Ruang Hati

Ruang Hati
#23 Jadian


__ADS_3

Deny memenangkan juara fotografi tingkat nasional meski ia hanya menempati posisi tiga.


Weekend Nindya sering menghabiskan waktu berdua bersama Deny.Kali ini mereka pergi kebukit diperbatasan kota.Sengaja mencari view dengan pemandangan padang ilalang.Karena semenjak kenal dengan Deny ia menjadi semakin tertarik dengan dunia fotografi.Sedikit banyak Nindya mengerti bagaimana melakukan pengambilan foto dari sudut yang bagus.Bahkan Nindya sampai ingin menggeluti dunia model.


Hingga sore mereka masih betah duduk diatas bukit,bercerita tentang banyak hal yang tidak penting.Sesekali menertawakan hal yang menurut mereka lucu,meski ada pula cerita yang membuat Nindya menangis sesegukan ketika ia mengingat saat kehilangan kedua orang tuanya.


Deny mengusap lembut jejak air mata di pipi Nindya,berusaha menenangkan gadisnya yang sedang sedih.


Keduanya terdiam sejenak saat mata mereka saling bertemu.Tatapan Deny yang begitu dalam membuat pipi Nindya bersemu merah.Perlahan Deny mendekatkan wajahnya,lalu keduanya saling menutup mata.Nindya merasakan sesuatu berdesir dihatinya saat bibir Deny menyentuh bibirnya.Tangan Deny meraih tengkuk Nindya kemudian melumat bibir Nindya perlahan.Terlihat jelas keduanya begitu menikmati ciuman mereka.Cukup lama keduanya hanyut dalam ciuman tersebut hingga akhirnya Nindya menarik diri dari Deny.


Mereka berusaha mengatur detak jantung dengan posisi dahi yang masih bersentuhan.


"I love you" satu kalimat yang sudah lama ditunggu oleh Nindya


"I love you too" Deny pun bahagia mendengar pernyataan Nindya.Selama ini ia berusaha menahan diri untuk mencium Nindya takut jika ia akan dijauhi nantinya.Tapi perasaan khawatir tersebut berubah menjadi rasa bahagia yang tidak terbendung.Lalu Deny kembali mencium bibir Nindya meski hanya sesaat.


Nindya sangat gugup sampai ia tidak bisa memikirkan sesuatu untuk menghilangkan suasana canggung.Tidak seperti biasanya yang cenderung banyak bicara.


"Jadi pacar gua ya,Nin.Mulai sekarang jangan deket-deket cowok lain" Nindya hanya mengangguk dengan senyum yang terus merekah dibibirnya.


"Jaga hati lu buat gua,Den.Rasanya gua gak bakal sanggup kalo lu sampai khianatin gua" rasa cinta Nindya pada Deny memang begitu besar hanya saja ia tidak pernah mau memperlihatkannya secara terang-terangan.

__ADS_1


"Pasti,Nin.Gua akan selalu jadi orang yang pengen lu bahagia dan baik-baik aja"


"Yakin?" Nindya menautkan kedua alisnya


"Iya sayang" Deny mencubit hidung Nindya.


"Balik yuk.Gua laper"


"Iya pacil" sahut Deny


"Pacil apaan?"


"Panda kecil" pipi Nindya kembali memerah mendengar panggilan sayang dari Deny


"Nginep aja ya,gua gak tega lu dikos sendirian"


"Gausah ya"


"Barusan itu perintah,Nin.Bukan penawaran.Gua gamau kalo kejadian kaya kemaren"


"Tenang.Sekarang kosan udah aman kok jadi malingnya gabakalan bisa masuk lagi" melihat tatapan Deny akhirnya membuat Nindya luluh tak berdaya.

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan sedang.Pukul sepuluh keduanya baru sampai dirumah.Mama Deny sedang pergi ke Paris menemani ayahnya disana selama dua bulan.


Nindya membersihkan diri setelah sampai dikamarnya.Badannya terasa lengket karena seharian berada diluar rumah.Ia jadi sering tersenyum sendiri mengingat ciumannya dengan Deny.


Sinar matahari pagi membangunkan Nindya.Ia membuka matanya perlahan.


"Pagi sayang" sapa Deny yang sedang berbaring didepannya


"Deny" Nindya terkejut mendapati Deny berada satu ranjang dengannya


"Jangan bilang lu tidur disini?"


"Engga lah.Mandi gih sarapan udah siap"


"Jam berapa sekarang?"


"Jam enam"


"Masih kepagian" sahut Nindya malas


"Liat iler lu nyampe ke kuping"

__ADS_1


"Masa?" Nindya segera berlari ke kamar mandi.Jika dulu ia akan cuek mendengar perkataan Deny tapi sekarang karena sudah jadian ia merasa sedikit malu.


__ADS_2