REUNI INDAHNYA MENDUA

REUNI INDAHNYA MENDUA
50. Kaliurang Reunion (5)


__ADS_3

Wanita hamil itu ngidamnya apa?


Kalau Nadia bawaannya ingin berada dalam pelukan Bimasena dan mencium wangi tubuh pria itu.


Apakah itu masuk kategori ngidam?


Entahlah.


Ia tidak ingin makanan tertentu. Hanya ingin berada di dekat pria itu saja. Sehingga ia tidak sabar agar Tristan segera bergabung dengan peserta yang akan mengikuti Lava Tour Merapi.


"Yakin nggak pengen ikut?" tanya Tristan dengan wajah heran. Jelaslah Tristan heran. Ia tidak pernah ingin ketinggalan hal-hal seperti itu.


"Nggak. Lagi nggak enak badan. Mungkin masuk angin. Semalam angin di rooftop kencang banget. Aku istirahat aja di kamar."


"Ya udah." Tristan memakai topinya, lalu keluar dari kamar. Membuatnya tersenyum senang. Sebentar lagi ia bisa beranjak ke kamar sang pujaan hati.


*******


Delapan mobil jeep telah terparkir di pelataran hotel pagi itu. Sebagian besar teman-temannya sudah berkumpul di depan hotel untuk mengikuti lava tour.


"Betulan kamu nggak ikut Bim?" tanya Arfandi padanya.


"Maaf Bro, sebentar lagi ada virtual meeting yang harus aku ikuti. Aku tunggu kalian di hotel saja."


Hanya dengan menggunakan short jeans dan kaos surf berwarna putih, berkaca mata hitam wayfarer, ia menyapa teman-temannya yang berada di pelataran hotel. Menunggu peserta lengkap barulah mereka berangkat.


"Kamu nggak ikut? Trus Nadia juga gak ikut? Dari semalam kok selalu kompakan gitu?" tanya Mithalia dengan wajah yang kurang bersahabat padanya.


Sejak semalam, sikap wanita itu sudah berubah. Tidak lagi manja dan agresif kepadanya. Ia yakin, Mithalia sudah mengetahui hubungannya dengan Nadia. Pada akhirnya, semua orang akan mengetahuinya. Cepat atau lambat, hanya masalah waktu saja.


"Aku harus mengikuti virtual meeting Mit. Nadia mungkin kurang enak badan." Ia tetap menanggapi Mithalia dengan baik. Lalu segera berlalu meninggalkan Mithalia.


********


Reyna menyadari kekeliruannya menyampaikan kepada Mithalia perihal hubungan Nadia dan Bimasena. Dalam semalam, Bimasena, Nadia dan Tristan menjadi bahan bisik-bisikan teman-teman alumninya, karena Mithalia telah menggunjingnya kesana kemari.


Semalaman di atas rooftop, yang menjadi pusat perhatian teman-teman adalah Bimasena dan Nadia, tanpa mereka sadari. Memperhatikan bahasa tubuh mereka berdua. Komunikasi non verbal yang mereka lakukan, teramat jelas bahwa mereka adalah dua lawan jenis yang saling jatuh cinta.


Tidak luput dari pengamatan, Bimasena beberapa kali menghampiri Nadia, dan Nadia yang jadi salah tingkah bila Bimasena mendekat. Sebentar-bentar Bimasena melempar senyum kepada Nadia, yang dibalas senyum malu-malu oleh Nadia. Mereka tidak berhenti curi-curi pandang satu sama lain. Semua itu membuktikan bahwa mereka memiliki hubungan khusus.


Terlebih lagi pagi ini, Bimasena dan Nadia, dengan alasannya masing-masing berhalangan untuk mengikuti Lava Tour Merapi. Semakin menguatkan dugaan bila dua makhluk itu memang berselingkuh, dan akan memanfaatkan momen saat mereka hanya tinggal berdua di hotel.


Ia hanya berharap tidak ada sesuatu yang menakutkan terjadi. Yang disebabkan oleh skandal antara Bimasena dan Nadia. Karena apa yang mereka lakukan betul-betul keterlaluan.


Bimasena yang ia kagumi, menjadi musuh di dalam selimut bagi Tristan, sahabatnya sendiri.


********


Tidak ada hal yang lebih baik dari apa yang Nadia rasakan sekarang. Duduk di atas pangkuan Bimasena, di atas tempat tidur. Lalu menutupi tubuh dengan selimut, untuk bersembunyi dari dinginnya udara Kaliurang.


Biarlah ia beristirahat sejenak. Mengistirahatkan kepak sayap yang telah lelah terbang menjalani hidup.


Beri waktu sejenak padanya untuk merasakan. Berada dalam hangat peluk dan puja. Menikmati kilau mentari dari sliding door yang terbuka. Serta eloknya warna langit Kaliurang pagi itu.


