Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 1


__ADS_3

Welcome to Season Dua Ruang Hati ๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰


Langsung aja yakk..


----


Semua pelayan berkumpul didepan pintu untuk menyambut tuan muda dan nyonya muda yang baru saja resmi menikah beberapa jam lalu.


"Silahkan tuan" Joshua membukakan pintu mobil untuk tuan nya


"Ayo sayang" Jin meraih tangan Nindya agar tak kesulitan keluar dari mobil


"Kemana sepatumu?" tanya Jin saat melihat kaki Nindya yang telanjang


"Oh..itu disana" Nindya menunjuk sepatu yang ia gelatakkan di dalam mobil.


Para pelayan terlihat menahan tawa dengan tingkah nyonya mereka yang tak pernah berubah


"Apa yang kau lakukan Jin" Nindya setengah berteriak saat Jin membopong tubuhnya memasuki rumah.Ia malu karena semua pelayan saling berbisik dibelakang mereka.


Dua orang pelayan mengikuti mereka menuju kamar utama.Membantu Nindya untuk melepaskan gaunnya yang sedikit membuatnya kesulitan untuk berjalan.


"Nyonya cantik sekali" puji salah satu pelayan


"Kau ini bisa saja" Nindya tertawa sambil menepuk bahu pelayan


"Astaga.Kenapa tenaga nyonya muda besar sekali" batin pelayan yang mendapat tabokan di bahunya


"Mari nona" pelayan yang satunya sudah menyiapkan air hangat untuk Nindya mandi


"Kalian istirahatlah.Aku bisa melakukan sisanya sendiri" tutur Nindya


"Tapi nyonya.." jawab mereka kompak


"Tidak apa" Nindya meyakinkan mereka agar keluar dari kamar mandi tanpa ragu


Nindya berendam cukup lama sampai tak terasa ia ketiduran karena memikirkan raut wajah Deny saat di pernikahannya.


Jin yang masuk ke kamar mandi dan melihat Nindya yang ketiduran langsung membawanya ke kamar dan mengganti pakaiannya.


"Apa kau memikirkannya?" gumam Jin pelan saat melihat raut wajah Nindya yang tidur dengan nyenyak


-----


Sinar matahari menerobos masuk saat Nindya membuka gorden di kamar mereka.Merasa terganggu dengan sinar matahari pagi Jin segera membuka matanya dan mencari keberadaan Nindya.


"Dasar" ia tersenyum karena yakin Nindya sengaja membiarkan cahaya masuk.


Terdengar gemericik air dari kamar mandi.Jin yakin Nindya belum selesai dan ia bergegas untuk segera menyusulnya.


"Aduh!" erangan keluar dari mulut Jin saat merasakan nyeri di kepalanya.Tidak begitu sakit tapi cukup menganggu.Setelah rasa sakitnya mulai berkurang ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


"Jin!" Pekik Nindya saat Jin memeluk tubuhnya dari belakang.Sejak kapan ia disana dan memandangi Nindya yang tengah mandi.

__ADS_1


"Kurasa kita belum pernah mencobanya di kamar mandi" bisik Jin ditengah guyuran shower


"Apa maksudmu!" Nindya gelagapan karena Jin sudah menanggalkan semua pakaiannya


"Give me" ucap Jin lalu mulai membuat gerakan yang membuat Nindya mendesah


"Jin.." ucap Nindya ditengah gerakan sensual Jin yang menciumi leher dengan sebelah tangannya yang memainkan gundukan sintal miliknya.Tangan Jin semakin turun menelusuri lekuk tubuh Nindya.


"Ahh.." desah Nindya saat tangan Jin bermain di intinya


Jin melumat bibir Nindya saat melihatnya menggigit bibirnya sendiri.Hembusan nafas panas mengalahkan dinginnya air yang mengguyur tubuh mereka.Tak perlu menahan lama Jin segera memasukkan juniornya kedalam tubuh Nindya.Hentakan demi hentakan ia berikan untuk kenikmatan yang berusaha mereka raih bersama.


"Jin..ahh" panggil Nindya lagi ditengah gerakan Jin yang semakin cepat.


Selepas mengeluarkan cairan kental miliknya,Jin menarik miliknya dan membantu Nindya membersihkan diri.


Selesai mandi dan berganti pakaian keduanya turun untuk sarapan.Dan ternyata Miyang sudah menunggu mereka di meja makan.


"Pagi-pagi sekali ma?" sapa Jin yang menarik kursi paling ujung


"Lihatlah ini sudah jam berapa?" Miyang menunjuk jam besar yang tertempel di dinding.Pukul sepuluh pagi.


