
Jika kalian mau tahu rahasia.Ada sebagian orang yang melihat Jessie selalu ditemani sosok perempuan disampingnya (jangan horor).
Sosok itu adalah Wulan yang selalu menemani Jessie kemanapun.Sejak Jessie duduk dan terus menangis sambil memangku kepalanya penuh darah selepas kecelakaan.Melihat sahabatnya hancur seperti itu ia tidak sanggup pergi.
Langit pun seolah iba dengan dua sahabat itu.Memberinya waktu lebih lama didunia untuk memastikan sahabatnya bisa melanjutkan hidup setelah kepergiaannya.
Wulan selalu menjadi saksi untuk setiap momen yang Jessie lewati setelah kepergiannya.Saat Jessie diam-diam menangisi kepergiannya.Tersenyum diluar ketika bertemu teman sekolah.Menyaksikan Maya yang pertama kali berkenalan dengan Jessie.Saat Dimas menghukumnya.Bertemu Ken lalu Oktav dan dua kembar sial itu.
Wulan yang menyaksikan Ardit pingsan terkena bola yang ditendang Jessie.Dan tahukah kalian.Bukan Ardit yang tertawa paling keras saat Jessie menyanyikan lagu Thailand.Masih ingat?Saat itu Wulan yang duduk disebelah Ardit sampai keluar air mata menyaksikan sahabatnya bertingkah konyol.
Festival itu?itu Wulan juga hadir disana.Sama terkejutnya dengan Jessie saat melihat Endra yang tiba-tiba naik ke panggung.
Wulan tahu semuanya karena ia ada disana.Menangis dan tertawa saat Jessie bertingkah konyol.Menepati janjinya yang akan selalu berada disisi Jessie apapun yang terjadi.
Janjinya,janji setia dua sahabat.
Dan sekarang,disini Wulan berdiri tepat disamping Jessie.Menyaksikan kebahagiaan Jessie sambil berlinang air mata.Melihat betapa mereka menyayangi Jessie seperti dirinya.
Akhirnya ia bisa melihat Jessie dikelilingi orang-orang tulus.Teman-teman yang menangis dan tertawa paling keras saat Jessie bertingkah konyol.Sama seperti ia memperlakukan Jessie.
Inikah waktunya?
Waktu yang ia minta kepada pemilik langit untuk tinggal lebih lama.Menetap untuk menyaksikan Jessie tertawa lepas tanpa beban lagi.Beban yang selama ini ia tanggung sendiri.Kesedihan yang ia simpan rapat-rapat dalam hatinya.Meski itu menyalahi takdir langit yang membiarkannya bersama Jessie.
Apa kalian tahu?
Setiap dari mereka.Wulan pernah hadir dalam mimpi mereka masing-masing.Menampakkan dirinya saat bersama Jessie dimasa lalu.Memperlihatkan betapa sayangnya ia pada sahabat berisiknya itu
Mereka tahu,Wulan sedang memberi pesan agar menjaga Jessie-nya.Itu akan jadi rahasia mereka.Rahasia yang akan mereka simpan rapat-rapat dalam hati mereka sendiri.Cukup tahu.Dan sayangi Jessie dengan tulus sepertinya.Itu yang mereka tanamkan dalam hati dan pikiran mereka.
"Make a wish Jes" ucapa Maya sebelum tiupan ketujuh yang akhirnya ia padamkan
Do'a Jessie dalam hati.Do'a yang selalu ia ucapkan setiap tahunnya.Meminta pada langit agar ia bisa melihat Wulan untuk terakhir kalinya.
"Lan..dimanapun lu sekarang.Lu adalah sahabat terbaik yang pernah gua punya.Sahabat yang akan selalu gua banggain didepan semua orang..terus disisi gua Lan sampai gua raih mimpi yang lu titipin sama gua..gua sayang lu" Jessie sampai menitikkan air mata saat membuka matanya.
Semua teman-temannya terharu.Menjadi begitu dekat dan sering bersama membuat mereka tahu do'a yang sedang diminta Jessie.
"Ahhh..Jessie" Maya yang pertama kali memeluk Jessie diikuti yang lainnya.
