Ruang Hati

Ruang Hati
Season Tiga - bagian 14


__ADS_3

Jangan lupa like,komen dan subscribe biar authornya makin semangat..


Selamat membaca semoga suka ♡♡♡


---


"Lagi ya nih May tu anak gua suruh balik ke bangkunya kaga mau coba" ungkap Jessie


"Ciee.." Maya menggoda Jessie


"Kaga ada cie-nya ini ma.Yang ada gua beneran apes May" tukasnya


"Rasanya May pengen murka gua!" ucap Jessie yang duduk bersila didekat Maya.Sembari mencakar-cakar udara didepannya.


"Kenapa lagi sih?" Maya tidak tahu kejadian apalagi yang membuat sahabatnya ini lebih malu.Yang tadi saja ia sudah tak sanggup membayangkannya.


Ia jadi merasa kasihan tapi sayang kalo gak diketawain,kira kira gitulah yang ada di pikiran Maya.Meski ia berdosa menertawakan Jessie yang ketiban sial bertubi-tubi.


Sabar Jess besok gua pasti masuk,ucap Maya dalam hatinya.


"Muka gua nih May muka gua!" Jessie menunjuk mukanya sendiri.Mukanya memerah,tidak salah lagi ia kesal bukan main.


"Masa muka gua dicoret-coret pake spidol!Gimana nasib gua kalo itu spidol permanen May?" kejadian hari ini memang terlalu memalukan.Tapi untung saja ia sedikit terselamatkan karena kejailan Ardit tidak separah itu.


"Serius?" tanya Maya


"Mana kaga ada yang ngasih tau gua May.Gua ma cuek aja diliatin orang-orang" tapi instingnya mengatakan jika ia perlu ke kamar mandi.Dan ternyata benar saat ia berkaca di toilet.Mukanya sudah tak karuan.


Di dalam toilet ia berteriak kencang memaki nama Ardit berkali-kali.Masa bodoh dengan tatapan siswi yang menatapnya aneh di toilet.Kepalanya serasa seperti gunung berapi yang erupsi berkali-kali.


Maya sampai menyeka air matanya.


"Tau gak lu ada yang nyebarin video gua pas nyanyi lagu Thailand itu May" Jessie membenamkan wajahnya dibantal yang sedari tadi ia pangku.Kesialan yang tiada habisnya!


"Sumpah demi apa?!" Maya sampai merubah posisinya duduk tegak


"Rasanya gua pengen nyelem diantara cendol-cendol mang Jaya yang desek-desekan di kuali!" Jessie gantian bersandar setengah melorot di tembok


"Cupp..cupp..kasian anakku" Maya menepuk pundak Jessie,lalu merentangkan kedua tangannya seolah hendak memeluk Jessie.


Jessie tahu jika ia hanya diledek.


Untuk sekolah besok rasanya ia sudah tak sanggup.


Bisa jadi karena ia sering jahil pada teman satu kelasnya mereka dendam.Apa Ardit yang mulai menghasut mereka untuk melakukan pembalasan massal.


Pikiran-pikiran jahat Jessie terus mendominasi.Si peri yang biasa membujuknya seolah setuju dengan hasutan yang dibisikkan devil pada Jessie.Ardit kelewatan.


----


Karena sudah ijin mamanya Jessie pulang selepas magrib.Jika ia cerita pada mamanya ia malah yakin akan ditertawakan pula.Ah mamanya memang selalu begitu.


Tapi Jessie senang karena dengan orang tuanya ia bisa menceritakan apapun.Termasuk isi hatinya sekalipun.


"Muka lecek amat Jes" sapa Mamanya saat melihat Jessie menopang dagu sambil menonton tv.Nindya duduk disebelahnya membawa keripik pedas.


"Masalah abg ma" sahut Jessie menyomot keripik dari toples yang dipangku mamanya


"Yaudah kalo gak mau cerita"


"Mending nonton drakor atau film Thailand" usul mamanya yang langsung diiyakan oleh Jessie


Sampai Deny pulang kerja saja mereka masih betah duduk didepan tv.Menangisi kisah fiktif yang dilebih-lebihkan.

__ADS_1


"Ya ampun,dua manusia ini" keluh Deny melihat tisu yang berserakan.Deny tak habis pikir kenapa sifat Jessie menurun dari mamanya semua,lebih parah sepertinya.


"Eh papa" Nindya yang baru sadar suaminya pulang langsung menyambutnya


"Jessie ambilin papa minum" secepat kilat Jessie langsung menuju dapur.Membawa air dingin beserta botolnya.


Anaknya itu,sengaja cepat-cepat karena tak mau ketinggalan adegan walau hanya beberapa detik.


"Mama siapain air buat mandi ya pah,abis itu kita makan malem" ucap Nindya membawa tas laptop dan jas ke kamar.Jessie menoleh ke papanya yang bersandar pada sofa.


"Mama bulan depan jadi ke Korea pah?" tanya Jessie yang sudah hapal kebiasaan mamanya setiap tanggal di bulan yang sama.Menghadiri peringatan kematian Jin yang sudah delapan belas tahun lamanya.


