
Jangan lupa like,komen dan subscribe biar author makin semangat..
Selamat membaca semoga suka ♡♡♡
---
Jessie masuk kedalam rumah.Menenteng sepatu dengan muka yang sudah tidak bisa dikondisikan lagi.
"Non Jessie kenapa?" kawatir bercampur rasa ingin tertawa.Ah nona mudanya itu memang selalu ekspresif bukan.
"Sepatu baru Jessie bi" rengeknya menenteng sepatunya tinggi-tinggi
"Loh kenapa neng?" tanya bi Yuni yang mulai menghampiri Jessie
"Kecebur" sahutnya penuh duka
"Sini non sepatunya biar bibi yang cuci" bi Yuni meminta sepatu yang ditentengnya dan sebelah lagi yang masih ia pakai
Tangan Jessie terulur mengikuti kepergian sepatu barunya.Meratapi nasib sepatunya yang mengenaskan.Sial.Ardit nyebelin!!!
"Mama sama papa kemana bi?" tanya Jessie yang berhenti di tangga
"Katanya mau kencan non" ucap bi Yuni lalu diselingi tawa
"Haduhh..ngenesnya jadi jomblo" ungkap Jessie kembali melanjutkan langkah kakinya.
Jessie meletakkan kamera pemberian Ardit diatas meja.
Itu bukan kamera edisi terbaru yang canggih.Tapi itu kamera tua yang hanya bisa memuat beberapa foto.Sangat langka.Jadi Jessie harus berhati-hati jika ingin mengambil setiap foto.
----
Ken setengah berlari dari parkiran menuju ruang rawat inap.Saat sedang bersama teman-temannya di kafe saat melihat pesan dari mama Bella yang mengatakan anaknya masuk rumah sakit.Ken yang panik langsung buru-buru pergi tanpa menjelaskan alasan kepergiannya.Lagi pula suasana hati Jessie sudah membaik,jadi ia bisa pergi menjenguk Bella tanpa rasa khawatir.
Tokk..tok..
Ken mengetuk pintu ruangan tempat dimana Bella mendapatkan perawatannya.Senyum sumringah langsung diperlihatkan mama Bella saat melihat Ken berdiri di luar pintu.
"Masuk Ken" mama Bella berjalan menuju sofa
"Maaf saya telat datengnya tante,saya gak tahu ada sms dari tante" ucap Ken yang ikut duduk disofa mengikuti mama Bella.Pasalnya pesan itu sudah dikirim sejak sore hari.
"Gak apa-apa Ken.Kamu mau dateng aja tante udah seneng banget" ucap mama Bella yang tersenyum hangat
"Gimana keadaan Bella tante?" Ken mengganti topik pembicaraan
"Demamnya udah turun,tapi kata dokter Bella perlu dirawat sampai besok" jawab Mama Bella
"Ijinin saya nginep ya tante,saya mau mastiin keadaan Bella" tutur Ken
"Tante gamau ngerepotin kamu Ken" ucap mama Bella
"Jangan sungkan tante.Nanti saya telfon mama buat ijin" mama Bella menepuk bahunya pelan.Berterima kasih karena Ken mau repot-repot merawat Bella dirumah sakit meski mereka sudah putus.
Karena Ken bersedia menjaga Bella semalaman,mama Bella pamit pulang karena ia juga lelah dan butuh istirahat.Ia rasa kesehatan anaknya akan cepat pulih jika tahu Ken menjaganya saat sakit.
__ADS_1
Ken rebahan sambil selonjoran di sofa.Ia sedang menelfon Oktav untuk menyakan siapa yang tiba-tiba menyanyi bersama Jessie.
"Serius lu pengen tahu?" Oktav memastikan lagi.Meski ia tidak berhak menceritakannya tanpa seijin Jessie tapi Oktav merasa jika Ken bisa menjaga rahasia.
Setelah menghela napas berat Oktav mulai bercerita.
