
Malam semakin merangkak naik,namun Nindya tak kunjung bisa tidur.
Jin yang tidur disebelahnya menyadari kegelisahan Nindya.Ia mengubah posisinya dengan memeluk Nindya dari samping.
"Kenapa?" tanyanya sambil menciumi bahu Nindya
"Jin" hampir terdengar seperti orang yang sedang berbisik
"Hemmm" sahutnya semakin mengeratkan pelukannya
"Tidak adakah yang ingin kamu sampaikan?"
"Sepertinya kau sudah tahu ya" ucapnya
"Aku takut"ucapnya kemudian
"Kenapa harus takut"
Nindya menangis dalam diam.Tak berani membalikkan badan menghadap Jin.Dipeluknya istri tercintanya itu.Berusaha menenangkan sebisa mungkin.
"Kau harus berobat" pinta Nindya
"Baik jika itu maumu"
Dokter menyarankan jika Jin bisa memilih pengobatan antara operasi pengangkatan kanker atau kemoterapi.
Beberapa hari kemudian Jin membawa Nindya menuju bandara untuk menjemput seseorang.Namun selama perjalanan dia tak pernah menceritakan siapa yang akan mereka jemput.
"Itu dia" Jin menunjuk sosok lelaki tinggi tegap.Postur badannya tampak mirip dengan Jin.Hanya wajah mereka yang membedakan.Tentunya Jin jauh lebih tampan dan kharismatik.
"Hai" sapanya saat berhenti tepat didepan Jin dan Nindya
"Joon?" tanya Nindya saat lelaki itu membuka kaca mata hitamnya
"Cepat sekali kau mengenaliku" jawabnya
"Selamat datang di Korea,Joon" Jin memeluk hangat pada saudara tirinya itu
"Ayo" ajak Jin pada Joon dan Joshua yang membawakan koper
Apa Jin merencanakan sesuatu?tapi kenapa tidak memberitahu dirinya terlebih dulu.Apa mama Mi Ran akan setuju dengan ide anaknya ini.Semoga tidak ada masalah kemudian hari.Batin Nindya dalam perjalanan pulang.
Semua pelayan disana disibukkan dengan kedatangan Joon.Tidak pernah menyangka tuan muda mereka akan membawa saudara tirinya untuk tinggal satu atap.
-----
Joshua sudah mengundang beberapa media untuk meliput konferensi pers yang akan dibuat oleh Jin.Miyang yang mendengar langsung menegur Jin.
"Siapa bilang kau boleh melakukannya Jin!" bentak sang mama saat mengetahui konferensi pers itu dilakukan untuk mengumumkan bahwa Joon adalah pewaris kedua
"Mah" suara Jin melemah
"Jika tidak ada aku siapa yang akan menjaga mama" berharap mamanya itu akan mengerti
"Tidak!"
"Setuju atau tidak aku akan tetap melaksanakannya" Jin bangkit dari duduknya.Terus berjalan menuju ruangan yang sudah dipersiapkan untuk jalannya konferensi pers.
Kilatan-kilatan kamera menyambut kedatangan Jin yang memasuki ruangan.Puluhan wartawan sudah duduk ditempatnya masing masing.
"Selamat siang semuanya" sapa Jin
__ADS_1
"Terima kasih kalian sudah meluangkan waktu untuk saya"
"Saya akan langsung ke inti saja.Karena tujuan diadakannya konferensi pers ini untuk memperkenalkan pewaris kedua keluarga Park yang selama ini tidak diketahui publik" bisik bisik mulai terdengar diseluruh ruangan.Jin tetap mengabaikannya.
"Jo bawa dia masuk" perintah Jin
Joshua turun dari panggung.Membuka pintu lebar-lebar meminta seseorang yang sejak tadi berdiri dibalik pintu untuk segera hadir.Wartawan semakin maju mengambil potret Joon yang melangkah masuk.Tersenyum ramah pada puluhan kamera yang membidiknya.
"Bisa anda jelaskan lebih rinci bagaimana ia bisa menjadi pewaris kedua keluarga Park?" tanya salah satu wartawan
"Sebelumnya perkenalkan nama saya Jeong Nam Joon.Kalian bisa memanggil saya Joon saja" Joon memperkenalkan diri
"Dan perihal bagaimana dia menjadi pewaris kedua dikarenakan ia anak dari istri kedua mendiang ayah saya" jelas Jin
Riuh suasana di dalam ruangan itu.Mereka tidak lagi tertib untuk menanyakan pertanyaan satu per satu.Kepala Jin mendadak pusing.Sekuat tenaga ia menahannya.
"Baiklah saya rasa cukup untuk semua informasi yang perlu sampaikan.Terima kasih semuanya" Jin membungkuk diikuti oleh Joon.Para wartawan semakin brutal mengikuti Jin yang hendak keluar ruangan.Para bodyguard sekuat tenaga berusaha menahan serbuan wartawan yang seperti ombak.
"Kau baik baik saja sayang?" tanya Nindya yang melihat Jin begitu pucat
"Sebaiknya kita kerumah sakit" usul Joon yang langsung direspon cepat oleh Jo
Lima mobil melaju cepat menuju rumah sakit yang dihadiahkan ayahnya untuk paman Lee.Rumah sakit terbaik dengan alat alat kedokteran yang canggih.
