Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 22


__ADS_3

Di ruang tamu sudah duduk wanita paruh baya dengan baju rumahan.Ia sibuk menggonta ganti chanel televisi di temani sang suami.Mama dan papa Deny


"Nindya" pekik mama Deny saat melihat Nindya berjalan memasuki ruang tamu


"Malem tante malem om" sapa Nindya


"Duh kangen banget sama kamu" kembali memeluk Nindya


"Duduk Nindya" ucap papa Deny


Mama Deny memberondong Nindya dengan berbagai pertanyaan.


"Kamu balikan sama Deny?" tanyanya kemudian setelah belasan pertanyaan yang ia ajukan


Nindya tersenyum sesaat.Tidak heran dia mendapat pertanyaan semacam ini.Karena wajar saja menurutnya.


"Kita temenan tante" raut wajah mama Deny sedikit kecewa dengan jawaban yang didengarnya.Papa Deny terlihat lebih tenang.


"Lama gak ketemu jangan langsung di interogasi ma.Kasih minum dulu" mengingatkan istrinya yang keasyikan mengorol


"Ya ampun mama sampe lupa..panggil mama jangan Tante!" titah mama Deny


Nindya,Deny serta papanya menertawakan tingkah mamanya yang sedikit konyol.


"Nindya sibuk apa sekarang?" tanya papanya


"Masih sama kayak dulu om.pemotretan,syuting iklan.Ya gitu gitu aja om" jawab Nindya


"Panggil papa aja"


"Tapi papa pernah beberapa kali liat iklan kamu pake produk Paris" ujarnya


"Sempet sih om yang iklan parfum"


"Karir kamu bagus dong.Deny aja yang salah maksa kamu ke Paris"


"Udah pah jangan diungkit lagi" ucap Deny


Mama Deny datang membawakan camilan dan minuman.Ia tak luput menceritakan kegalauan Deny semenjak ia tahu Nindya berpacaran dengan Jin lalu menikah.Kacau sekali saat itu.Deny pun dibuat salah tingkah dengan kejujuran yang dibuat oleh mamanya.Berlanjut menceritakan Deny yang mulai membangun bisnis hotelnya sendiri.Jatuh bangkit berulang kali sampai hotelnya menjadi salah satu standart hotel mewah di Indonesia.Pencapaian yang sulit dan butuh banyak pengorbanan.


Hari semakin larut Nindya meminta Deny mengatarnya pulang.Lusa ia harus kembali ke Korea.


"Makasih ya" ucap Deny yang ikut turun dari mobil


"Gua lah yang harusnya bilang makasih" sanggah Nindya


"Bukan itu.Makasih karena udah maafin gua" ungkapnya


"Kepedean" Nindya berbalik meninggalkan Deny


"Lah jadi belom dimaafin?" tanyanya dari balik gerbang


"Hehe..udah udah.Sono balik udah malem" tuturnya


"Bikin kaget aja" Deny mengelus dadanya


Nindya melambaikan tangan.Berbalik badan berjalan memasuki pelataran rumah Nana.


Krekkkk..


Nindya membuka pintu.Sepi.Mungkin mereka sudah tidur terlebih dulu.Ia menyandarkan punggungnya di sofa.


Krekkkk..


Nana baru saja pulang.Ikut duduk bersama Nindya melepas lelah.


Mereka berjalan beriringan menuju kamar Nana.Selesai berganti pakaian dan membersihkan diri Nindya mengusulkan untuk makan mie instan.Kangen makan mie ala Indonesia.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Nana sambil mengaduk mie dalam panci


"Apanya?" Nindya membuka bumbu mie dan menaruhnya di mangkuk


"Deny" jawabnya


"Biasa" Nindya menimpali singkat


"Kenapa?" tanya Nana lagi


"Gatau" Nindya mengedikkan bahu


"Parah" jawab Nana


"Percakapan macam apa ini mak.Yang cuma ngomong satu kata doang?"


"Iya juga ya" Nana menuang mie yang sudah matang ke dalam mangkuk.Keduanya tertawa.


Cepat dan panas.Mereka fokus makan karena lapar yang melanda.Cukup untuk mengganjal perut sampai pagi.


"Coba gua pengen liat mana fotonya Nam Joon" pinta Nana saat Nindya asyik memainkan ponsel


Nindya membuka album foto.Mencari salah satu foto Joon disana.


"Gak abang gak adek kece badai" Nana gemas sendiri


"Sejak kapan lu jadi alay begini mak?" Nindya sedikit menggeser duduknya.Menjauh dari Nana yang sedikit aneh.


