
Sungguh ia ingin mengeluh pada saat saat tertentu dimana ia sangat merindukan Jin.Tapi tangisan hanya akan memperburuk suasana hatinya saja.
"Nin" panggil Deny
"Hemm iya den" sahut Nindya
"Balik yuk.Anginnya makin kenceng disini"
"Lu kedinginan.Pake aja nih jaket gua" tawar Nindya
"Enak aja lu mau bikin pamor gua turun karena dikasih jaket sama cewek" ujar Deny
---
Sudah satu minggu Nindya berada disana.Merasa nyaman dengan suasana tenang yang ia dapatkan.Ia baru saja kembali dari restoran yang ada di hotel.Kenapa lampu resortnya mati,sedangkan yang lain masih menyala.Apa resortnya mengalami kerusakan pikir Nindya.
Nindya membuka knop pintu resort.Gelap gulita.Tangannya meraba raba dinding untuk mencari stop kontak lampu.
Cetrekk..cetrekkk..
Mati.Haduh kenapa bisa mati batin Nindya.Ia berjalan menuju meja tempat terakhir ia meletakkan ponselnya.
Grabb..
Ada yang memegang tangannya.Jangan jangan ada penampakan hantu.Tangannya begitu dingin dan besar.
"Aaaaaa" teriak Nindya sekencang mungkin
"Pelankan suaramu"suara yang sangat ia kenal.Apa mungkin.Tidak.Tidak mungkin.
Nindya meraih ponselnya untuk menyalakan senter.
"Siapa kau?" tanya Nindya
"Nyalakan dulu lampunya" pintanya
Nindya mencoba menyalakan lagi lampu dan ternyata berhasil.
Sosok lelaki tegap berwajah tampan.Namun pucat dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
Tapi suaranya kenapa mirip sekali.
Darah.Perutnya mengeluarkan darah segar yang begitu banyak.
"Kau kenapa?" belum pernah ia melihat darah sebanyak itu
"Ayo kita ke rumah sakit"
"Jangan"
"Kenapa?kau bisa mati kehabisan darah"
__ADS_1
"Bawakan aku peralatan p3k yang kau punya"
"Tunggu sebentar aku akan mengambilnya" Nindya berlari mengambil peralatan obat.
"Lepas bajumu"
"Kau agresif sekali nona" ucapnya yang masih berfikiran untuk menggoda
"Jangan berfikiran kotor.Aku mau mengobati lukamu" sergah Nindya
Karena susah Nindya harus menggunting bajunya.Ada luka tusuk di perut bagian kirinya.Luka sedalam tiga senti.
Nindya membersihkan darah yang ada di sekitaran perut lelaki itu dengan alkohol.Ia sedikit meringis saat menyentuh daerah dekat luka tusuk itu.Sedangkan yang diobati sibuk mengamati wajah Nindya lekat lekat.
Nindya melilitkan perban di perutnya.Setidaknya dengan begini darahnya akan terhambat.
"Siapa namamu?" tanya lelaki itu.Pertanyaan yang seharusnya di tanyakan oleh Nindya.
"Harusnya aku yang bertanya begitu" ucap Nindya sambil membereskan obat dan yang lainnya
"Aku Lee Jin Suk" ucapnya
Nama yang sama.Dan suaranya benar benar mirip Jin.Meski muka sangat jauh berbeda.
"Nindya" ucap Nindya lalu bangun dari duduknya.
Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.Mengapa ia harus bertemu lelaki yang bersuara mirip dengan Jin.Takdir macam apa ini yang mempermainkannya seperti ini.
"Aku mau kopi hitam" ucapnya yang masih bersandar pada sofa
"Hey.Sudah bagus aku menolongmu dan memberikanmu minum"
"Aku ini tamu" sahutnya dengan nada tenang
Meski kesal Nindya beralih ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi hitam.
"Aduh..aduhh panas" ia mengipas ngipas bibirnya dengan tangannya
"Jelaskan semua tentang dirimu" ucap Nindya sambil bersidekap
"Bukankah kita seharusnya pelan pelan saling memahami" ucapnya lagi
"Kau mau cerita atau tidak!jika tidak jelas asal usulmu dari mana aku akan menendangmu keluar" ucap Nindya kesal.Bisa bisanya ia terus terusan menggodanya.
