
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَا تَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَاۤ اٰتٰىكُم ...
"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu..." (QS. Al-Hadid : Ayat 23)
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Tak jauh berbeda dengan Alin, dalam sebuah ruangan, seorang laki-laki dewasa nampak terduduk tertunduk dengan kedua tangannya yang saling bertaut berada di belakang kepalanya, kedua sikunya bertumpu di atas meja.
"Kita bertemu lagi.." Ia bergumam lirih.
"Fahriani.." Lanjutnya.
Nampaknya ia sedang tak baik-baik saja, entah itu pikirannya atau tubuhnya atau mungkin keduanya memang tidak sedang dalam keadaan baik. Kemeja yang cukup kusut, dasi yang longgar, rambut yang acak-acakan, semuanya kentara sekali menunjukkan bagaimana keadaannya.
Tok tok tok
Tak ia hiraukan suara pintu yang diketuk, entah ia tak mendengarnya atau sengaja tak ia dengar. Suara pintu yang dibuka masih tak membuatnya bergeming. Ia masih setia dengan posisinya.
"Pak Arfa" Panggil seorang pria yang baru saja memasuki ruangannya itu, ya ruangan Arfa, Arfa Fahri. Nampak pria itu sedikit tersentak, walau tak kentara. Rupanya sejak tadi ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Merasa namanya dipanggil, Fahri mengangkat kepalanya. Ditatapnya sekilas pria yang sudah terbiasa menerobos masuk ruangannya, siapa lagi kalau bukan si sekretaris, Kenan -yang akrab disapa Ken.
Fahri menghela nafas.
"Ada apalagi, Ken?" Tanya Fahri kesal, terdengar dari tekanan suaranya meski tak bernada tinggi, justru suaranya kelewat rendah namun penuh penekanan.
Ken sedikit meringis mendengar pertanyaan bos nya itu.
"Maaf, Pak. Saya hanya mengingatkan, sekarang sudah jam 10 lewat." Ya, Ken memang hanya ingin mengingatkan, pasalnya ini sudah cukup larut, jam 10 lewat, dan ini malam, bukan pagi.
"Ha!? Benarkah?" Fahri cukup terkejut, ia lupa waktu. Setelahnya, gegas ia beranjak dari duduknya, menyambar tas, handphone serta jas yang ia sampirkan di kursinya.
...
__ADS_1
Brugh
Melempar tubuhnya sendiri ke ranjang, kemudian menghela nafas. Fahri baru saja selesai membersihkan diri. Sejenak ia berbaring telentang dengan sebelah tangannya yang menutupi mata. Merilekskan tubuhnya -mungkin juga dengan pikirannya- yang cukup pegal-pegal. Intinya, ia lelah, bukan hanya fisiknya tapi juga pikiran dan hatinya.
"Fahriani" Lagi dan lagi, nama itu yang ia gumamkan.
Rupanya, pertemuannya kembali dengan sosok dari masa lalunya itu benar-benar mempengaruhinya. Ia merasa senang juga sedih pada saat yang bersamaan, merasa bahagia juga merasa bersalah.
"Aku harap, kamu bisa memaafkan aku, Fah.." Monolog Fahri.
Sikapnya di masa lalu juga harapannya di masa kini. Perasaan Fahriani sekarang ini juga perasaan Fahriani dulu atas sikap dirinya saat itu. Apakah ini takdir ataukah ujian. Bagaimana dirinya harus bersikap sekarang!?. Semua hal itu memenuhi kepala duda tiga anak itu.
Fahri menghela nafas - lagi. Mengusap wajahnya kasar. Ia putuskan untuk memikirkannya lagi besok, ia ingin tidur, sungguh. Jam di dinding kamarnya sudah menunjuk angka 11, anak-anaknya pasti sudah tidur lelap, pikirnya.
Beberapa saat kemudian, Fahri segera bangkit, berjalan keluar kamar. Tujuannya adalah kamar anak-anaknya, Ayu dan juga si kembar Alfa dan Alfi. Ia harap, wajah damai anak-anaknya yang sedang terlelap bisa mengobati segala keresahannya. Selain itu, ini juga sudah seperti rutinitas wajibnya, yaitu melihat anak-anaknya sebelum ia tidur, meski hanya melihat mereka yang sudah tertidur.
Pertama, Fahri menghampiri putri sulungnya, Ayu. Meski memang Ayu bukanlah putri kandungnya, tapi Fahri sudah menganggapnya seperti putri kandungnya sendiri dan ia menyayanginya seperti ia menyayangi si kembar Alfa dan Alfi, sama, tanpa dibeda-bedakan.
Pintu kamar terbuka, memperlihatkan si penghuninya yang sudah terlelap. Fahri tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat pemandangan di depannya itu. Putri sulungnya meringkuk di kasur tanpa memakai selimut.
Fahri berniat membenarkan posisi tidur putrinya itu, namun untuk sesaat ia membeku, hanya sesaat ketika netra cokelat nya melihat apa yang ada di pelukan putri sulungnya itu. Sebuah bingkai foto.
