Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 44


__ADS_3

Nindya menscroll daftar kontak pada ponselnya.Memikirkan siapa yang bisa ia mintai bantuan.Jarinya menekan kontak Joon.Bersamaan dengan itu ponselnya berdering karena ada panggilan masuk.Nomor baru.Tanpa pikir panjang ia menerima panggilan telefon.


"Halo.Dengan siapa ini?" tanya Nindya


"Sepertinya kau butuh tumpangan?" tanyanya.Suara seorang lelaki yang tak ia kenal.Nindya melihat sekeliling.


"Siapa kau?" tanya Nindya yang berusaha menetralkan suaranya


"Hahaha..apa kau penasaran?" tawanya terdengar menakutkan


"Cepat tunjukkan siapa dirimu"


"Belum saatnya.." ucapnya lalu menutup sambungan telefon.Nindya merasa takut.Karena sejak dari studio foto ia merasa seperti diikuti.


Ia kembali masuk ke dalam mall untuk menemui Ji Eun yang masih ada di restoran tadi.Ia harus bersama seseorang yang ia kenal agar merasa aman.Saat menemui Ji Eun ia tak menceritakan keresahannya atau ia akan menelfon polisi karena panik.


Beberapa hari belakangan masih tampak normal.Namun di suatu pagi Nindya dikejutkan dengan kotak besar di depan pintu rumahnya.Tak ada tulisan pengirimnya atau apapun.Nindya pun membuka kotak itu untuk mengetahui isinya.Dan yang ada di dalamnya adalah boneka panda.Dengan kertu ucapan yang tergantung di lehernya.


"Satu hal kecil lagi yang aku tahu jika kau menyukainya" tulisnya


Cepat-cepat Nindya membawa masuk boneka itu.Mendudukkannya di sofa yang bersisihan dengannya.Ia berfikir keras tentang siapa pengirim semua barang barang itu.Semakin ia berfikir ia malah semakin takut karena tak tahu siapa pengirimnya.Nindya memasukkan boneka itu kedalam lemari bajunya.Beserta barang lain dan bunga yang mulai layu.


"Nin,kakak udah bicara sama Mike kalau sebaiknya Mi Ran pindah sekolah"


"Loh kenapa kak?bukannya sekolah yang sekarang udah bagus?" tanya Nindya


"Kasian Mike disana gak ada yang ngurusin,jadi kalo Mi Ran pindah sekolah kesana kakak bisa ngurus dua duanya" ucap Siska


"Dari Indonesia di samperin ke Korea biar bisa tinggal serumah.Eh disini ditinggal juga" gerutu Nindya


"Halah kamu udah gede ini" sahut Siska


"Iya deh ngalah aku ma,aku ma apa atuh cuma bungkus permen karet" ujar Nindya sambil memainkan ponselnya


"Lebay.Makan sana dari tadi belum makan apa apa kamu" suruh Siska


---


Seminggu kemudian Nindya tinggal dirumah sendirian.Semua lampu mulai dari gerbang sampai taman belakang ia nyalakan.Masih trauma akan orang yang memata matainya.

__ADS_1


Nindya tengah memasak di dapur.Memasak mi instan yang ia bawa jauh jauh dari Indonesia.


Nindya sedang menuang kuah mi ke dalam mangkok.Ia dikagetkan saat melihat sosok yang mengamatinya dari balik jendela.Membuat tangannya sampai tersiram air panas.


"Aduh..aduh panas" keluh Nindya memegangi tangannya yang melepuh


Sosok itu masih saja berdiri disana.Namun Nindya tak bisa melihat wajahnya.Nindya berlari ke ruang tamu secepat yang ia bisa.Mengambil ponsel dengan tangan gemetaran.


"Halo" sapa seseorang dengan suara seraknya.Nindya masih diam tak menjawab.


"Halo Nin kenap diem aja?" Deny yang ia telfon saat itu


"Den,gua takut" suara Nindya gemetaran


"Ba..barusan gua liat ada orang berdiri di deket jendela dapur" lanjutnya


"Serius?" tanya Deny panik karena ia tahu Nindya sedang dirumah sendirian


"Den.." tangis Nindya mulai pecah


"Tenang..tenang..gua bakal bakal telfon orang buat nemenin lu"


"Gua tutup bentar ya.Jangan buka pintu kalo gak tahu siapa yang dateng"


"Tapi Den"


Tutt..tutt..