Matahari bersinar cerah. Secerah hatinya berada dalam dekapan Bimasena.


Bimasena memperlihatkan foto keluarganya di Amerika kepadanya.


"Ini foto Ayah tiriku dan Ibuku. Calon mertuamu. Namanya Albert Johannes dan Imelda."


Calon mertua? Betapa tersanjungnya ia dengan sebutan calon mertua kepada Ayah dan Ibu Bimasena. Sehingga ia tidak bisa untuk tidak tersenyum.


"Ini adik iparmu, Karenina. Anaknya sangat manja."


Ia memandangi wajah Karenina di dalam layar ponsel. Karenina memiliki struktur wajah yang serupa dengan Tante Imelda ibunya.


"Trus ayah kandung kamu dimana Bim?"

__ADS_1


Ia menyesal telah melontarkan pertanyaan di atas rasa penasarannya itu, karena mendengar pria di belakangnya mendesah.


"Maaf," Nadia berbalik untuk melihat bagaimana ekspresi wajah Bimasena.


"Nggak apa-apa. Sejak pindah ke Amerika aku nggak pernah bertemu ayah kandungku lagi."


"Kamu nggak mencarinya Bim?"


"Belum pernah Nadia. Rasa marah itu belum hilang bila mengingat bagaimana dia memperlakukan ibu dulu. Dia bukan hanya mengkhianati dan bersikap kasar kepada Ibu. Tetapi juga menelantarkan kami." Air muka Bimasena yang awalnya ceria berubah keruh. Ternyata pria itu masih memendam amarah pada Ayahnya.


"Bim, bukankah itu sudah lama berlalu. Kamu sudah mendapat hikmah dari kejadian itu. Jangan terlalu angkuh pada ayahmu." Nadia menjeda sejenak, agar tidak terkesan menggurui.


"Seburuk bagaimanapun dirinya, dia tetap Ayah kamu. Jangan hanya mengingat semua kesalahannya. Aku yakin kamu pernah melalui masa indah bersamanya. Saat kecil mungkin."


"Maafkan Ayahmu. Carilah di mana dia berada. Selagi dia masih hidup. Jangan sampai kelak bila dia mendahului, kamu menyesal."


"Carilah Ayahmu, selagi kamu masih bisa menemukannya. Jangan menunggu seperti diriku. Kemanapun aku mencari Ayahku di muka bumi ini, tidak akan kutemukan lagi. Karena Ayah sudah berada di bawah tanah."


Mungkin ia sudah merusak suasana yang indah. Karena tidak mampu menahan air matanya mengingat Ayahnya. Mungkin bila Ayahnya masih hidup, ia tidak akan memikul beban berat seperti ini.


"Hey, hey, kenapa kamu menangis?" Bimasena mendekapnya lebih erat. "Iya nanti aku akan mencari Ayahku. Kita sama-sama mencarinya. Sudah jangan nangis sayang."


"Aku rindu Ayah dan Ibu." Suaranya jadi parau. Ia menyeka air mata menggunakan punggung jari telunjuknya.


"Tiba di Jakarta kita ziarah ke makamnya."


"Kita? Ziarah ke makam berdua? Maka ayah dan ibu akan bangun dan memukulku dengan sapu lidi."


Tentu saja Ayah dan Ibunya akan marah bila mengetahui puterinya melakukan hal yang di luar kelaziman atau berselingkuh.


Bimasena hanya tertawa menanggapinya.


Tetapi pria itu tidak ingin ia lama-lama bersedih, dengan segera mengganti topik pembicaraan yang membuatnya terhibur.


"Kamu mau jadi model atau ikut fashion show lagi?"


"Mana ada agency yang mau menerima model usia 30 tahun sepertiku. Sementara yang usia belasan tahun melimpah."


Kalimat penuh rasa optimis yang diucapkan pria itu membuatnya berbinar. Tetapi hanya selang beberapa detik, pria itu melontarkan kalimat kontradiksi.


"Tetapi aku yang tidak mau. Tidak mau kamu menjadi model. Tidak mau kamu menjadi tontonan gratis banyak mata pria."


"Iiiiiiih, lalu ngapain kita membahas model?" protesnya. Yang hanya dijawab gelak tawa oleh Bimasena.


"Kamu begitu istimewa bagiku Nadia."


Kalimat sederhana, tetapi mampu meluluh lantakkannya. Pria itu memiliki banyak amunisi. Yang membuatnya mengibarkan bendera putih dan menyerah tanpa syarat.


Sekarang hatinya telah menjadi tawanan Bimasena.


Kadang Nadia masih merasa tidak percaya. Dipertemukan dengan sosok seperti Bimasena.


Pria itu datang untuk menghiburnya. Mampu memberikan sesuatu yang istimewa bagi dirinya.


Akankah selamanya?


