Ruang Hati

Ruang Hati
#34 Patah Hati 1


__ADS_3

Sudah empat tahun Nindya tinggal di Korea.Hubungannya masih berlanjut dengan Deny meski belakangan sering terjadi perselisihan.


Setelah dinner Deny mengajak Nindya berjalan di sebuah taman.Deny menggenggam tangan Nindya sembari menyusuri jalan.


Langkah Deny terhenti didekat air mancur.Ia menghela nafas berat sambil memandangi wajah Nindya.


Canggung tak ada yang membuka suara terlebih dulu.


Nindya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi malam ini.Ia penasaran sekaligus takut apa yang akan Deny bicarakan.Sikap Deny tidak seperti biasanya.


Ya Nindya akui memang semenjak mereka tinggal di negara yang berbeda komunikasi keduanya semakin buruk.Mereka sering bertengkar untuk hal yang sepele.


"Ariska Nindya Putri" ucap Deny mengawali kalimatnya


"Tumben kamu nyebut nama lengkap aku?"


"Emm.." Deny bergumam tak jelas


"Sebenarnya apa yang mau kamu omongin?"


Nindya takut mendengar jawaban selanjutnya


"Sebaiknya hubungan kita sampe sini aja.."


"Kenapa Den?" potong Nindya


"Hubungan kita udah gak bisa dipertahanin lagi Nin.Kita udah sering berantem cuma karna masalah sepele"


"Asal kita bisa lewatin ini sedikit lebih lama pasti semuanya bakal baik-baik aja Den"

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Deny.Ia diam seribu bahasa.Tak tahu bagaimana harus menjelaskan agar Nindya bisa memahami.


"Apa kamu punya pacar selain aku?"  Deny menggeleng


"Jujur aja Den.Aku gak marah asal kamu putusin dia.Kita anggep hal itu gak pernah terjadi"


"Gada Nin.Cuma kamu pacar aku"


"Terus kenapa Den?kasih aku alesan yang jelas" lolos sudah air matanya membanjiri pipi


"Please Nin.Jangan nangis aku gamau liat kamu nangis karna aku" Deny mengusap air mata Nindya namun segera ditepisnya


"Gamau aku nangis karna kamu?"


"Kamu gak nyadar apa yang kamu lakuin sekarang nyakitin aku"


Deny memeluk Nindya berniat untuk menenangkannya.Namun perlakuannya malah membuat Nindya semakin terguncang.Apa maksud Deny.Apakah hubungan mereka yang sudah bertahun-tahun tidak layak menjadi alasan untuk mempertahankannya.


Jantung Nindya bagai tertusuk ribuan jarum.Sakit tak tertahankan.Ia bertanya apakah seperti ini yang dirasakan Tari dahulu saat putus dari Putra.Tapi apakah Nindya bisa kembali bersama Deny nantinya setelah ia putus.Pertanyaan-pertanyaan itu terus terngiang dikepalanya.


"Kenapa Den?"tanya Nindya lirih


"Gua rasa perasaan itu mulai memudar Nin" Nindya kaget mendengar pernyataan Deny.Jawaban apapun tidak akan menyenangkan hatinya.


Ia segera melepaskan pelukan Deny dan menatap wajah Deny lekat-lekat.Benar.Sepertinya rasa cinta itu sudah tidak ada lagi dimata Deny seperti dulu.


Sakit.


Kini hanya mata Nindya yang masih memancarkan cinta seperti dulu.

__ADS_1


"Aku gak mau putus Den.Gak masalah kalo kamu udah gak cinta sama aku.Tapi jangan udahin hubungan kita" air mata Nindya semakin deras mengalir


"Jangan nyakitin diri kamu dengan kayak gini Nin.Kamu bakalan lebih sakit kalo kita lanjutin ini"


"Apa cinta aku gak cukup buat bikin kamu bertahan?" Nindya menatap dalam kemata Deny.Mata yang membuatnya begitu mencintai sosok lelaki dihadapannya ini.


"Maaf Nin" Deny melepas cincin berlian yang pernah ia berikan saat pertama kali berpisah dibandara.


 


 


Flash back..


"Tutup mata kamu Nin" ucap Deny akan pergi ke Paris.Nindya pun menutup matanya.Ia merasakan sesuatu dijari manisnya.


"Cincin" mata Nindya berbinar mendapat hadiah dari Deny.


"Selama aku gak ada.Cincin ini yang bakal nemenin kamu"


"Makasih Den" Deny mengecup perlahan kening Nindya saat ia masih sibuk memandangi jari manisnya.


Nindya merasa sangat bahagia hari itu.Ia tidak menyangka Deny akan memberikan cincin yang pernah ia coba saat memilih cincin untuk pertunangan Dian dan Kevin dulu.


Flashback off..


 


 

__ADS_1


"Kamu mau ngapain Den?" Nindya gelagapan saat Deny sudah melepas cincin pemberiannya dulu


"Lebih baik lupain aku Nin.Kita mulai dari nol lagi.Saat pertama kali kita ketemu di pintu kelas dulu" kejadian itu saat Nindya mengantarkan tugas matematika untuk kelas Deny


__ADS_2