"Papa juga ikut,sekalian ke Paris abis itu" jawab Deny meneguk air dingin


"Hemm..ya deh" ia tidak mau merengek karena tidak diajak orang tuanya


----


Seperti biasa di hari minggu Jessie akan membantu bi Yuni membersihkan rumah.Merawat tanaman hias dirumahnya.


Meski ia bukan gadis feminim tapi Jessie selalu suka melakukannya.Terasa ada kepuasan tersendiri melihat tanaman hias di rumahnya terlihat cantik.


"Mang Diman pergi ya Non?" tanya bi Yuni yang menghampiri Jessie di depan rumah


"Iya bi.Ada yang perlu diangkat?" tanya Jessie yang paham


"Air galon non" merasa tidak enak pada anak majikannya ini


Jessie mengikuti bi Yuni ke dapur.Menurunkan galon kosong dari dispenser lalu menggantinya dengan yang masih penuh.


"Aduh non bibi jadi takut non Jessie turun peranakan" keluhnya


"Kaga lah bi,strong gini akunya" jawab Jessie lalu kembali ke teras


"Berat njirrr" gumamnya pelan memegangi lengan setelah pergi dari dapur.Jessie selalu begitu,tidak tega melihat bi Yuni keropotan.


---


Samar-samar ia bisa mendengar derap langkah kaki.Siapa pikirnya.


Tok..tok..tok...


Ketukan di pintu kamarnya terdengar jelas sekali.Ardit mengerjapkan matanya,mengusap kasar rambutnya karena merasa terganggu.Dengan langkah gontai ia membuka pintu kamarnya.


"Kenapa?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur


"Tuan besar sudah menunggu tuan muda di restoran biasa tuan" ucap sekretaris Eri


"Apa dia tidak bisa menyampaikannya padamu" Ardit menaruh tangannya menghalangi di pintu


"Silahkan tuan muda bersiap.Saya akan menunggu di lobby" ucapnya sebelum berlalu pergi


Ardit berlalu ke kamar mandi.Percuma ia menolak,ia tetap akan dipaksa untuk menemuinya.


Setelah satu jam ia turun,sengaja berlama-lama agar ia yang datang belakangan.


Eri berjalan mendahului Ardit.Membukakan pintu mobil sebelum Ardit sampai di mobil.Setelah tuan mudanya itu masuk barulah ia duduk di belakang kemudi,mengantar Ardit menemui papanya.


Selama perjalanan ia lebih diam.Toh meski ia bertanya padanya lelaki itu tak akan membocorkan apapun.


Kedatangan Ardit memang sudah ditunggu.Eri berjalan memutari mobil,membukakan pintu mobil seperti biasa.Saat sampai di depan restoran pelayan membukan pintu lalu menyapanya ramah.


"Selamat datang tuan muda" sapa empat pelayan yang berdiri di pintu masuk.

__ADS_1


Restoran mewah itu memang milik keluarganya.Meski begitu ia tak bangga sama sekali.


"Duduk lah" ucap papanya Aidan Pahlevi.Ardit menurut duduk.Hidangan pembuka sudah dipilihkan oleh papanya.


Hubungan mereka memburuk sejak mamanya bunuh diri karena mengetahui suaminya selingkuh,dan semenjak itu Ardit jadi membencinya.Meski berulang kali ia mengucap maaf dan sesal.Lagipula orang yang harusnya menerima ucapan maafnya sudah tiada.


"Kata Eri sekolahmu berjalan lancar" papanya mulai mengiris steak.Berusaha membuat suasana tidak canggung.


"Untuk apa bertanya jika sudah tahu" sahut Ardit ketus.Malas sekali jika ia harus berbasa-basi.


Aidan meletakkan pisau dan garpunya.Menarik napas berat melihat kebencian yang menggunung dihati anak semata wayangnya ini.


"Ini sudah satu tahun Dit"


"Sampai kapan kamu akan membenci papamu sendiri" suaranya terdengar penuh penyesalan dan tertekan.


Gerakan tangan Ardit terhenti.Ia tahu alasan papanya memindahkan sekolahnya kesini karena ingin membuktikan penyesalannya.


"Sampai akhir hidup saya" ucap Ardit yang bangkit dari kursinya.Berjalan penuh emosi dan mengabaikan panggilan papanya berulang kali.


Eri tahu mereka akan selalu berakhir seperti ini saat bertemu.Ia sudah berdiri di samping mobil.Membuka pintu sebelum mendapat perintah.


Bonus!!!



bangku nomor tiga sebelah kanan,deket jendela.



pinggir lapangan tempat Jessie sama yang lain ngumpul



tempat Ardit pingsan kena bola yang ditendang Jessie



taman belakang sekolah,anggep aja ada mejanya



perpustakaan



uks



ini koridor utama sekolah



koridor depan kelas Jessie



kantin



anggep aja halte tempat biasa Jessie nunggu angkot

__ADS_1


*Author : ayo dong kasih like sama komen banyak-banyak biar makin semangat..


salam sayang dari author ♡♡♡


__ADS_2