Ruang Hati

Ruang Hati
End Season Dua


__ADS_3

Kabar bahagia yang Deny dapatkan di pagi hari saat ia bangun dari tidurnya setelah lima bulan pernikahan.


"Apaan ini yang?" tanya Deny yang belum sepenuhnya sadar.Matanya mengerjap melihat alat tes kehamilan yang Nindya tunjukkan.Perlahan Deny mulai menegakkan duduknya.


"Serius?" tanyanya yang mendapat anggukan dari sang istri


"Berapa bulan?" tanya Deny lagi mengelus perut rata Nindya


"Satu bulan" jawab Nindya yang juga tersenyum bahagia


Deny absen kerja hari itu.Ia menemani Nindya memeriksakan kandungannya ke dokter.Memfoto hasil tes kehamilan yang ia unggah di jejaring sosial.Banjir ucapan selamat yang ia dapatkan.


"Kamu gak kepengen makan sesuatu?" karena menurut mamanya wanita hamil cenderung ngidam makanan yang aneh-aneh


"Gak ada biasa aja" sahut Nindya yang sedang meluruskan kakinya sambil menonton televisi


"Emm..gimana kalo kita makan pizza yang" usul Deny.Entah kenapa jadi ia yang tampaknya mengalami masa ngidam.


"Delivery aja yang.Aku males keluar" sahut Nindya


"Pesenin gih" titah Deny yang enggan beranjak


Nindya meraih ponsel diatas meja.Menekan beberapa huruf lalu menempelkannya ditelinga.


"Mas...." sederet pesanan yang diucapkan oleh Deny


Nindya menatap bingung pada suaminya "Abis segitu banyaknya?" tanyanya heran


"Kayaknya bakal abis yang" air liurnya bahkan hampir menetes demi membayangkan memakan pizza yang ada di dalam bayangannya


Hanya berselang setengah jam pesanan mereka sudah sampai.Deny membuka semua kotak pizza aneka macam dan cappucino serta es krim yang ia pesan.


Nindya bahkan tidak mencolek sedikitpun makanan yang mereka pesan.Ia terlalu kaget melihat Deny makan dengan begitu rakusnya dan habis.

__ADS_1


"Loh kamu gak makan yang?" tanya Deny


"Apanya yang mau dimakan kalo semuanya habis sama kamu" ujar Nindya


Dan begitulah seterusnya sampai perut Nindya mengalami ppeberubahan dari minggu ke minggu.Ia hanya mengalami susahnya pergi kemanapun dengan keadaan perut yang semakin membesar.Sedangkan Deny sering absen kerja karena mengalami morning sick.


"Huekkk..." Nindya mengetuk pintu kamar mandi karena mendengar suara Deny


Tak dikunci,Nindya yang melihat Deny berusaha membantunya dengan memijat lehernya "Kita ke dokter ya" dan sialnya tak pernah ada obat yang mampu mengurangi rasa mual yang dialami Deny setiap paginya


Deny melambaikan tangannya,meminta Nindya menyudahi pijatan dilehernya "Udah sayang" selesai berkumur


"Aku bikinin jahe anget ya" tawar Nindya karena sejauh ini hanya itu yang mampu meredakan sedikit rasa mual yang dialami oleh suaminya


Deny mengangguk setuju "Jangan lupa kasih susu putih" pesannya sebelum Nindya beranjak dari kasur menuju dapur


"Tuan mual lagi ya nyonya" sapa bi Yuni yang sedang membuat sarapan di dapur


"Iya bi" jawab Nindya yang mengaduk susu yang baru ia tambahkan kedalam gelas


Tangannya sudah memegang kenop pintu hendak masuk kedalam kamarnya.Mendadak rasa nyeri yang hebat menyerang sampai membuat gelas berisikan susu jahe terlepas dari genggamannya.


Pranggg..


Deny yang semula bermalas-malasan rebahan di kasur sampai terlonjak buru-buru keluar kamar.Dan pemandangan pertama yang ia dapatkan adalah Nindya yang terduduk sambil memegangi perutnya dengan cairan putih yang membasahi kakinya.


"Astaga Nindya!" teriakan Deny membuat bi Yuni naik ke lantai atas untuk melihat apa yang terjadi


"Ya ampun tuan,nyonya udah mau lahiran" ucapnya saat Deny berusaha membopongnya untuk menuju rumah sakit


"Sakit Den" keluh Nindya merasakan perutnya yang seperti diinjak-injak oleh gajah.


Cengkeraman Nindya dikencaninya sudah tidak berasa lagi.Deny panik sekali karena darah segar mulai merembes keluar dari organ intim Nindya mengenai tangannya.

__ADS_1


Panik sering membuat orang lupa dengan keadaannya sendiri.Deny terus berlari sambil membawa Nindya menuju ruang bersalin.Padahal di pintu masuk suster sudah menyiapkan ranjang yang biasa digunakan untuk membawa ibu yang akan melakukan persalinan.


Tahukah ekspresi yang ditunjukkan oleh beberapa suster disana.Mereka hanya menatap bingung Deny yang melewati mereka,apalagi dengan penampilan Deny yang hanya menggunakan boxer dan kaos oblong.Sangat jauh berbeda dengan Nindya yang cantik dengan lipstik merah menyala sebagai polesan bibirnya.


"Apaan sih barusan" ucap suster yang masih bingung


Teriakan Deny kembali mereka dengar saat menampakkan kepalanya keluar dari pintu ruang persalinan.


"Buruan sus!" suster yang awalnya syok dengan situasi tadi segera berlari dan memanggil dokter bersalin


Tiga jam lamanya.Deny pingsan karena tak kuat melihat banyaknya darah yang dikeluarkan oleh Nindya karena persalinan.


Mama Deny terus berusaha menggucang tubuh Deny yang sepertinya malah ketiduran.


"Deny bangun..ya ampun anak kamu udah lahir itu!" seru mamanya.Samar-samar mendengar ucapan mamanya Deny membuka matanya lebar-lebar.


"Anak Deny udah lahir ma" mamanya itu mengangguk


Mencegah saat Deny hendak turun dari ranjang "Ganti baju terus pake celana yang bener" ujar Desy yang melempar pakaian pada Deny


"Ya ampun..jadi dari rumah gua cuma pake boxer sama kaos oblong kak!" malu dengan penampilannya yang tak karuan


Setelah berganti pakaian yang lebih layak.Deny segera menghampiri Nindya yang sedang menyusui anak mereka.


"Udah bangun?" Deny menggaruk tengkuknya karena malu mendengar pertanyaan Nindya


"Anak papa cantik banget" anaknya itu bersin saat hendak dicium oleh papanya


"Lucu banget sih" Deny malah semakin menciumi wajah anaknya yang menggemaskan.Ya menggemaskan.Tak tahu bagaimana perilakunya nanti setelah beranjak mengalami pertumbuhan.


"Mama udah nyiapin nama" tanya Deny yang memainkan tangan anaknya yang mungil


"Marsha" celetuk Nindya

__ADS_1


"Kamu mau anak kamu usilnya kayak Marsha ma?" wajah Deny menegang mendengar nama yang disebutkan oleh istrinya itu.Nindya tertawa melihat raut wajah Deny yang suram.Astaga tentu saja ia tidak serius.


__ADS_2