Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 4


__ADS_3

"Emm..enaknya" komentar Jin saat ia menyicipi jahe hangat buatan istrinya


"Minumlah" Nindya ikut minum saat Jin menyodorkan gelas kepadanya.Rasa hangat langsung menjalari tubuhnya begitu jahe hangat masuk ke dalam perutnya.


"Aku akan menelpon dokter Kim untuk memeriksa kondisi mu" tanpa persetujuan Jin,Nindya beralih ke meja telefon.


Hanya berselang setengah jam dokter Kim sudah datang.


"Kenapa kau bisa sakit?" tanya dokter Kim saat menempelkan stetoskop untuk memeriksa kondisi Jin


"Aku juga manusia Kim" sahut Jin saat Kim menjelaskan cara minum obat pada Nindya


"Cuaca memang semakin dingin,kenakan jaket tebal saat keluar rumah"


"Aku pulang dulu.Semoga lekas sembuh" Kim menepuk pundak Jin setelah beranjak dari duduknya


"Disini saja, tidak perlu mengantar Kim" Jin menarik lengan Nindya sampai jatuh di pangkuannya


"Astaga"


"Setidaknya bisakah kalian tunda hingga aku benar-benar keluar dari pintu kamarmu Jin" cibir Kim yang masih berdiri di ambang pintu


Ceklekk..


Pintu kamar sudah ditutup.


"Apa sebaiknya aku hubungi Rita untuk membatalkan syuting iklan dengan perusahaannya saja" ucap Nindya mengelus pipi Jin


"Aku baik-baik saja sayang.Kau tidak perlu sampai membatalkannya" Jin tidak ingin menghalangi karir Nindya


"Tidurlah kau butuh istirahat untuk perjalanan panjang besok" tambahnya sebelum menurunkan Nindya dari pangkuannya


Nindya tidur sambil memeluk Jin.Kenapa ada rasa tidak rela untuk pergi jauh meski hanya seminggu.


----


Pagi harinya..


"Sayang aku berangkat ya" Nindya mengecup bibir Jin sekilas saat ia selesai bersiap


"Maaf ya sayang aku tidak bisa mengantarmu ke bandara" setiap bangun tidur nyeri di kepalanya semakin sakit setiap harinya.Apalagi saat ia bersin-bersin seperti kemarin.Kepalanya seperti dihantam dengan batu yang besar.


"Iya.Semoga pertemuanmu dengan klien sukses" Jin merasa bersalah saat Nindya mengatakan itu.


Karena sebenarnya ia akan menemui dokter Lee Dong Suk,dokter spesialis kanker yang dulu pernah menangani mendiang ayahnya.


Tentu perihal rencananya itu Nindya tidak tahu sama sekali.Jika ia menceritakannya pasti Nindya akan membatalkan kontrak kerja yang sudah ia sepakati dengan perusahaan minuman tempat Rita bekerja.


Karena Jin tahu alasan Nindya menerima pekerjaan itu karena permintaan Rita.Jadi mana mungkin Nindya menolak apalagi membatalkan pekerjaannya.Bisa-bisa itu akan membuat persahabatan mereka jadi merenggang.Dan Jin tidak mau hal itu sampai terjadi.


Toh ia hanya akan melakukan konsultasi biasa pada dokter Lee.


Nindya sudah duduk di bangku penumpang saat Jin sampai di rumah sakit untuk menemui dokter Lee.

__ADS_1


Ia terus berkirim pesan,namun tanpa ia ketahui jika yang membalas pesannya ternyata Joshua.Hal itu tentu atas perintah Jin sebelum ia masuk ke ruangan dokter Lee.


"Maaf nyonya.Bisa matikan ponsel anda dulu karena pesawat akan segera berangkat" pramugari menegur Nindya yang terus berkutat dengan ponselnya


"Ah...iya" merasa ia bersalah Nindya segera mematikan ponselnya.


4 jam 48 menit akhirnya pesawat yang Nindya tumpangi mendarat di bandara Internasional Soekarno-Hatta.


"Ayo Nin" Yuki menarik lengan Nindya agar bangun dari tempat duduk


"Bagaimana ini" rengek Nindya


"Apanya yang bagaimana?" tanya Jin Eun yang ikut khawatir


"Pantatku susah ditarik dari kursi" jawaban itu membuat raut wajah Yuki dan Juga Eun berubah datar.


"Nanti saja" Yuki merampas ponsel Nindya karena mereka harus segera turun dari pesawat bukan


Pesawat mengudara lima jam lebih dari bandara Incheon Korea Selatan menuju bandara internasional Soekarno-Hatta.


