
Apa yang luput dari kita dan apa yang menimpa kita, itulah takdir dari Sang Ilahi.
Janganlah bersedih, sesungguhnya Tuhan selalu membersamai kita.
Dan ingatlah, bahwa janji Tuhan itu adalah benar.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Dua hari kemudian, si kembar Alfa dan Alfi sudah kembali masuk sekolah. Sekarang mereka sedang dikelilingi teman-temannya.
Alin mengulas senyum melihatnya, mereka berebut melontarkan tanya pada si kembar soal kesehatan mereka. Alin tak melarangnya, toh mereka juga sedang jam istirahat.
Sungguh, Alin bangga pada anak-anaknya itu, mereka saling peduli dan sangat jarang ada pertengkaran diantara mereka, mereka bisa bermain bersama tanpa mengucilkan, ya walau mereka kadang sangat berisik, tapi tak apa asalkan bukan berisik karena bertengkar atau menangis.
Alin masih sibuk memerhatikan anak-anaknya yang mengelilingi si kembar, sampai tatapannya lekat pada si kembar Alfa dan Alfi dan tanpa bisa ia tolak, pikirannya berkelana pada hari itu, hari ketika ia menjenguk si kembar di rumahnya.
Perlahan ia tenggelam dalam pikirannya dan perlahan suara khas anak-anaknya itu memudar, fokusnya beralih.
...
"Bagaimana kamu bisa terluka, fah.." Alin bisa menangkap raut khawatir di wajah laki-laki di depannya itu, dan tanpa dapat ia kendalikan jantungnya bekerja lebih cepat.
Tidak, jangan seperti ini. Batin Alin sambil memejamkan matanya. Perlahan Alin menarik tangannya yang sedari tadi masih berada di tangan Fahri.
"Saya permisi, Pak." Pamit Alin dengan formal, tak diindahkannya ucapan laki-laki itu sebelumnya. Ia berbalik hendak meninggalkan rumah si kembar yang ternyata anak dari seorang laki-laki yang tak asing -tapi juga asing- bagi Alin.
"Aku anter, ya" Ucapan Fahri ini berhasil menahan langkah Alin -lagi.
"Tidak usah, Pak. Saya tidak mau merepotkan. Saya juga bawa motor kok. Mari pak." Entah sudah ke berapa kalinya Alin berpamitan. Ia berusaha menampilkan senyuman sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya. Tidak, tidak ada tujuan apa-apa dari senyumnya, anggaplah itu sebagai sopan santunnya di depan wali anak muridnya.
"Aku minta maaf." Fahri kembali berucap.
Ya Tuhan, Alin membatin, kembali menahan langkahnya, tanpa berbalik. Dipejamkannya kedua matanya, mencoba menekan perasaannya.
"Aku benar-benar minta maaf." Fahri kembali berucap karena tak mendapat sahutan apapun dari lawan bicaranya itu. Dengan hati-hati ia membawa kakinya mendekati perempuan yang betah memunggunginya.
Alin menguatkan dirinya dan berbalik ketika mendengar langkah kaki yang mendekat. Bukan apa, ia hanya takut jika tiba-tiba laki-laki itu berbuat nekat, seperti memeluknya mungkin. Bukannya kepedean, tapi Alin cukup tau bagaimana tabiat laki-laki itu ketika membujuknya, dulu.
Ketika Alin berbalik, laki-laki itu sudah berdiri tepat di depannya. Bahkan sepatu mereka hampir bersentuhan. Huft. Alin tak bisa membayangkan seandainya ia bersikukuh tak berbalik dan laki-laki itu benar-benar merealisasikan apa yang dipikirkannya.
Menghela nafas sebelum kemudian Alin berucap.
"Pak-"
"Kenapa memanggilku begitu formal." Fahri melayangkan protes pada panggilan Alin untuknya.
"Anda orang tua dari anak murid saya, Pak."
"Tetap saja, aku tidak suka mendengarnya. Panggil aku seperti dulu." Pinta Fahri.
Alin memejamkan matanya, mencoba menebalkan kesabarannya.
__ADS_1
"Mohon maaf, Pak, saya harus pulang." Alin menyerah, ia ingin segera pulang.
Fahri kembali menahan lengan Alin ketika Alin hendak berbalik.
"Tunggu dulu, kamu belum menjawab permintaan maafku. Aku sungguh minta maaf."
"Apa yang anda bicarakan, Pak. Anda minta maaf untuk apa!?" Alin berusaha berucap dengan tenang.
"Maaf atas apa yang terjadi dulu. Aku.. aku terpaksa melakukannya.. aku-"
"Tidak, tidak." Alin menyela sambil menggelengkan kepalanya.
"Itu hanya cerita lama, lupakan saja, bapak tidak perlu mint- ta maaf.." Suara Alin melemah di akhir.
Alin tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, tiba-tiba saja Fahri memeluknya, cukup erat. Alin bergeming, untuk sesaat ia mematung karena perbuatan tiba-tiba laki-laki di depannya.
"Pak, tolong lepaskan, jangan seperti ini.." Suara Alin bergetar, menahan tangis. Alin berontak, berusaha melepaskan dekapan Fahri.
Dirasakannya gelengan kepala Fahri, dan saat itu juga satu tetes air mata jatuh ketika Alin memejamkan matanya, menahan segala gejolak perasaan.
"Kak Fahri.. jangan seperti ini.." Alin mencoba peruntungannya dengan memanggil nama laki-laki itu, seperti dulu.
