
Jin sedang berganti pakaian rawat inap saat Joshua mengetuk pintu ruang rawatnya.
"Maaf tuan,saya mendapat kabar nona Nindya akan sampai di Korea kurang lebih lima jam lagi" Joshua memberikan informasi itu saat ia diijinkan masuk
Kepulangan Nindya yang secara mendadak tentu diluar dugaan mereka.Jin pikir Nindya akan benar-benar disana selama seminggu.Tidak disangka ia tiba-tiba pulang sampai membatalkan beberapa kontrak yang sudah ia tanda tangani sebelumnya.Karena setahu Jin, Nindya adalah orang yang profesional.
"Minta supir untuk menjemput dia Jo" ucap Jin setelah tersiam cukup lama.Merasa tidak ada yang ingin disampaikan oleh tuannya lagi Joshua pamit undur dirri.Tangan Joshua yang hendak membuka kenop pintu tertahan saat Jin memanggil namanya
"Jo.." panggil Jin tanpa membalikkan badannya menghadap Joshua yang hendak keluar
"Apa menurutmu aku tak punya banyak waktu lagi dengan Nindya?" ucap Jin tanpa menoleh kebelakang.Tentu Joshua tak pernah menyangka ia akan mendapat pertanyaan seperti itu.
"Pastikan Nindya tidak tahu masalah ini" Jin segera mengalihkan pembicaraan sebelum Joshua sempat menjawab
"Baik tuan.Kalau begitu saya pamit undur diri" Joshua membungkuk lalu menutup pintu.Joshua masih berdiri dibalik pintu dengan tangan yang masih menempel pada kenop pintu.Setelah menghela napas ia segera bergegas menyiapkan segala keperluan untuk menyambut nona mudanya itu.
Miyang yang sudah mengetahui jika Jin mengidap penyakit kanker otak seperti mendiang ayahnya hanya bisa menangis sepanjang hari.Ia tidak menyangka penyakit mematikan itu akan diturunkan kepada anaknya Jin.
"Nyonya anda belum makan apapun sejak semalam" kepala pelayan dirumahnya terus membujuk ibu paruh baya yang tinggal seorang diri disana
"Bawa pergi makanannya,Kim.Aku tak ingin memakan apapun saat ini" jawabnya dengan pandangan menatap jendela kamarnya
"Sedikit saja nyonya,setidaknya perut anda tidak kosong" bujuk Kim lagi
Pagi itu kepala pelayan kembali membawa makanan yang ia bawa menuju dapur.Semua pelayan yang ada disana sudah tahu penyakit yang disertai oleh tuan muda.Jadi mereka bisa mengerti bagaimana sedihnya seorang ibu jika harus kehilangan anak semata wayangnya.
"Jaga rahasia ini dari nona muda.Jika sampai ada yang memberitahunya kalian akan dipecat tanpa pesangon" semua pelayan sampai gemetar mendengar ultimatum yang diberikan oleh kepala pelayan mereka.Mereka semua paham jika tidak hanya sampai disitu akibat yang akan mereka tanggung jika sampai membocorkan rahasia ini pada nona muda.Bukan hanya mereka yang akan menanggungnya tapi juga keluarga mereka yang tidak tahu apapun.
Setelah menyampaikan pesan itu kepada kepala pelayan dirumah nyonya besar.Joshua segera bergegas ke rumah Jin untuk memberi peringatan yang sama.
"Pak Song jemput nona muda di bandara dua jam kemudian.Jika nona muda bertanya tentang tuan muda.Katakan tuan muda sedang dalam perjalanan bisnis ke China" ucap Joshua sebelum masuk kedalam mobil dan kembali ke rumah sakit
-----
"Sayang ini gimana ganti pempersnya?" suara Putra yang menuruni tangga
"Itu kan ada tulisannya gede banget" jawab Tari yang tengah sibuk memasak
"Eh iya" Putra menggaruk kepalanya
__ADS_1
"Kalau udah selesai pakein baju,bawa Kenzie turun kebawah ya"
"Siap bu bos" hari libur Putra akan diam dirumah jika tidak ada rencana pergi.Seharian ia akan berada dirumah membantu Tari.Good father.Julukan yang didapat Putra dari teman temannya.
Kenzie kini berusia dua tahun hampir seumuran dengan Raka anak Nana yang selisih dua bulan lebih tua.Kadang jika senggang mereka akan berkumpul sambil membawa anak mereka.Dan saat mereka berkumpul Rindu selalu kebagian jatah mengasuh anak Dian bernama Safa.Anak super aktif yang membuat kekacauan dimana mereka berada.
"Yang,tadi mama kamu telfon minta kita kesana" ucap Tari yang menyuapi makan Kenzie
"Absen dulu deh.Aku capek hari ini" keluh Putra yang mengambil jus jeruk dari dalam kulkas
"Gak boleh gitu" sahut Tari yang menggantung sendoknya diudara.Tak tahu jika anaknya itu sudah menunggunya untuk suapan berikutnya.
"Lagian rumah mama gak jauh kan" tambah Tari lagi yang menyuapi Kenzie
"Ya iya deh..ngalah mulu..ngalah terus ngalah..aja aku mah" ucap Putra saat duduk di sebelah Kenzie lalu mencubit gemas pipi anaknya yang gembul.