"Buat gua ya" celetuk Nana


"Sett dah..gerak cepat kalo cowok ganteng"


"Cari papa baru buat Raka" ujar Nana santai


"Bisa..bisa..biar gua yang ngatur mak" usul Nindya


Mereka berdua tertawa.Hal ini yang paling membuat Nindya Rindu dengan Indonesia.Membicarakan obrolan tidak bermanfaat yang lebih disukainya.Teman teman terbaik.


---


Tiinnn...


Suara klakson mobil Deny didepan rumah Nana.Nana yang berada di dapur menengok keluar.


"Masuk" ajaknya saat melihat Deny turun dari mobil


"Nindya mana mak" tanyanya


"Mandi.Pantes bangunnya pagian,taunya ada janji?"


"Kemarin ketemu Rifan kan?" tanyanya lalu menyodorkan jus jeruk pada Deny


"Iya" jawaban yang kurang bersemangat.Merasa saingan lama muncul kembali.


"Kemarin pas lu pulang sama Nindya dia nyamperin gua.Minta nomer Nindya" tutur Nana


"Terus?" Deny mendadak duduk tegak


"Gak gua kasih lah.Gua juga paham lu mau deketin Nindya lagi" jawabnya setelah meminum habis jus jeruknya


"Aus mak?" tanya Deny


"Udah tau pake nanya.Bentar gua panggil tu anak dulu" Nana meninggalkan Deny yang duduk santai di ruang tamu.


---


"Kamu satu-satunya anak mama sekarang.Jadi tolong turutin apa kata mama" ucap Miyang

__ADS_1


"Mama cuma pengen kamu nikahin Nindya"


"Tapi ma" Joon melembutkan suaranya setelah perdebatan yang panjang


"Mama mohon Joon" Miyang sedikit lebih tenang.Menceramahi Joon sejak dua jam yang lalu.


"Mama sangat menyayangi Nindya,Joon.Mama tidak bisa melihatnya terus menerus terpuruk karena kepergian Jin" air matanya mulai keluar


"Tapi ma..Nindya itu istri Jin" memegangi tangan Miyang


"Kenapa memangnya?" Menatap langsung kedalam mata Joon


"Nindya butuh seseorang untuk menjaganya"


"Jangan seperti ini ma.Nindya sudah punya orang lain" tutur Joon


"Tidak Joon" menghempaskan tangan Joon "Mama tidak rela" ucapnya


"Kejar Nindya" dan sebuah anggukan dari Joon membuat Miyang lega.


---


"Kita mau kemana?" tanya Nindya saat memasuki mobil


"Liat aja nanti"


"Sok misterius lu" cibir Nindya


Deny mengendari mobil dengan santai.Menikmati setiap momen yang ia miliki saat ini.


"Lu bolos kerja?" Nindya baru sadar jika Deny absen masuk kerja


"Baru sadar?" tanyanya balik


"Terserah lu itu ma.Kan lu bosnya"


"Pinter" Deny mengacak rambut Nindya.Membuat Nindya mengomel beberapa saat.


Deny mengajak Nindya ke padang ilalang di perbatasan kota.Tempat mereka dulu sering menghabiskan waktu bersama.


"Ceritanya ngajakain nostalgia Nih?" telisik Nindya


"Dikit gak apa-apa kali" menoleh pada Nindya


"Nin" panggil Deny yang langsung membidikkan kameranya


"Bilang dong" belum siap


"Liat muka lu kocak" Deny menunjukkan hasil jepretannya pada Nindya.Menampilkan Nindya yang belum siap diambil gambar


"Hapus Den.Keliatan bloonnya gua kalo gitu" rengek Nindya.Memohon agar Deny mengikhlaskan foto alami itu


"Dibuang sayang"


---


"Sayang" Rio melingkarkan tangannya pada perut Rindu


"Jangan kurang ajar ya!" lupa jika ia sudah resmi menikah kemarin


"Galak amat jadi istri" goda Rio yang kembali memeluk Rindu


"Kemana kita hari ini?" mereka berada di apartemen milik Rio


"Supermarket.Beli sayuran buat masak" jawab Rindu polos


"Besok aja sih" pinta Rio yang beralih duduk di meja makan.Mengamati dosen pujaan hatinya yang berhasil ia nikahi

__ADS_1


"Harus" singkat padat dan jelas.


Lebih baik mengalah dan diam.Itu adalah keputusan yang paling tepat.Jangan kira dengan umurnya yang masih muda akan menjadikannya egois.Karena rasa cintanya yang begitu besar membuatnya rela mengalah demi pujaan hati.Cinta yang mendewasakan bukan.


__ADS_2