Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 3


__ADS_3


"Pelan-pelan" Jin memapah Nindya yang turun dari mobil.Kening Nindya mengkerut dalam mendengar perkataan Jin.Ia hanya alergi bukan cacat karena sehabis kecelakaan.Astaga.Lebay sekali suaminya ini.


Merasa terlalu bersemangat mungkin,kepala Nindya sampai kepentok pintu mobil saat hendak keluar.


Pelayan yang menyambut mereka terlihat sempat kelepasan tersenyum.Tak apa.Nindya juga bukan orang yang gampang tersinggung karena ditertawakan.


"Aww" ringis Nindya pelan yang membuat Jin sampai gelagapan


"Coba kulihat apakah berdarah?" Jin meminta Nindya sedikit menunduk untuk melihat bagian kepalanya yang kepentok


"Apanya yang berdarah.Memar saja tidak" sahut Nindya yang segera menurunkan tangan Jin dari kepalanya


"Bisa jalan?" tanya nya lagi saat Nindya sudah berdiri disamping mobil


"Jangankan jalan,salto sekarang saja aku bisa" sahut Nindya.Jin mencubit kecil bibir Nindya.Kenapa istrinya ini begitu menggemaskan.


Nindya segera merebahkan diri dan berguling-guling di ranjang yang begitu ia rindukan.Rasanya berbeda sekali dengan ranjang yang ada di rumah sakit meski kasurnya terbilang empuk.


"Hachuu" suara bersin Jin yang dibarengi dengan nyeri di kepalanya


"Kenapa Jin?" Nindya bangkit dan bergegas menghampiri Jin yang masih berdiri di tepi ranjang sambil memegangi kepalanya


"Tidak apa-apa Nin,aku hanya bersin biasa" ia mencoba menenangkan Nindya yang tampak khawatir


"Mandilah,kau pasti gerah" saran Jin mendorong Nindya pergi ke kamar mandi


----


Nindya sedang duduk di taman belakang sambil bertelfon dengan kakaknya Siska malam harinya.Ia lupa memberi kabar saat diijinkan pulang dari rumah sakit.


"Apa bibirmu sudah membaik?" tanya Siska


"Kenapa semua orang tertarik dengan bibirku yang seksi" Nindya memutar bola matanya karena jengah


"Seksi apanya.Kau itu alergi es krim"


"Kakak yakin bibirmu itu pasti bengkaknya luar biasa" tambah Siska


"Jangan gunakan kata luar biasa kak.Itu menyakiti hatiku" Nindya menekan dadanya seolah benar-benar tersakiti dengan ucapan kakaknya

__ADS_1


"Sudah dulu ya Nin,Mike memanggil kakak" Siska mengakhiri sambungan telefon saat Mike memanggilnya dari ambang pintu kamar


Miyang dan Jin sedang mengobrol di ruang tengah.Nindya tak tahu apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya sedikit serius.


"Kenapa serius sekali?" tanya Nindya yang berjalan menghampiri mereka.Keduanya menoleh saat mendengar suara Nindya.


"Tidak ada sayang.Mama hanya menanyakan masalah bisnis apakah berjalan lancar" sahut Miyang yang menepuk ruang disebelahnya


"Bibirmu sudah lebih baik" tanya Miyang yang memperhatikan bibir Nindya


"Sudah ma" sahut Nindya yang merasa malu mengingat bibirnya yang sempat bengkak parah


Jin sengaja mengajak Nindya makan malam ke sebuah kafe milik temannya.Ia ingin sesekali berkencan layaknya anak muda jaman sekarang.


Dengan kemeja lengan pendek dan celana selutut dilengkapi kaca mata hitam yang bertengger di hidung Jin membuat penampilannya terlihat sempurna.


"Apa ini jelek?" tanya Jin melirik pakaian nya dari atas ke bawah


"Kau masih pakai sendal rumahan Jin" jari Nindya menunjuk kaki Jin


"Ah..iya" kenapa ia bisa tidak menyadari itu.Belakangan konsentrasinya memang sedikit berkurang.Mungkin karena ia terlalu lelah bekerja.


Mengendarai mobilnya sendiri menuju kafe Nindya benar-benar merasa mereka sedang berkencan seperti pasangan yang ada di drama Korea.


Selesai makan malam Nindya mengajak Jin pergi ke sungai Han.Bertahun-tahun ia tinggal di Korea belum sekalipun ia mampir ke tempat itu.