"Jangan sih orang anaknya lagi makan" larang Tari walau Kenzie tidak merasa terganggu sama sekali.
Selesai menyuapi dan menyiapkan beberapa pakaian.Mereka segera berangkat menuju rumah mama Putra yang hanya berjarak satu jam dari rumah mereka.
Kedatangan mereka sudah ditunggu oleh Mama Putra sudah sejak tadi.Meski sering bertemu tapi tetap saja ia selalu merasa kangen dengan cucu semata wayang mereka.
Tak jelas bagaimana awal mulanya kejadian itu.Tiba tiba Kenzie sudah jatuh dengan hidung yang berdarah.Mendengar tangisan Kenzie yang keras Putra bergegas keluar.
Mendapati anaknya menangis dengan darah segar yang keluar dari hidungnya tentu membuat emosinya meledak.Ia begitu marah karena keduanya lalai menjaga anaknya.
Dibawanya Kenzie ke klinik terdekat untuk mendapat pertolongan medis.Beruntung tidak ada efek yang buruk.Dokter hanya meminta mereka agar lebih hati-hati dalam mengawasi anak ketika sedang bermain.
"Atit amah" tangis Kenzie saat pulang dari klinik
"Iya sayang maafin mama ya" dipeluknya Kenzi agar tenang
"Makanya lain kali lebih waspada kalo ngawasin anak yang main!" Putra sedikit menaikkan suaranya
"Iya udah sii,kamu bilang itu udah berapa kali" Tari bosan mendengar nasihat yang sama berulang kali
"Kamu tuh kalo dibilangin ngeyel!" sentak Putra sembari mengemudikan mobilnya
"Denger aku tuh,gausah diulang ulang terus" Tari tahu jika ia salah tapi haruskah ia dimarahi terus menerus
__ADS_1
"Ama apa anan belantem" lerai Kenzie yang membuat kedua orang tuanya langsung diam.Mereka baru menyadari jika tidak seharusnya bertengkar didepan anak.Contoh yang tidak baik.
Sepulang dari klinik keduanya sama-sama diam memasuki rumah.Tak ada yang berniat buka suara terlebih dulu.Gengsi jika harus meminta maaf.
Perang dingin itu berlanjut sampai seminggu.Meski begity Tari yang tak mau dicap sebagai istri yang tidak becus tetap mengurusi semua kebutuhan suaminya.
"Mah" panggil Putra saat Tari sedang membereskan rumah di hari Minggu.Tak ada jawaban dari istrinya.Tari tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Mah" panggil Putra untuk kedua kalinya.Kini ia berdiri menghalangi langkah Tari yang sedang mengepel
"Minggir pah,mama lagi berusaha jadi istri yang baik" ucapan Tari membuat Putra menggeser kakinya.Tari kembali mengepel lantai yang tadi diinjak oleh suaminya.
Melihat respon istrinya yang masih melancarkan perang dingin padanya.Putra memilih untuk diam dan menyusun rencana.Otaknya berfikir keras bagaimana ia bisa meluluhkan hati istrinya.
"Mah ambilin remote tv dong" pinta Putra walaupun remote berada diatas meja yang sebenarnya bisa ia jangkau.Tanpa protes Tari mengambilkan remote dan menyerahkannya pada Putra.Kembali sibuk dengan pekerjaannya lagi.
"Mah ambilin air dingin dong" perintah Putra lagi walau Tari belum menyelesaikan mengepel lantai.Sikap Tari yang begitu penurut tanpa ada bantahan sedikitpun malah membuat Putra semakin gusar.Jika biasanya istrinya itu akan menggerutu walau ia tetap melaksanakan apa yang diperintahkan oleh suaminya.
"Kenapa sih mah gak protes?" Tari yang hendak ke dapur jadi menghentikan langkahnya.Ia berbalik menatap Putra dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bukannya papa pengen punya istri yang gak suka protes dan pinter ngurus anak dan rumah" sahut Tari dengan senyumannya.Putra jadi merinding mendengar jawaban Tari.Apa istrinya ini sedang kesurupan makhluk halus.
"Mah" Putra memeluk istrinya dari belakang saat sedang memasak.Tari tidak merespon dan tetap melanjutkan kegiatan memasaknya
"Maaf ma,papa udah keterlaluan" Putra mencium kulit leher Tari dan meninggalkan jejak kemerahan disana
"Iya pah gak apa-apa.Mama paham papa khawatir sama Kenzie" ucap Tari mengelus punggung tangan Putra yang tengah memeluknya
"Jadi nanti malam boleh minta ena-ena kan?" tanya Putra diselingi senyum jahilnya
"Gak ada!" Jawab Tari ketus.Enak saja mereka baru berbaikan dan suaminya itu langsung minta na enak.
"Kamu gak mau juga aku paksa ma" sahut Putra yang sudah memasukkan tangannya kedalam kaos Tari
"Papa!" teriakan Tari bukan karena gerakan sensual suaminya melainkan karena masakannya yang terlanjur gosong
"Gak apa-apa ma,masih bisa dimakan" ucap Putra berusaha menyelamatkan dirinya dari omelan sang istri
Jadilah makan malam ia harus memakan masakan Tari yang gosong karena ulahnya.
__ADS_1