
"Setelah pulang kita ke dokter"
"Gausah ntar juga sembuh" sahut Nindya
Nindya berjalan menuju Rita dan Evan.
"Ta,Van.Kita pamit ya"
"Nanti aja" ucap Evan
"Maaf ya Nindya lagi sakit" jawab Jin berusaha sesopan mungkin
"Yaudah kita balik"
"Jangan lupa lusa ada party di Bali Nin"
"Gua usahain" Nindya dan Jin pulang dijemput supir hotel tempat mereka menginap.
Nindya merasa kepalanya sedikit pusing.Ia tidur dengan Jin yang memeluknya dari belakang.
Demi Nindya Jin menunda semua pekerjaannya.Ia tidak ingin selama di Indonesia Nindya akan berpaling kembali ke Deny.
Acara party akan dimulai dua jam lagi.
Nindya sudah memakai gaun berwarna hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.Rambut Nindya hanya digulung memperlihatkan leher jenjangnya dengan anting dan kalung berlian yang semakin mempercantik dirinya.
Jin mengenakan tuxedo hitam membuat penampilan mereka berdua sangat serasi.
"Kau cantik" Jin mencium tengkuk Nindya membuat sang pemilik sedikit geli
"Ayo berangkat" Nindya mencoba mengalihkan Jin agar tidak menciuminya terus menerus.
__ADS_1
Tiba di pesta.
Nindya disambut oleh teman-temannya.
"Gak nyangka gua Nindya bisa berubah jadi feminim begini" ucap Appe.Kini teman Rita dan Evan berkumpul jadi satu
"Iya Deny pasti nyesel mutusin lu" tambah Rendy yang mendapat tatapan tajam dari Rita.Nindya berusaha santai menanggapi meski hatinya tak karuan mendengar nama Deny disebut.
"Selow aja kali Ta.Lagian gua udah tunangan sekarang.Deny cuma masa lalu" Jin tersenyum bahagia mendengar ucapan Nindya
"Den..Deny" Danang melambaikan tangan.
Siap tidak siap ia harus menghadapi Deny.
"Hay" sapa Michelle tanpas digubris oleh yang lainnya
"Liat Den ada Nindya" suara Michelle membuat semuanya terdiam
"Iya.Kenalin Michelle" tambah Deny dengan ekspresi yang biasa saja.Meski hatinya tak karuan melihat pinggang Nindya dirangkul seorang lelaki disebelahnya.
"Kita udah saling kenal kok" Michelle lalu menceritakan kronologi pertemuannya dengan Nindya.
"Kenalin Den ini tunangan aku" diam.Keduanya saling memandang tanpa ada yang mencoba memperkenalkan diri
"Njirr tegang gua Ren" bisik Appe
"Nindya kapan mau nikah" Rita memecah kesunyian.Ia tidak ingin pesta yang ia selenggarakan untuk bersenang-senang berubah menjadi canggung.
"Dua bulan lagi" sahut Jin yang membuat Nindya seketika menoleh.Pasalnya mereka sepakat untuk menikah tahun depan.
"Iya dua bulan lagi" Nindya berusaha menutupi keterkejutannya dengan menempelkan tangannya pada dada Jin.
__ADS_1
Deny menarik paksa tangan Michelle untuk menjauh dari teman temannya.Langkahnya terus saja berjalan menuju parkiran.Sepanjang jalan Michelle terus saja bertanya apa yang terjadi namun Deny tidak menyahut barang sekalipun.Ia menurunkan Michelle didepan hotel tanpa penjelasan.Michelle tidak bodoh untuk tak memahami perasaan Deny.Ia tahu betul jika Deny tengah terbakar cemburu melihat kemesraan Nindya dan Jin.
"Acaranya udah sele.." tanya Desy yang melihat Deny berjalan memasuki rumah.
"Kenapa dia ma?" tanya Desy pada mamanya
"Huh" mama Deny menarik nafas panjang.Tanpa bertanya ia tahu siapa lagi yang akan membuat Deny semarah ini.Gadis itu.Masih saja orang yang sama.
Nindya duduk dimeja rias.Ia melepaskan anting lalu kalung yang menghiasi lehernya.Jin duduk diatas ranjang sambil memandangi kegiatan Nindya.Apakah sekarang ia sudah memiliki hati Nindya sepenuhnya??
"Kau kenapa melihatku seperti itu?" Nindya melihat Jin dari pantulan kaca dimeja rias
"Kemarilah" perintah Jin
Nindya berjalan menghampiri Jin.
Cupp
"Aku mau makan" tutur Jin
"Bentar" Nindya berusaha bangkit dari pangkuan Jin
"Aku maunya makan kamu"
Pipi Nindya masih saja merona mendengar ucapan Jin.
Tangan Jin menarik gulungan rambut Nindya.Membuat rambut panjangnya terurai berantakan.
"Jin" Nindya menarik diri karena kehabisan nafas merasakan aroma cemburu dari ciuman Jin.
"Kau cemburu?" tanya Nindya hati-hati
__ADS_1