"Tanyakan saja dan aku akan menjawab" ia kembali meminum kopi.Nindya duduk di seberang sofa.Nindya menunjuk bekas luka yang kini sudah di perban.
"Aku mendapatkannya di pantai.Aku tidak tahu jelas itu siapa.Tapi kurasa itu adalah musuhku"
Ia juga menceritakan saat ia masuk tanpa ijin karena tidak terkunci.Mematikan semua lampu karena takut orang itu akan datang lagi setelah perkelahiannya di pantai.Ia memohon pada Nindya untuk menolongnya malam ini saja.Jika ia keluar malam saat itu mungkin saja orang itu maasih mencarinya.Merasa iba Nindya pun mengijinkannya menginap semalam.Entah apa yang merasukimu Nindya.Sampai engkau mempercayainya begitu saja.
"Sebagai jaminan aku akan menyita ini" Nindya mengambil dompet,ponsel dan kunci mobilnya
__ADS_1
"Bilang saja kau ingin berduaan denganku"
"Dasar gila" ucap Nindya dalam bahasa Indonesia
"Aku tidak gila" Nindya tak menyangka jika ia akan mengerti bahasa yang ia ucapkan.
Nindya mengambil satu bantal dan selimut tebal.
Dilihatnya Jin kw sudah menutup mata.Mungkin lelaki itu sudah tertidur.Sedangkan ia masih berguling ke kanan dan ke kiri karena gelisah.Suaranya membuat Nindya merasa dekat dengannya.
Pagi menjelang.Sinar matahari masuk menerobos kamarnya.Nindya membuka matanya perlahan.Terasa ada sesuatu yang mengganjal matanya saat ia merasa kurang tidur.
Nindya menyibak selimut.Turun dari ranjang untuk mengambil minum di kasur.
Nindya mengambil air minum dari dalam kulkas.Meneguk sebotol air dingin untuk membasahi tenggorokannya.
"Pagi" sapa Jin kw yang berdiri di nalik pintu kulkas yang terbuka.Nindya sampai terkejut saat melihatnya.Ia lupa jika semalam ia membiarkan lelaki itu menumpang di resortnya.
"Kenapa kau mengagetkanku" ucap Nindya
"Pergi mandi,aku akan membuatkanmu sarapan" ujarnya sambil mendorong Nindya masuk kedalam kamar mandi
"Lukamu bagaimana?" tanya Nindya saat ia hampir menutup pintu kamar mandi
"Jangan dipikirkan.Mandilah yang bersih" ia mendorong jidat Nindya dengan telunjuknya agar segera masuk ke kamar mandi.
Ia mengambil dua roti dan selai kacang.Menuangkan susu cair ke gua gelas yang di tatanya diatas meja.Nindya keluar kamar mandi setengah jam kemudian.Melirik dua piring dengan roti yang tersaji diatasnya.
"Hanya ini?" tanya Nindya
"Makanlah.Karena luka ku ini aku tidak bisa memasak sesuatu untukmu" ucapnya yang meminum habis susu
"Lain kali aku janji akan memasakkan sesuatu yang layak untukmu" janji yang mudah saja keluar dari mulutnya
"Tidak akan ada lain kali" sahut Nindya
"Mengapa?padahal aku yakin kita akan bertemu lagi"
"Bye Nindya" di tangannya sudah ada barang jaminan yang Nindya ambil
"Hmmm" sahut Nindya malas
Nindya terdiam saat Jin kw sudah pergi.Dering ponsel membuyarkan lamunannya.Panggilan dari kakaknya Siska.Tak hentinya mengomel karena Nindya yang masih enggan pulang.
"Iya kak lusa aku pulang" ucapnya
"Iya jangan lama-lama" ucapnya sebelum Nindya memutuskan sambungan telefon.
Ia menghela napas berat.Jika saja ia tidak tinggal lebih lama maka Nindya tak akan bertemu dengan Jin kw malam itu.
Selesai sarapan Nindya membereskan piring dan langsung mencucinya.Kenapa ia malah jadi berfikiran untuk tinggal lebih lama agar bisa mendengar suara yang begitu mirip itu.
__ADS_1