Ruang Hati

Ruang Hati
Ch 1


__ADS_3

خَيْرُ النَّاسِ اَنْفَعُهُمْ للِنَّاس


"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


"Bu guru, aku sudah selesai" Seorang gadis kecil berteriak dengan suara cemprengnya yang khas.


"Wah..Alisa sudah selesai ya!? Hebat, dua jempol buat Alisa.." Alin mengacungkan dua jempolnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Gadis kecil bernama Alisa itu semakin mengembangkan senyumnya.


"Nah, karena sudah selesai, Alisa sudah boleh istirahat, yeayy.." Ucap Alin membuat Alisa semakin kegirangan.


"Yeayy.. ye ye.. Alisa mau jajan Bu guru."


"Aku juga udah selesai Bu gulu.."


"Aku juga Bu guru"


Beberapa anak lainnya menyusul segera menyelesaikan tugas mereka.


Alin mengantar Alisa dan dan beberapa anak lainnya yang sudah selesai ke kantin. Itu sudah menjadi kebiasaannya, ia bahkan menggendong salah satu dari mereka, Nayfa namanya, anak murid yang paling muda di kelasnya.


Setelahnya, ia kembali ke kelas dan dilihatnya masih ada dua anak kecil yang masih betah duduk menunduk di kursinya.


"Sayang, masih belum selesai?" Tanya Alin lembut, menghampiri keduanya yang duduk bersebelahan.


"Hm!? Oh, Abang Alfa udah selesai digunting ternyata, sekarang Abang tinggal tempel yaa, Kak Alfi belum selesai ya!?" Tanya Alin, ditatapnya kedua anak itu bergantian.


"Kak Alfi kenapa!? Hm? Kenapa cemberut?" Tanya Alin, tapi tak ia dapatkan jawaban. Hanya satu gelengan kepala.


"Abang, kenapa sama kakak!?" Alin beralih bertanya pada Alfa. Hanya gelengan kepala juga yang Alin dapat.


"Abang jahat" Seru Alfi kemudian, ia menatap Alfa dengan galak, khas anak kecil, Alin dibuat gemas melihatnya.


"Jahat kenapa!? Kak Alfi tau kan, nggak baik sembarang nuduh orang." Jelas Alin.


"Abang jahat!" Lagi Alfi berucap, kali ini ia menundukkan kepalanya, dari suaranya Alin tau gadis kecil ini akan segera menangis.


"Abang!?" Alin beralih pada Alfa.

__ADS_1


"Abang nggak apa-apain, kakak nangis sendiri." Alfa membela diri.


Alin memilih diam. Ditatapnya kedua anak kembar itu bergantian. Sampai keduanya mulai menangis.


"Cup cup, sudah sudah.. kok jadi pada nangis, hm!? Kalian mau buat Ibu sedih ya!?" Keduanya menggeleng pelan, menatap Alin bersamaan.


"Sekarang coba bilang sama ibu, ada apa dengan kalian hm!?"


"Abang jahat, Abang selesai duluan mengguntingnya." Alfi sedikit merengek. Alin tersenyum kecil mendengar rengekan menggemaskan dari Alfi.


"Bukan salah Abang, kakak yang lama." Alfa menjawab, tak mau disalahkan.


"Sudah, sudah.. sekarang kakak lanjut menggunting, Abang tungguin Kakak ya, nanti kita tempel barengan ya!?" Ajak Alin menengahi, menatap si kembar Alfa dan Alfi bergantian sambil tersenyum. Alfa dan Alfi mengangguk setuju, keduanya kembali tersenyum.


Tiriring.. tiriringg..


Tepat jam sepuluh, bel pulang berbunyi. Selesai berdoa, anak-anak mulai keluar dari kelas satu persatu.


Jam setengah sebelas, Alin baru akan pulang. Setelah membereskan kelas dan barang-barangnya, Alin segera keluar dan mengunci kelas. Saling berpamitan pada guru lainnya.


Alin terkejut bukan main ketika ia sampai di tempat dimana ia memarkirkan motor maticnya. Indera penglihatannya menangkap dua sosok kecil yang sangat ia kenal. Segera ia menghampiri mereka yang setia duduk di tempat tunggu penjemputan.


Dua anak kecil itu menggeleng.


"Kalau begitu, ibu temenin disini ya sampe bibi dateng." Ucap Alin. Mereka mengangguk senang.


Selang hampir setengah jam, Bi Nining yang biasa menjemput si kembar Alfa dan Alfi, turun dari mobil dengan tergesa, segera Bi Nining menghampiri dan memeluk si kembar. Diikuti Pak Umar, sang sopir yang mengantar. Alin memang sudah tak asing dengan mereka berdua yang biasa mengantar jemput si kembar.


"Maafkan bibi, bibi terlambat jemput kalian." Bi Nining mengecup puncak kepala si kembar bergantian.


"Bu Alin, terima kasih Bu, maaf merepotkan."


"Tidak apa-apa, bi. Saya tidak merasa direpotkan sama sekali."


"Kalau begitu, saya sama anak-anak pamit Bu" Ucap Bi Nining pada Alin.