Deny sangat panik.Dengan posisinya yang ada di Indonesia ia tak bisa membantu apapun selain menelfon seseorang untuknya.


Nindya melihat ke sekeliling ruang tamu memastikan tak ada lagi siapapun disana.


Pranngg...


Terdengar suara jendela kaca yang pecah.Nindya langsung menengok ke sumber suara.Sepertinya dari jendela belakang.Nindya semakin ketakutan.Ayolah siapapun yang di telfon Deny cepat datang.


Tok..tok..tok..


Suara ketukan di pintu depan.Nindya tak bergerak barang satu jengkal pun.Ketukannya semakin kencang.Membuat air matanya kian mengalir deras.

__ADS_1


Brakkk..


Dobrakan pada pintu depan terdengar keras sekali.Nindya bersembunyi di balik sofa sambil memegang pajangan yang ukurannya tak seberapa.Semoga itu bisa membantunya melawan penguntit yang mengganggunya.


Tak..tak..tak..


Terdengar langkah kaki yang buru-buru.Nindya mengeratkan genggamannya.


"Nindya!" panggil suara yang ia kenal


"Joon!" teriak Nindya saat keluar dari persembunyiannya.Memeluk erat Joon yang datang sebagai penolongnya.


"Mana orang yang dibilang Deny?!" tanyanya


Nindya menunjuk bagian belakang rumah.Melihat sesuatu yang terdengar pecah dari arah belakang.Pecahan kaca berserakan disana dengan lubang pada jendela yang lumayan besar.


"Kamu tahu siapa pelakunya?" tanya Joon khawatir.Nindya menggeleng pelan.Air matanya masih mengalir.


"Kita harus lapor polisi Nin,ini udah kelewatan" usul Joon


Joon benar situasinya mungkin saja semakin memburuk jika ia tak melaporkan ke pihak berwajib.Polisi cepat bergerak.Lima belas menit setelah telfon aduan yang dilakukan Joon mereka segera datang.


Satu mobil dengan dua polisi dan penyidik yang datang.Memberi garis polisi di area belakang.Memotret beberapa sudut untuk di jadikan bukti laporan.


"Anda bisa ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lebih lanjut" ucap polisi yang menangani kasus Nindya


"Baik kami akan menyusul" ucap Joon.Ia memakaikan jaket pada Nindya yang hanya mengenakan baju tidur meski serba panjang.Merangkulnya masuki mobil Joon menuju kantor polisi.


Nindya menceritakan jika pertama kali ia menerima pemberian sepatu saat berbelanja di sebuah mall bersama Gal Hee.Berlanjut dengan bunga yang ia dapatkan di taman.Lalu coklat yang diterimanya saat sedang pemotretan di studio foto.Sms dan telfon dari nomor yang selalu berbeda beda.Dan puncaknya adalah malam ini.Saat ia melihat bayangan lelaki di jendela dapur dan kaca jendela belakang rumahnya yang pecah.


"Terima kasih atas kesaksian kalian.Saya akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut" semua saksi yang berkaitan hadir disana.Termasuk Youngi yang tidak tahu menahu.


Nindya menerima sebotol air mineral dari Joon.Meneguknya sampai tersisa setengah botol.


"Kamu bisa nginep di rumah aku Nin" tawar Gal Hee dan Ji Eun


"Biar dia nginep di rumah aku" ucap Youngi menimpali


"Jangan..jangan.Nindya bakal nginep di rumah aku" tolak Joon mentah mentah.Karena rumah yang di tempati Youngi ada beberapa member lainnya.Terlebih Joon tahu perasaan Youngi pada Nindya.Kalaupun menginap di tempat Gal Hee atau Ji Eun mereka akan dalam bahaya karena lelaki itu bisa saja menguntit Nindya ke rumah mereka.Jadi keputusan terbaik adalah rumah Joon karena ia masih termasuk keluarganya.

__ADS_1


Nindya tampak berfikir.Dimana sebaiknya ia menginap.Dengan kedua wanita itu ia takut membahayakan mereka juga.Dengan Youngi.Aishh itu tidak boleh.Jika dengan Joon ia takut membuat Gal Hee cemburu.Astaga bisakah ia menginap di tempat yang memberinya pilihan terbaik.Jika saja ada Deny ia bisa memilih menginap dengannya.


__ADS_2