Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 18


__ADS_3


Sudah sejak satu tahun yang lalu Nindya keluar dari rumah sakit pasca kepergian Jin.Namun karena depresi yang ia alami Nindya harus sering berkonsultasi dengan psikiater.


Dan di sanalah Deny berada.Menemani Nindya setiap seminggu dua kali untuk konsultasi.


"Apa keadaan Nindya sudah lebih baik dok?" tanya Deny pada psikiater yang menangani Nindya


"Saya rasa kondisi nyonya Nindya sudah semakin membaik pak.Ia harus punya kesibukan agar tidak teringat dengan masa lalunya" terang psikiater yang menjadi konsultan Nindya


Setelah menanyakan terkait kondisi Nindya,Deny keluar dari ruangan menuju taman untuk melihat Nindya yang mengatakan akan menunggunya disana.


Dari jauh Deny bisa melihat Nindya sedang bermain dengan anak-anak kecil.


Anak-anak pengidap kanker yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut.


"Nin" panggil Deny


"Sudah selesai?" tanya Nindya yang berdiri menghampiri Deny


"Pulang sekarang apa ntar?" tanya Deny memastikan.Melihat betapa asyiknya Nindya mengobrol dengan anak-anak itu.


"Sekarang.Tapi aku harus berpamitan terlebih dulu" kembali menghampiri kerumunan anak kecil yang sedang bermain.Berjongkok mengecup kepala mereka satu persatu.


"Sudah?" mengangguk lalu berjalan menuju parkiran tempat mereka memarkirkan mobil


Tak ada percakapan selama perjalanan.Hanya alunan musik yang menjadi satu-satunya suara yang terdengar di dalam mobil.


"Den.." panggil Nindya tanpa menoleh.Menatap ke luar jendela mobil.


"Emang harus gua ke makam Jin?" karena semenjak Jin meninggal Nindya sama sekali belum pernah ke makam Jin.


"Semuanya udah nunggu Nindya" menghentikan mobil di parkiran


Jika bukan karena Miyang yang secara langsung mengajak Nindya mungkin saat itu Nindya akan pulang.


Miyang mulai bercerita tentang semua hal.Tentang hubungannya dengan Joon yang semakin membaik bahkan tanaman yang setiap sore ia siram.


"Bicaralah sesuatu dengan Jin,Nindya" menarik Nindya kesampingkannya


"Tidak ada yang perlu dibicarakan ma" dengan ekspresi wajah yang datar.Berlalu menuju mobil.


"Lihat Jin.Kau sudah membuat Nindya marah besar" tutur Miyang dengan wajah sendu


"Oh ya..mama ingin menjodohkannya dengan seseorang" tersenyum sendiri


"Mama yakin kau pasti setuju" yakin dengan ide yang dimilikinya


"Sudah ya.Mama ingin melihat apakah Nindya sudah pulang" memberi ciuman jauh untuk Jin


Miyang saja sudah bisa menerima kepergian Jin.Tapi tidak dengan Nindya yang sama sekali enggan mengunjungi makam Jin meski ia tidak rela.


"Sebentar amat" komentar Deny saat Nindya memasang seat belt


"Antar aku pulang Den" permintaan tanpa tawar menawar

__ADS_1


Siska dan Mike sudah pulang dengan mobil yang mereka bawa.


"Mama ingin menjodohkan Nindya dengan siapa?" Joon ikut penasaran dengan sosok lelaki yang akan dijodohkan dengan menantu yang sudah seperti anak


"Bagaimana jika denganmu?" tanya Miyang.Ya karena memang seperti itu niatnya dari awal.Mempertahankan Nindya sebagai menantu.


"Jangan bercanda ma" sahut Joon yang duduk bersebelahan dengan mamanya.Joshua yang menyetir hanya menyimak.


"Mama serius Joon" memegang lengan Joon


"Aku tidak mau" masih sibuk dengan ponselnya


"Kenapa?" menarik lengan Joon.Penasaran.


"Ya tidak mau" tetap dengan prinsipnya


"Nindya itu cantik Joon,dan ia wanita yang menyenangkan" kekeh dengan pendapatnya


"Jangan paksa aku ma" menoleh pada mamanya


"Lihat saja.Suatu saat kau pasti menyesal" melipat kedua tangannya.Joon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap mamanya.


Mana mungkin ia menikahi mantan istri kakaknya sendiri.


Ucapan Miyang cukup mengganggu Joon.Ia berulang kali menghela napas.


"Haruskah aku mencari pacar agar mama berhenti menjodohkannya dengan Nindya" gumam Joon saat ia bersandar pada kursi di ruang kantornya


"Tapi dimana aku bisa mendapatkannya" mamanya itu ada-ada saja


"Anak itu" gumam Siska ketika Nindya tidak menyadari ia dan Mike yang sudah lebih dulu sampai dirumah


"Luka nya belum sembuh total ma" jawab Mike yang duduk disebelah Siska


"Katanya Nindya bakal comeback mah?"