"Anak-anak, ayo pamit sama Ibu guru." Ucap Bi Nining, lagi- kali ini ditujukan pada si kembar.


Alfa dan Alfi dengan patuh menyalami Alin dan dengan sopannya mereka mengucapkan terima kasih, mereka tampak menggemaskan di mata Alin, ah tidak, bukan hanya Alin, Alin yakin siapa pun yang melihatnya pasti setuju kalau si kembar Alfa dan Alfi memang menggemaskan.

__ADS_1


"Sama-sama, sayang." Ucap Alin sambil mengusap gemas pipi Alfa dan Alfi.


"Mari, Bu." Ucap Bi Nining dan Pak Umar kemudian sebelum berlalu dan membukakan pintu mobil untuk majikan kecilnya yang menggemaskan.


"Mari Pak, Bi." Jawab Alin.


"Dadah ibuu.. tujuh hari lagi jangan lupa ya buu" Ucap Alfi dengan girang sambil menunjukkan tujuh jari tangannya, tak lupa ia mengerlingkan mata sebisanya. Tak dihiraukannya raut penasaran di wajah pengasuh dan supirnya, Bi Nining dan Pak Umar.


"Kakak sama Abang bakal tungguin ibu, iya kan Abang?!" Alfi beralih bertanya pada kembarannya, Alfa, dijawab anggukan kepala antusias dari Alfa.


Si kembar melambaikan tangan pada Alin, pun dengan Alin yang balas melambaikan tangannya. Ia mengangguk sambil tersenyum guna menanggapi celotehan si kembar, walau mungkin ia tak begitu menganggap serius ucapan kedua bocah kecil yang menggemaskan itu.


Nanti juga lupa. Batin Alin


•••


Fahriani Hanifa, yang akrab disapa Bu Alin itu tengah duduk di kursi panjang di taman dekat masjid. Bukan tanpa alasan kenapa ia akrab dipanggil 'Bu Alin' oleh anak-anak muridnya ataupun oleh rekan-rekan seprofesinya atau bahkan oleh para orang tua anak-anak muridnya.


Bibir Alin mengulas sebuah senyuman tipis kemudian tertawa lirih setiap kali ia mengingat kenapa ia bisa berganti nama dari Fahriani menjadi Alin. Pikirannya mengulang ingatan ketika pertama kali ia mengenalkan dirinya pada anak-anak muridnya yang menggemaskan.


"Halo, selamat pagi anak-anak" Sapa Alin tersenyum meski agak kaku karena anak-anak menatapnya seolah penuh selidik tapi juga sedikit waspada, hanya beberapa dari mereka yang membalas sapaan darinya. Mendapati tatapan seperti itu, batin Alin malah menjerit gemas.


"Kita belum kenalan, ya. Kenalin, nama ibu, Fahriani, kalian bisa panggil ibu, Ibu Arin" Jelas Alin mengenalkan dirinya tanpa melepas senyum di wajahnya. Alin tak ingin anak-anak gemas itu kesulitan menyebutkan namanya, maka dari itu ia menggunakan nama pendek, Arin. Tapi sepertinya dia melupakan sesuatu..


"Bu Alin" Celetuk seorang anak sembari memamerkan gigi-gigi kecilnya..


"Bu Arin, sayang" Koreksi Alin saat itu, ia tersenyum lebih lebar sambil menjawil gemas pipi si anak yang disambut gelak tawa anak itu. Alin lupa, lupa pada kemungkinan kalo anak-anak itu beberapa diantaranya mungkin belum lancar mengucapkan beberapa huruf seperti 'r' sungguh, Alin lupa dengan itu.


"Bu Alin" Ulangnya, tersenyum tanpa rasa bersalah. Ucapannya diikuti anak-anak yang lainnya, dan Alin hanya bisa pasrah tanpa menghapus senyumnya. Tapi, sekarang Alin lebih terbiasa dengan nama itu.


"Alin" Gumamnya pelan, kemudian mengulas senyum tipis. Ia memutus ingatan masa lalunya itu. Matanya mengedar ke sekelilingnya, ia selalu menyukai kedamaian yang ia rasakan ketika duduk disana.


Ia masih belum sampai ke rumahnya, setelah selesai sholat di masjid yang dilewatinya di jalan pulang, ia memutuskan duduk sebentar di taman dekat masjid. Hanya sekedar menghirup udara segar dan bebas, duduk dengan syahdu, sendirian, hanya dia dan pikirannya sendiri.


Sebenarnya taman bukan tempat favorit atau tempat yang spesial menurutnya. Tak masalah dimana tempatnya yang penting ia bisa membiarkan dirinya sendirian. Ia hanya sedang ingin sendirian, dan kebetulan di taman ini cukup sepi.


Beberapa kali menghirup udara dan menghembusnya, hanya untuk membuat otot-ototnya rileks. Selama beberapa saat, Alin tetap ditempatnya. Tidak sampai setengah jam Alin duduk disana karena beberapa detik kemudian ia mulai bergerak dari posisinya, mengambil tas dan kemudian segera beranjak setelah sebuah notifikasi pesan menyembul di layar handphone nya.


To be continued~

__ADS_1


__ADS_2