
Nindya membuka pintu kamar.Ia lelah sekaligus bosan karena Jin belum juga pulang.
"Sayang" Jin memeluk Nindya dari belakang
"Aku kangen" Nindya membalik badannya memeluk erat Jin
"Hey kenapa kau menangis?" tanya Jin saat air mata Nindya membasahi bajunya
"Jahat"
"Kau marah?" Jin melonggarkan pelukannya agar bisa melihat jelas wajah Nindya
Nindya mengangguk kecil.
Cup
"Lagi?" Nindya bersemu merah
Jin lalu mengajak Nindya untuk duduk di sofa balkok kamarnya.Nindya menaruh kepalanya di dada bidang milik Jin.Ia terus saja bertanya tentang apa saja dan kemana saja Jin saat di California.
Hal yang mereka lakukan selanjutnya adalah saling melepas rindu di ranjang.
Jin menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.Ia sangat lega melihat Nindya tidur dalam pelukannya.
"Kau membuatku tidak bisa mengalihkan pandanganku barang sejenak Nindya" batin Jin
"Selamat malam sayang" Jin mengecup ujung kepala Nindya.
Lima bulan berlalu..
Ting..
Ponsel Nindya berbunyi..
*Rita
Gak pada lupa kan minggu depan acara pernikahan gua sama Evan
*Tari
Males gua mau dateng
*Dian
Iya.Mana dua anak gua gak bisa diem
__ADS_1
*Rita
Awas aja kalo ada yang absen.Gua lemparin bom rumahnya
*Rindu
Sadis wkwk
*Nana
Kita ma pasti dateng
*Nindya
Selow aja gua pasti dateng
Setelah lima tahun kelulusan mereka Nindya masih terus berkomunikasi dengan sahabatnya.
Mereka menjalani kehidupanya masing masing tanpa melupakan pertemanan yang sudah terjalin.
Rita baru saja akan menikah dengan Evan.Dian sudah mempunyai dua anak perempuan.Satu berumur dua tahun dan yang satu masih bayi.Nana sudah bercerai dengan Arya dan punya satu anak laki-laki berusia satu tahun.Tari menikah dengan Putra dan usia anaknya sama dengan anak Nana satu tahun.Rindu?ia masih bertunangan dengan Ryan.
Semua temannya menikah dengan cinta sma mereka.Hanya Nindya yang hubungannya kandas dengan Deny.
Deny??
Berarti jika ia menghadiri pernikahan ia akan bertemu Deny.
Untung saja Jin setuju ikut dengannya.Jika tidak ia bisa saja merasa canggung.
"Semuanya sudah siap tuan" ucap Joshua.
Jet pribadi Jin membawanya dan Nindya ke Indonesia.
Joshua sudah memesankan hotel bintang lima yang paling dekat dengan gedung tempat acara pernikahan Rita dan Evan.
Paginya Nindya sibuk berdandan sekaligus mempersiapkan hatinya jika akan bertemu Deny nantinya.Kenapa jantungnya berdetak tidak karuan seperti ini.
Jin dan Nindya memasuki gedung tempat Rita dan Evan menyelenggarakan pernikahan mereka.Dekorasi yang dipenuhi warna pink dan putih.
"Selamat Rita dan Evan" Nindya menyalami Rita dan Evan bergantian
"Makasih udah mau jauh jauh dateng Nin"
"Apa sih yang enggak buat besti" ucap Nindya
__ADS_1
"Gila Nin.Lu nemu dimana ni oppa.Ganteng parah"
"Gua bilangin ke Evan nih" ancam Nindya
Teman-temannya datang menghampiri mereka berempat.
"Ya ampun Nin kangen banget gua" Dian yang pertama kali memeluk Nindya disusul yang lainnya
"Kenalin ini Jin.Calon suami" Nindya memperkenalkan Jin pada sahabat sahabatnya yang langsung berebut untuk bersalaman
"Temen kamu emang kaya gini?" bisik Jin pada Nindya
"Iya" Nindya terkekeh mendengar pertanyaan Jin.Untung Jin mengerti bahasa Indonesia jadi ia bisa mengerti keseluruhan obrolan mereka.
Nindya meninggalkan Jin bersama sahabatnya untuk ke toilet.
Brukkk
"Maaf.Maaf" ucap Nindya
"Nindya?"
"Maaf apa kita mengenal satu sama lain?"
"Benar kan kamu Nindya?"
"Iya"
"Kenalin aku Michelle pacarnya Deny" wanita itu mengulurkan tangannya.Hati Nindya sedikit sakitĀ mendengar pernyataan itu.Apakah Deny sudah benar benar melupakannya.
"Udah ketemu Deny?" tanyanya lagi
"Belum.Ayo aku kenalin tunangan aku" Nindya memang sudah bertunangan dengan Jin satu bulan yang lalu.Tidak ada perayaan.Hanya pertemuan keluarga saja.Semua itu atas dasar permintaan Nindya sendiri.
"Jadi kamu udah tunangan.Baguslah"
"Kenapa?"
"Engga.Maaf ya gak bisa ketemu tunangan kamu.Mama Deny udah nyuruh pulang" tuturnya
Benarkah?bahkan Deny sudah memperkenalkannya dengan keluarganya.Apa Michelle juga disayang seperti dirinya dulu?
Sudahlah.Nindya berusaha mengusir perasaan itu jauh jauh.
"Kenapa lama"
__ADS_1
"Mules" jawab Nindya asal