang dirasakan Nadia. Bukan hanya itu, nyeri hati menderanya, karena tidak bisa menemani Nadia disaat seperti ini.
Bimasena : Cukup!
Sepertinya ia kehilangan jiwa laki-laki sejati. Karena ia tidak mampu lagi mendengar rintihan Nadia. Sebab ia hanya bisa mendengar suara Nadia secara sembunyi-sembunyi, tanpa bisa berbicara untuk menguatkan wanita itu menjalani proses persalinan.
__ADS_1
Bimasena : Tolong jaga dia! Jangan pernah tinggalkan dia!
Ia tidak bisa lagi melanjutkan tidurnya. Hanya bisa berjalan mondar-mandir dengan jiwa gelisah, menunggu kabar baik dari Jakarta.