"Apa yang akan kita lihat?tidak ada apapun selain air" ujar Jin saat Nindya keluar dari mobil


"Sebentar saja Jin" Nindya berjalan mendekat ke sisi sungai lalu mengambil batu dan melemparkannya ke sungai


"Cobalah" Nindya mengulurkan batu yang ada di tangannya dan meminta Jin melakukan hal yang sama.


"Untuk apa?" merasa tidak tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Nindya


"Anggap saja kita sedang melempar beban pikiran yang berat" Nindya mengambil batu lagi dan melemparkannya sejauh yang ia bisa.


Jin mengikuti apa yang dilakukan oleh Nindya.Selama beberapa saat keduanya saling berlomba lemparan siapa yang paling jauh.Tertawa lepas dengan kekonyolan yang mereka buat.


"Lihat Jin,lemparanku akan lebih jauh darimu" Nindya sesumbar


Nindya mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang sebelum melempar lagi.Sedikit mendramatisir Nindya melempar sekuat tenaga sambil berteriak kencang.

__ADS_1


"Aaaaaaa" Berbarengan dengan itu sebuah kapal melintas dan tak lama berhenti.


"Matilah kita" umpat Nindya saat menyadari lemparannya mengenai badan kapal.


Sebenarnya bukan lemparan Nindya yang bisa mencapai jauh ketengah.Tapi kapal itu yang cukup dekat dengan tepi sungai


"Ayo cepat!" Jin menarik Nindya untuk cepat masuk kedalam mobil dan pergi dari sana


"Hahahaha..menyenangkan sekali Jin" ucap Nindya saat mereka sudah bergabung dengan mobil yang lalu lalang di jalanan


Seumur hidupnya,belum pernah Jin merasa seperti itu.Biasanya ia begitu disegani oleh orang-orang.Tapi malam ini ia lari tunggang langgang karena istrinya melempar batu dan tak sengaja mengenai kapal yang sedang lewat.


Jin masih melajukan mobilnya,terus melaju semakin menjauhi sungai Han.


"Hachuu.." Jin memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri bersamaan dengan bersin tadi


"Kenapa?" tanya Nindya saat Jin menepikan mobilnya


"Bisa gantikan aku menyetir sayang" pinta Jin.Tanpa menjawab Nindya segera turun dan memutari mobil menuju kursi kemudi.Sedangkan Jin memilih bergeser tanpa harus keluar mobil karena cuaca semakin dingin menjelang akhir musim gugur.


Kejadian sepele tadi membuat keduanya terdiam.Jin mengeratkan giginya sambil memejamkan matanya,berharap bisa mengurangi rasa sakit yang ia rasakan di kepalanya.Sebisa mungkin Jin berusaha menahan mulutnya agar tidak mengeluh didepan istrinya.


Jangan sampai Nindya khawatir, batin Jin.


"Sayang..bangun kita sudah sampai" Nindya menempuk-nepuk lengan Jin pelan untuk membangunkannya


"Engg..kita sudah sampai?" tanya Jin dengan suara seraknya khas bangun tidur.Ia menegakkan posisi duduknya dan berusaha mengumpulkan kesadarannya


"Ayo turun.Akan kubuatkan jahe hangat" Nindya turun lebih dulu untuk membantu Jin berjalan


"Sepertinya istriku ini khawatir sekali" ucap Jin mengelus rambut Nindya lalu mengecupnya


Keduanya berjalan memasuki rumah sambil berpelukan.


"Selamat malam tuan" sapa Joshua yang sengaja diminta menunggu dirumah ikut senang melihat kebahagiaan tuan nya.


Nindya mendudukkan Jin di kursi yang ada di dekat meja dapur.Lalu ia beralih mencari bahan-bahan untuk membuat jahe hangat.


Nindya membuka kulkas dan mengambil bahan-bahan seperti sereh,lemon dan jahe.Lalu iavmulai membersihkannya di bawah air yang mengalir.Setelah memastikan semua bahannya bersih Nindya mengambil panci yang ia isi air sampai setengah.


Setelah air mendidih ia mulai memasukkan batang sereh dan jahe dan lemon yang ia potong-potong.Tak lupa ia menambahkan gula merah beberapa biji agar lebih manis.

__ADS_1


Dengan setia Jin menunggu sambil mengamati gerak-gerik istrinya yang menurutnya begitu hebat.Cantik,sabar dan sifat humorisnya yang membuat Jin begitu jatuh hati padanya.


__ADS_2