Ruang Hati

Ruang Hati
Season tiga - bagian 9


__ADS_3

Jangan lupa like,komen dan subscribe ya sayy biar authornya semangat..


Selamat membaca..


Semoga suka ♡♡♡


----


"Kenapa gua yang kena imbasnya?" tanyanya bingung


"Bayarin ya babang gemes" gaya manja Jessie sebelum menarik Maya mengikuti langkahnya meninggalkan kantin.Berjalan cepat saat melewati Ardit yang sedang makan seorang diri.


Selepas Jessie melewatinya ia meletakkan sendok.Kembali ke kelas mengikuti Jessie dari belakang.


Entah kenapa Jessie merasa tengkuknya dingin.


"Napa Jes?" tanya Maya


"Merinding gua,cepetan yuk" Jessie menggandeng Maya berjalan lebih cepat


Di belakangnya Ardit tersenyum sekilas.Menatap Jessie yang berjalan buru buru.


Ia berhenti sejenak di depan pintu kelas,mendehem lalu melangkah masuk.Siswi di kelasnya memulai gosip lagi.Mungkin sebagian dari mereka sudah tahu jika ia adalah pewaris keluarga Pahlevi.Menyebalkan batinnya.Kemanapun ia sekolah semua orang selalu melihat dari statusnya.


Ardit menyilangkan kakinya saat duduk di bangku.Memperhatikan keluar kelas saat Ken dan teman temannya melintas.


Tok..tok..


Jendela kaca yang disebelah Jessie diketuk oleh Doni.Jessie menengok sesaat lalu menutup sebelah mukanya dengan buku paket.


Tak lama berselang seorang siswa perempuan dari kelas lain menghampiri Jessie.Jessie menoleh pada Ardit yang juga melihatnya.Sejenak berdiskusi dengan Maya lalu ia pun berjalan menghampiri Ardit.


"Kenapa!" tanya Ardit ketus.Raut muka Jessie masih masam


"Disuruh ke ruang administrasi ngambil seragam" ucapnya yang hendak berlalu pergi


"Mana gua tau ruang administrasi sebelah mana!" Ardit masih duduk di bangkunya


"Bilang kalo pengen dianter,gak usah sok kode kodean" Jessie berjalan mendahului.Diikuti Ardit yang berada di belakangnya berjalan melewati beberapa kelas.


"Lemot amat sih jalan" gerutu Jessie saat melihat Ardit jauh dibelakangnya


"Lu aja yang jalannya kayak diuber tukang kredit!" Ardit menjawab sewot


Jessie kembali meneruskan langkah.Bergumam tidak jelas sepanjang koridor sekolah.Langkahnya terhenti didepan ruangan bertuliskan ruang administrasi yang terpampang jelas.Ardit yang dibelakangnya ikut berhenti.Lalu Jessie pergi begitu saja,meninggalkan Ardit tanpa berkata sepatah katapun.


Ardit melangkah masuk tanpa mengetuk pintu.Masih tetap diam saat staff menatapnya bingung.Melihat seragam Ardit yang berbeda dari murid disekolah itu ia lantas memberinya seragam sekolah yang baru.Setelah menerima seragam ia pun keluar ruangan tanpa mengucap terima kasih atau apapun.


Sifat Ardit yang acuh dan terkesan sombong membuat staff administrasi mengoceh karena sikapnya yang tidak sopan.


Ia berhenti di depan ruang seni.Melihat beberapa murid yang sedang ada kelas lukis.Saat guru pengajar menoleh ia segera melanjutkan langkahnya lagi.

__ADS_1


Kelas berisik sekali.Sepertinya dua jam terakhir tidak ada kelas alias jam kosong.Ardit duduk di bangkunya yang ia tempati sendiri.Sekilas menengok Jessie yang menaruh kepalanya di meja.Melihat posisinya ia sudah tahu jika gadis itu tengah tidur.


"Bisa bisanya ia tidur di dalam kelas yang berisik!" gumam Ardit pada diri sendiri.Kembali fokus pada layar ponsel yang masih menyala.


Semua murid bubar saat bel pulang sekolah berbunyi.Maya masih menggoyang goyangkan bahu Jessie yang tak kunjung bangun.


"Jess..bangun" ucap Maya yang kesekian kalinya


"Apa sih?" tanyanya kesal sambil menghapus air liur yang tidak ada


"Jijik!" olok Maya yang duduk disebelahnya


"Udah balik?" tanya Jessie mengamati kelas yang berangsur sepi


Maya hanya mengangguk.Membantu Jessie merapikan peralatannya.Ardit melewati bangku Jessie.


