REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
124. Cuffing Season


__ADS_3

Dari dalam rumah, Nadia tersenyum bahagia, melihat keluar melalui jendela kaca. Dimana suaminya Bimasena dan puteranya, Glor, sedang asyik bermain salju.


Ingin rasanya bergabung bersenda gurau bersama mereka. Tetapi tubuhnya tidak dapat beradaptasi dengan iklim yang sangat dingin. Ia terlanjur terbiasa hidup di negara yang beriklim tropis, Indonesia. Negara yang hanya mengenal dua musim, musim hujan dan musim kemarau.


Kanada.


Ya, sekarang ia berada di Kanada. Mengikuti suaminya yang ditugaskan di negara tersebut. Menjadi Direktur Utama FreddCo Energy Kanada.


Salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia yang terkenal dengan iklimnya yang sangat dingin karena dekat dengan kutub utara.


Musim dingin di Kanada, suhu bisa mencapai minus 50°. Badai salju dan badai es sering terjadi di Kanada sehingga negara tersebut dijuluki pecahan es.


Ternyata ia memiliki alergi terhadap suhu dingin. Beberapa saat saja berada di luar ruangan saat musim dingin, pada kulitnya akan timbul ruam, berwarna kemerahan serta rasa gatal.


Sehingga ia lebih banyak tinggal di dalam ruangan dengan penghangat ruangan.


Rupanya Glor lebih bisa beradaptasi daripada dirinya. Puteranya sedang asyik membuat boneka salju bersama Sang Daddy di halaman rumah.


Tetapi sesaat kemudian ia memekik sendiri di dalam rumah.


Bagaimana tidak, suaminya melempar Glor ke dalam tumpukan salju yang sengaja diturunkan dari atap rumah, untuk mengurangi beban atap. Sehingga hampir semua tubuh puteranya terbenam di dalam salju.


Semakin kesal karena suaminya tidak menolong Glor. Membiarkan Glor merangkak sendiri, berusaha keluar dari tumpukan salju.


Ia baru bernafas lega melihat Glor berhasil keluar dari tumpukan salju dan melihat puteranya tertawa terbahak-bahak. Rupanya Glor justru senang dicebur di dalam tumpukan salju.


"Dad, kenapa Daddy melempar Glor ke tumpukan salju," omelnya pada Bimasena, saat ayah dan anak selesai bermain dan masuk kembali ke dalam rumah.


Bagaimana ia tidak dongkol melihat anaknya dilempar ke dalam salju. Suaminya tidak tahu bagaimana susah payahnya ia mengandung Glor, bagaimana sakitnya saat ia melahirkan Glor. Bagaimana perjuangannya membesarkan Glor. Bagaimana repotnya merawat Glor bila sedang sakit.


"Biar Glor bisa tahan banting seperti Daddy -nya," sahut Bimasena tanpa merasa berdosa. Malah melempar Glor ke atas lalu menangkap tubuh puteranya.


Glor memberikan reaksi dengan tertawa tepingkal-pingkal. Berbeda dengan dirinya yang semakin mendongkol melihat puteranya diperlakukan demikian.


"Anak itu harus memiliki karakter tahan banting, Mi. Anak harus diajar secara rutin bangkit dari kesulitan, frustrasi, dan masalah yang mereka hadapi," papar suaminya.


"Tahan banting bukan berarti dibanting, Dad. Bagaimana bila Glor cedera. Daddy pasti nyesel. Daddy nggak tahu sih rasanya mengandung, melahirkan dan merawat anak," desisnya. Sakit hati melihat cara Bimasena bermain dengan anaknya.


"Loh-loh kenapa jadi sensi gitu, Mi?" Bimasena tertawa padanya, lalu meletakkan Glor di atas karpet tebal, kemudian menghampirinya. Memeluknya dari belakang lalu mengelus perutnya.


"De', tahu kenapa Mommy sering ngomel ya? Sabar ya, jangan sakit hati kalau Mommy ngomel dan cemberut melulu," kata Bimasena, seolah berbicara pada bayi yang tengah ia kandung, padahal membisiki telinganya.


Sehingga ia cepat-cepat mengevaluasi diri. Apa benar ia sering mengomel dan memasang wajah cemberut?


Rasa marah merupakan hal yang normal dialami seseorang, termasuk seorang istri. Rasa marah pun bisa dipicu oleh hal-hal yang kecil seperti yang baru saja terjadi.


Tetapi terlalu sering marah bisa membawa ketidakpuasan dalam pernikahan. Apalagi suami merupakan sosok pemimpin keluarga yang harus dihormati dan ditaati oleh istri.


Ia pun berusaha menahan rasa kesal dan memendam kedongkolannya. Memaksa mulutnya berhenti mengomel. Karena omelannya tidak membawa faedah.


"Abis Daddy melempar anakku ke salju." Protesnya, ia ubah suaranya dengan intonasi manja.