Keluar dari pintu kedatangan luar negeri ketiganya disambut oleh Rita dan Ervan yang memang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Nindya!" Rita memeluk sahabatnya sambil menggoyangkan kekanan dan kekiri


"Kayak teletubbies aja" cibir Ervan pada istrinya


"Mana Raffa?" tanya Nindya setelah melepas pelukan Rita dan ganti memeluk Ervan sekilas


"Dirumah sama eyangnya" sahut Rita.Lalu tanpa sungkan Rita memeluk Yuki dan Ji Eun bergantian.Nindya yang berdiri tepat dibelakang Rita mengisyaratkan pada keduanya untuk membalas pelukannya.Beruntung keduanya mengerti meski hanya melalui tatapan mata Nindya saat mereka mendapat pelukan dari sahabatnya itu.


Nindya secara tak sengaja melihat Rita mendelik pada Ervan.Seperti aksi protes yang dilakukan oleh Rita pada suaminya.


"Selamat siang.Ada yang bisa saya bantu" sapa resepsionis ramah


"Dua kamar suite hotel selama satu minggu kedepan" jawab Ervan


"Ini kuncinya,selamat beristirahat" Ervan menerima kunci lalu mengajak ketiganya menuju kamar yang sudah dipesan


Tanpa banyak basa-basi lagi Ervan dan Rita segera meninggalkan mereka agar bisa segera beristirahat.


Nindya segera mengaktifkan ponselnya ketika punggungnya bertemu dengan ranjang kasur yang begitu empuk dan lembut.Nyaman sekali rasanya.


Ponselnya berdering.Ia mendapat panggilan video call dari Jin.


"Halo sayang" sapa Jin saat melihat wajah Nindya dilayar ponselnya


"Aku sudah sampai" Nindya menunjukkan sebagian ruangan dikamar hotelnya


"Apa pertemuannya lancar?" Nindya memiringkan badannya ke kiri


"Tentu saja" jawab Jin


"Kau sedang ada dimana?" tanya Nindya

__ADS_1


"Aku sedang dikamar sebelah ruangan yang ada di kantor" jawab Jin.Dilihat dari posisinya Jin memang sedang bersandar pada kepala ranjang


"Maaf Jin karena aku mengajakmu ke sungai Han kau jadi terkena flu"


"Aku hanya kelelahan saja,ini bukan salahmu"


"Aku janji akan mengurangi porsi makanku agar kau tidak perlu bekerja keras" mungkin Nindya tak sadar akan ucapannya karena merasa khawatir.Namun bagi Jin yang mendengarnya malah seperti lelucon.


"Astaga..kenapa istriku bisa sekonyol ini" Jin menghapus air mata disudut matanya


"Kenapa malah tertawa,aku serius" Nindya memanyunkan bibirnya


"Apa kau pikir aku akan bangkrut hanya karena porsi makan mu yang banyak"


"Yasudah ya,aku ada rapat sebentar lagi " ucap Jin mengakhiri sambungan telefon sebelum memberi ciuman jarak jauh


Yang sebenarnya terjadi..


Saat Joshua membalas pesan dari Nindya dan berperan sebagai Jin.Disaat itu Jin sedang konsultasi dengan dokter Lee.


"Aku tidak senang melihatmu disini" ucap dokter Lee saat Jin duduk di kursi pasien untuk konsultasi


"Aku juga merasakan hal yang sama" lalu keduanya menarik napas dalam-dalam


"Ceritakan padaku apa yang terjadi?" tanya dokter Lee


"Aku masih ingat betul bagaimana ayahku mengalami kesakitan saat penyakit itu menyerangnya"


"Terlebih tangis mama yang kian dalam setiap harinya" lanjut Jin


"Apa Miyang sudah tahu?" tanya dokter Lee


"Sudah.Maka dari itu aku dipaksa kemari" sahut Jin menyandarkan punggungnya


"Seberapa sering rasa sakit yang kau alami?"


"Setiap bangun tidur,apalagi saat kemarin aku bersin rasanya sakit sekali" jawab Jin


"Aku juga mulai susah konsentrasi setiap bekerja dan mudah lelah lalu muntah dan pusing" jelas Jin


"Bagaimana dengan pandangan mu?"


"Seperi yang kau tahu, pandanganku mulai kabur.Bahkan aku pernah pingsan beberapa kali"


"Lalu bagaimana dengan Nindya,apa dia tahu tentang ini?"


"Untuk sekarang belum.Aku tak ingin ia sampai tahu.Lagi pula ia sedang ada pekerjaan ke Indonesia selama seminggu kedepan"


"Astaga" dokter Lee memijat pelipisnya


"Bagaimana bisa kau menyimpan rahasia ini dari istrimu" ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Jin


"Hari ini kita lakukan CT scan untuk melihat apakah ada sesuatu.Semoga dugaanku salah"

__ADS_1


"Semoga saja" ucap Jin lebih tepat seperti bergumam daripada memberi jawaban pada dokter Lee


__ADS_2