Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 49


__ADS_3

Lagu dari Gigi-11 Januari..


Sebelas Januari bertemu


Menjalani kisah cinta ini


Naluri berkata engkaulah


Mi-lik-ku


Bahagia selalu dimiliki


Bertahun menjalani bersamamu


Kunyatakan bahwa engkaulah


Ji-wa-ku


Akulah penjagamu


Akulah pelindungmu


Akulah pendampingmu


Di setiap langkah-langkahmu


Pernah 'ku menyakiti hatimu


Pernah kau melupakan janji ini


...


Lagu yang bertepatan dengan tanggal jadian Nindya dan Deny saat sma dulu.Pas banget.Kayak nih lagu emang diciptain buat mereka.Kebanyakan dari kita emang kadang ada yang mikir begitu kan.Dan bilang,lagu ini gua banget nih.Jadi itu juga yang dirasain sama Deny.


Teriakan dan tepuk tangan dari tamu undangan menjadi penutup penampilan Deny dengan gitarnya.Appe,Rendy serta Danang yang kadar kepedeannya melebihi batas normal menggantikan Deny yang baru saja turun.


Mereka membawakan lagu hits yang sedang ramai dinyanyikan anak muda.Lagu dari Didi Kempot-Pamer Bojo.


Yang lirik lagunya ada cendol dawet seger..


Buat yang belum tau.Coba tanya Youtubesh.


Kalian bakal tau betapa ambyarnya penonton.


Kadang emang ada yang mikir,apaan sih kampungan.


Jangan.Karena gimanapun Campursari itu budaya Indonesia.


Balik ke Cerita..


Nindya dan Deny berjalan disepanjang pantai yang memang di sterilkan untuk acara pesta yang diadakannya.Saling menggenggam tangan satu sama lain.


"Nin" panggil Deny


"Nin" ia memanggil untuk kedua kalinya


"Kenapa Den?" tanya Nindya


"Gua pikir pendengaran lu mulai berkurang" ucapnya


"Ihh..ngeselin" ucap Nindya manja


"Lu kelamaan di Korea jadi begini sih" tutur Deny


"Ye kaga lah.Mau selama apapun gua di negara orang.Jiwa gua tetep Indonesia banget" Nindya menepuk jantungnya


"Slogan baru?" tanya Deny

__ADS_1


"Gak lah jujur ini ma.Jadi mau sejauh apapun gua pergi dan merantau.Tanah air tetap jadi rumah gua buat pulang"


"Dan lu rumah buat hati gua pulang" Nindya tertawa geli setelah mengatakannnya


"Ciee" tanggapan yang keluar dari mulut Deny setelah rayuan payah yang diucapkan Nindya


Nindya menhentikan langkahnya.Memandang laut yang terlihat tenang.Dan ucapan Nindya selanjutnya membuat Deny menertawakannya.Karena Nindya mengatakan jika terkadang ia mempunyai bayangan.Saat ia sedang menikmati pantai tiba tiba ada tsunami kan gak lucu.


"Besok kita ke tukang urut yuk" ajak Deny


"Ngapain?lu sakit?" tanya Nindya


"Kaga.Mau benerin otak lu yang geser"


"Baru juga dua hari nikah udah kdrt"


Deny memeluk Nindya dari belakang.Memberinya sedikit kehangatan karena dinginnya angin malam di pinggir pantai.


Tak jauh dari sana pesta masih berlangsung meski sudah lewat tengah malam.Mungkin lebih meriah dari sebelumnya.


"Kenapa ya Den"


"Kenapa apanya?" tanya Deny


"Kayaknya sejauh apapun gua pergi,sama siapapun gua setelah putus dari lu"


"Akhirnya gua balik lagi aja sama lu" ujar Nindya yang membuat Deny makin mengeratkan pelukannya


"Karena Tuhan udah takdirin kita buat bersama"


"Dan untung kita kuat sama ujiannya"


"Apaan sih lebay" sahut Nindya


"Sama aja udah" Deny menjawab


Seromantis romantisnya mereka berdua.Pasti akhirnya bakalan seperti itu.Tapi justru itu yang membuat mereka saling mencintai satu sama lain.


"Gak bisa besok besok aja kalian pindahannya?" tanya mama Deny saat Nindya membuka pintu mobil


"Gimana yang" setelah diomeli mama Deny barulah mereka saling memanggil SAYANG satu sama lain.Meski terkadang masih belum terbiasa dengan panggilan baru.


"Tenang aja ma.Kita bakal sering main ke Jakarta kok" sahut Deny yang sudah duduk dibelakang stir mobil


"Nindya sama Deny pamit ma" Nindya memeluk mertuanya sebelum masuk kedalam mobil


"Hati hati nyetirnya Den" wejangan yang biasa diucapkan orang tua saat anaknya hendak bepergian.Hati hati.