Tangis bahagia Wulan.Ia tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan.Merasakan betapa kuatnya persahabatan yang kini terjalin melalui pelukan yang ia dapatakan.Meski diantara mereka tidak ada yang menyadari keberadaannya.
Dan,hanya Jessie yang merasakannya.Selalu.Ia selalu tahu.
Malam itu mereka memutuskan menginap di apartemen Ardit.Tentunya karena hari senin mereka libur dan mendapat ijin dari orang tua mereka.
Rentetan acara pun mulai dilakukan.Dimulai dengan makan untuk mengisi tenaga sebelum merayakan ulang tahun Jessie.
Mulai dari karaoke sampai suara mereka serak.Lalu bermain karambol sampai muka mereka putih semua.
Jangan harap apartemen Ardit akan rapi seperti sebelumnya.Bahkan kerusuhan itu sudah dimulai saat mereka mulai duduk dan menaruh barang masing-masing di sembarang tempat.
"Kalah mulu sih gua" keluh Doni yang mukanya sudah bercampur beda dan lipstik.Efek tambahan yang diusulkan oleh Ken
"Selamet..selamet..apes gua mulai luntur" Dimas mengelus dadanya.Merasa nasib sial sudah kembali pada pemiliknya.
__ADS_1
Kerusuhan itu berakhir menjelang setengah satu malam.Saat mereka mulai lelah dan kehabisan tenaga setelah membuat ruang tamu Ardit kacau balau.
Disana mereka tidur,di ruang tamu.Tidur dengan berbagai macam posisi yang membuat mereka nyaman.Semua lelaki tidur di karpet yang digelar ditengah ruang tamu.Lalu ketiga wanita yang tidur dengan posisi duduk menyender satu sama lain di sofa.Berkelana dalam mimpi mereka masing-masing.
Entah di jam berapa Jessie seolah terbangun.Ia pergi ke toilet dekat ruang tamu.Kebiasaan saat ia terjaga ditengah tidurnya.
Jessie berhenti saat melihat siluet tengah duduk di balkon menatap langit malam.Langit bersih penuh bintang yang berkerlap-kerlip.
Selangkah Jessie ragu.Namun ia tidak mungkin salah.Ia tahu siapa yang tengah duduk disana.
Itu..
Adalah..
Wulan sahabatnya.
Jessie menggeser pintu kaca menuju balkon.
"Jessie" sapa Wulan dengan senyum yang mengembang.Tubuh Jessie kaku seketika.Nyatakah sosok yang ia lihat sekarang?jika mimpi tolong jangan bangunkan ia sekarang.Biarkan ia melihat sahabatnya lebih lama.
"Wulan" tangis Jessie pecah juga
"Heyy..kenapa nangis?" tanya Wulan mengelus punggung Jessie
"Ini masih di apartemen Ardit kan,gak salah kan gua" Jessie mencubit kedua pipi Wulan
"Ada yang mau gua omongin" Wulan mendadak serius.Jessie sendiri langsung diam.Ia tahu ini hal penting.Wulan mengajak Jessie duduk di bangku.
"Gua harus pergi Jes.."