"Kayaknya idup gua bakal terancam mulai sekarang" gumam Jessie tidak jelas,meski begitu Maya bisa mendengarnya


"Kesambet lu?" tanyanya memasukkan buku terakhir kedalam tas Jessie


"Noh malaikat maut!" Jessie menunjuk Ardit dengan ekor matanya


"Mampus lu Jess orangnya nengok!" umpat Maya yang langsung pura pura sibuk saat Ardit menoleh.Jessie pura pura menelfon mamanya


"Oh iya ma..ini Jessie mau pulang" ucap Jessie dengan suara lantang


Ardit berbalik arah.Mengetuk kaca jendela dekat Jessie.


"Jangan berisik nyokap gua telfon!" Jessie memelototi Ardit.


Jessie langsung mengeceknya.Ya Tuhan.Bagian belakang ponsel yang malah ia tempelkan di kuping.Setelah mengatakan itu Ardit meninggalkan Jessie yang malah terlihat bingung.Berjalan sambil menahan senyum melihat kekonyolan Jessie.Tawa Maya langsung meledak saat Ardit berbelok diujung kelas.


"Njirrr ngakak gua" Maya memegangi perutnya yang terasa sakit


"Gausah ngomong.Gua juga tau kalo lu ngakak!" sahut Jessie yang berdiri membawa ranselnya.


Jessie mencuci mukanya di toilet.Maya mengikutinya dengan tawa yang belum juga reda.Jessie membasuh mukanya,tiga kali empat kali Jessie masih kesal.


"Pengen gua lelepin palanya ke ember.Sumpah!" ucap Jessie berapi api


"Udah..udah" Maya berusaha meredam emosi Jessie.Lupa jika ia masih menertawakan kekonyolan temannya.


"Tuh pala lu udah keluar asep.Jangan marah marah mulu" Maya menepuk pundak Jessie berulang kali


"Yuk balik gua anterin" tawar Maya


"Kaga lah mau naek angkot aja" tolak Jessie


Keduanya keluar dari toilet.Menuruni tangga sambil mengobrol hal yang tidak bermanfaat.


Jessie melambaikan tangannya saat berpisah dengan Maya yang berjalan menuju parkiran.Ia bertemu murid kelas lain.

__ADS_1


"Tut,naik angkot?bareng ya" ucapnya


Gadis itu menoleh.Mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Jessie menuju depan sekolah.


Tuti menyetop angkot yang melintas.Masuk kedalam dan duduk di bangku paling ujung saling berhadapan.


"Jangan tidur Jes,ntar kebablasan lu" Tuti menegur Jessie yang sudah mulai menyandarkan kepalanya di kaca


"Kan ada lu" sahut Jessie santai


"Ogah gua bangunin lu" sahutnya


"Sue lu" gerutu Jessie yang kembali duduk tegak


"Gausah gitu juga kali duduknya" komentar Tuti saat melihat Jessie duduk tegak layaknya sekretaris profesional.Jessie nyengir lebar lalu merenggangkan punggungnya yang terasa pegal duduk seperti itu meski hanya sesaat.


Ardit melihat Jessie yang duduk di angkot.Berkicau sejak beberapa menit yang lalu tanpa henti.Cerewet sekali batinnya,meski ia sendiri tak mungkin mengerti apa yang diobrolkannya dengan gadis didepannya.


Tinnnn....


Ardit mengklakson panjang dibelakang angkot.Jessie dan Tuti yang kaget serempak menoleh kebelakang.


Tinnnn....


Klakson panjang lagi sebelum Ardit melewati angkot yang ditumpangi Jessie.


"Dasar orang kaya!jalan lebar begini masih aja klakson klakson" gerutu supir angkot


"Kejar aja mang tabrak mobilnya!" Jessie mengompori mamang supir angkot saat tahu itu mobil Ardit


"Nyebut neng nyebut " mamang supir menasehati layaknya orang tua.Kenapa malah jadi dia yang emosi pikir mamang supir.


"But..but.." Jessie menirukan beberapa huruf terakhir


"Somplak lu Jes" Tuti heran dengan temannya yang satu ini.Setahu Tuti mama Jessie terbilang anggun dan lemah lembut.Kenapa anaknya bisa seperti ini.


"Lu ngebatin nyokap gua ya?" tanya Jessie tepat seperti yang dipikirkan Tuti


"Apaan sih" kilahnya


"Percaya sama gua Tut.Nyokap gua gak seperti apa yang lu bayangin" Jessie menasehati penuh keyakinan seperti sales yang menawarkan panci ke ibu ibu


"Kalo nyokap gua punya anak kaya lu ma udah ditukerin nasi goreng lu Jes" berteman dengan Jessie membuat kalimat Tuti semakin sembarang setiap bertemu.


Jessie turun bersamaan dengan Tuti.Namun perumahan mereka berseberangan.


"Tut" ujar Jessie


"Napa?" tanya Tuti bingung


"Nyebrangnya pake kaki" ucap Jessie dengan santainya

__ADS_1


"Lu pikir" Tuti menyahut kesal


Jessie malah cekikikan melihat raut wajah Tuti.Setelah melambai Jessie memasuki perumahan.Menyanyikan lagu Thailand yang liriknya terserah Jessie.


__ADS_2