"Apa mama sudah bisa mendapatkan cucu?" tanya Miyang


"Tenang ma kami baru saja membuatnya" ucapan Jin sampai membuat Nindya tersedak


"Minumlah sayang" Miyang lebih dulu menyodorkan segelas air putih


"Terimakasih ma" ucap Nindya


"Lain kali saja kita membahas masalah ini" Miyang mengakhiri obrolan di meja makan


Selesai sarapan Nindya mengantar Jin sampai memasuki mobil.Sebenarnya hari ini Jin mengambil cuti namun karena ada urusan mendadak ia harus segera ke kantor.


"Kenapa?" tanya Miyang yang menghampiri Nindya yang masih berdiri didepan pintu


"Tidak ada ma" jawab Nindya


"Bagaimana jika kita berbelanja" ajak Miyang yang merasa mendapat ide baru


Selesai berganti baju mereka pergi ke mall yang tak jauh dari rumah.Menghabiskan waktu berdua layaknya ibu dan anak.Menonton film dan pergi ke toko roti yang baru opening beberapa hari yang lalu.


"Coba ini ma rasanya enak" Nindya menyodorkan cake rasa cappucino.Miyang membuka lebar-lebar mulutnya untuk mendapat gigitan besar


"Emm..iya enak.Sebaiknya kita bungkus ini untuk Jin" usul Miyang


"Cobalah ini juga enak" Miyang hendak menyuapi Nindya es krim


"Tidak usah ma makasih" tolak Nindya secara halus.Mama mertuanya itu belum tau jika Nindya alergi es krim.


"Ayo buka mulutmu" Miyang masih memaksa Nindya untuk membuka mulutnya


"Sedikit saja ya ma" ucap Nindya.Ia berfikir jika sedikit efeknya tak akan berhitung besar.Namun saat es krim itu baru sampai di tenggorokannya Nindya langsung merasa dadanya sesak.

__ADS_1


"Astaga Nindya" Miyang menjerit saat melihat Nindya memegangi dadanya.Para pegawai yang melihat pelanggannya mengalami masalah segera menghubungi ambulans.


"Jin segera ke rumah sakit sekarang!" Titah Miyang melalui sambungan telepon.Tanpa pikir panjang Jin segera meninggalkan rapat yang sedang ia pimpin.Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit yang dikatakan oleh Miyang.


Joshua ikut berlari dibelakang Jin.Saat mereka turun dari mobil dan terus menyusuri koridor rumah sakit.


"Ada apa dengan Nindya ma?" tanya Jin yang menghampiri mamanya didepan ruang UGD


"Sepertinya Nindya alergi" jawab Miyang


"Memangnya apa yang dia makan?"


"Hanya es krim"


"Astaga mama..Nindya itu alergi terhadap es krim" Jin mengusap kasar rambutnya


"Maaf Jin mama tidak tahu" Miyang hampir menangis melihat anaknya yang begitu khawatir


"Maafkan aku ma.Aku tidak bermaksud menyalahkan mama dalam hal ini"


"Aku hanya merasa khawatir dengan Nindya" Jin merasa telah menyakiti hati mamanya


Setengah jam kemudian dokter yang menangani Nindya keluar.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Jin menghampiri dokter yang baru melepas maskernya


"Keadaan istri anda sudah membaik.Sebentar lagi ia akan dipindahkan ke ruang rawat" penjelasan dokter tersebut membuat ketiga orang yang berdiri disana menghela napas lega


Meski keadaan Nindya sudah membaik.Joshua paham jika tuan nya tak akan beranjak dari sana sampai nyonya muda mereka benar-benar pulih.Jadi setelah mengantarkan pakaian ganti untuk Jin dan Nindya, Joshua bergegas ke kantor Choice Grup untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.


"Jin.." panggil Nindya dengan suara lirih.


Jin yang belum sepenuhnya tertidur langsung menegakkan tubuhnya


"Iya sayang.Apa kau butuh sesuatu?" tanya Jin


"Mama dimana?" Nindya mencari sosok Miyang yang tak ia temukan di ruangan itu


"Aku menyuruh mama untuk pulang dan istirahat" jawab Jin mengelus rambut Nindya


"Kau tidak memarahi mama kan?"


"Tidak sayang"


"Tapi seharusnya kau mengatakan kalau kau alergi terhadap es krim" tambah Jin


"Maafkan aku Jin.Aku hanya merasa tidak enak menolak permintaan mama"


"Tapi lihatlah bagaimana kondisimu sekarang"


"Kaca mana kaca?" Nindya baru ingat.Sambil menahan senyumnya Jin menyerahkan kaca yang ada diatas meja.


sekedar info yak,season dua yang kalian baca sekarang sudah melalui proses revisi ulang.Jadi mungkin kalian bakal nemuin komentar gak nyambung saat baca kolom komentar..

__ADS_1


โ™กโ™กโ™ก


__ADS_2