
"Kayaknya mereka emang jodoh ma"
"Semoga pa.Deny sebenernya baik cuma kesalahan dia udah mutusin Nindya sepihak aja"
"Jangan terlalu ikut campur mah,biar aja mereka jalani kalo masih sama sama sayang"
"Iya pah maaf" ucap Tari yang merasa bersalah
"Bikinin kopi gih,papa mau lanjut nonton berita"
Tari beralih ke dapur.Membuatkan kopi untuk sang suami.
---
"Serius beliin oleh-oleh ini?" tanya Nana
"Iya mak.Sekalian bawain kak Siska" sahutnya santai
"Serah lu dah Nin" Nana pasrah dengan pilihan Nindya
"Raka mau jajan apa sayang?"
"Itu tante" Raka menunjuk es krim
"Ambil sayang.Semua juga boleh" ucap Nindya yang membuat Nana berdecak
"Beuhh sombongnya nyonya besar" ledek Nana
"Sekali kali sombong gak masalah mak"
"Ngajarin anak gua yang gak bener"
Nindya tertawa puas melihat ekpresi Nana yang sedikit kesal.Ia yakin besok besok anaknya akan minta di belanjakan es krim lebih banyak lagi.Haduh sabar keluh Nana.
Puas beberlanja serta berkeliling mall mereka pulang.Tiga kantong besar berisikan makanan ringan.Belum termasuk baju dan yang lainnya.Kapan lagi Nindya bisa mentraktir Nana.Sepertinya mereka akan lama tidak bertemu lagi.
Nana membantu Nindya berkemas.Besok siang ia akan berangkat ke Korea.Malam sebelum mereka tidur Nindya mengajak Nana menonton video klip salah satu penyanyi dimana Nindya menjadi modelnya.
"Lu putihan tinggal di Korea ya Nin" pujian setengah meledek
"Padahal gua suka kulit sawo mateng mak" curhat
"Kenapa?"
"Khas Indonesia banget" jawabnya
"Lebay dah"
"Tapi serius nih ya.Gua kayak liat orang lain pas di MV nya Wendy" Nana tertawa
"Apa bedanya mak"
"Kalo aslinya kan lu somplak"
"Sett dah mak.Anak sendiri dihina"
---
"Tante Nindya pamit ya,maaf udah banyak ngerepotin" Nindya memeluk mama Nana
"Jangan kapok nginep di sini ya"
"Gak lah tante.Masakan tante enak soalnya"
__ADS_1
Nana ikut mengantar sampai ke bandara.Disana ada teman temannya yang yang sudah menunggu.
"Rame amat kayak nganter pejabat" seloroh Nindya saat menemui teman temannya
"Si Nindya udah kek apaan tau" ucap Rita
"Apaan emang?" tanyanya
"Serius lu balik Nin?" tanya Dian
"Iyalah"
"Kan lu belum sempet jagain anak-anak gua" ucapnya
"Horor banget kata-kata lu Yan.Ngeri gua" Nindya pura pura merinding
"Lu pikir anak setan.Sialan lu Nin" umpat Rindu
"Kapan berangkatnya.Ngobrol aja" ucap Rita
"Iya Nin" sahut Nana
"Kok jadi males ke Korea gua"
"Udah sono.Kalo lu g terkenal lagi ogah amat gua temenan sama lu" ucap Tari
"Sini gua cabein tu mulut" sahut Nindya
"Cepet pulang ya" Rindu memeluk Nindya.Bergantian dengan yang lain satu persatu.
"Kabarin kalo udah sampe" tutur Tari
"Dah" Nindya melambaikan tangan.Menarik kopernya seorang diri.Ia tak begitu paham mana yang lebih ia anggap sebagai rumah.Indonesia atau Korea.Yang pasti ia merindukan Jin.
---
"Jin" suara Nindya hampir tercekat saat mengucapkannya.Mimpikah ia bisa melihat Jin saat ini.Nindya melihat anak lelaki sedang bermain gelembung seorang diri.Anak yang sama dengan waktu dulu.
"Bisakah kita tetap selamanya seperti ini?" Nindya memeluk Jin erat
"Aku senang kau melanjutkan hidup dengan baik"
Jin merasa Nindya menjadi lebih ceria saat ia bersama Deny ketimbang ia di Korea
Senja hampir tiba.Nindya enggan berpisah dengan Jin.Biar saja tetap seperti ini.