Saat itu sore dengan gerimis yang mulai berjatuhan.Endra sedang menyetir mobil sendirian hendak menemui Jessie di sebuah kafe.Ia mengatakan jika hari itu sahabatnya Wulan baru saja kembali dari Surabaya untuk menetap di Bandung lagi.Jadi Jessie berniat mengenalkannya dengan Endra.
Sambil menyetir Endra memandangi kotak berisikan Jam yang ingin ia berikan pada Jessie.
Namun tiba-tiba..
Brrraaakkkkk...
Suara tabrakan terdengar begitu keras.
Endra yang tidak fokus pada jalanan tak mengetahui saat ada orang yang hendak menyeberang.
Cepat-cepat ia turun dari mobil untuk memastikan kondisi orang yang ia tabrak.
Ia sendiri syok berat mendapati wanita yang tergelatak tak sadarkan diri.
Bajunya yang putih sudah bercampur dengan darah segar yang merembes keluar dari kepalanya.
Orang-orang yang berada dilokasi kejadian langsung bertindak cepat memanggil ambulans.
Dan Jessie yang sedang berada dalam kafe sampai gemetaran mendengar suara tabrakan yang terjadi didepan kafe.Perasaannya tak karuan,ia lari begitu saja saat nuraninya mendorong Jessie untuk melihat kejadian tersebut.Sekuat tenaga Jessie berlari menerobos gerimis yang mulai lebat.
Ia mendorong kerumunan orang yang berusaha menyelamatkan korban.Rasa penasarannya menyeruak untuk mengetahui siapa yang ditabrak.
Kembali ke dalam kafe..
"Mbak,pelanggan yang tadi duduk disini kemana?" tanya Oktav yang baru kembali dari toilet
"Tadi dia keluar.Kayaknya liat tabrakan di depan kafe" jawab pelayan.Oktav buru-buru keluar.Ia juga merasa ada yang tidak beres.
Oktav yang baru tiba ikut menerobos kerumunan,ia mendapati Jessie yang tengah memeluk Wulan yang sudah tak sadarkan diri.
Secara tak sengaja ia melihat Endra yang juga berdiri diantara kerumunan itu.Wajahnya pucat pasi dengan tatapan kosong menatap kearah Jessie dan Wulan.Namun Oktav memilih mengabaikannya.Ia ikut berjongkok di samping Jessie yang masih memeluk Wulan.
"Lepasin dulu Jes,ambulansnya udah dateng" Oktav menyadarkan Jessie.Jessie memberi ruang saat orang-orang mulai mengangkat tubuh Wulan masuk ke ambulans.
"Tav.." suara Jessie bergetar hebat saat melihat tangan dan bajunya penuh darah segar
"Ayo!" Oktav menarik Jessie ikut masuk kedalam ambulans.Sepanjang perjalanan Oktav masih berusaha menenangkan Jessie yang tak kunjung berhenti menangis.
---
Perawat bergerak cepat menurunkan Wulan dari ambulans,mendorong ranjangnya sambil berlari menuju ruang UGD.
Jessie menyadari keberadaan Endra disana.Namun keduanya tak kunjung bertegur sapa satu sana lain.
Mendapat kabar putrinya mengalami kecelakaan orang tua Wulan segera datang.Kedua orang tua Endra juga sudah hadir disana.
"Maaf..maaf..maaf" hanya itu kata yang keluar dari mulut Endra saat mama Wulan menggucang tubuhnya meluapkan segala emosinya.
__ADS_1
"Kamu pembunuh,kamu sudah membunuh anak saya!!" teriak mama Wulan yang histeris di depan ruang UGD.Sambil bercucuran air mata papa Wulan berusaha menenangkan istrinya yang tengah terguncang hebat.
Suaminya lebih bisa menerima keadaan.Meski marah karena keteledoran Endra tapi ia tak bisa melakukan apapun untuk merubah keadaan.Anaknya meninggal itu sudah menjadi jalan yang digariskan oleh Tuhan.