"Gak apa apa nih kita pindahan sekarang Den?" tanya Nindya


"Mau sekarang atau tahun depan,mama bakalan tetep gak rela kita pindah" sahutnya


"Jahat lu ma" ucap Nindya


"Bukannya jahat sayang,aku pengen kita mandiri" kata sayang yang diucapkan penuh penekanan


Bandung.Kota baru yang akan menjadi tempat tinggal mereka berdua.Kota yang ternyata macet juga.


"Ini taro di sebelah mana Nin?" tanya Deny sambil menggotong aquarium


"Sini aja nih Den" Nindya mengarahnya Deny menaruhnya di ruang tamu dekat dengan sofa


"Jangan disini" cegah Deny


"Kenapa?"


"Kamu gak khawatir sama nyawa ikan ikan kita kalo anaknya Dian maen kesini" ucap Deny

__ADS_1


"Iya ya.Bisa bisa diobok obok aquariumnya" Nindya baru ingat dua anak perempuan yang jahil itu


"Sini aja nih" Nindya menunjuk ruang yang masih kosong di dekat tv


"Lukisannya taro sini aja ya" ucap Deny.Potret Nindya yang tengah tersenyum.Lukisan yang dibuat langsung oleh Jin.Bersisihan dengan fotou hasil jepretan Deny yang diambil dari samping


Hari ini mereka sibuk membereskan rumah baru.Rumah dua lantai dengan desain mininalis.Dua kamar utama diatas dan satu ruang kerja.Dan satu lagi kamar tamu yang ada dilantai bawah.


"Besok lagi aja Den"


"Gua mau masak dulu buat makan malam" Nindya beranjak ke dapur.Mencuci kedua tangannya sebelum mengambil bahan masakan yang sudah tertata rapi di kulkas.


"Gausah masak.Kita mandi aja nyari makan di luar" ucapnya


"Gamau bareng?" goda Deny


"Aku duluan ya.Sakit perut soalnya" ucap Nindya berlari menaiki anak tangga


"Baru mau diajak mesra mesraan.Gagal mulu" keluh Deny


Selesai berganti pakaian Deny mengajak Nindya yang sedang asyik menonton film kartun untuk pergi mencari makan.Laju mobil membawa mereka menuju sebuah festival kuliner yang sedang diadakan oleh pemerintah daerah.


"Mau karedok gak?" tanya Nindya


"Siomay aja deh gua ma" tolak Deny


"Enak lho.Ini tuh saladnya orang Indonesia" ucap Nindya


"Gak mungkin kan makan ini doang?" tanya Deny yang sudah tahu kebiasaan Nindya


"Tentu tidak" Nindya menggoyang goyangkan telunjuknya


"Mau sate,pecel,tahu mercon,bakso bakar" Nindya menghitung jarinya


"Gak takut perut lu meledak ntar?"


"Emang kena azab,meledak" sahut Nindya yang berjalan menuju penjual sate


Kadang gitu sifat wanita.Pas beli pengen ini itu.Giliran gak abis suami yang dipaksa ngabisin.Sabar Den.Ini ujian seumur hidup.


Setelah puas mencicipi berbagai jenis makanan.Nindya mengajak Deny pulang setelah kenyang.Ramainya pengunjung membuat Deny memarkir mobil agak jauh.Alias gak dapet parkiran yang deket.


Nindya dan Deny berjalan menyusuri trotoar.Serasa lagi kencan kayak dulu.


"Teteh..teteh" panggil abang abang di pinggir jalan.Nindya jadi menoleh.


"Kenapa kang?" tanyanya


"Itu sendalnya ketinggalan" ia menunjuk sendal Nindya yang memang tertinggal beberapa meter


"Bisa begitu?" ucap Deny.Ia pung mengambilkan sendal untuk Nindya


"Nuhun kang" sedikit bahasa Sunda yang dimengerti oleh Deny.Ia pun memberikan sandal kepada Nindya


"Kesemutan kaki gua.Ampe gak berasa sendal ketinggalan" merasa malu dengan kejadian barusan


"Masih bisa jalan?" tanya Deny


"Bisa.Mobil juga udah disitu" mereka sudah berada di area parkir


Deny menstater mobilnya.Bergabung dengan mobil dan motor yang sudah terjebak kemacetan.Perjalanan yang mulanya bisa ditempuh setengah jam.Molor menjadi dua jam karena kemacetan yang parah.Dan saat mereka sampai dirumah Nindya tertidur dikursinya.


"Nyenyak amat nyah tidurnya" nyonya yang berubah menjadi nyah


"Pantes berat abis makan banyak" gerutu Deny saat kesulitan mengangkat Nindya


Brakk..

__ADS_1


Kepala Nindya terbentur pintu.


"Aduh sakit" Nindya turun dari gendongan Deny.Mengaduh sambil memegang kepalanya yang terbentur.


__ADS_2