Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 2


__ADS_3


"Aaaaaaa" teriak Nindya


"Bibirku" rengek Nindya melihat pantulan bibirnya yang membengkak


"Bengkaknya parah sekali" jari Nindya sampai bergetar menyentuh bibirnya


"Jangan pedulikan itu" Jin menarik jari Nindya


"Kau semakin seksi dengan bibir yang seperti ini" penghiburan yang sia-sia sepertinya.Nindya tetap terlihat gelisah dengan keadaan bibirnya.


"Tidak!" Nindya membekap bibirnya dengan kedua tangan saat Jin hendak menciumnya


Jin berusaha menenangkan Nindya yang terus menerus meratapi bibirnya yang bengkak.Bengkak pada bibir Nindya memang bisa membuat orang yang melihatnya akan sulit menahan tawa.


"Kapan ini akan sembuh" rengek Nindya yang bersandar pada dada bidang Jin.Keduanya duduk diatas ranjang pasien yang cukup untuk tidur dua orang


"Bukannya dokter sudah memberikan obat?" Nindya mengangguk dalam pelukan Jin


"Aku takut jika ini akan bertahan lama"


"Jangan berlebihan" Jin mengingatkan


Kemesraan keduanya terganggu saat seseorang menerobos masuk ke ruangan tempat Nindya dirawat.


"Bagaimana keadaan mu Nindya?!" Youngi langsung bertanya dengan intonasi suara yang kencang


"Pelankan suaramu" tegur Jin


"Astaga bibirmu Nindya!" Youngi begitu terkejut melihat bibir Nindya yang bengkak


"Hahahaha..apa yang terjadi?" Youngi tak bisa menahan tawanya untuk tidak meledak


"Jangan menjengukku jika kau hanya ingin menertawakan ku!" Kedua tangan Nindya bersidekap


"Diam atau keluar Youngi" mendapat peringatan dari Jin, Youngi berusaha meredam tawanya


"Baik-baik aku diam" Youngi mengangkat kedua tangannya tanda ia menyerah dengan ancaman keduanya


"Memang apa yang terjadi dengan bibirmu?" tanya Youngi lagi yang berusaha menahan tawanya


"Jangan bilang kau makan es krim" tuding Youngi yang langsung diiyakan oleh Nindya


"Pantas saja bibirmu seperti itu" gumam Youngi


Tak lama Youngi segera pergi karena ada jadwal tampil di acara salah satu stasiun televisi.Kedatangannya menjenguk Nindya saja tak diketahui oleh manager dan member yang lainnya.


"Aku pulang Nin,semoga bibir mu lekas membaik" ucap Youngi yang mendapat lemparan bantal dari Nindya


"Eittt.." lemparan dari Nindya yang berhasil ia tangkap malah membuat temannya itu semakin kesal


"Cepat sembuh Nin,nanti aku akan memberimu dua tiket VVIP untuk konserku di Seoul" sebenarnya Nindya girang bukan main.Tapi karena rasa gengsinya ia pura-pura tidak peduli dan mengabaikan Youngi.


"Apa yang kau tonton?" tanya Jin yang mengecup pelipis Nindya

__ADS_1


"Tidak tahu.Tidak ada satupun yang aku suka" sahut Nindya yang masih menggonta-ganti saluran televisi


"Coba kulihat" Jin meraih dagu Nindya untuk memastikan bengkak pada bibir Nindya berkurang


"Sudah lebih baik" Nindya meraba bibirnya yang sudah mulai mengempis.


Rasa lega memenuhi dadanya.Besok ia bisa kembali bekerja dan melakukan pemotretan.


Joshua masuk ruang rawat Nindya karena tak ada jawaban.Ketika masuk ia menemukan Jin dan Nindya tidur saling berpelukan yang lantas membuat Joshua reflek tersenyum.Ia beranjak mengambil remote control untuk mematikan televisi yang masih menyala lalu menutup gorden yang juga lupa ditutup.


"Semoga lekas sembuh nyonya" gumam Joshua sebelum keluar dan menutup pintu kamar Nindya.


---


Ditempat yang jauh dari sana..


Deny sedang berada di kafe seorang diri..


Ia menatap kosong jalanan yang dipadati mobil dan motor.


