Ruang Hati

Ruang Hati
#40 Berdetak


__ADS_3

"Darimana kau tahu?"


"Joshua" jawab Young singkat


Jin tidak menanggapi Young lebih lanjut.


"Maaf Young aku ada pertemuan dengan klien"


"Aku kesini juga hanya untuk mampir sebentar" keduanya lalu menuju ke mobil masin-masing.Pak Yang membawa mobil Jin menuju sebuah restoran untuk pertemuannya.


"Selamat siang pak Kang maaf membuat anda menunggu"


"Aku baru saja sampai pak Jin" keduanya lalu membahas kerjasama yang akan mereka jalin.


Pembahasan mereka berlanjut satu jam lamanya.Jin menekan ponselnya.


"Jo.Awasi apapun yang dilakukan Nindya"


"Baik tuan"


Ahn Reum lalu menjelaskan agenda berikutnya pada Jin jika ia akan menghadiri rapat sebagai pemegang saham diperusahaan Yesung.


"Kau ingin makan apa Nindya" tanya Yuki yang membuat Nindya mengernyitkan alisnya


"Tumben?"


"Kali ini aku membebaskan kau pilih makan siangmu"


"Burger"


"Kau ini selalu suka makanan tidak sehat itu" gerutu Yuki namun segera menelfon jasa delivery makanan.


Kali ini Nindya pulang jam sebelas malam.Seperti biasa Jin selalu menungu dikamarnya.Lama kelamaan Nindya menjadi terbiasa.


"Kau sudah pulang?" tanya Nindya sembari meletakkan tas di meja rias dan melepas segala aksesoris yang menempel dibadannya


"Sudah kubilang kau harus pulang sebelum aku pulang"


"Aku janji lain kali akan pulang lebih cepat" entahlah Nindya berubah menjadi penurut pada Jin


"Cepat mandi.Aku tunggu disini" tanpa bantahan Nindya segera mandi dengan cepat.Karena ia tahu jika Jin tidak suka menunggu lama.

__ADS_1


Melihat Nindya yang baru selesai mandi membuat Jin terus memandanginya.


Jin berjalan kearah Nindya yang membelakanginya.Ia memeluk Nindya dari belakang dan menenggelamkan kepalanya ditengkuk Nindya.


"Kau cantik"


"Sudahlah kembali ke kamarmu" Nindya memerintahkan Jin tanpa merespon pelukan Jin


"Baiklah" Jin memutar badan Nindya menghadap padanya.


Cup


Bibir lembut Jin menyentuh bibir Nindya.


"Jin" Nindya mendorong Jin namun tidak bisa karena Jin memeluknya erat


"Selamat malam sayang" ia lalu kembali mencium Nindya.Nindya seolah tersihir oleh pesona Jin.Ia tidak mampu menolak perlakuannya.


Kenapa ia mudah saja menerima semuanya.Ia mengutuk dirinya yang diam saja saat dicium oleh Jin.Bahkan ia sedikit menikmati ciuman Jin barusan.Nindya segera merebahkan tubuhnya berusaha mengusir segala bentuk pikirannya.


Nindya mengerjapkan matanya.Entah mimpi atau bukan tapi ia merasa ada seseorang yang memeluknya erat dari belakang.


"Kau sudah bangun"


"Jangan bergerak.Aku ingin sementara waktu seperti ini" ucapnya


Nindya tak bergeming.Kenapa Jin dengan mudahnya bisa mengontrol dirinya.


"Kau kenapa?" Nindya akhirnya membuka suara


"Tidak ada" Jin membalikkan badan Nindya dan mencium keningnya


"Kau" pekik Nindya


"I love you so much"


"Aku akui dulu aku memang suka berganti pasangan.Tapi aku sudah memutuskan untuk mencintaimu"


"Lagi pula siapa yang ingin dicintai olehmu" Nindya melepaskan pelukan Jin dan beranjak menuju kamar mandi.


 

__ADS_1


 


 


 


*Nindya POV


Tuhan.Kenapa jantungku selalu berdetak cepat saat berdekatan dengan Jin.


"Nindya kau sudah selesai?"


"Sebentar lagi" sahutku


"Kenapa kau belum kembali ke kamar?"


Dia datang tepat ketika aku paling membutuhkan seseorang.Ketika hatiku hancur karena Deny.


Dia juga pandai memahami hatiku.Kapan ketika aku tidak mau dipaksa dan kapan aku ingin dia menahan diriku.


Apakah cintaku untuk Deny sudah tidak ada??


Entah siapa yang tahu.


"Jin" panggilku dengan suara yang hampir tidak terdengar


"Ya" sahutnya sembari menyisir rambutku


"Apa kau punya pacar?"


"Haha..ada.Kau pacarku"


"Jangan bercanda"


"Tidak Nindya.Denganmu aku tidak pernah bercanda.Aku kadang bingung kenapa aku bisa jatuh cinta padamu"


"Lalu" tanyaku balik


"Cinta itu tidak butuh alasan.Aku jatuh cinta padamu ya karna itu kamu"


"Lagi pula aku sudah mengamatimu selama bertahun-tahun.Aku anggap itu sebagai masa pendekatan"

__ADS_1


"Terserah kau saja"


"Bagus aku suka gadis penurut"


__ADS_2