Ruang Hati

Ruang Hati
Season tiga - bagian 15


__ADS_3

Jangan lupa like,komen dan subscribe biar author makin semangat..


Selamat membaca semoga suka ♡♡♡


----


Oktav sedang kencan dengan Maya di sebuah mall.Mereka akan menonton film yang baru tayang perdana.Suasana bioskop cukup ramai.Mengingat ini film yang sudah lama ditunggu-tunggu.


"Widih couple baru" sapa Doni yang datang bersama Dimas.Sepertinya mereka hendak menonton juga.Oktav menghela napas.Kacau sudah kencan mereka hari ini.


"Nonton film apaan lu?" tanya Dimas


"Ini" Oktav menunjukkan dua tiket pada mereka


"Seriusan,coba liat bangku nomor berapa?" Dimas mengamati tiket Oktav.Doni ikut melihat.Tawa mereka langsung meledak.


"Sial amat sih kita" keluh Maya.Setelah mengetahui bangku mereka berempat berjejeran.Kenapa bisa kebetulan sekali.


Mereka berempat masuk bersama.Bermodal dua popcorn dan empat minuman.


Semua penonton sudah masuk.Lampu juga mulai mati.Menyisakan cahaya dari layar pemutaran film.


Tipe-tipe seperti Doni sudah ketahuan jika ia takut film horor.Beda dengan Oktav yang meski takut tetap menjaga gengsi di depan Maya.Gak mau lah kelihatan lembek pas jalan sama gebetan.


Dalam diam Dimas merapal do'a sepanjang pemutaran film.Rasanya seolah ia yang mengalami teror setan.Gemeteran.


Dua jam penuh ketegangan ditambah jerit dari para penonton.Ada yang sekedar berteriak atau malah mengumpat penuh sumpah serapah.


Anehnya kadang malah ada yang menjadikan bioskop untuk tempat mesum.Yang kaya gini nih perlu di ruqiyah.


Ada juga yang punya modus terselubung,pura-pura ngajakin cewe nonton film horor.Padahal biar bisa dipeluk mendadak sama pihak cewe.Namanya juga lelaki.


"Sumpah ini film paling serem yang gua tonton" Maya membuka obrolan di kafe


"Jangankan elu May,gua aja takut" sahut Doni mengambil kentang goreng


"Lu ini lah Don,ngeliat karung ngegantung dipohon juga takut" tukas Dimas yang menyerobot kentang yang hendak dimakannya


"Ini ngomong-ngmong Jessie lagi sama Ken atau gimana?" tanya Dimas iseng


"Katanya sih bantuin bi Yuni bersihin rumah" sahut Maya yang diiyakan oleh Oktav.Ia tahu Jessie memang sering membantu pekerjaan rumah.


"Serius dedek gemes mau bantu-bantu bersihin rumah?" tanya Doni antusias.Ia semakin terpesona dengan Jessie.


"Jessie udah ada yang suka.Jangan macem-macem lu" Oktav melempar kentang goreng padanya


"Lagian nih Don,tipe cowo kayak lu gini udah pasti ditolak Jessie" ucap Maya serius


"Gak masalah selama bendera kuning belum berkibar!" ucap Doni penuh semangat.Maya sampai tersedak mendengarnya


"Sialan lu nyumpahin temen gua mati!!" Oktav menjitak kepala Doni sampai ia mengaduh


"Mampus lu kalo Ken sampe denger" Dimas memperingatkan


"Kenapa Ken?" tanyanya yang masih belum paham berita terkini.


"Bodo lah Don,otak lu ma gak lebih kecil dari otak udang" olok Dimas merasa kesal dengan Doni yang telmi (telat mikir).


----


"Set dah ini siapa yang ngomongin gua"

__ADS_1


"Kuping ampe ngiung-ngiung kaya sirine ambulan" ucap Jessie yang baru selesai membereskan kamarnya


Ponselnya berdering.Telfon dari mamanya yang meminta ia segera ke butik karena toko ramai pelanggan.


"Ah elah ma.Belom juga napas anaknya" keluh Jessie menyambar handuk menuju kamar mandi.


Lima belas menit perjalanan menggunakan ojol untuk sampai ke butik mamanya.Setelah memberikan ongkos Jessie melangkah masuk.Apaan mamanya ini butik gak rame aja lebay sampe harus manggil dia.


"Butik gak.." kalimatnya menggantung diudara melihat sosok wanita sebaya dengan mamanya.Jessie tahu meski tampak belakang.


"Mak Nana" peluk Jessie berhambur kearah Nana.Seperti Nindya yang memanggilnya emak.Hal itu menurun pula kepada Jessie.


"Jessie gak liat emak ampe ngap-ngap pan gitu!" tegur Nindya


"Biarin Nin,lagian udah lama gak ketemu kan" tanggapan Nana memang selalu seperti itu


"Bang Raka mana mak?" tanya Jessie


"Lagi keluar.Bentar lagi juga dateng" sahutnya


Nana ke Bandung bersama Raka karena Arya ada pekerjaan.Ia sampai memaksa Raka bolos kuliah demi menemui sahabatnya.