Endra yang melihat Jessie begitu terpukul tak berani menghampiri Jessie.Ia terlalu takut melihat kebencian dimata orang yang dicintainya.Sadar jika kesalahannya tak akan pernah mendapat ampunan dari Jessie karena ia sudah membunuh sahabatnya.
"Ayo kita pulang dulu,kamu pasti juga syok sayang" ucap mama Endra yang merangkul bahu anaknya itu.Tanpa kata Endra pergi dari sana.Langkahnya semakin jauh,meninggalkan Jessie tanpa menoleh sekalipun.
Hari itu juga pemakaman Wulan dilaksanankan.Papanya tak ingin menunda-nunda terlalu lama.Ia ingin anaknya segera dikebumikan dengan tenang.
Di pemakaman Jessie sudah ditemani kedua orang tuanya.Disana ia tak melihat kedatangan Endra.Ia hanya melihat kedua orang tuanya yang hadir.
Segala emosi bercampur aduk jadi satu.Ia benci pada Endra,atau mungkin lebih tepatnya kecewa.Karena ia tak memberikan penjelasan apapun mengenai kejadian yang menimpa sahabatnya.
Semenjak hari itu Jessie tak pernah sekalipun berusaha menghubungi Endra.Begitupun Endra juga tak pernah berusaha menghubunginya.Mereka memutuskan komunikasi begitu saja tanpa penjelasan yang seharusnya Endra berikan padanya.
Menurut penuturan Oktav papa Wulan mau menerima damai dan menyelesaikan secara kekeluargaan.Mengingat Endra yang masih berstatus sebagai pelajar.
Saat itu Oktav memang hanya berperan sebagai orang yang menyomblangkan Jessie dan Endra.Jadi kepindahannya dan kembali tinggal bersama kedua orang tuanya juga tak berimbas banyak bagi Jessie.
Dan Jessie yang baru dua bulan menjadi vokalis band sekolah mundur karena ingin menyendiri selama beberapa waktu.
Jangan bayangkan bagaimana rasanya.Ketika kalian tahu jika orang yang kalian cintai menjadi penyebab kematian sahabat kalian.Sedih pastinya.
Jessie ingat betul percakapan terakhir mereka lewat telefon.
"Lan,lu dimana sih lama amat" gerutu Jessie
"Sabar dong ini gua baru mau nyebrang" ucap Wulan
"Cepetan Endra juga udah mau nyampe" ucap Jessie yang masih berceloteh di telefon.
"Terakhir kali nih ya gua denger lu ngerengek gini" ujar Wulan
"Janji!" sahut Jessie penuh semangat
"Karena gua takut gak bisa ketemu lu lagi Jes" gumam Wulan saat Jessie memutus sambungan telefonnya.Ada rasa takut tidak bisa berjumpa dengan sahabatnya itu lagi.Wulan masih berdiri di pinggir jalan,menatap layar ponsel dengan background foto mereka berdua yang tertawa lebar.
Dengan tergesa-gesa Wulan mulai menyebrang karena gerimis mulai turun.Ia tak mau membuat sahabatnya terlalu lama menunggu.
Braaakkkk....
Tubuh Wulan terpelanting jauh..
"Ma-maaf Jes" kalimat terakhir sebelum ia menutup mata.Bahkan disaat-saat terakhirnya saja ia menyesal karena tak bisa memenuhi permintaan terakhir Jessie.Bisa kalian bayangkan betapa eratnya persahabatan kedua remaja itu.
-Selamanya,kepergian itu akan selalu menyakitkan.Terlebih jika tanpa ucapan selamat tinggal.
Endra - orang yang pernah disukai Jessie banget-banget.Tapi mendadak ngilang selepas nabrak Wulan
Jessie dan Wulan ♡♡♡
__ADS_1