Ruang Hati

Ruang Hati
Season tiga - bagian 12


__ADS_3

Jangan lupa kasih like,komen dan subscribe ya.Biar author makin semangat..


Selamat membaca semoga suka ♡♡♡


---


Bel istirahat berbunyi.Jessie dan Maya yang hendak kekantin berpapasan dengan Oktav didepan kelasnya.


"Kantin,Nong?" tanya Oktav


"Iya nih" sahut Jessie


Ketiganya ikut bergabung dengan Ken dan yang lainnya.


"Dedek gemes makan apa?" siapa lagi jika bukan Doni yang bertanya saat Jessie duduk didepannya


"Siomay bang" sahutnya


"Jangan abang,kakak aja" tawarnya yang masih mengamati Jessie


"Enek gua dengernya!" ucap Maya


"Napa May cemburu lu ya?" tanya Dimas disela makannya


"Idih" Maya bergidik ngeri


"Dedek gemes mau kakak pesenin lagi gak?" Doni kembali bertanya


"Don" Ken akhirnya membuka suara melihat tingkah temannya itu


"Iya Ken iya gua diem" Doni pun tak banyak bicara lagi jika Ken sudah menegurnya.


Kedatangan Ardit di kantin membuat semua mata siswi memandangnya.Setiap harinya ia selalu duduk sendiri.Seperti menjaga jarak dengan beberapa murid yang mencoba mendekatinya.


"Tuh anak ya,makin hari makin jadi" ujar Doni tiba-tiba


"Ngomong apa sih Don" sahut Dimas tak paham


"Tuh anak baru,fansnya makin banyak aja"


"Sirik lu Don?" kini Oktav yang menyahut


"Makanya oplas biar ganteng" ejek Dimas


"Gantengan juga Ken" Ken yang sedang minum es teh sampai terbatuk-batuk


"Baper lu ya?" Maya menimpali dengan tawanya.


Reaksi Ken tadi membuat Dimas dan Oktav saling pandang.Lewat matanya Dimas seolah berkata,bener kan apa kata gua.


Bella yang tadinya hendak bergabung mendadak menghentikan langkahnya mendengar ucapan Maya.Senyumnya yang tadi mengembang langsung lenyap.Ia segera berbalik arah mencari meja yang lain.


"Punya mata gak sih lo?" bentak Rania yang ketumpahan kuah bakso


"Sorry Ran gua gak sengaja" ucap Bella lalu menaruh mangkoknya dimeja terdekat.


Rania menepis tangannya saat Bella ingin membantunya membersihkan seragam.


"Kamu gak apa apa?" tanya Ken menyentuh pundak Bella.Ia menatap Bella yang masih menunduk,melihatnya seperti ini ia paham jika gadia itu sedang menahan air matanya.


"Aku yang kesiram Ken bukan dia!" Rania menunjuk Bella.Nadia ikut membenarkan ucapan temannya itu.

__ADS_1


"Jangan keterlaluan Ran,bukannya Bella juga udah minta maaf" Ken menatap Rania tajam.


"Gak apa-apa Ken,Rania bener aku yang salah" Bella menarik lengan Ken agar ia tidak emosi.Sebenarnya bukan karna bentakan Rania yang menyakitinya.Tapi lebih kepada saat ia menyadari ada yang lain dari tatapan Ken ketika memandang Jessie.


"Gua anter ke kelas lu" ajak Ken pada Bella.Sebelum pergi ia mengahampiri meja Oktav untuk membayarkan makanannya dulu.


Menoleh pada Jessie yang tetap melanjutkan makannya tanpa menoleh saat ia menghampiri mejanya.


Sejauh ini Jessie memang menyukai setiap perhatian Ken padanya.Tapi hanya sebatas suka saja,bukan karena memendam perasaan.


Setelah mengantar Bella sampai didepan kelas ia pamit.Kembali ke kantin untuk memastikan apa Jessie masih disana.


"Balik lagi lu?" tanya Dimas yang heran.Ia pikir Ken akan menemani Bella selama beberapa saat.


"Barusan pergi Jessie nya" sahut Oktav yang mengerti alasan Ken kembali ke kantin


"Emang kenapa Jessie?" Doni yang masih belum paham


"Udah Don mending lu makan lagi nih baksonya" Dimas menusuk bakso yang ada di mangkok Doni.Menyuapinya langsung agar ia tidak bertanya lebih jauh.


Sudah setengah jam Jessie duduk sendirian di halte depan sekolah.Sibuk dengan kamera yang ada di tangannya.Hari sudah sore saat ia pulang ekstrakurikuler fotografi.Sahabatnya Maya juga sudah pulang sejak tadi.Namun Jessie masih betah berlama lama disana.


Jessie melirik jam tangannya,hampir jam empat sore dengan cuaca mendung.


"Mampus gua!" umpatnya saat tidak menemukan uang di sakunya.


Rintik hujan perlahan mulai turun.Persis seperti hatinya yang gerimis kehilangan ongkos pulang.


"Pulsa gak ada,paket gak ada.Ini gimana gua pulangnya" meratapi nasibnya yang apes


Tinnn..