"Iya pa.Mungkin bulan depan.Pemotretan di Indonesia"


"Mama lebih senang Nindya sibuk sama kegiatan modeling daripada diam dirumah" jawab Siska


"Iya..papa juga sedih melihat Nindya seperti ini terus" Mike menghela nafas


"Pah.."


"Hemm" memejamkan matanya


"Kita udah nikah lama tapi belum juga punya anak pah" Mike membuka matanya dan menatap Siska "Kalo papa mau nikah lagi,mama re.."


"Papa gak suka mama ngomong begitu" tegas Mike "Apapun alasannya papa gak akan nikah lagi.Kita bisa adopsi anak ma" percakapan yang sering dibahas oleh mereka


Siska menegakkan duduknya "Emang papa gak mau punya anak darah daging papa sendiri?"


"Buat apa?dengan kayak gitu papa malah akan nyakitin mama" mengusap pipi Siska lembut


"Kita adopsi aja.Terserah mama mau cewek atau cowok" terang Mike.Keputusannya sudah bulat dan ia tak akan pernah mau untuk menikah lagi.

__ADS_1


Pagi harinya Nindya yang mengetahui kabar Siska dan Mike akan mengadopsi anak tentu saja kaget.Pasalnya ia tidak pernah mendengar mereka membicarakan perihal mengadopsi anak.


"Kita mau kemana kak?" tanya Nindya pada Siska dan Mike


"Busan" jawab Siska menoleh pada Nindya yang duduk dibelakang


Mobil terus melaju.Sudah dua kali Nindya terbangun dari tidurnya namun mereka belum juga sampai.


Nindya mengeluarkan ponsel dan memasang headset kekupingnya.Dan lagu Youngi yang menjadi pilihannya.


Nindya tersenyum geli.Teringat khayalannya dulu yang ingin Youngi menjadi pacarnya.Astaga.


Akhirnya mereka sampai juga di panti asuhan yang direkomendasikan oleh teman Siska.


Anak-anak kecil langsung menyambut kedatangan mereka.Saling bergerombol menyalami mereka satu persatu seperti kebiasaan saat ada tamu yang datang.


"Mari masuk" ajak ibu panti yang menjadi orang terakhir yang mengalami mereka


Nindya memilih tetap tinggal di teras dan bermain bersama anak-anak panti.Sedangkan Siska dan Mike duduk di ruang tamu.


"Saya langsung ke intinya ya Bu.Kedatangan kami kesini karena ingin mengadopsi salah satu anak dari panti" jelas Mike yang menggenggam tangan Siska


Senyum tak bisa dihindarkan dari wajah ibu panti.Ia senang karena salah satu anak yang ia asuh akan mendapatkan keluarga baru.


Perbincangan itu kembali berlanjut untuk membahas semua keperluan yang harus disiapkan oleh Mike dan Siska.


"Kenapa kamu sendirian" sapa Nindya saat ada anak perempuan yang duduk sendiri di ayunan


"Kamu gak suka tempat ramai ya...kakak juga" anak itu mulai menoleh pada Nindya


"Tapi sendiri cuma bikin kamu bakalan tambah sedih.Karena sendirian kamu gak akan punya tempat buat berbagi cerita" ia kembali menundukkan wajahnya


"Kalau kamu gak percaya ikut sama kakak..kakak bakal tunjukkin gimana bahagianya punya orang yang deket dan sayang sama kamu" mengusap puncak kepala anak itu


"Aku gak mau.." lirihnya


"Kenapa?"


"Aku nungguin temen aku" jawabnya


"Temen yang mana?"


"Temen satu panti yang sudah diadopsi nona.Dulu Tae berjanji pada Miran jika ia akan datang berkunjung" tutur ibu panti yang datang bersama Siska dan Mike


"Percaya sama Tante..om ganteng sama Tante cantik itu bakal bantuin Miran buat cari Tae" wajah Miran berubah cerah mendengar mereka akan membantu Miran mencari Tae


"Tapi Miran ikut Tante ya" Siska berjongkok didepan Miran dan mengusap rambutnya


Miran menoleh pada ibu panti yang tersenyum.Dengan takut-takut Miran mengangguk yang disambut pelukan oleh Siska.


Semua memang tidak akan mudah.Namun Mike akan menemani Siska untuk menjaga Miran seperti anak mereka sendiri.


Siska menghembuskan nafas lega karena Nindya mampu mencairkan suasana dengan mengajak Miran bercanda.


Anak yang tadinya pendiam berubah menjadi periang hanya dalam hitungan jam.

__ADS_1


Mungkin karena mereka merasakan hal yang sama...kehilangan orang yang dicintai...


__ADS_2