"Aku harus pergi" ucap Jin
"Aku ikut" Jin tersenyum lalu menggeleng pelan
"Apa ini mimpiku?" tanyanya
"Tebak apa ini hanya sebuah mimpi" Jin mendekatkan wajahnya.Nindya reflek menutup mata saat itu juga.Lembut sekali rasanya saat bibir Jin menyentuh bibirnya.Air mata Nindya mengalir deras.
Jin melepaskan ciumannya.Kesadaran Nindya sudah berangsur kembali.Tapi itu malah membuatnya takut untuk membuka mata.Ia takut jika semua yang terjadi barusan hanyalah sebuah ilusi mimpi yang ia ciptakan sendiri.Air matanya semakin deras mengalir.Hatinya pilu dan sesak.Sudah sejauh ini dan dia masih belum menerima kenyataan jika Jin sudah pergi meninggalkannya lebih dulu.
"Nona apa anda baik baik saja?" Nindya mendengar suara wanita yang memanggilnya
Perlahan ia membuka matanya.Ia meyakini jika ia berada dalam kabin pesawat.Benar dugaannya seorang pramugari yang berusaha membangunkannya
"Ya saya baik-baik saja" sahut Nindya berusaha menghapus jejak air mata yang membasahi kedua pipinya
Sungguh apa semua itu hanya sebuah mimpi.Jika iya kenapa rasanya begitu nyata ciuman Jin.
Nindya meraba bibirnya.
__ADS_1
Ia membuang jauh-jauh semua pikirannya itu buerusaha berfikir jernih.Pandangannya beralih keluar pesawat.Dimana awan terlihat seperti ombak yang berkejaran.Indah dan begitu menakjubkan.
Nindya menyibukkan diri.Mengusir bayangan Jin dari pikirannya saat berada di hamparan rumput yang luas dan hijau.Ia bisa mengingat dengan jelas senyumannya yang begitu hangat.Setiap percakapan dan momen yang mereka lewati.
---
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Joon yang menjemputnya.Dibelakangnya berdiri Joshua yang tersenyum kearahnya.
"Hay Jo.Bagaimana keadaan Yuki?" sapanya
"Ia merindukanmu" jawabnya
"Kau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Joon
"Aku lapar" Joon mengusap lembut rambut Nindya
Joshua membawa mobil itu menuju sebuah kedai kecil.Tak banyak pengunjung yang datang.Hanya ada dua orang lelaki yang minum soju di sudut ruangan.
Ia menanyakan apa saja kegiatan yang Nindya lakukan selama berada di Indonesia.Nindya pun menceritakan hampir keseluruhan.Tapi tidak dengan mimpinya yang bertemu Jin.
Anak bontot 😎
*Nindya
Sampe bosque
*Nana
Syukur kalo udah sampe
Padahal sewaktu berangkat mereka heboh memintanya untuk cepat cepat mengabari jika sudah sampai.Namun saat ia menulis pesan di grup hanya Nana yang muncul.Sepik doang berarti.
"Aunty" Mi Ran berhambur memeluk Nindya saat ia sampai di rumah
"Halo sayang aunty kangen kamu" ucap Nindya
"Lihat aunty punya kado apa?" Nindya mengeluarkan boneka jerapah
"Lucunya.Mi Ran suka"
"Nah aunty sudah datang.Mi Ran cantik tidur ya" ucap Mike
"Iya pa" jawabnya penuh semangat
"Terima kasih Joon sudah menjemput Nindya" ucap Siska
"Ya.Aku pamit pulang dulu" ia berpamitan pada Nindya dan Siska
"Istirahatlah" ucap Siska
Nindya mengangguk.Ia lelah setelah perjalanan panjang.Mike bertanya kenapa Deny tidak mengantarnya pulang.Nindya mengatakan jika ia yang menolak tawaran Deny dengan alasan ia bisa pulang sendiri.
Nindya menuju kamar mandi.Bukannya lekas berendam ia malah duduk di pinggiran bathup.Memainkan air yang sudah dingin lagi.
Terpaksa ia mengganti dengan air hangat jika hendak mandi.
Drtt..
"Halo Den?"
"Udah sampe?" tanyanya
"Udah nih gua mau tidur"
"Yaudah tidur gih" Nindya pun memutuskan sambungan telefon
__ADS_1