"Apa lu?" tanya Jessie dengan kesal saat Ardit membuka kaca mobilnya.Disaat seperti ini kenapa malah dia yang datang.


"Butuh tumpangan?" tanyanya


"Gua tau lu gak punya ongkos" ucapan yang tepat sekali dengan keadaannya sekarang.Jessie jadi merinding,kenapa ia bisa tahu.


Sore yang mendung mendadak terang karena kilatan di langit.Disusul suara petir yang keras.


"Mama!" Jessie menutup kupingnya


"Buruan!" Ia tak punya pilihan selain menumpang mobil Ardit.Mengesampingkan fakta betapa menyebalkannya lelaki satu ini.


Ardit menyungging senyum.Ternyata ada juga yang bikin nih anak takut,ucapnya dalam hati.


Senyumnya kian melebar saat melihat Jessie berubah menjadi pendiam seketika.Kenapa ia jadi merasa aneh.


Dilain tempat yang sudah hujan lebat.Dua remaja sedang berteduh di salah satu ruko.


Sudah seminggu sejak kedekatan mereka.Seperti biasa Oktav akan mengantar Maya pulang sekolah.Dan Jessie tidak punya kesempatan nebeng Maya saat pulang ektrakurikuler seperti ini.


"Jessie udah pulang belum ya" ucap Maya ditengah derasnya hujan.Oktav memalingkan wajahnya pada Maya.Mentap kagum karena ia begitu peduli dengan sahabatnya.Hal ini lah yang membuatnya tertarik pada Maya.


"Coba telfon" telat Maya sudah menemempelkan layar ponsel ke telinganya.


"Tutt..tutt...tutt.."


"Jessie!" teriak Maya kesal saat Jessie menjawab telfonnya menirukan sambungan terputus.Oktav  tertawa pelan disebelahnya.Apalagi yang dilakukan Jessie sampai Maya setengah berteriak.


"Apaan may?" tanya Jessie dengan lagaknya yang santai sambil menyandarkan kepalanya di kaca mobil.Disebelahnya Ardit tetap fokus menyetir.

__ADS_1


"Lu masih di halte? apa lagi di angkot? Tuti udah pulang ya?" Maya memberondong Jessie dengan berbagai pertanyaan


"Lagi dijalan gua?" sahutnya yang mulai menguap.Cuaca dingin ditambah rintik hujan sangat mendukung untuk membuatnya tidur sembari bersandar di kaca mobil.Ardit yang disebelahnya masih fokus menyetir.


"Sama.." belum juga Maya menyelesaikan ucapannya ponsel Jessie sudah mati.Lowbat.


Ia menaruh ponsel kedalam tas.Meniup kaca mobil sampai mengembun.Ardit masih belum sadar dengan kelakuan Jessie.Lapar.Tulis Jessie di kaca mobil.


Ardit menurunkan Jessie didepan rumahnya.Ternyata Jessie malah tertidur.


"Ni anak gak bisa nyender dikit ya.Tau-tau udah molor aja" gumamnya pelan.


Lagi tren apa gimana sih?cewe cantik tapi otaknya rada geser,batin Ardit.


Ia membiarkan saja Jessie yang masih tertidur.Hampir satu jam lamanya,hujan sudah berhenti beberapa saat yang lalu.Melihat Jessie bergerak Ardit menghela napas lega.Akhirnya ia bangun juga.


"Udah sampe?"  ucapnya sambil mengucek matanya


"Makasih Dit" Jessie mengambil kameranya.Menarik dirinya keluar mobil meski masih mengantuk mengantuk.


"Hemmm" jawabnya


Ardit belum menyalakan mesin mobil.Masih mengamati Jessie yang berjalan dengan sempoyongan.


Dugg..


Kepala Jessie terantuk tiang.Kesadarannya langsung pulih karena rasa sakit.Jessie menoleh,melihat mobil Ardit yang masih terparkir didepan rumahnya.


"Yakin gua tu anak pasti ketawa ngakak" Jessie bergumam sendiri


Dan benar tebakan Jessie.Ardit tertawa puas melihat kekonyolannya.Setiap hari ada saja kelakuannya yang membuat dia tertawa lepas.


Ia menyalakan mesin mobil menuju apartemen.Kembali ke tempat dimana ia sendiri dan sepi.


Sedangkan dibalik jendela Jessie mengintip sampai Ardit pergi.


"Astaga!" ucap Jessie yang terkejut dengan posisi merapat pada jendela seperti cicak.Kaget melihat mamanya yang memakai masker hitam pekat meski masih sore.


"Mama bikin jantungan aja" Jessie mengelus dadanya.Beruntung jantungnya masih terselamatkan.


"Shiyapha?" Nindya bergumam menanyakan siapa yang mengantarnya pulang


"Temen ma" sahutnya


"Yaudah Jessie mau mandi dulu ma" pamitnya sebelum diberondong berbagai pertanyaan keramat.Lebih baik menghindar untuk menyelamatkan diri.



ini Oktav pas nganterin Maya pulang



ini Jessie (maaf burem)



Ardit yang ngasih tebengan



Ken yang balik lagi ke kantin nyariin Jessie

__ADS_1


__ADS_2