Ruang Hati

Ruang Hati
#36 Sedih


__ADS_3

Mobil mewah milik Jin melaju dengan cepat membelah jalanan kota Seoul.


Jin memegang dahi Nindya dengan tangannya.Apa yang wanita ini lakukan sampai setengah pakaiannya basah seperti ini.Mata Nindya juga sembab akibat menangis terlalu lama.Hatinya terluka melihat keadaan Nindya yang begitu kacau.


Jin beberapa kali bertemu dengan Nindya,ia paham jika Nindya tidak punya banyak kenalan disini.


Keluarga Jin adalah salah satu dari keluarga terkaya dinegaranya.Asetnya tersebar di berbagai negara.Memiliki saham diberbagai bisnis.


Jin adalah pewaris tunggal dari keluarga Park.Dengan statusnya itu membuatnya banyak dikelilingi wanita cantik.Terlebih karena dirinya tampan dan pandai memikat hati wanita.Jin tahu jika mereka hanya ingin harta yang ia miliki hal itu yang membuatnya hobi berganti pasangan.


Tapi saat melihat Nindya untuk pertama kali.Ia merasa Nindya berbeda.Tanpa malu ia mencicipi semua hidangan dipesta pernikahan kakaknya sendiri.


Kehidupan pribadi Jin memang tertutup.Jika media mendapat sedikit saja kabar tentang kedekatannya dengan wanita.Asisten pribadinya Joshua akan segera membereskan masalahnya.Begitu pula kejadian malam ini sudah pasti tidak akan dirilis oleh media manapun.


"Halo" suara lelaki diseberang telefon


"Jin.Tumben sekali kau menelfonku.Bukankah kau sedang melakukan perjalanan bisnis?" tanya Mike kakak ipar Nindya yang cukup dengan dengannya


"Nindya ada dirumahku.Aku menemukan keadaannya yang kacau saat aku dibandara"


"Apa?" suara Mike terdengar begitu panik


"Jangan khawatir sekarang ia sedang istirahat"


"Apa yang terjadi padanya"


"Joshua akan menjelaskan detailnya padamu.Sebaiknya kututup telefonnya ini sudah malam"

__ADS_1


"Baiklah Jin.Tolong jaga adik iparku dengan baik.Aku sedang mengurus beberapa hal di New York dengan Siska"


"Serahkan padaku.Aku akan menjaganya untuk kalian"


Telefon ditutup.Jin berjalan ke kamar Nindya untuk memastikan keadaannya.Nindya sudah tidur nyenyak dengan infus yang menggantung disamping ranjangnya.


"Kenapa harus sampai sekacau ini" Jin duduk dipinggir ranjang Nindya


"Deny" Nindya memegang tangan Jin yang ia pikir Deny


"Aku bukan mantan pacarmu"


"Salah aku apa Den?sampe kamu tega ninggalin aku?" demamnya yang tinggi sampai membuat Nindya mengigau.Perlahan Jin melepas pegangan tangan Nindya.Jin kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Nindya bangun sangat siang.Ia melihat sekeliling kamar yang asing baginya.


"Selamat siang nona.Anda sudah bangun sejak tadi?" tanya pelayan dalam bahasa Korea


"Nona sedang berada di kediaman tuan Jin?"


"Jin?" Nindya bingung yang dimaksud siapa


"Semalam tuan membawa pulang nona dari bandara" pelayan mencoba menjelaskan


"Jin.Park Hyung-Jin?" Nindya memastikan


"Benar nona.Mari silahkan.Nona ingin makan siang atau membersikan diri terlebih dulu?"

__ADS_1


"Jam berapa sekarang?"


"Jam dua siang nona"


"Astaga.Aku sejam lagi ada pemotretan" Nindya mencabut paksa jarum infus yang ada ditangannya


"Tenang nona.Tuan sudah meminta saya untuk menjadwalkan ulang pemotretan anda selama seminggu kedepan" Joshua datang


"Bagaimana bisa?"


"Semalam saya sudah menghubungi manager anda nona Yuri untuk menjadwal ulang semuanya" jelas Joshua


Nindya sedikit lega rentetan pemotretan minggu ini dijadwalkan ulang.Jadi ia tidak harus memakai topeng saat menemui banyak orang.Nindya beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Sudah dua jam Nindya berendam di bathup.


Tok..tok..


"Nona.Apakah anda sudah selesai?"


"Makan siang anda sudah siap"


"Sebentar lagi aku akan keluar" bohong.Nindya malah melanjutkan berendamnya selama lebih dari satu jam.Akhirnya ia keluar setelah merasa lebih baik.


Ponsel Nindya berdering.Ternyata kakaknya Siska.


"Ha.."


"Apa kau baik-baik saja?" suara Siska sangat nyaring membuat Nindya sedikit menjauhkan ponsel dari kupingnya

__ADS_1


"Iya.Aku baik-baik saja kak" ucap Nindya yang tengah duduk di tepi ranjang berukuran jumbo


__ADS_2