"Itu cara Daddy mendidik, Mi. Glor juga anakku kan?" kekeh suaminya. "Cara mendidik seorang pria berbeda dengan wanita," lanjut Bimasena.


Saat bersama Tristan ia lebih banyak diam hanya berderai air mata bila Tristan mengomel padanya.


Loh mengapa justru ia sering mengomel karena hal yang sepele pada seorang pria yang memperlakukannya laksana seorang dewi?


Mengapa ia tidak tahu diri? Memang dirinya siapa? Bimasena siapa?


Bila saja tiba-tiba Bimasena marah padanya, tentu ia akan menangis darah.


"Dad, maafin Mommy ya," pintanya, membalikkan badan menghadap suaminya. Tapi saat ini mereka kesulitan untuk merapatkan tubuh karena perutnya yang sudah membuncit.


Bimasena mengernyit, karena apa yang diucapkannya tidak nyambung dengan topik yang mereka perdebatkan tadi.


"Karena Mommy sering marah dan mengomel," terangnya, sebelum suaminya bertanya.


Ucapannya malah membuat suaminya terkekeh dan menarik hidungnya dengan gemas.


"Mi, Mommy tuh kalau marah malah semakin cantik," goda Bimasena. Membuat kesombongannya membesar. "Makanya Daddy senang membuat Mommy kesel," lanjut Bimasena.

__ADS_1


Kesombongannya yang tadinya membesar, kembali ke ukuran normal.


Satu lagi pengakuan suaminya yang membuat ia nyaris menarik permintaan maafnya.


"Satu lagi yang Daddy suka adalah, bila Daddy meminta lalu Mommy menolak. Lalu Daddy memaksa," ungkap suaminya menatap jahil padanya.


"Dalam keadaan terpaksa, Mommy sangat menggemaskan," sambung Bimasena tersenyum culas.


Ternyata seorang pria itu memiliki cara masing-masing untuk mengesalkan seorang istri.


Tristan dengan caranya, Bimasena dengan caranya sendiri pula.


"Mi, tadi Daddy udah mendidik Glor agar tahan bantin. Sekarang giliran mendidik si dede'," ujar Bimasena menempelkan telapak tangan pada perutnya.


Ya ia tahu apa maksud suaminya.


Cuaca dingin Kanada membuat intensitas berhubungan mereka semakin tinggi. Disebabkan oleh dorongan untuk mendapatkan kehangatan dan keintiman. Memicu naiknya gairah sek sual.


Fenomena cuffing season, yaitu hasrat untuk menjalin hubungan di musim dingin juga berdampak terhadap mereka.


Tetapi ia masih malu-malu mengakui dan jarang meminta lebih dahulu.


Secara fisik suhu tubuhnya saat ini lebih dingin dan ia membutukan aktivitas untuk meningkatkan suhu tubuh. Namun ia tetaplah Nadia yang selalu berjual mahal meskipun sedang ingin.


"Dad, ini masih siang. Nanti malam aja kalau Glor udah tidur. Biar lebih bebas," dalihnya.


Tapi seperti biasa, ia tidak pernah menang menghadapi Bimasena.


"Kalau tunggu malam saat Glor udah tidur, dede'nya juga udah tidur, Mi. Bagaimana cara Daddy bisa mendidik anak yang sedang tidur?"


Dasar licik!


"Lagian kita jarang bertemu siang hari kan?" sambung suaminya.


Memang benar kata suaminya. Siang hari suaminya milik FreddCo Energy. Mereka baru bertemu pada malam hari kecuali akhir pekan seperti ini.


Bimasena memanggil suster untuk menjaga Glor, lalu merangkulnya masuk ke dalam kamar.


Apa saat ini ia terpaksa?


Jawabnya tidak.


Ia hanya pura-pura terpaksa. Karena cuaca dingin membuat hasrat ingin dikelonin meningkat. Ia selalu ingin dipeluk, dicium dan dibelai oleh suaminya. Ataupun dipeluk dari belakang.


"Anggap bercinta sebagai olahraga, melepaskan endorfin. Bukankah Mommy merasa bahagia usai bercinta? Orgasme memberikan pertahanan tubuh yang baik. Biar nggak gampang sakit," terang suaminya, merayunya.


"Ih Daddy ahli pertambangan atau ahli s e x sih? Sok tahu," selanya.


"Dua-duanya," sahut suaminya tergelak.


Memang benar, Bimasena begitu ahli dalam bercinta. Membawanya terombang-ambing antara sadar atau tidak. Menjadikan embun yang beku dari awal musim ikut meleleh. Sampai pohon pinus yang berkulit salju di luar rumah pun terbakar oleh gairah yang berkobar di dalam kamar.


Bimasena membawanya menari dan bernyanyi bersama dengan peri salju yang jatuh dari langit. Sampai ia beristirahat dalam dekapan.


Mommy dan Daddy Glor, saat musim dingin di negara pecahan es.


*********


Saat ia terbangun, ia mendapati kepalanya berbantal lengan, serta tangan dan kaki yang melingkari tubuhnya, memeluknya dari belakang.


