
"Pake acara mati lampu segala sih.Untung aja gua bawa hape" Nindya berbicara pada dirinya sendiri.
Nindya mengarahkan cahaya dari ponselnya untuk mencari lilin sebagai penerangan.Untung saja ia masih menemukan dua lilin,setidaknya mungkin cukup sampai jam lima pagi.Nindya beralih membuka laci lain mencari korek gas,setelah itu mengambil satu botol air untuk dibawa ke kamar.Sebenarnya Nindya takut gelap namun ia berusaha memberanikan diri mengusir segala pikiran buruk dan bergegas kembali ke kamarnya.Saat ia sedang mencoba menyalakan lilin,ada yang memegang pundaknya dari belakang.Nindya tidak berani menoleh,bukan takut kalo yang memegangnya hantu.Jika hantu ia bisa saja membaca do'a untuk mengusirnya.Tapi bagaimana jika itu perampok,ia harus melawan dengan apa.
"Nin" Nindya mengenali suara itu
"Lu dari kapan disini?" tanya Nindya sembari menghela napas
"Barusan.Gua pikir lu takut makanya gua buru-buru kesini" jawab Deny
"Lu jalan gada suaranya sih.Hampir aja gua jantungan karna kaget.Gua pikir lu perampok"
"Iya gua mau ngerampok hati lu" jawab Deny
"Garing banget lu Den" Nindya malah tertawa,lelucon yang sebenarnya mengungkapkan isi hati Deny yang tidak dipahami Nindya
"Mau gua temenin tidurnya?" tanya Deny
"Apaan sih lu"
__ADS_1
"Jangan kepedean dulu.Maksud gua lu tidur dikasur gua di sono" sambil menunjuk sofa
"Gua minta temenin mbak laras aja"
"Gak bakal nyesel nih nolak gua?" goda Deny
"Udah buru.Panggilin mbak laras" Deny berlalu memanggil mbak laras untuk menemani Nindya tidur malam ini.Paginya listrik baru bisa digunakan karena ada konsleting di gardu listrik.Nindya bangun kesiangan karena ia semakin susah tidur saat minim cahaya.Untung saja tanggal merah jadi ia tidak perlu buru-buru sekolah.Berbeda dengan Deny yang sudah wangi karena sudah mandi sejak pagi.Ia terpaksa beranjak dari kasurnya karena Deny terus saja mengusik agar cepat mandi.Selesai Nindya mandi Deny masih duduk disofa kamarnya sambil memegang kamera.Tanpa disadari oleh Nindya diam-diam Deny mengambil beberapa fotonya.Hal itu ia lakukan bukan cuma sekarang atau kejadian di perputakaan dulu.Terkadang Deny memang mengambil foto Nindya tanpa ia sadari.Bukan cuma foto saat Nindya terlihat cantik seperti model tapi saat paling konyol Deny juga menyimpannya.
"Cepet amat lu mandinya.Lu mandi apa gosok gigi doang.Masuk lagi sono mandi dulu" Deny menyecar Nindya dengan berbagai prasangka
"Rese lu.Gua ma kalo mandi cepet gak kayak lu yang mandi aja ampe sejam lebih.Itu artinya gua gesit" gerutu Nindya
"Mau ngapain lu?" tanya Nindya saat duduk disofa
"Ganti perban lu.Emang lu maunya gua apain?" Deny berbalik tanya pada Nindya
"Gua pikir lu mau nyium ketek gua yang wangi"
"Dasar jorok lu Nindya.Kesiniin kaki lu" Deny menarik kaki Nindya ke pangkuannya.Perlahan membuka perban yang dibarengi suara Nindya menahan sakit.Jantung Nindya seperti mau keluar dari sarangnya karena lagi-lagi berada sedekat ini dengan Deny.
__ADS_1
"Jangan perhatian gini,Den.Gua gampang baper kalo sama lu" batin Nindya
"Janji sama gua Nindya kalo lu gak bakal terluka kayak gini lagi.Jangan bikin gua kawatir" batin Deny.Deny bahkan ikut menahan nafas saat ia memberi refanol pada kaki Nindya.Seakan ia bisa merasakan sakitnya seperti halnya yang Nindya rasakan.
Setelah selesai mereka berdua berlalu ke meja makan yang disana sudah ada mama dan papa Deny.Nindya merasa canggung karena ia baru pertama bertemu ayah Deny.Namun sikap hangat yang ditunjukkan ayah Deny membuat Nindya sedikit merasa lega.Kenapa Deny tidak bilang jika ayahnya akan pulang hari ini.Jika tau setidaknya ia bisa bangun lebih awal untuk memberikan kesan pertama yang baik saat bertemu ayahnya.
"Kaki kamu masih sakit sayang?" tanya mama Deny saat duduk diruang tamu selesai makan
"Lumayan tante" jawab Nindya
"Kamu gimana sih Den bukanya dibawa ke dokter lagi Nindya nya" sahut papa Deny
"Tanya Nindya nya pah mau gak?" jawab Deny
"Ini juga udah mendingan kok om"
"Kalo butuh apa-apa bilang sama mbak laras.Jangan dikerjain sendiri ya" tambah papa Deny
"Iya om makasih.Maaf udah ngerepotin"
__ADS_1