Tringgg..


Lonceng yang sengaja ditaruh diatas pintu berbunyi setiap ada yang masuk.


"Bang Raka!!!" Jessie tanpa malu memeluknya


"Kamu tu udah gede Jes" Nindya mengingatkan anak gadisnya itu


"Gak apa-apa tante,Raka malah seneng" jawaban absurd Raka


Jessie mengajak Raka menonton film horor berdua.Karena menurut teman-temannya filmnya bagus.


"Gak serem gimana,abang aja ampe merinding" Raka masih mengingat adegan terakhir


"Kenapa sih bang setan itu mukanya pucet,emang mereka gada keinginan dandan?" pertanyaan absurd yang biasa Jessie ajukan pada Raka sejak kecil


"Kalo bening ma artis Korea,Jes" sahut Raka yang menoleh saat berhenti di lampu merah.


Jessie sekelebat melihat sosok di dalam mobil yang baru berhenti tepat disebelahnya.Tengkuknya mendadak dingin.Jangan bilang setan yang bawa mobilnya.


Pelan Jessie mulai menoleh.Dan saat ia melihat siapa pengemudinya...


"Setan!" ia setengah berteriak didalam mobil


"Eh lu kenapa?!" tanya Raka bingung saat melihat posisi duduk Jessie yang merosot jauh,hanya menampakkan ujung kepalanya jika dilihat dari luar.


"Tuh bang ada setan dari sekolah Jessie" Jessie menunjuk mobil disebelahnya


"Yang mana?yang lagi nyetir?" tanya Raka


"Bukan bang,cowok tengil yang duduk di bangku belakang" terang Jessie


Jessie mengintip sejenak.Sial tatapan mata mereka malah bertemu.


"Pake nengok lagi!" Jessie memalingkan wajahnya.Menutupinya dengan tas selempang yang ia bawa.


"Siapa sih emang?" tanya Raka penasaran


"Upil kuda bang" sahut Jessie sekenanya

__ADS_1


"Anak orang itu,yang bener siapa namanya?" tanya Raka lagi


"Ardit bang Ardit namanya!" Jessie kesal meski hanya menyebut namanya


Ia semakin kesal ketika Raka malah membuka kaca jendela yang menjadi sandarannya.


Menyapa Ardit yang terlebih dulu membuka kaca jendela mobilnya sejak melihat Jessie.


"Ardit temennya Jessie kan" sapa Raka sok ramah.


"Iya.Boleh pindah ke mobil sebelah gak?" tanya Ardit.Eri sempat mendebatnya.Namun tetap saja diacuhkan oleh Ardit.


Jessie mengumpat abangnya berkali-kali dalam hati.Apa-apaan malah membawa malaikat maut kepadanya.


Sepanjang perjalanan Jessie memilih diam.Kenapa pula abangnya ini malah cepat akrab dengan Ardit.Meski ia terang-terangan tidak suka.Bang Raka Panghianat!!


Ardit meminta tolong untuk menurunkan dia di depan apartemennya.Gak tahu malu udah maksa nebeng minta dianter sampe apartemen pula.


"Dah Jessie" Ardit melambaikan tangannya.Jessie malah menjulurkan lidahnya karena kesal.


Mobil Raka meninggalkan apartemen Ardit.Jessie tidak heran sih kenapa Ardit bisa tinggal disana.Mobil yang ia pakai sekolah saja terlihat mewah.


"Asyik juga temen lu Jes" ungkap Raka saat mereka semakin jauh dari apartemen Ardit


"Apanya bang,dia tuh super nyebelin!" sahut Jessie melipat kedua tangannya


"Hati-hati ntar jatuh cinta" ucap Raka dengan entengnya


Sebagai kompensasinya karena Raka sudah mengijinkan Ardit menebeng ia meminta dibelikan sepatu model terbaru.


Masih dalam perjalanan menuju butik Nindya.Raka mengambil paper bag dari jok belakang.


"Apaan nih bang?" tanya Jessie


"Katanya lu mau sepatu" ucap Raka.Jessie langsung membukanya.Dan ia mencium punggung tangan abangnya berkali-kali saking senangnya.


"Udah napa,ni tangan abang bau jigong kuda Jes" Raka menggosokkan tangan ke pahanya


"Set dah bang,wangi nih jigong Jessie" ucapnya dengan senyum yang masih merekah.


Ia memang pernah mengirimi Raka foto sepatu model terbaru katanya.Jika tidak ke Bandung,Raka akan mengirimnya lewat jasa pengiriman.Jessie memang paling akrab dengan Raka.Meski dengan yang lain juga dekat.


Ah anak teman mamanya yang lain juga sangat baik.Seperti keluarga rasanya.



Raka



Mak Nana dan Arya



Nindya



Jessie


__ADS_1


Ardit


__ADS_2