"Woyy" sapaan Ervan yang mendadak tak membuat Deny kaget sama sekali


"Muka kusut amat Den" tegur Ervan


"Tau nih udah kayak kain pel" sahut Septian yang ikut hadir


"Galau nih ceritanya?" tanya Septian yang mendapat hembusan nafas kasar dari Deny


"Move on keles" ledek Ervan yang hanya ditanggapi decakan oleh Deny



"Lagian kalo sayang ngapain dilepas" celetukan Septian mendapat injakan dikakinya dari Ervan


"Njirrr..sakit Van" omel Septian


"Gak perlu ribet ngurusin percintaan orang pak kades.Kayak mimpin kampung udah bener aja" cibir Ervan.


"Pusing gua dengerin lu berdua ribut" Deny hendak bangkit namun ditahan oleh keduanya


"Santuy dong" keduanya kompak mengucapkan itu


"Kenapa..kenapa cerita?" Ervan dan Septian menerima pesanan mereka


"Perasaan gua gaenak aja" tutur Deny


"Kenapa? pengen berak?" Ervan menatap Septian kesal


"Tenang Den, jodoh gak akan kemana" Ervan mencoba menenangkan Deny yang sedang galau berat.Septian yang sibuk dengan minumannya hanya manggut-manggut mengiyakan.


Bertemu dengan teman memang membuat segala sesuatunya lebih lega meski ia hanya sekedar mengobrol tanpa mendapat solusi yang masuk akal.


Sepulang dari High Level,kafe langganan mereka Deny menyetir mobilnya menuju taman kota.Tempat yang dulu sering ia kunjungi bersama Nindya.


Ia tak pernah menyangka jika kehilangan Nindya akan sepatah ini.

__ADS_1


"Kamu dari mana aja Den" sapa mamanya yang sengaja menunggu kepulangannya


"Abis ketemu temen ma" jawab Deny yang menyalami tangan mamanya


"Gak abis aneh-aneh kan?" Selidik mamanya


"Apaan sih ma"


"Deny masih waras buat batasin diri dari hal yang macem-macem" mamanya terlihat menghela napas lega


"Udah makan kamu?" berusaha mengalihkan pembicaraan


"Udah ma" padahal hanya sarapan pagi yang terakhir kali masuk ke pencernaan Deny.Selebihnya ia hanya minum kopi dan kopi.


Patah hati membuat Deny terkadang menjadi malas melakukan apapun.Salah satunya termasuk makan sekalipun.


Setelah mamanya masuk ke kamarnya.Deny berjalan menaiki anak tangga yang rasanya seperti bertambah banyak.Ia terus melangkah namun tak kunjung menemui lantai atas.


Ceklekkk..


Deny mendorong pintu kamarnya dan menyalakan lampu.


Setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya Deny merebahkan tubuhnya di kasur.Pandangannya lurus menatap langit-langit kamar.


"Huhhh.." desahnya sebelum menarik selimut mencapai dada dan segera memejamkan mata sesegera mungkin


Pukul tujuh pagi waktu Seoul yang lebih cepat dua jam dibandingkan waktu yang bersamaan di Jakarta.


Nindya sudah bangun dan ingin pergi ke toilet.Namun melihat Jin yang masih nyenyak ia jadi tidak tega untuk membangunkannya.


Perlahan Nindya turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.Udara di bulan November memang cukup dingin di pagi dan sore hari.


"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Jin saat Nindya keluar dari kamar mandi yang terlihat kerepotan membawa tiang infus


"Tidak apa,aku masih bisa melakukannya sendiri" Nindya duduk ditepi ranjang


"Morning kiss" Nindya mengecup sekilas bibir Jin


"Emm.." suara Nindya tertahan karena Jin sudah melumat bibirnya


Ceklekkk..


"Maafkan saya tuan" ucap suster yang merasa masuk diwaktu yang tidak tepat


"Jinnn.." Nindya berusaha mendorong dada bidang Jin agar tak melewati batas


"Kita tidak bisa melakukannya sekarang.Aku masih sakit" padahal itu hanya alasan Nindya karena malu pada suster yang memergoki mereka berciuman


Setengah jam kemudian suster yang berbeda dan dokter datang untuk memeriksa kondisi Nindya.


"Siang ini anda sudah boleh pulang nyonya" ucapnya setelah memeriksa keadaan Nindya


"Terimakasih dok" Jin mengantar dokter itu sampai ke pintu


"Kau tidak ke kantor hari ini?" tanya Nindya saat Jin mengupas jeruk untuknya

__ADS_1


"Istriku sedang sakit.Mana mungkin aku bisa bekerja dengan tenang" jawab Jin


__ADS_2