"Cerita lama itu, cerita tentang kita, kenapa kamu begitu mudah mengatakan 'lupakan saja'.. apa kamu benar-benar ingin melupakanku!?"
Suara Fahri yang syarat penuh protes tak setuju itu mengalun memenuhi indera pendengaran Alin. Alin tergugu, mencoba menahan suara isak tangisnya.
Tidak, itu tak mudah. Batin Alin bermonolog.
...
Alin mengambil kedua tangan mungil itu, digenggamnya pelan, kemudian sebelah tangannya ia gunakan untuk menghapus jejak air matanya, ia mengulas senyum penuh sayang.
"Kenapa sayang, hm?" Tanya Alin pada pria kecil di depannya yang tak lain adalah Alfa.
Alfa menarik tangannya dari genggaman Alin, kemudian ia rentangkan kedua tangannya itu membuat Alin yang paham pada permintaannya terkekeh kecil kemudian ia turun dari kursi kecil yang didudukinya. Ia menahan tubuhnya dengan kedua lututnya kemudian membawa Alfa dalam pelukannya.
Tatapan Alin beralih pada anak-anak yang lain yang ternyata tengah menatapnya juga dan perlahan satu-persatu berjalan menghampirinya.
Alin paham, kemudian ia merentangkan tangannya yang tadi ia gunakan untuk mengusap-usap punggung Alfa. Dan tentu saja yang terjadi selanjutnya adalah anak-anaknya yang berjumlah 12 anak itu berkumpul mengerubunginya, memeluknya.
Tanpa bisa membendung rasa harunya, air mata Alin kembali mengalir, ia menangis tanpa suara.
"Terima kasih, Ibu sayang kalian.." Usai mengucapkan itu, Alin mulai mendengar beberapa isak tangis dari anak-anaknya.
Ah sungguh, Alin benar-benar menyayangi mereka..
Selain sang mama, merekalah yang telah membantu dan menemani Alin melewati setiap hari dalam hidupnya, menjadi penguat dan pelipur lara bagi Alin, bahkan mungkin merekalah yang mampu membantunya tetap berdiri dan menjaga kewarasannya, mereka yang membuatnya mampu menjaga hatinya yang hampir porak-poranda. Merekalah kesayangan Alin.
"Bu Alin.."
"Aku juga sayang ibu.."
__ADS_1
"Ibu jangan nangiis.."
"Bu Aliin.."
"Ibu kenapaa..?"
"Ibuu.."
"Bu Alin.."
Begitulah suara mereka bersahut-sahutan, berebut memenuhi indera pendengaran Alin. Mau tak mau Alin mengukir senyum mendengarnya.
"Nggak, ibu gapapa, ibu nggak nangis.." Ucap Alin mencoba menenangkan mereka. Untuk beberapa saat mereka masih menangis tanpa melepaskan Alin. Alin terus tersenyum sambil mengucapkan mantra-mantra penenang untuk anak-anaknya, sesekali tangannya mengusap-usap punggung anak-anak yang terjangkau tangannya sesekali juga mengusap-usap pipi mereka.
Alin tersenyum lega melihat Bu Suci dan Bu Nani yang menghampirinya dan membantu menenangkan anak-anaknya.
"Terima kasih Bu Uci, Bu Nani, maaf kelas saya berisik.." Ucap Alin dengan nada tak enak dan sesal, ia tersenyum meminta pemakluman.
"Nggak apa-apa, Bu Alin." Bu Nani menggeleng sambil tersenyum.
" Iya Bu, gak apa-apa, namanya juga anak-anak.. tapi sebenarnya ini pada kenapa Bu?"
Alin tersenyum canggung
"Tidak apa-apa, Bu.."
Bu Nani dan Bu Suci nampak masih penasaran, tapi mereka tak memaksa dan menghargai keterdiaman Alin.
Tak lama setelahnya, anak-anak mulai tenang. Sekali lagi Alin meminta maaf juga berterima kasih pada Bu Nani dan Bu Suci.
Atensi Alin beralih pada anak-anaknya, ditatapnya mereka satu persatu, beberapa dari mereka masih sesenggukan.
"Anak-anak ibu jadi pada nangis, maafin ibu ya.."
Karena waktu sudah menunjukkan waktunya pulang, Alin membawa anak-anaknya duduk melingkar bersamanya, diatas karpet yang biasa digelar di lantai.
"Udah siap mau pulang?" Tanya Alin menarik perhatian anak-anak.
"Siapa yang mau pulang?" Tanya Alin sekali lagi "Angkat tangannya yang mau pulang.." lanjut pinta Alin. Satu persatu mulai mengangkat tangannya. Alin tersenyum.
"Abang Alfa, kak Alfi, gak mau pulang?" Tanya Alin pada si kembar yang sedari tadi menunduk tanpa mengangkat tangannya.
"Ayo angkat tangannya, sayang~" Pinta Alin lembut dan akhirnya mau tak mau mereka berdua mengangkat tangannya.
"Nah, oke, sekarang angkat dan buka kedua tangannya, kita berdoa dulu ya.."
Tanpa protes anak-anak mengangkat kedua tangan mereka dan mengambil sikap berdoa. Selesai berdoa, Alin memanggil nama mereka satu persatu, kemudian mereka yang namanya dipanggil bangkit dan menyalami Alin takdzim.
Seperti biasanya, setelah mereka menyalami Alin dengan takdzim, Alin membawa mereka dalam pelukannya, tak lupa Alin kecup kedua pipi menggemaskan mereka, serta membisikkan kata-kata sayang, pujian atau penyemangat pada anak-anaknya.
To be continued~
__ADS_1