Atau hanya sesaat saja, lalu pergi meninggalkan luka dan air mata? Lalu berakhir sebagai segelintir kisah dalam buku kehidupannya.


Tidak bisakah ia menutup buku kehidupan, dengan kisahnya bersama Bimasena, yang tercatat pada halaman akhir?


Entahlah.


********


Sudah terlalu lama dirinya dibodohi.


Bukannya Tristan tidak curiga terhadap Bimasena dan Nadia, istrinya. Tapi sungguh di luar nalarnya bila Bimasena akan tertarik pada Nadia.

__ADS_1


Tidak ada yang istimewa pada Nadia.


Cantik?


Bukankah orang seperti Bimasena dikelilingi wanita cantik?


Ia sudah menaruh curiga, pada Bimasena yang dikenal paling sibuk. Tetapi bisa beberapa kali berkunjung ke rumahnya, baik dengan alasan untuk bermain catur ataupun sekedar mampir. Padahal Bimasena jarang melakukan hal itu pada teman-temannya yang lain.


Saat berada di rumahnya, Bimasena nampak santai-santai saja. Jauh berbeda dengan Nadia.


Istrinya bukan wanita yang pandai berbohong maupun bersandiwara. Nadia tidak dapat menyembunyikan gugup dan groginya setiap Bimasena datang. Sikap Nadia itu tidak lepas dari pengamatannya.


Awalnya ia percaya saja. Pada sebuah jam tangan newah r***x yang dimiliki Nadia. yang menurut istrinya adalah jam tangan KW yang dibeli secara online.


Sekarang ia yakin, jam itu bernilai ratusan juta rupiah. Tidak mungkin Nadia bisa memilikinya. Apalagi kalau bukan hadiah dari Bimasena?


Ia juga bisa melihat kegelisahan Nadia, saat Bimasena jatuh dari sepeda motor saat off road. Mendadak mata Nadia jadi sembab. Tentu karena menangisi Bimasena.


Ia punya insting yang kuat. Saat reuni yang diselenggarakan oleh Bimasena, tidak lama setelah istrinya pulang ke rumah, Bimasena juga menghilang dari rooftop. Sudah pasti, Bimasena mengantar Nadia pulang ke rumahnya.


Pernah sekali, Nadia pulang lewat tengah malam. Ia sangat yakin, Nadia bertemu Bimasena. Bukan ke mall dengan karyawan salonnya.


Perubahan yang signifikan sangat nampak pada istrinya.


Akhir-akhir ini Nadia menolak diajak berhubungan intim.


Ia juga memperhatikan Nadia menghamburkan uang untuk membeli parfum dan pakaian yang mahal.


Nadia juga semakin rajin melakukan perawatan tubuh.


Tadi malam, wajahnya memanas, ketika membaca pesan yang dikirim Mithalia pada group alumni.


Mithalia:


Bima dan Nadia kemana ya? Kok nggak ikut bergabung di rooftop. Jangan-jangan punya acara sendiri.


Sebenarnya ia sudah curiga, pada Nadia yang bermalas-malasan pada waktu makan malam. Ternyata ia dan Bimasena sama-sama datang terlambat di rooftop.


Dan sekarang saat jeep sudah melaju meninggalkan hotel, ia baru tahu dari Afdal. Ternyata Bimasena tidak ikut bersama mereka. Bimasena hanya memperlihatkan dirinya di pelataran. Tetapi tidak ikut bersama mereka.


Tadi malam ia sudah merasa, semua teman-temannya sudah menggunjingkan dirinya. Melihatnya dengan tatapan iba. Sebagai pria bodoh yang dikhianati. Ia sudah menjadi bahan tertawaan. Ia sudah menjadi bahan olokan. Nadia dan bimasena sudah menjadikannya keledai.


Cukup sudah kebohongan ini.


Cukup sudah pengkhianatan istrinya.


"Stop," ia meminta kepada sopir jeep untuk berhenti.


"Kenapa Tris?" tanya Alfredo kepadanya yang satu jeep dengannya.


"Aku batal ikut lava tour. Aku kembali ke hotel, tadi Nadia kurang enak badan. Aku jadi khawatir."


Ia melompat turun dari jeep. Tidak mengindahkan tawaran teman-temannya untuk mengantarnya pulang ke hotel.


Ya, ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, pengkhianatan istri dan sahabatnya.


*******


Readers kesayangan,


Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu diberi kesehatan dan tetap dalam lindungan-Nya.


Tidak berhenti author ingatkan.


Jangan menabur bibit selingkuh di atas tanah. Karena bisa tumbuh tanpa terhindarkan, berkembang dan menjalar kemana-mana.


Terima kasih untuk segala apresiasi dan dukungannya terhadap novel ini.

__ADS_1


Salam sayang dari Author Ina AS


😘😘😘


__ADS_2