
"Tapi.."
"Tidak ada tapi.Tunggu disini aku ada rapat sebentar" Jin berlalu meninggalkan Nindya sendirian diruangannya.
Nindya memandangi ruangan Jin dengan seksama.Tidak ada begitu banyak barang desain ruangannya sangat simpel hanya ada beberapa pajangan dimeja.
--
Paris.
"Ngapain ngikutin?" suara Deny pada gadis yang masih saja mengikutinya
"Galak banget sih?" Gadis itu lalu merangkul lengan Deny
"Lepas" Deny menghentakkan tangannya
"Aww sakit" rintihnya
"Mana yang sakit?" Deny mengamati tangan gadis itu dengan seksama
Cup
Bibir Deny dan Michelle bertemu
"Kamu ngapain?" tanya Deny gelagapan
"Cium kamu lah.Kenapa masih aja nolak aku sih?"
"Cukup Michelle aku gak mau bahas ini lagi" Deny berlalu meninggalkan Michelle seorang diri
"Aku pasti bikin kamu lupain perempuan itu Den" ucapnya pada diri sendiri
__ADS_1
--
Ponsel Nindya berdering.Nomor baru.Siapa?
"Halo"
"Halo sayang" suara wanita paruh baya
"Maaf saya berbicara dengan siapa?" tanya Nindya
"Ini mama sayang" jawabnya
"Mama?"
"Iya mama Mi Yang.Mama Jin" sahutnya
"Maaf tante saya tidak tahu jika ini tante"
"Jangan dibantah ya mama tunggu"
Tutt..tuttt..
Nindya segera bangkit dari sofa.Ia menitip pesan pada sekretaris Jin jika ia akan menemani mamanya berbelanja.
Nindya disambut dengan pelukan oleh Mi Yang.Nindya tersenyum kaku.
"Jangan tegang begitu.Anggap saja aku ini ibumu.Sebentar lagi kamu juga akan menjadi menantu keluarga Park"
"Maaf tante.Sepertinya tante salah paham"
"Tidak tidak jangan panggil tante.Panggil mama oke" Nindya hanya mengangguk.
Mobil membawa mereka ke sebuah mall yang begitu besar.Mi Yang memilih beberapa gaun untuk Nindya tak lupa sepatu dan aksesoris serta yang lainnya.Mi Yang bahkan tidak menghiraukan penolakan yang terus diberikan Nindya.Ia masih saja sibuk memilih semua yang menurutnya bagus.Keduanya lalu makan siang disebuah restoran.Suasananya cukup sepi karena restoran ini hanya khusus untuk member.Banyak hal yang mereka bicarakan.Nindya dengan mudah akrab dengan Mi Yang karena sikapnya yang sangat terbuka pada Nindya.
Setelah dari restoran Mi Yang mengajak Nindya bertemu dengan beberapa temannya untuk diperkenalkan sebagai calon menantunya.Percuma saja Nindya mengelak tidak ada yang menghiraukan.
__ADS_1
Nindya pulang kerumah Jin setelah jam makan malam.Ia sedikit lelah dengan kegiatan hari ini.
"Darimana saja?" suara berat Jin menyambut Nindya saat membuka pintu kamar
"Astaga.Kau mengagetkanku"
"Kenapa kau ada dikamarku?" tanya Nindya balik
"Kau darimana saja?" Jin tidak menghiraukan pertanyaan Nindya padanya
"Mama mu mengajakku bertemu teman-temannya.Parahnya ia mengenalkan aku sebagai calon menantunya" Jin malah tersenyum puas mendengar penuturan Nindya
"Kenapa kau malah tersenyum?"
"Karena aku setuju" ucap Jin cepat
"Hey.Kau tidak bisa berkata sembarangan"
"Sudahlah.Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan air untukmu.Segeralah mandi lalu temui aku ditaman belakang"
"Pemaksa" ucap Nindya lirih
"Karena aku tidak menerima penolakan" jawab Jin yang mendengar perkataan Nindya
Nindya tidak habis pikir dengan kedua anak dan ibu ini.Bisa-bisanya mereka berkata seperti itu dengan mudahnya.Mengatakan jika ia adalah calon menantu keluarga Park.
Sebenarnya Mi Yang sudah mengetahui siapa Nindya.Ia tahu dari Joshua yang beberapa tahun ini selalu mengawasi kegiatan Nindya.
Nindya menenggelamkan seluruh badannya ke bathup.Ia masih memikirkan kejadian putusnya dengan Deny.Tidak.Ia harus secepatnya melupakan Deny.Kakaknya benar.Ia harus terus melanjutkan hidup.
Nindya berjalan ke taman belakang.Ia melihat Jin tengah duduk di bangku taman.
"Kupikir kau sudah kembali ke kamar" ucap Nindya yang kini duduk bersebelahan dengan Jin
"Sudah kubilang aku menunggumu.Tidak mungkin aku mengingkari ucapanku"
"Ada apa?kenapa memintaku kemari?"
"Tidak ada" Jin merebahkan kepalanya dipangkuan Nindya
"Kau ini" Nindya hendak bangun tapi ditahan oleh Jin
__ADS_1
"Diam.Aku akan menceritakan kebenaran padamu"
"Kebenaran apa?"