
Deny melirik arlojinya.Sudah hampir jam tiga malam namun ia belum merasa kantuk sama sekali.Langkahnya berhenti di sebuah halte bis.Suasana sudah semakin sepi.Sepertinya ia harus bersabar menunggu taksi.
Setelah satu jam akhirnya Deny sampai juga dikamar hotel.Ia menyandarkan punggungnya di sofa hotel.Memikirkan setiap percakapan yang ia bicarakan dengan Jin saat di rumah sakit.Perasaan bersalah menyesal dan marah pada dirinya sendiri.Tak pernah menyangka jika cinta Jin untuk Nindya begitu mendalam sangat tidak bisa dibandingkan dengan dirinya.Beberapa kali ia memang memergoki secara langsung Jin tengah mengamati Nindya.Sikap Nindya yang begitu ramah pada Jin dalam beberapa kali pertemuan membuatnya cemburu buta.Itulah alasan mengapa Deny bersikeras meminta Nindya pindah ke Paris.Salah dirinya yang tak mau mengatakan dengan jelas kecemburuannya.Malah memutuskan sepihak hubungan dia dan Nindya.Berharap wanita itu akan menuruti kemauanya.Lalu di saat saat Nindya sedang patah hati Jin datang di waktu yang tepat.Ia menjadi pendengar yang setia menjadi pengobat dari luka dan membuatnya kembali tersenyum.Betapa egoisnya dia yang kembali hadir di hidup Nindya.Berharap wanita itu mau kembali kepadanya lagi.Kembali mengisi harinya yang kosong.Memang benar jika waktu dan pengalaman yang akan mendewasakan seseorang.Satu hal yang ia pahami sekarang.Cinta yang tulus itu tidak pernah meminta balasan.Malah sudah seharusnya kita mampu merelakan apapun demi kebahagiaan dia.Yakin dan percaya saja.Jika ia benar benar mencintai kita maka ia tak akan pernah berkhianat.Dan yang dilakukan Deny dulu malah sebaliknya.Terlalu takut sampai ia ceroboh melepaskan Nindya.Akhirnya apa?penyesalan yang ia dapatkan.
Di tempat yang berbeda Joon tengah berdiri di balkon rumah Jin.Menatap langit yang begitu bersih.Udara malam yang dingin tak membuatnya merapatkan pakaiannya.Ia malah membuka semua kancing kemeja dan membiarkannya terkena hembusan angin malam.Tangan Kanannya memainkan gelas berisikan wine.Gelas ketiga yang sudah ia tenggak.
"Tuan.Sebaiknya anda istirahat" nasihat Joshua
"Sebentar lagi Jo" sahutnya
"Tidurlah Jo.Ini hari yang berat untukmu juga" tak lama Joshua pamit undur diri karena ia memang lelah hari ini.
Keesokannya Joon kembali bekerja di kantor seperti biasa.Melihat Joon yang tetap bekerja seolah tidak berduka atas meninggalnya Jin,membuat banyak orang yang mengatakan jika ia sudah merencanakan untuk merebut posisi Jin seperti sekarang.
Bagi Joon untuk apa repot-repot menjelaskan hal yang tidak akan di mengerti oleh mereka.Biarkan saja.Lama kelamaan mereka akan bosan dengan sendirinya.
Karena mereka tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan.Sekalipun mereka tahu,mereka juga tak akan mau memahami perasaan kita.
Jadi,biarkan saja.
Karena bagi Joon dengan ia yang sibuk bekerja,ia bisa sedikit melupakan beratnya kehilangan keluarga.
"Reum,tolong atur jadwal pertemuanku dengan perwakilan grup Seawon" pinta Jin saat ia keluar dari ruangannya
"Baik pak" segera Reum menghubungi sekretaris pimpinan grup Seawon untuk membuat janji
Tok..tok..
Reum masuk tanpa persetujuan Joon.
"Pak,Bu Nindya masuk rumah sakit" ucap Reum setelah membuka pintu
Joon yang sedang duduk segera menyambar kunci mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang dikatakan oleh Reum.
Joshua yang sudah menunggu diluar rumah sakit segera membukakan pintu saat Joon menghentikan mobilnya.
Emm
"Apa yang terjadi Jo?" keduanya berjalan menuju lift
__ADS_1
"Nyonya infeksi lambung tuan,dan.." jelas Joshua saat memasuki lift
Joon berbalik menatap Joshua "Dan apa Jo?"