Rasanya ingin kembali tidur karena dilelapkan oleh nyamannya pelukan sang suami. Tapi tangan suaminya yang sedang bermain handphone, tepat di depan matanya, membawa rasa penasaran padanya.


Suaminya sedang terlibat pada sebuah obrolan dalam group chat alumni. Ia sempat membaca beberapa pesan sebelum suaminya menjauhkan handphone darinya.


Alfredo:


Orang Kanada kapan ke Indonesia?


Bimasena:


Nanti setelah Nadia melahirkan. Nadia nggak boleh naik pesawat lagi sekarang karena usia kandungannya sudah 8 bulan lebih.

__ADS_1


Janah:


Hasil USG, adik Glor cowok apa cewek?


Bimasena:


Cowok.


Glen:


Pengen punya anak cewek? Mau tahu caranya?


Bimasena:


Oh ya, bagaimana caranya?


Ah ternyata suaminya bukan ahli dalam urusan se ks.


"Katanya ahli, mau anak cewek jadinya cowok," cicitnya.


"Udah bangun ya Mi?" Bimasena meletakkan handphone di atas nakas.


"Memang sengaja program anak kedua cowok. Biar selalu ada alasan untuk membuat Mami hamil, untuk mencari anak cewek," kilah Bimasena tidak mau kalah.


Namun melihat suaminya berkomunikasi dengan orang Indonesia, kerinduan terhadap tanah airnya menyeruak di dadanya.


"Dad, kangen Indonesia," ucap dengan suara manja, berbalik menghadap suaminya.


"Kangen sama siapa di Indonesia? Kangen sama mantan?" gurau Bimasena tersenyum. Sehingga tangannya menjepit kulit perut suaminya lalu memutarnya keras-keras, sampai suaminya meringis.


"Nggak lucu," sungutnya. Lalu membenamkan wajah pada dada suaminya.


Namun luka hati di masa lalu kembali mengusik dan menari di sudut jiwanya. Ternyata dengan bergantinya hari, trauma itu tak kunjung pergi. Dan ia takut akan terulang kembali pada orang yang berbeda.


"Dad, aku ingin kuliah. Boleh?" tanyanya dengan wajah yang tetap melekat pada wajah suaminya.


Bimasena sepertinya terhenyak mendengar keinginannya. lalu pria itu nembuka jarak agar bisa melihat wajahnya.


"Kok tiba-tiba ingin kuliah? Padahal sebelumnya ingin bekerja karena ingin menjadi wanita yang mandiri." Kening Bimasena mengerut.


Di Indonesia ia bisa bekerja menjadi independent marketing. Tetapi di Kanada ia bisa kerja apa? Toh bahasa Inggrisnya, bahasa yang digunakan di negara itu juga belum lancar. Terlebih bahasa Perancis. Kanada mengakui dua bahasa sebagai bahasa resmi, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Perancis.


"Aku takut, seiring berjalannya waktu, Daddy akan bosan karena aku bukan wanita yang cerdas. Aku bodoh," lirihnya. "Aku bukan teman diskusi yang baik dan tidak bisa diajak sharing."


Suaminya menghembuskan nafas dengan berat, lalu memegang dagunya.


"Mi, Bimasena bukan pria bodoh yang ingin menikahi wanita bodoh. Lupakan ucapan yang pernah Mommy dengar dari orang sebelum Daddy. Bukankah berkali-kali Daddy katakan berhenti mengecilkan hati dengan menganggap diri sendiri sebagai orang bodoh?"


"Kita nggak perlu diskusi soal harga minyak dunia. Kita nggak perlu diskusi soal konstelasi politik. Diskusi yang penting bagi kita adalah soal rumah dan keluarga kita. Itu saja cukup," ujar Bimasena berapi-api.


"Tapi kalau Mommy ingin kuliah, Daddy dukung. Mommy ingin kuliah jurusan apa?" lanjut suaminya, melembutkan suara.


Nah ini. Bahkan ia tidak tahu jurusan apa yang harus ia pilih.


"Baiknya jurusan apa?" tanyanya polos.


Bimasena tersenyum sebelum berujar. "Tergantung passion Mommy dimana. Tapi kalau Daddy lihat passion Mommy itu di bidang fashion dan kecantikan."


"Kalau passion Mommy di bidang fashion, bisa kuliah fashion business atau fashion design."


"Kalau passion di bidang kecantikan, mungkin di sini ada jurusan tata kecantikan."


"Mommy tentukan saja dulu pengen studi apa. Nanti Daddy yang urus sekolahnya. Mommy tinggal kuliah aja," pungkas suaminya.


Mungkin seperti inilah namanya teman diskusi yang baik. Memberikan saran, pertimbangan dan dukungan untuk pengembangan diri.


Sungguh sangat menentramkan.


Kadang ia masih belum percaya, bagaimana di alam semesta ini seorang Bimasena bisa kesasar padanya?


"

__ADS_1


__ADS_2