Jin ditangani langsung oleh paman Lee sendiri ditemani dua dokter lain dan beberapa suster.
Jin sudah tidak sadarkan diri.Ia pingsan dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Nindya sejak tadi menangis sesegukan dibangku depan kamar tempat Jin dirawat.
Takut sesuatu yang buruk akan terjadi hari ini.Dokter mengatakan jika Jin sudah di beri obat pereda nyeri.Lusa jika keadaan Jin membaik ia akan menjalani operasi.
"Nindya" suara Miyang yang baru saja datang
"Mama" Nindya semakin terisak di pelukan sang mertua
"Apa kata dokter?"
"Lusa ia akan menjalani operasi ma" jawabnya
"Puas?apa kau senang melihat kehancuran keluargaku?" tanya Miyang pada Joon
"Jangan salahkan Joon ma.Dia tidak bersalah sama sekali" bela Nindya
"Saya akan pergi" ucapnya kemudian
"Kau memang tidak layak dipercaya!"
"Sebenarnya apa mau anda,jika bukan karena permintaan Jin saya juga tidak sudi kembali ke Korea"
"Sudah sudah.Jin sedang sakit kenapa kalian malah bertengkar" Nindya mencoba menengahi perseteruan mereka
Tak ingin suasana semakin memburuk.Nindya meminta Joshua mengantarkan Miyang untuk pulang.
Setelah mengantar Miyang sampai masuk kedalam mobil.Nindya memasuki ruang rawat Jin.
Meski pucat Jin tetap terlihat tampan.Dan kenapa Nindya baru menyadari kalau Jin terlihat lebih kurus.
Ia duduk sebelah ranjang Jin.Memegang erat telapak tangannya.Air matanya tak sanggup ia bendung lagi,kesedihannya begitu mendalam melihat suaminya terbaring lemas disana.
Jika saja ini hanya mimpi buruk.Nindya ingin secepat bangun dari mimpi buruknya.
__ADS_1
Joon masuk ke ruangan,melihat Nindya yang ketiduran sambil memegang erat tangan Jin.Agak susah untuk Joon melepaskannya.Dengan pelan ia mengangkat tubuh Nindya yang dibaringkan diatas sofa dengan ukuran lumayan besar.
"Aku tahu kesedihanmu" Joon menyingkirkan sehelai rambut yang ada di wajah Nindya.Dulu ia juga merasakan rasa sakit yang sama saat ayahnya di diagnosis kanker otak.Ingin ia merawat dan memberinya semangat.Tapi kehadiran Joon dan ibunya selalu ditolak oleh Miyang.
---
"Den kamu gak sarapan dulu?" teriak mamanya yang sejak pagi sibuk membuat sarapan
"Gak mah.Aku sarapan di hotel aja" sahut Deny yang terus berjalan sambil memasang dasi.
"Pagi tuan" sapa mbak Laras yang ada di depan rumah
"Ya mbak" sahutnya lalu masuk kedalam mobil,melajukan mobilnya menuju hotel miliknya.
Sapaan selamat pagi ia dapatkan mulai dari turun mobil sampai Deny hendak memasuki ruangannya.
"Ran siapin laporan yang saya minta" ucapnya saat melewati meja sekretaris yang ada didepan ruangannya
"Ini pak" Kiran menyodorkan map biru
"Taro meja lah" sekretarisnya itu memang sedikit spontan
"Hehe iya pak maaf" ucapnya canggung
Mata Deny sibuk membaca laporan keuangan bulan lalu.Pandangannya berhenti saat melihat ada yang salah dalam laporan itu.
"Ran panggil orang bagian keuangan sekarang" titahnya melalui sambungan telefon
Beberapa menit kemudian Nirina kepala bagian keuangan datang.
"Apa ini?" Deny membanting map didepan Rina
Mendapat teguran keras itu ia mengambilnya.Kembali memeriksa setiap detail laporan.
"Anu pak" ia terlihat kesulitan untuk menjelaskan
"Bicara yang jelas"
"Laporan ini sesuai yang ada pak,saya tidak memanipulasinya" ia menyadari letak dimana kesalahan
Rina menjelaskan jika sebenarnya ada seseorang di bagian lain yang mengkorupsi uang hotel.Ia bisa memberi bukti namun minta Deny merahasiakannya.
Hari itu juga setelah Deny mendapatkan bukti yang diberikan oleh Nirina karyawan yang melakukan korupsi langsung ia pecat.Ia tidak bisa membiarkan benalu hidup tenang memakan uang hasil kerja kerasnya selama beberapa tahun ini.
Pening kepalanya.
Ia butuh cappucinno untuk menenangkan pikirannya yang ruwet.
"Ya Van" jawab Deny kala mengangkat telefon dari Ervan
"Udah liat kabar di Korea?" tanya Ervan balik
"Belum" kabar apa pikirnya
"Buruan buka.Lu pasti kaget liatnya!"
"Berita apaan sih?" tanyanya malas
"Lu liat aja sendiri" Ervan memutuskan sambungan telefon sepihak
Deny mencari beberapa berita.Ia tahu maksud Ervan jika berita yang ia maksud berhubungan dengan Nindya.
__ADS_1
Jarinya menscroll setiap berita dengan cepat.Tertahan saat melihat ada berita besar mengenai pewaris kedua dari keluarga Park yang baru saja diumumkan.