Bingkai itu dalam posisi terbalik, tapi Fahri tau betul foto siapa yang ada di bingkai itu. Siapa lagi kalau bukan Arumi, mantan istrinya yang sudah tiada.
Tidak, Fahri tidak membencinya. Ia menyayanginya. Selama hampir 3 tahun mereka hidup bersama dalam sebuah kapal bernama rumah tangga, tentu mereka saling menyayangi dan mencintai, dan itu terbukti dengan adanya si kembar Alfa dan Alfi.
Dengan hati-hati Fahri mengambil bingkai foto yang berada dalam pelukan putrinya, Ayu. Ia tatap wanita hebat yang sudah memberinya dua malaikat, ah tidak, tiga malaikat kecil untuknya. Ia menarik bibirnya, mengulas senyum tipis. Diusapnya foto almarhumah istrinya itu.
"Semoga kamu tenang di alam sana.." Ungkapnya lirih dengan tatapan sendu. Sorot matanya menandakan rasa bersalah juga kerinduan. Tahun ini, genap 5 tahun sang istri meninggalkannya, kembali ke pangkuan Sang Ilahi.
Kemudian ia letakkan kembali foto itu di tempatnya.
Perhatian nya beralih pada putrinya, Ayu. Diselimutinya gadis kecilnya itu sampai ke perut. Ia usap-usap kepala Ayu dengan sayang, tak lupa ia kecup dahi gadis kecilnya itu tanda sayang.
__ADS_1
"Mimpi indah, sayang.." Ucapnya lirih.
Tak ingin mengganggu tidur putrinya, Ayu, Fahri memutuskan segera keluar. Ia tutup kembali pintu kamar Ayu pelan. Selanjutnya, kamar si kembar Alfa dan Alfi yang ia tuju.
Seperti yang ia lakukan pada Ayu, ia juga mengecup dahi keduanya bergantian, ia beri usapan-usapan kecil pada kepala anak-anaknya sebagai bahasa sayangnya.
"Papa sangat menyayangimu, tidur dan mimpi indah, sayang." Dengan penuh kasih, Fahri bisikan kata-kata itu pada si kembar Alfa dan Alfi.
Selanjutnya, Fahri berdiri di tengah-tengah, diantara dua ranjang anaknya. Ya, si kembar memang masih satu kamar tapi sejak kecil keduanya sudah ditempatkan di ranjang yang berbeda. Bahkan rencananya, ketika si kembar akan memasuki bangku sekolah dasar, akan ia berikan kamar terpisah untuk keduanya.
Fahri nampak memejamkan matanya, berpikir, kemudian ia angguk-anggukan kepalanya pelan, setuju dengan serangkaian planning di kepalanya, untuk anak-anaknya.
Sebuah senyuman terlukis di wajah Fahri ketika memikirkan anak-anaknya, detik selanjutnya ia tatap si kembar Alfa dan Alfi, masih dengan senyumannya. Sampai beberapa saat kemudian senyuman itu perlahan mengendur ketika mendengar anaknya -Alfa mengigau, bahkan menangis, lirih.
"Mama.. mau mama, jangan tinggalkan aku.."
Segera Fahri menghampiri Alfa, bersimpuh di lantai di tepi ranjang. Menatap sendu dengan mata yang ikut berkaca-kaca. Diusapnya air mata yang lolos dari mata kecil putranya. Lama ia cium dahi sang putra.
"Maafkan papa, sayang.." Ucapnya lirih, sambil mengusap kepala jagoan kecilnya.
Sekembalinya ke kamarnya, Fahri tak langsung tidur, lebih tepatnya tak kunjung bisa tidur. Ia memikirkan tentang anak-anaknya, ternyata memang tak mudah bagi seorang anak untuk hidup tanpa seorang ibu, apalagi anak-anaknya sudah kehilangan ibunya sejak mereka lahir dan mereka tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
"Arumi.. ternyata anak-anak memang membutuhkan sosok ibu.." Ungkap Fahri lirih.
"Memang aku yang bodoh karena selalu menganggap bahwa aku saja cukup bagi mereka, bahwa mereka hidup dengan baik-baik saja hanya karena mereka tak pernah merengek dan menanyakan ibu mereka. Nyatanya, mereka menderita, mereka membutuhkanmu, Arumi.." Fahri berujar dengan suara yang sedikit bergetar.
Fahri mengacak rambutnya frustasi, mengingat bagaimana anaknya selama ini menderita dan membutuhkan seorang ibu. Tiba-tiba, ingatannya beralih pada suatu masa ketika ibunya -Mama Laksmi, getol sekali menyuruhnya menikah lagi dan dirinya yang juga getol sekali menolak usulan sang ibu.
Dan kejadian tempo hari, pertemuannya kembali dengan sosok perempuan dari masa lalunya, sosok yang membuatnya merasakan apa itu cinta untuk yang pertama kalinya, Ya, Fahriani, yang tak lain adalah Alin, yang entah ini kebetulan atau suatu pertanda dari Sang Maha Kuasa, Alin merupakan guru dari si kembar.
Semua hal itu memenuhi kepalanya, seolah sedang berputar-putar di dalamnya.
To be continued~
__ADS_1