"Karna tempat gua bukan disini" jawabnya
"Ini apartemen Ardit,dia temen gua dan otomatis dia temen lu juga" sahur Jessie
"Yakin temen?" goda Wulan membuat rona pipi Jessie memerah
"Ini salah Jes,gua harus pergi.Gua gak boleh serakah buat minta selamanya disini nemenin lu" lanjut Wulan membuat Jessie merasa bersalah
"Bukan salah lu ataupun Endra..ini udah takdir langit" Wulan mengingatkan
"Tapi Lan,kalo gua gak maksa lu saat itu gak bakal kayak gini kejadiannya" penyesalan yang selalu Jessie pendam selama ini
"Semua udah digarisin sama pemilik kehidupan Jes,kecelakaan itu cuma perantara buat kematian gua" dada Wulan sedikit sesak mengingat ia sudah meninggal
"Lepasin semua beban lu Jes,lu udah terlalu sakit selama ini"
"Jalani hidup dengan semestinya.Jangan berhenti buat ngejar impian yang kita gantungin setiap malam dilangit-langit kamar" Wulan tersenyum mengingat ritual mereka sebelum tidur sambil bertelefon
"Janji lu sama gua buat jadi penyanyi hebat sampai lu bisa buat konser tunggal" tambah Wulan mengingat janji konyol Jessie
"Dan lu janji bakal ada disana saat itu terwujud Lan.Lu yang akan teriak paling kenceng dan nyanyi bareng gua" Jessie ikut tertawa mengingat itu
"Pasti" jawab Wulan
"Gua harus pergi Jes" ucap Wulan
__ADS_1
"Kemana?" tanya Jessie panik
"Ke tempat dimana seharusnya gua berada" senyum Wulan
"Jangan pergi Lan" cegah Jessie
"Dulu cuma raga gua yang pergi Jes,terus sekarang roh gua.Gak akan ada bedanya Jes" terang Wulan
"Gua akan selalu disini Jes.Dihati lu" Wulan menunjuk jantung Jessie
"Karena sahabat sejati akan selalu ada dihati" ucap Wulan yang mendapat pelukan dari Jessie.Keduanya sama-sama menangis.Semua perasaan mereka tumpahkan dalam pelukan.
"Jaga diri lu Jes..gua pamit" ucap Wulan melepas pelukan mereka
Sedetik kemudian sosok Wulan mulai berubah menjadi kerlip-kerlip yang terbawa angin.Kerlip indah menuju langit penuh bintang.Semakin tinggi dan tak terjangkau oleh tangan Jessie.
Tangan Jessie mencoba meraihnya.Berharap mampu menahan Wulan sedikit lebih lama.Sia-sia usahanya.
Tak akan cukup.Semua waktu tak akan mampu cukup untuk Jessie saat ini.Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang tak pernah puas.Selalu ingin lebih meski pemilik langit sudah bermurah hati mempertemukan mereka untuk terakhir kali.
Do'anya yang tetwujud untuk melihat Wulan terakhir kali yang selalu ia selipkan setiap menjelang tidur.Dan permintaan terakhir Wulan untuk pergi dengan berpamitan pada sahabatnya.Melihatnya bahagia.
Tetap saja itu akan terasa sakit.
Seperti apa yang Nindya rasakan saat Jin pamit untuk terakhir kalinya.Jin yang tidak lagi menemaninya saat Nindya menemukan orang yang mampu menjaganya setelah kepergiannya.
Dua keinginan yang sama dari orang yang begitu tulus mencintai mereka.
Jin dengan harapan Nindya bisa menemukan orang yang mampu menjaganya segenap jiwa dan raga.
Lalu Wulan yang pergi dengan tenang setelah memastikan Jessie menemukan sahabat sejati yang selalu berada disisinya.Melepas bebannya dan memaafkan Endra.
"Wulannn.." isak Jessie
"Lan..Wulan.." air mata Jessie semakin tumpah ruah
"Jes..Jessie" Maya mengoyang-goyangkan tubuh Jessie yang tertidur di balkon.
Jadi itu cuma mimpi?kenapa rasanya begitu nyata bantin Jessie.
"Lu nangis?!" Maya baru sadar dan langsung panik
"Eh..Maya" ucap Jessie menghapus air matanya.Ini air mata ampe banjir amat,dada gua juga sakit tapi Wulan mana,batin Jessie.
"Lu mimpiin Wulan?" Maya selalu tahu penyebab air mata Jessie yang selalu sama
"Relain Jes,jangan bikin Wulan terbebani" Jessie merasa tertohok dengan ucapan Maya.Maya benar dan ia merasa bersalah pada Wulan.
Jessie mengangguk.Lalu mengikuti Maya masuk kedalam apartemen.Teman-temannya masih tidur dengan gaya berantakan.Ya ampun,batin Jessie.
Author : Nih buat kalian yang merasa tulisan author pendek ekekekek
author kasih 1450 kata lebih..
mana bom like sama komen hebohnya...
__ADS_1
Cek novel terbaru yuk judulnya KARAMEL yang masih sepi ngalahin kuburan..