Joshua tampak menelan salivanya "Nyonya mencoba bunuh diri tuan" Joon sudah menduga hal itu mengingat ia melihat langsung Nindya yang begitu terpuruk
"Tuan Deny sedang menjaga nyonya Nindya" Joon tidak terkejut karena sepengetahuannya Deny memang belum pulang ke Indonesia
Ceklek..
Joshua membukakan pintu untuk Joon..
"Joon" sapa Mike yang pertama kali melihat kedatangan Joon
"Bagaimana keadaannya?" Deny bangkit dari kursi yang ada disebelah ranjang Nindya karena Joon ingin duduk disana
"Sejak kemarin dia memang tidak makan dan hanya minum Soju" jelas Deny merasa kesal dengan Joon yang menawari Nindya alkohol apalagi sampai berefek membuat Nindya hampir bunuh diri
"Maafkan aku Siska" ucap Joon
"Tidak apa-apa Joon.Yang terpenting sekarang Nindya baik-baik saja"
Sejak dibawa ke rumah sakit Nindya memang belum sadarkan diri.Ia kehilangan darah yang cukup banyak karena sayatan ditangannya.
Tok..tok..
"Buka pintunya Nin!" Menggedor pintu kamar ruang rawat Nindya
Deny panik karena Nindya tak kunjung membukakan pintu atau menjawab panggilannya.
Brakkk..
Dilihatnya Nindya sedang menatap keluar kamar tanpa alas kaki.Selang infus juga dilepas secara paksa.
"Nindya" memanggil nama Nindya sembari berjalan menghampirinya
"Lu kenapa?" menarik lengan Nindya pelan
"Kenapa Jin belum pulang?" tanya Nindya dengan tatapan sendu.Karena seingatnya Jin sedang pergi keluar negeri untuk urusan bisnis.
"Nindya" melembutkan suaranya
__ADS_1
"Jin.." berlari keluar ruangan.Seperti mendengar Jin sedang memanggilnya.
"Mau kemana Nindya" terus memanggil karena Nindya tak menghentikan langkahnya
Perawat yang menyadari ada pasien yang berusaha kabur ikut mengejar Nindya bersama Deny.
Suasana koridor rumah sakit yang semula lengan menjadi gaduh karena Nindya yang berusaha kabur.
Mereka terus berusaha mengejar Nindya sampai akhirnya.....
"Tenang Nin..tenang" Deny memeluk Nindya yang hampir menyebrangi jalanan.Sedetik saja ia terlambat,mungkin Nindya bisa tertabrak mobil.
Nindya menangis dalam pelukan Deny.
"Jin..kemana Den.Kenapa dia gak dateng" teriak Nindya histeris.
Dokter yang baru saja datang menyuntikkan obat penenang di lengan Nindya.
Setelah Nindya kembali kedalam kamar barulah Deny memberi kabar pada Mike.Berusaha meyakinkan jika keadaannya sudah lebih baik.
Namun Siska dan Mike mana bisa diam begitu saja mengetahui keadaan Nindya yang belum bisa menerima kepergian Jin.Meski sudah larut malam mereka langsung menuju rumah sakit saat itu juga.
"Mana Nindya Den" sapa Siska saat menemukan Deny duduk di luar ruangan
"Dokter sudah memberinya obat penenang kak.Sekarang Nindya sudah tidur" jelas Deny
Mike menarik Siska kedalam pelukannya.Ia tahu jika semua terlalu cepat untuk Nindya.Baru saja ia mengetahui tentang penyakit Jin.Tapi secepat itu pula ia harus kehilangannya.
"Kau bisa pulang Den,kami akan menjaga Nindya" tutur Mike
"Aku baik-baik saja Kak,kurasa kak Siska perlu istirahat lebih" menegaskan bahwa ia bisa menjaga Nindya seorang diri
"Terimakasih atas semua bantuannya Den" ujar Mike
"Jangan menganggap aku orang asing kak" karena ia memang tidak ingin menjadi orang asing untuk Nindya ataupun keluarganya
"Kami pulang dulu Den,jika ada sesuatu kabari" pamit undur diri
"Hati-hati dijalan kak" sahut Deny
Siska pulang setelah mengecek keadaan Nindya langsung.Ia ingin menemani Nindya namun sepertinya ia juga kelelahan sejak kemarin.Siska butuh istirahat lebih agar ia bisa menjaga Nindya keesokan paginya.
__ADS_1
Yang sekarang dirasakan Nindya adalah..
Cinta setelah kehilangan...